Pelatihku

Pelatihku
Episode 110


__ADS_3

Afrenzo tengah fokus pada buku yang dirinya baca saat ini, sementara Riska fokus menatap wajah Afrenzo yang terlihat serius ketika membaca buku tersebut, hal itu langsung membuat Risda menatap kearah buku tersebut. Afrenzo yang tanpa sengaja melihat itu pun perlahan lahan mulai menjauhkan buku yang dirinya bahwa dari hadapan Risda.


Karena buku itu yang dijauhkan secara perlahan lahan membuat Risda pun mengikuti pergerakan dari buku itu, Risda sangat penasaran dengan apa yang dibaca oleh lelaki itu sehingga begitu fokusnya.


Bhukkkk...


Jidat Risda langsung menabrak pundak milik Afrenzo setelahnya, Risda pun mengeluh karena jidatnya terasa sakit akibat benturan tersebut. Tangan Afrenzo terlihat sangat kuat, bahkan membuat Risda mengernyitkan dahinya karena sakitnya benturannya itu.


"Ih lo apa apa'an sih, Renzo!" Teriak Risda sambil mengusap jidadnya.


"Lo yang ngapain? Bukankah gue sudah nyuruh lo untuk baca itu buku?" Tanya Afrenzo.


"Buku ini nggak asik tahu, tapi buku lo kelihatannya asik sampai sampai buat lo terlalu fokus dengan buku lo. Emang lo baca apa'an?"


"Bukan apa apa cuma kisah Nabi, di dalam buku ini bukan hanya menjelaskan tentang kisah yang dialami oleh Nabi, akan tetapi di dalam buku ini juga menjelaskan tentang adab yang dilakukan oleh para Nabi,"


"Ternyata sama saja membosankan," Ucap Risda sambil meluruh kearah meja yang ada didepannya.


Melihat itu hanya membuat Afrenzo menggeleng gelengkan kepalanya, Risda memang begitu malas jika disuruh untuk belajar, akan tetapi begitu bersemangat jika dipraktikkan. Seperti ketika belajar materi olah raga, dirinya akan sangat malas, akan tetapi jika disuruh untuk pemanasan dan sebagainya dirinya begitu bersemangat.


"Lo tau tentang kisah Nu'aiman?" Tanya Afrenzo.


Mendengar pertanyaan itu langsung membuat Risda mengangkat kepalanya, dirinya pun menatap kearah Afrenzo. Risda yang tidak pernah mendengar nama itu pun sontak langsung menggeleng gelengkan kepalanya karena dirinya tidak tau tentang itu.


"Siapa itu?" Tanya Risda dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Beliau itu manusia, sahabat dari Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah seorang pemabuk tapi dimasukkan kedalam Syurga-Nya oleh Allah,"


"Kenapa bisa begitu? Bukannya khamr dan minuman keras itu dilarang agama? Lantas kenapa bisa Nu'aiman masuk ke syurga?"


"Karena beliau sering membuat orang tertawa, bahkan Nabi Muhammad Saw sendiri pun ikut tertawa karena tingkahnya,"


Nu'aiman adalah seorang pelawak pertama yang ada, tingkahnya selalu membuat Rasulullah tertawa. Bahkan disaat ajal menjemputnya sekalipun itu, Rasulullah tetap mampu untuk dibuat tertawa olehnya.


Bukan hanya hal itu, akan tetapi Nu'aiman pernah menjual temannya sendiri, menyembelih unta milik tamu Rasulullah, dan lain sebagainya. Rasulullah tidak pernah marah dengan Nu'aiman setiap tindakannya, akan tetapi Rasulullah selalu tertawa dibuatnya.


Mau tau kisah tentang Nu'aiman? Tetap berjalan dijalan kebaikkan ya? Biar kita semua bisa menyaksikannya secara langsung didalam Syurga-Nya bersama sama. Tetap istiqamah diera gempuran orang yang pandai beragama tapi lalai menjalankan perintah-Nya.


Karena saking penasarannya dengan apa yang dikatakan oleh cowok itu, Risda lalu menyambar buku yang ada di tangan Afrenzo. dirinya pun langsung membuka sebuah halaman yang bertuliskan tentang kisah dari Nu'aiman, Risda lalu membacanya dengan seksama.


"Ternyata di zaman Nabi juga ada kisah seperti ini ya? Gue pikir zaman Nabi itu hanya ada perang perangan ternyata juga ada yang melawak,"


"Iya, Da."


"Sayangnya Rasulullah sudah wafat, seandainya masih ada, mungkin gue akan terus berusaha untuk membuatnya tertawa,"


"Sekarang pun lo masih bisa melakukan itu,"


"Gimana caranya?"


