
Bagas yang bersalah dalam hal itu langsung diberi hukuman oleh guru yang ada disana. Risda dan Afrenzo akhinya tidak jadi di skors dari sekolahan itu, ketiganya pun mendapat hukuman yang sama, yakni berdiri dibawah tiang bendera.
Risda dan Afrenzo masih tetap dihukum karena telah melakukan hal yang seperti itu walaupun tanpa sengaja, sementara Bagas ikut serta dihukum karena telah menyebarkan berita tersebut apalagi sampai membuat kehebohan diseluruh sekolah.
Risda pun tidak keberatan jika dihukum seperti itu, jika masalahnya akan segera selesai. Meskipun begitu dirinya tidak bisa diam untuk berdiri dibawah tiang bendera, dirinya terus memainkan jemarinya sebagai bahan gabutnya.
"Renzo," Panggil Risda yang memang dirinya berada ditengah tengah antara Afrenzo dan Bagas.
"Hem," Jawab Afrenzo yang hanya berdehem saja.
"Sampai kapan dijemur kek ikan asin gini? Panas banget lagi," Gerutu Risda sambil menatap kearah matahari.
"Eh lo pake jilbab aja protes, kita nih yang langsung kena matahari biasa aja," Seru Bagas mendengar ucapan dari Risda.
"Gue ngak ada urusan sama lo, lo mau tukeran ngak? Biar lo aja yang pake jilbab," Ucap Risda dengan sinisnya kepada Bagas.
"Gila lo?"
"Emang, gara gara lo nyebarin berita yang buat gue hampir gila, Bangsaat!" Umpat Risda dan langsung mendapatkan jitakan dari Afrenzo.
Risda pun langsung mengusapi kepalanya yang telah dijitak oleh Afrenzo itu, entah punya masalah hidup apa'an lelaki itu dengan Risda. Risda pun mengeluh karena jitakkan yang diberikan oleh Afrenzo itu, akan tetapi Afrenzo nampak biasa saja seperti tidak memiliki masalah.
"Jangan mengumpat, ngak baik," Ucap Afrenzo tanpa menatap kearah Risda.
"Sorry Renzo, udah menjadi kebiasaan gue," Jawab Risda.
"Jangan dibiasakan."
"Syiap Pak Bos besar!" Seru Risda sambil memberikan hormat kepada Afrenzo.
"Sejak kapan lo jadi karyawannya?" Tanya Bagas.
"Kenalin, gue bawahannya." Ucap Risda sambil menyodorkan tangannya.
Belum sempat Bagas menyentuh tangan Risda, akan tetapi Afrenzo langsung menariknya untuk menjauh dari Bagas. Risda pun membulatkan matanya ketika dirinya ditarik seperti itu tiba tiba, dia pun sangat terkejut dan kini Afrenzo berdiri ditempatnya sebelumnya untuk menggantikan posisi Risda.
"Ada apa'an sih?" Tanya Risda yang terkejut.
Akan tetapi, Afrenzo sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Risda itu. Risda hanya mendengus kesal karena apa yang dilakukan oleh Afrenzo kali ini, dirinya pun kembali diam ditempatnya tanpa banyak bicara.
1 jam berlalu.. Akhirnya mereka diperbolehkan untuk kembali ke kelasnya masing masing. Setelah berdiri cukup lama, kaki Risda kembali terasa nyeri saat ini, ia pun tidak sanggup untuk berjalan lagi.
"Sakit lagi?" Tanya Afrenzo.
"Cenut cenut Renzo, ngak tau kenapa."
"Mau gue gendong?"
"Ngak usah, nanti kena fitnah lagi malahan. Mending lo jalan duluan saja, gue jalan pelan pelan," Ucap Risda yang merasa tidak enak dengan Afrenzo.
"Ngak, jalan bareng saja."
Afrenzo pun memelankan langkahnya untuk menyamakan dengan langkah dari Risda, Risda pun hanya tersenyum tipis kearah Afrenzo. Tak beberapa lama kemudian akhinya mereka telah tiba dikelas Risda, Afrenzo pun langsung menyuruhnya untuk masuk kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran.
