
Risda memang tidak bisa minum obat secara langsung, biasanya kalau dia minum obat, obatnya harus dihaluskan terlebih dahulu dan dicampur dengan sedikit air. Mira dan Afrenzo pun menatap tidak percaya ke arah Risda, bagaimana bisa wanita itu tidak bisa minum obat.
"Lo bercanda kan, Da?" tanya Mira sambil menatap lekat ke arah wajah Risda.
"Ngapain gue bercanda soal ini, Ra? Gue emang bener bener gak bisa minum obat, jadi kalau minum obat itu harus dihaluskan dulu obatnya."
"Ya ampun, Da. Lagi pula ini juga obatnya kecil, masa lo masih nggak bisa sih?"
"Nggak bisa, Ra. Kalau minum obat langsung palingan obatnya nyangkut di tenggorokan, gue beneran nggak bisa nelen obat. pakai roti atau pisang juga nggak bisa,"
"Kalau dihalusin dulu ya pahit lah, gimana sih kamu ini,"
"Biar gue halusin," Sela Afrenzo.
Afrenzo pun mendekat kearah seorang siswa yang ada disana, Risda tidak tau apa yang cowok itu katakan kepada siswa tersebut. tapi berapa lama kemudian cowok itu langsung menyobek buku milik siswa tersebut, setelahnya dirinya bergegas kembali untuk duduk di bangkunya tersebut yang ada di depan Risda dan Mira.
"Lo mau ngapain, Renzo?" tanya Risda yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Afrenzo.
"Ngehalusin obat," Jawab Afrenzo singkat.
Afrenzo selalu menggigit obat itu hingga remuk, setelahnya dirinya pun menuangkan obat tersebut dari kemasannya ke kertas yang dirinya bawah. karena teksturnya yang belum sepenuhnya halus hal itu membuat Afrenzo pun langsung menghaluskannya.
Risda terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh cowok itu, Afrenzo pun kembali menghaluskannya menggunakan gelas kosong dan sedikit menekannya kepada obat tersebut. setelahnya dirinya pun menuangkan obat tersebut ke sendok dan memberinya sedikit air, hingga obat itu terlihat sedikit cair.
"Buka mulutmu," Ucap Afrenzo setelahnya.
"Da, itu sangat pahit tau. Emang lo bisa tahan rasa paitnya itu?" Ucap Mira yang menyengir sambil menatap kearah sendok makan yang dibawa oleh Afrenzo.
"Renzo, apa obat ini pahit?" Tanya Risda yang ragu melihatnya.
"Ngak, cuma terasa mint doang." Afrenzo pun menggelengkan kepalanya pelan.
"Bagaimana lu bisa tahu? Kan lo belum pernah minum obat seperti itu,"
"Ini obat untuk lambung, Da. rasanya sedikit manis dan seperti ada mintnya,"
"Oh seperti itu,"
"Buka mulutmu."
Riska pun dengan ragu langsung membuka mulutnya sedikit lebih lebar, Afrenzo segera memasukkan cairan obat itu ke dalam mulut Risda. Apa yang dikatakan Afrenzo itu benar, bawa obat itu sama sekali tidak terasa pahit.
Akan tetapi, Risda sendiri justru buru buru untuk langsung meminum teh hangat yang dibawa oleh Afrenzo sebelumnya, dirinya merasa sangat takut jika obat itu terasa pahit. Tapi ternyata obat itu sama persis yang dibilang oleh Afrenzo, obat tersebut sama sekali tidak terasa pahit.
"Pahit kan, Da?" Tanya Mira.
"Ngak kok, manis dan seger."
Baru kali ini obat tersebut dibilang segar oleh Risda, mungkin hanya obat itu saja tetapi obat yang lainnya akan diucap Risda sangat pahit. mendengar jawaban dari Risda langsung membuat Mira melotot ke arahnya, bagaimana tidak? Obat yang seharusnya terasa pahit tersebut dibilang segar oleh Risda.
Tak beberapa lama kemudian makanan yang dipesan oleh Afrenzo pun datang. Afrenzo memesankan semangkuk soto ayam dan memberikannya kepada Risda, sementara dirinya hanya memakan cemilan saja.