"Lo tinggal mengucapkan sholawat saja, untuk Baginda Rasulullah. Itu sudah membuatnya senang,"


Mendengar jawaban itu Risda merasa sangat senang, dirinya masih memiliki jalan untuk bisa membuat Baginda Rasulullah merasa senang. Risda pun menganggukkan kepalanya dengan antusiasnya, dirinya pun tersenyum ke arah cowok itu dengan senyuman yang sangat tulus.

__ADS_1


Tetttttt..... Tettttt.....


Suara bel bertanda istirahat telah tiba pun berbunyi, sebenarnya mereka telah istirahat lebih dulu daripada bunyi bel. Sehingga bunyi itu terlambat berbunyi, mendengar itu keduanya langsung menutup buku mereka masing masing.


"Ayo kekantin, Renzo. Gue udah lapar," Ajak Risda.


Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya saja, dirinya pun langsung bangkit dari duduknya. Keduanya kini langsung berjalan keluar dari ruangan perpustakaan itu, dan menuju kearah kantin sekolahan.


Seperti bisa, Risda langsung bergegas untuk memesan makanan, sementara Afrenzo memesan minuman. Setelah selesai memesan makanan, Risda langsung segera duduk di bangkunya untuk mendatangi Afrenzo yang sudah ada disana lebih dulu daripada dirinya.


"Da, lo kan pernah memberitahu gue tentang seseorang, dan bakal ngasih tahu gue fotonya ketika bertemu. Emang orang itu siapa?" Tanya Afrenzo ketika melihat Risda duduk dibangkunya.


"Astaga gue lupa soal itu, gue lupa belum foto orangnya dengan diam diam. Dia itu kenalan dari Nyokap gue, tapi anehnya wajahnya itu sangat nyeremin tau, lebih nyeremin daripada lo."


"Emang gue nyeremin?"


"Lo itu bukan emang lagi, tapi lo itu udah real live. Nyereminnya juga sudah tingkat kuadrat, tapi kenalannya Nyokap gue jauh lebih nyeremin,"


"Ceritanya bagaimana?"


"Gue ngerasa nggak nyaman aja gitu sama tuh orang, Kenapa harus bertamu ke rumah orang malam malam? Padahal saat itu kan semuanya sudah tidur,"


"Mungkin soal itu dia memiliki alasan lain,"


"Dia bilang sih kerja, tapi kenapa nggak datang pas waktu libur saja? Lagian Nyokap gue juga kagak ada di rumah, emang dia mau ngapain datang ke rumah malam malam gitu. Kayak ngga ada hari lagi, kayak hari harinya itu sibuk kerja. Lo ingat kagak pas waktu di pasar dulu? Lo kan bilang ke gue suruh hati hati,"


"Kalau soal di pasar, gue pikir lo sendirian, Da. Makanya waktu itu gue kirim pesan ke lo,"


"Kagak."


"Sayang sekali gue kagak punya fotonya tuh orang, kan waktu itu gue pengen foto tuh orang diem diem tapi Nyokap gue telpon jadi kagak bisa foto tuh orang. Awalnya gue ingin tunjukin ke lo, tapi gue gak punya fotonya jadi gue kagak jadi tunjukin ke lo waktu itu,"


"Lain kali lo bisa kirim ke gue,"


"Iya Renzo, kalau dia datang lagi ke rumah gue akan fotoin diam diam. Mungkin aja lo kenal dengan orang itu, gue ngerasa aneh aja dengan orang itu, Renzo. Apalagi dengan tetapannya itu, bikin gue ngerasa risih,"


"Kenapa lo nggak cerita aja ke Nyokap lo?"


"Gue takut, bukannya gue takut bilang ke Nyokap gue, tapi gue takut berburuk sangka kepada orang lain. Bagaimana kalau firasat gue itu salah? Bukannya itu sama saja dengan menuduh orang? Tapi gue sendiri juga ngerasa risih, gue jadi bingung harus ngomong apa ke Nyokap gue nanti, apalagi orangnya kelihatan begitu baik di depan Nyokap gue. Gue juga belum sepenuhnya mengenal orang itu,"


"Hati hati aja,"


"Kalau soal itu gue sih hati hati, tapi yang gue takutin itu Nyokap gue, Renzo. Nyokap gue kan bisa pergi kemana mana dengan diam diam, gimana kalau dia sering ketemu dengan orang itu?"


"Berdoa saja,"


Tak beberapa lama kemudian makanan pesanan mereka pun datang, Risda pun menghentikan pembicaraan mereka. Kini dirinya kembali fokus kemeja makannya, keduanya langsung menikmati makanan pesanan mereka tanpa banyak bicara.


Afrenzo tidak suka melihat orang yang makan sambil berbicara, sehingga hal itu membuat Risda ikut berhenti berbicara di hadapan laki laki itu. Keduanya menikmati makanan tersebut hingga tanda tak tersisa, dan mereka juga langsung menghabiskan minuman mereka.