"Gue balik dulu," Ucap Afrenzo kepada Risda.
"Iya, Renzo. Jangan lupa latihan nanti," Ucap Risda.
"Iya."
Afrenzo pun bergegas kembali menuju ke kelasnya, sementara Risda langsung duduk dibangkunya saat ini. Mira pun hanya memandanginya sekilas dan langsung kembali fokus kepada bukunya itu.
"Ra, lo marah sama gue?" Tanya Risda yang melihat tingkah laku Mira yang seakan akan tidak suka dengan kehadiran Risda disana.
"Ngak usah dibahas," Jawab Mira tanpa menoleh.
"Gue minta maaf ke lo, Ra. Bukan maksud gue seperti itu, tapi disini Afrenzo sama sekali ngak salah. Dia tidak seperti apa yang kalian pikirkan sebelumnya,"
"Gue bilang ngak usah dibahas, ya jangan dibahas, Da!" Sentak Mira.
"Ra, lo sama sekali ngak ngerti perasaan gue," Ucap Risda sambil menundukkan kepalanya dan membuang muka dari hadapan Mira.
Kini pandangan Risda pun tertuju kepada mejanya, dan Risda tengah memainkan jemarinya untuk menenangkan perasaannya. Mendengar suara Risda yang memelan dan penuh kesedihan itu, langsung membuat Mira menoleh kearahnya.
"Selama ini gue rindu kasih sayang Bokap gue, Ra. Dan gue menemukan itu dalam sosok Renzo, dia bagaikan sosok Bokap gue yang selalu ngelindungin gue selama ini. Gue ngerasa seperti hidup kembali ketika bersamanya, lo ngak bakalan tau apa yang gue rasakan saat ini, Ra. Hidup lo dipenuhi dengan kasih sayang keluarga lo, sementara gue? Gue bahkan tidak tau bagaimana rasanya itu,"
Risda pun meneteskan air matanya sambil mengatakan hal itu, dapat diketahui sebesar apakah kesedihan yang selama ini dirinya tanggung itu. Risda hanya ingin disayangi, hanya itu dan ngak lebih dari itu, akan tetapi orang orang yang ada disekitarnya sama sekali tidak mau mengerti tentang perasaannya.
"Gue rindu kasih sayang dari orang tua gue, gue ngak akan pernah bisa ngemilikin itu lagi, Ra. Gue ingin orang tua gue kembali rujuk seperti dulu, tapi hal itu sangat mustahil, mustahil untuk terjadi. Lo ngak bakalan tau apa yang gue rasakan, jika lo seperti ini ke gue, lalu gue harus bahagia sama siapa, Ra? Cukup keluarga gue yang hancur, tapi jangan pertemanan kita."
"Da..." Panggil Mira lirih.
"Ra, kalo bukan karena Renzo, gue udah bunuh diri sejak saat itu, Ra. Gue udah ngak sanggup untuk menjalankan hidup gue, gue pengen mengakhiri semuanya sampai disini. Dirumah gue, gue menderita, Ra. Apa lo ingin gue juga menderita disekolahan ini?"
"Bukan seperti itu maksud gue, Da. Gue hanya ngak suka lo dekat dekat dengan cowok yang seperti itu, gue ngak ingin lo rusak nantinya, Da. Dia bukan orang baik,"
"Gue memang ngak tau sepenuhnya tentang dia, Ra. Tapi berada didekatnya gue bisa ngerasain kasih sayang dari Bokap gue, gue ngerasa hanya dia yang bisa menyayangi gue dengan tulus. Jika lo nyuruh gue untuk ngejauhin dia, gue ngak bisa ngelakuin itu, Ra. Sama aja lo ngak ngebolehin gue bahagia,"
"Dia bukan lelaki yang baik, Da. Lo saja tadi hampir dipeluk olehnya, bagaimana jika nanti?"