"Makan dulu," Ucap Afrenzo dengan nada datar kepada Risda.
"Kalo yang ini ngak pahit kan?" Tanya Risda kepada Afrenzo sambil menunjuk kearah soto ayam tersebut.
"Itu sangat pahit, Da. Kalau lo makan sama kulit jeruk nipisnya sekalian," Jawab Mira yang merasa aneh dengan Risda, dan gadis itu pun hanya melirik paradisda dengan malas.
"Ih... Gue ngak nanya ke lo ya, gue tanya ke Renzo, Ra. Bukan ke lo,"
__ADS_1
"Serahlah, bodoamat sama lo, Da. Rasanya gue kek jadi obat nyamuk disini,"
"Mau gue nyalain sekalian?"
"Ngak sudah, terima kasih tawarannya, Risda Vanatasya Almaira. Gue pergi aja dah,"
Mira dengan kesalnya itu langsung bangkit dari duduknya, dirinya pun pergi dari sana sambil membawa makanan yang dirinya pesan menuju ke bangku lainnya. rasanya seakan akan dirinya tidak dianggap di sana, oleh karena itu dirinya memutuskan untuk pindah dari tempat tersebut.
Melihat itu langsung membuat Risda terkekeh kencang, begitu saja Mira pun langsung merajuk kepadanya. Sementara adventure Hanya berdiam diri dengan wajah datarnya tanpa ekspresi, cowok itu benar benar pendiam dan bahkan sangat sulit untuk tertawa.
Afrenzo tidak seperti kebanyakan cowok yang lainnya, justru dirinya sangat perhatian meskipun dengan cara yang berbeda dari yang lainnya. Hal itulah yang membuat Risda sangat nyaman berada di dekatnya, bahkan dirinya seperti sosok Ayah bagi Risda dan juga sosok sahabat yang baik bagi Risda.
meskipun pendiam dan dingin akan tetapi cowok itu begitu sangat perhatian, seseorang yang baru pertama kali mengenalnya akan merasa bahwa dirinya begitu sombong dan juga sangat sulit untuk diajak berbicara. Akan tetapi jika mereka begitu mengenalinya maka mereka akan menganggap bahwa Afrenzo itu sangat penyayang dan juga hangat.
"Da, soal Bagas..." Ucap Afrenzo menggantung disaat Risda selesai makan.
"Kenapa harus bahas tabung gas disini?" Tanya Risda sambil memincingkan sebelah matanya.
"Lo belum jelasin semuanya ke gue, kenapa lo nyembunyiin itu dari gue?"
"Gue sudah jelasin semuanya ke lo, Renzo. Apakah penjelasan gue kurang jelas?"
"Bukan begitu, Da. Apakah Bagas benar benar melakukan itu?"
"Apa lo ngak percaya sama gue, Renzo?"
"Gue percaya sama lo, Da. Kalo memang Bagas seperti itu, gue pengen dia berubah menjadi lebih baik,"
"Kenapa lo peduli dengan lelaki itu? Dia kan sudah jahat sama lo selama ini,"
"Meskipun dia jahat bukan berarti kita juga melakukan hal yang sama, lantas apa bedanya kita dengan orang itu jika kita sama sama melakukan yang jahat. Bagaimanapun juga dia tetap saudara gue, dan sudah tugas gue sebagai Kakak keponakannya untuk memberitahu yang salah dan benar, Da. Bokap gue jauh lebih tua daripada Bokapnya, dan sebenarnya kita juga seumuran tapi dia sekolah lebih dulu ketika umurnya belum cukup,"
"Api yang panas pun perlahan lahan akan padam, jika terkena dengan air terus terusan. Kita harus jadi air untuk memadamkan sebuah amarah, bukan api yang justru akan membuatnya menjadi lebih berkobar."
"Gue tidak habis pikir dengan jalan pikiran lo, Renzo. Apapun itu, gue akan selalu bantu lo, nggak akan pernah ninggalin lo. Kita kan sahabat seharusnya saling mendukung, jadi gue akan berusaha untuk selalu ada buat lo, begitupun lo yang selalu ada buat gue,"
"Thanks, Da."