__ADS_1
"Ra, Renzo ngak seperti itu orangnya. Jika dia adalah lelaki yang seperti itu, mungkin gue udah dirusak olehnya sejak awal,"
"Da, gue hanya ingin ngejaga lo dari lelaki yang kayak gitu, gue ngak ingin lo diapa apain olehnya,"
"Dia memang pendiam, tapi bukan berarti dia suka melec*hkan wanita."
Risda pun meneteskan air matanya, dirinya pun membenamkan wajahnya diantara lipatan tangannya yang ada diatas meja itu. Mendengar isak tangis Risda lirih hal itu langsung membuat Septia dan Rania pun mendekat kearah Risda.
"Kenapa lo nangis, Da?" Tanya Rania sambil mengusap pundak Risda pelan.
"Da, lo tadi dihukum seperti apa? Sampai sampai lo nangis begini," Tanya Septia.
"Da, maafin gue ya, gue ngak tau soal itu." Mira pun merasa bersalah karena dirinya yang marah kepada Risda sebelumnya itu.
Risda pun mendongakkan kepalanya, nampaklah kedua mata Risda yang kini tengah berkaca kaca, mulutnya pun terisak lirih. Melihat itu langsung membuat ketiganya memeluk Risda untuk menenangkan gadis itu.
"Jangan nyuruh gue untuk ngejauh dari Renzo, gue ngak akan bisa ngelakuin itu," Ucap Risda sambil terisak tangis.
"Siapa yang nyuruh lo, Da?" Tanya Rania.
*****
Risda kini berada diaula beladiri, seperti biasa dirinya akan datang lebih awal daripada yang lainnya. Dirinya pun duduk dikursi yang selalu dirinya duduki jika berada disana, sementara Afrenzo kini tengah menghafal beberapa gerakan didalam aula itu.
"Gerakan lo bagus banget, Renzo." Risda merasa kagum ketika melihat gerakan yang dilakukan oleh Afrenzo itu.
Setiap gerakan jurus yang dilakukan oleh Afrenzo, membuat Risda bertepuk tangan dengan semangatnya. Hal itu langsung membuatnya sangat bersemangat untuk terus berlatih, ia pengen menjadi lincah seperti apa yang dilakukan oleh Afrenzo.
Afrenzo juga melakukan gerakan jurus menggunakan toya dan celurit. Hal itu semakin membuat Risda merasa kagum dengan lelaki itu, gerakan yang sangat indah dan membuat siapapun akan kagum ketika melihatnya.
Setelah selesai melakukan sebuah jurus, Afrenzo pun menaruh kedua benda tersebut ketempatnya sebelumnya. Dirinya pun langsung duduk disebelah Risda untuk meminum air mineral yang dirinya bawa sebelumnya.
"Lo keren banget sumpah, gue juga pengen bisa seperti itu," Ucap Risda yang merasa kagum.
"Lo pasti bisa nanti," Ucap Afrenzo.
"Ajari gue ya? Gue pengen bisa seperti itu juga,"
"Iya kalo sudah waktunya."
Afrenzo pun tersenyum tipis kearah Risda, mungkin lelaki itu memang sangat hemat akan senyuman. Yang hanya diperlihatkan hanyalah senyuman tipis akan tetapi tidak pernah terlihat canda tawanya itu, entah hal seperti apa yang membuatnya jadi seperti itu.
Drettsss...
Tiba tiba ponsel milik Afrenzo pun berbunyi, dirinya pun langsung mengambil benda pipih yang ada disekatnya itu. Nampak terlihat nama 'Papa' disana, Risda yang tak sengaja membacanya itu pun langsung fokus kepada Afrenzo.
"Ngapain Papa telpon," Guman Afrenzo lirih.
Afrenzo pun langsung menekan sambungkan dilayar ponselnya itu, baru saja diangkat olehnya akan tetapi langsung mendengar suara teriakan dari sebrang sana melalui ponsel miliknya.
"Renzo! Kamu dimana?" Tanya seseorang dari sebrang sana.
"Ada apa, Pa? Renzo sedang ngelatih hari ini," Ucap Afrenzo kebingungan.
"Pulang sekarang! Ngak perlu ngelatih lagi,"
"Ada apa, Pa? Kenapa mendadak menyuruh Renzo pulang?"
"Kamu mau membantah Papa? Cepat pulang, Papa tunggu dirumah sekarang,"
Tut.. tut..
Setelah mengatakan itu, tiba tiba sambungan telpon tersebut terputus begitu saja, Afrenzo langsung bangkit dari duduknya hendak mengganti pakaiannya. Dirinya akan pulang saat ini, sebelum Papanya akan semakin marah nantinya.
"Renzo, lo mau kemana?" Tanya Risda ketika melihat Afrenzo selesai mengganti pakaiannya.
"Gue ada urusan, soal latihan biar dilatih oleh Fandi," Jawabnya dan langsung bergegas pergi dari sana meninggalkan Risda sendiri.
"Gue ikut!" Teriak Risda dan langsung bergegas untuk menyusulnya.
Afrenzo pun langsung menaiki motornya itu, akan tetapi Risda langsung ikut serta naik ke atas motor Afrenzo. Merasakan itu, langsung membuat Afrenzo menoleh kebelakangnya dan mendapati sosok Risda yang sudah duduk manis diatas motornya.
"Turun!" Perintah Afrenzo.
"Ngak mau, gue mau ikut," Ucap Risda.
"Ngak perlu, turun sekarang!" Sentak Afrenzo.
"Ngak mau ya ngak mau, gue mau ikut sama lo,"
"Da, gue ada urusan,"
"Sama Bokap lo kan? Gue takut lo dihajar lagi sama dia, gue ikut ya?"
"Dia Bokap gue, Da. Kenapa lo yang takut gue dihajar?"
"Lo udah bonyok kayak gitu, Renzo. Gue ngak mau lo makin bonyok nantinya,"
"Urusan gue dan Bokap gue, itu bukan urusan lo, Da. Turun sekarang!"
__ADS_1
"Biarin gue ikut, Renzo. Pliss... Gue ngak bakalan macem macem kok, mungkin ini ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi siang. Dan gue bisa jelasin soal itu ke dia juga,"
"Ngak perlu, turun sekarang,"
"Ngak mau,"
"Da..."
"Gue ikut, gue ngak suka penolakan."
"Ya sudah, masukkan motor lo ke aula. Takut nanti diambil orang," Putus Afrenzo yang akhirnya mengizinkan Risda untuk ikut.
"Baiklah,"
Risda pun langsung turun dari motor tersebut, dirinya tak lupa juga mengambil kunci motor milik Afrenzo agar Afrenzo tidak meninggalkan dirinya. Melihat itu hanya membuat Afrenzo pasrah dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.
Risda pun melakukan hal yang diperintahkan oleh Afrenzo, tak lupa juga dirinya mengganti pakaiannya menjadi pakaian biasa. Ia tidak membawa tas miliknya, sehingga dirinya meninggalkan tas tersebut didalam aula beladiri.
"Sudah," Ucap Risda dan langsung naik keatas motor milik Afrenzo.
"Kunci gue mana?" Tanya Afrenzo.
"Nih," Risda pun menyerahkan kunci milik Afrenzo itu kepadanya.
Keduanya pun langsung melaju meninggalkan halaman beladiri tersebut, sebelumnya Afrenzo sudah memerintahkan kepada Fandi untuk menggantikan dirinya melatih hari ini. Diperjalanan, Risda memegangi jaket milik Afrenzo dengan kedua tangannya.
Kecepatan laju motornya tersebut hanya sekisar 40 km/jam. Sehingga terlihat pelan oleh Risda, akan tetapi ketika jaraknya semakin dekat dengan rumah Afrenzo, dirinya pun merasa semakin gelisah saat ini.
"Da, nanti lo tunggu diteras saja," Ucap Afrenzo ketika dijalan.