Risda pun tersenyum ke arah Afrenzo, senyuman itu langsung membuat cowok tersebut ikut tersenyum ke arah Risda, meskipun senyumannya itu terlihat sangat tipis. Risda dan Afrenzo sudah dikenal di sekolahan tersebut, mereka penasaran dengan hubungan apa yang ada di antara keduanya.
Bahkan ada yang menuduh Risda menggunakan pelet untuk menaklukkan lelaki tersebut, dan begitu banyak tuduhan yang dilontarkan kepada Risda. Akan tetapi, Risda sama sekali tidak mempedulikan tuduhannya itu, karena baginya akan sulit menjelaskan kepada lalat bahwa bunga itu lebih indah daripada sampah.
Akan sangat sia sia tenaganya jika menjelaskan itu kepada mereka yang tidak mau mengerti tentang penjelasannya, bukannya hal itu akan menghabiskan tenaga yang banyak. Oleh karena itu, Risda tidak mau capek capek untuk membuang tenaga tanpa memiliki hasil yang pasti.
"Kalau begitu gue balik dulu ke kelas ya?" Tanya Risda kepada Afrenzo.
"Tumben?"
Biasanya gadis itu akan kembali ke kelas ketika bel sudah berbunyi, akan tetapi kali ini dirinya berpamitan untuk kembali ke kelasnya terlebih dulu. Hal itulah yang membuat Afrenzo merasa curiga dengan gadis itu, karena tidak biasanya gadis itu melakukan hal tersebut.
Biasanya Risda akan terlihat sangat malas jika akan kembali ke kelas, akan tetapi kali ini dirinya ingin kembali ke kelas lebih awal daripada biasanya. Wajah pucat yang ada di wajahnya itu pun terlihat sedikit membaik, itu artinya kondisi Risda saat ini sudah lebih baikkan.
"Gue kena hukum, Renzo. disuruh nulis satu buku penuh, jadi gue pengen cepet cepet balik dan mengerjakan hukuman itu," Jawab Risda yang langsung meluruh malas di hadapan Afrenzo.
"Hukuman apa lagi?"
"Gue lupa belum mengerjakan artikel, jadi gue kena hukum deh. Aslinya gue sangat males kalau disuruh nulis, tapi gimana lagi kalau nggak nulis ya disuruh lari ke lapangan."
"Ya sudah kerjakan hukuman lo, kalau capek istirahat dilanjut nanti di rumah."
__ADS_1
"Kalau di rumah mah nggak sempet, soalnya setiap pulang latihan gue selalu ketiduran. Jadi gue nggak ada waktu di rumah buat ngerjain hukuman itu, palingan ada waktu cuma untuk mengerjakan tugas sekolah doang,"
"Nanti nggak usah latihan dulu, wajah lo masih kelihatan pucat."
"APA!" Risda langsung membelalakkan matanya lebar lebar, dirinya sangat tidak percaya bahwa Afrenzo menyuruhnya untuk tidak latihan, "Gue kan pengen jadi juara, kok lo malah gitu sih. apa lo nggak mau gue menang lomba?"
"Kesehatan lo itu jauh lebih penting, Da. percuma jikalau juara nanti kalau lo sendiri juga sakit sakitan, kan nggak lucu nantinya."
"Iya juga sih, tapi gue nggak sakit kok."
"Lo nggak bisa bohongin gue."
"tapi Renzo, gue nggak pengen pulang ke rumah. Kalo lo nyuruh gue pulang, gue nggak mau pulang. Mending gue tetap di aula beladiri sambil ngerjain tugas daripada pulang, boleh ya?"
"Terserah lo,"
Mendengar jawaban itu langsung membuat Risda tersenyum dengan cerahnya, dirinya pun segera bergegas untuk kembali ke kelasnya dan mengerjakan hukumannya. Sementara, Afrenzo yang ditinggal sendirian itu pun langsung menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Risda.
Gadis itu benar benar seperti anak TK yang baru dibelikan mainan oleh ayahnya, dirinya seakan akan terlihat begitu gembira saat ini. Hal itu membuat Afrenzo menerbitkan sebuah senyuman, Entah mengapa dirinya sangat suka melihat Risda yang tertawa bahagia.
*****
"Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," Risda menulis hukuman tersebut sambil mengucapkan kata kata lirih yang diperintahkan oleh guru tersebut.
Kini dirinya berada di dalam aula bela diri di lantai dasar, tidak jauh darinya terlihat Fandi dan senior lainnya sedang berlatih tendangan. Sementara Afrenzo melati siswa dasar lainnya di lapangan, meskipun beberapa kali terdengar bunyi tendangan yang sangat keras akan tetapi hal itu tidak mampu membuat fokus Risda teralihkan dari bukunya.
Risda begitu fokus untuk mengerjakan hukuman tersebut tanpa terganggu sama sekali, sudah hampir setengah dari buku itu terisi penuh oleh tulisan Risda, hal itu membuat tangannya terasa seperti kram karena menulis begitu banyak.
Mendadak dirinya begitu malas tiba tiba, dia pun langsung memperhatikan apa yang dilakukan oleh Fandi dan yang lainnya. Tendangan mereka begitu indah dan juga sangat keras, sampai sampai ketika kaki mereka berbenturan dengan pechingpet, akan menimbulkan bunyi yang sangat kencang.
"Hebat banget," Guman Risda pelan sambil melihat para remaja lelaki yang sedang berlatih tendangan itu.
Entah kapan dirinya bisa melakukan tendangan seperti mereka, bahkan untuk menendang dengan seluruh kemampuannya saja pun tidak mampu membuat benturan tersebut terlihat sangat keras.
Akan tetapi, tendangan mereka kalah keras daripada Afrenzo, jika Afrenzo yang melakukan itu mungkin orang yang sedang memegangi pechingpet tersebut akan terpental mundur beberapa langkah. Bahkan samsak yang terpasang disana pun sampai bergoyang kesana kemari bahkan sampai roboh begitu saja.
"Kalau gue seperti itu mungkin gue sudah jadi juara, apalah daya gue saat ini yang belum bisa apa apa. Afenzo sama sekali tidak mengajarkan tendangan seperti itu, justru tiap harinya hanya belajar tentang dasar dasar saja. Kalo ngak pemanasan ya pukulan atau bahkan cuma kuda kuda doang," Gumannya Risda yang memperhatikan mereka begitu lama.
Dirinya ingin sekali bisa melakukan tendangan seperti mereka, akan tetapi belum waktunya dia untuk mempelajari hal itu. Melihatnya saja terlihat sangat mudah, agar tidak bisa mencobanya akan terlihat sangat sulit untuk bisa melakukan tendangan seperti mereka.
Tanpa serasa waktu begitu cepat berlalu, seluruhnya sudah pulang ke rumah masing masing kecuali Risda dan Afrenzo yang masih berada disana. Setelah mengizinkan siswanya untuk pulang, Afrenzo bergegas kembali menuju ke aula.
"Lo nggak pulang?" Tanya Afrenzo ketika melihat Risda yang masih fokus kepada bukunya.
"Nanti dulu Renzo, ini masih baru jam lima. Gue lanjutin nulis dulu, baru gue akan pulang,"
Afrenzo pun langsung duduk di dekat Risda. dia lalu memperhatikan apa yang dilakukan oleh gadis tersebut, dan apa begitu fokus kepada aku yang tersebut tanpa mempedulikan dirinya yang ada di sebelahnya.
Gadis itu benar benar menginginkan hukumannya segera selesai, meskipun tak hanya terasa sangat sakit saat ini akan tetapi dirinya sama sekali tidak mempedulikan itu.
"Akh..." Pekik Risda sambil melemparkan pulpen yang ada ditangannya itu.
"Kenapa?" Tanya Afrenzo terkejut.
"Tangan gue tiba tiba sakit banget, Renzo. mungkin terlalu banyak nulis sekali ya? Nggak tahu kenapa tangan gue mendadak sakit banget,"
"Mana sini gue lihat dulu,"
Tanpa menunggu jawaban dari Risda, lagi tersebut langsung menarik tangan Risda. cerita begitu terkejut ketika melihat punggung tangan terlihat sedikit memar, Risda tahu arah dari tatapan Afrika itu pun langsung menyingkirkan tangannya kembali.
__ADS_1
Risda tidak mau hanya karena lukanya itu langsung membuat orang lain merasa kasihan, dia bakal tidak suka dikasihani oleh orang lain.