"Gue ikut masuk sama lo, gue takut lo kenapa kenapa, Renzo."
"Lo ngak perlu khawatir soal itu,"
"Pokoknya gue mau ikut kemanapun lo pergi."
Afrenzo hanya menghela nafasnya, gadis itu benar benar tidak bisa diatur olehnya. Entah sejak kapan gadis itu berani untuk mengaturnya, bahkan dirinya berani malawan ucapannya.
Afrenzo dan Risda akhinya telah sampai dihalaman rumah milik Afrenzo, Risda langsung turun dari atas motor milik Afrenzo tersebut. Afrenzo menyuruhnya untuk duduk disebuah gazebo yang dekat dengan kolam ikan milik Afrenzo.
"Lo tunggu disini saja," Ucap Afrenzo.
"Tapi, gue takut lo kenapa kenapa," Ucap Risda.
"Gue ngak bakalan mati,"
"Renzo..."
"Tunggu disini,"
"Baiklah."
Afrenzo pun langsung bergegas menuju keteras rumahnya, dirinya pun perlahan lahan mulai membuka pintu rumahnya yang terlihat besar itu. Afrenzo lalu masuk kedalam rumahnya, hal tersebut langsung membuat Risda nampak gelisah.
Bhukkk..
Baru selangkah masuk kedalam rumah tersebut akan tetapi Papanya langsung memukulnya begitu saja, pukulan tersebut langsung membuat Afrenzo menabrak sebuah pintu yang ada dibelakangnya dengan kerasnya.
"Papa ngak pernah ngajarin kamu melakukan hal seperti itu kepada cewek, Renzo!" Sentak Papanya.
"Ini tidak seperti apa yang Papa lihat," Ucap Afrenzo sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
"ALASAN!" Bentak Papanya.
Bhukkk...
Papanya kembali melontarkan sebuah tendangan tepat diperut Afrenzo, dirinya benar benar menghajar anak lelakinya itu. Mendengar keributan tersebut langsung membuat Risda bangkit dari duduknya, dirinya hendak melangkah masuk kerumah tersebut akan tetapi kakinya tidak bisa diajak untuk bekerja sama.
"Pa, Renzo bisa jelaskan semuanya," Ucap Afrenzo yang sedang terbaring diatas lantai dan sambil berusaha untuk bangkit kembali.
"Mau jelaskan apa lagi, Renzo! Semuanya sudah jelas. Berani sekali kamu memeluk seorang gadis seperti itu, Papa benar benar kecewa dengan dirimu,"
Bhukkk.. Dhub...
Lagi lagi Papanya menendangnya hingga membuat kepala Afrenzo terbentur tembok karena jatuhnya, tubuh Afrenzo saat ini terlihat sangat lemas karena beberapa kali dirinya terjatuh dan menabrak sesuatu.
Beberapa kali dirinya terkena pukulan dan tendangan, hingga membuatnya tidak mampu untuk bangkit berdiri lagi. Afrenzo memegangi dadanya yang terasa nyeri saat ini, setetes darah pun keluar dari ujung mulutnya yang sobek kembali.
"Ini pantas gue dapatkan, maafin gue, Da. Gue telah berani memeluk lo seperti itu," Batin Afrenzo.
"BANGUN!" Bentak Papanya.
Afrenzo pun menjulurkan tangannya untuk memegangi meja yang ada disebelahnya dan membantunya agar bisa bangkit kembali. Ujung bibir, pelipis, bahkan pipinya saat ini terlihat memar membiru.
Bhukkk...
Lagi lagi Afrenzo mendapatkan pukulan dipipinya dengan kerasnya, hingga membuat tubuh Afrenzo oleng dan menabrak meja yang ada disebelahnya dengan sangat kerasnya.
"Kamu bisa beladiri kan? Lawan Papa!"
__ADS_1
"Renzo ngak mau, Pa. Renzo ngak akan pernah ngelawan Papa," Ucap Afrenzo lirih sambil memegangi dadanya yang nyeri saat ini.