"Renzo, apakah lo kenal dengan Kakak ipar gue?" Tanya Risda tiba tiba ketika teringat apa yang dikatakan oleh Afrenzo.


"Gue ngak kenal dengan kakak ipar lo," Jawab Afrenzo singkat.

__ADS_1


"Lalu kenapa lu suruh gue hati hati dengan dia waktu itu? Gue pengen sekali menanyakan ini kepada lo sejak dulu, tapi gue takut memulai pembicaraan terlebih dulu sebelumnya,"


"Jadi gini, Da. Lo kan seorang anak gadis yang belum nikah, sementara kakak ipar lo itu masih saja orang asing bagi lo. Tinggal bersama kakak ipar laki laki itu harus hati hati, apalagi di rumah lo kagak ada orang tua lo. Lo sendiri kan juga pernah cerita ke gue kalau kamar lo kagak ada pintunya, dan bahkan kamar lo hanya ada kelambu doang,"


"Iya juga sih,"


Tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan, apalagi Risda yang tinggal bersama dengan Kakak ipar lelakinya dirumah tersebut. Apalagi Risda masihlah seorang gadis, banyak kasus yang terjadi di luaran sana mengenai ipar yang menyukai adik iparnya sendiri.


Oleh karena itu, Afrenzo menyuruh Risda untuk hati hati. Bahkan dirinya sendiri juga pernah menawarkan diri untuk memasangkan sebuah pintu di kamar Risda, akan tetapi Risda menolaknya begitu saja.


Afrenzo pernah mendengar kisah yang diceritakan oleh Risda, yang memberitahukan bahwa kakaknya itu menikah di usia dini. Tidak menutup kemungkinan bahwa keduanya akan merasa bosan suatu saat nanti, apalagi keduanya belum melihat dunia luas ketika di usia remaja.


Zaman sekarang, terlalu banyak pernikahan dini dan bahkan hamil diluar nikah, dan hal itu juga berpengaruh pada tingkat perceraian yang semakin marak. Banyak anak yang berusia belasan tahun sudah menikah dan banyak juga yang masih berusia belasan tahun sudah bercerai.


Itu karena apa? Karena mereka belum puas untuk menikmati masa remaja mereka, pikiran mereka begitu sempit hingga tidak memikirkan masa depan. Yang ada di dalam pikiran mereka hanyalah bisa berdua duaan, tanpa memikirkan masa depan mereka akan seperti apa.


Sanggupkah mereka untuk mengurus seorang anak? Mengurus anak tidak semudah apa yang mereka bayangkan, sikap anak tergantung apa yang kita didik kepada mereka. Siap menikah itu artinya mereka siap untuk menanggung sebuah tanggung jawab yang sangat berat, siap menikah adalah siap untuk memiliki anak dan kehilangan kebebasan.


Masa remaja adalah masa yang begitu indah, banyak orang yang menikah menyesali pernikahannya, karena mereka tidak begitu puas ketika mereka berada di usia remaja. Lika liku pernikahan di dunia nyata tidak seindah lika liku pernikahan di dunia novel, di dunia novel mungkin hanya menikah tanpa jatuh cinta setelah itu jadi cinta dan mereka bahagia, tapi tidak di dunia nyata.


Di dunia novel mungkin sekali ada konflik setelah selesai mereka akan bahagia untuk selamanya, tapi di dunia nyata konflik tidak ada habisnya. Belum lagi memikirkan soal tanggungan, bukan hanya soal mendidik anak akan tetapi juga kebutuhannya, biaya yang harus dikeluarkan, bahan makanan yang harus dibeli, dan lain sebagainya.


Banyak wanita yang kehilangan harga dirinya hanya untuk mengemis cinta kepada sang lelaki, dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang kehilangan kehormatannya. Jangan pernah memaksa untuk dicintai oleh orang yang kita cintai, karena cinta bukanlah sebuah paksaan akan tetapi cinta adalah sebuah keikhlasan.


"Kakak ipar lo, tidak menutup kemungkinan bisa beralih ke hati adik iparnya. Karena cinta datang karena terbiasa, dari raut wajahnya saja sudah menunjukkan bahwa dia tidak puas dengan satu wanita," Ucap Afrenzo.


"Maksud lo? Lo nuduh kakak ipar gue macam macam gitu? Kakak ipar gue nggak akan ngelakuin itu, dia sangat mencintai Kakak gue. gue nggak mau kakak gue dan kakak ipar terjadi masalah, yang akan berakibat pada adik adik keponakan gue,"


"Bukan begitu maksud gue, Da. Sesama lelaki mereka pasti mengerti jalan pikiran satu sama lainnya, gue juga lelaki dan gue paham soal itu,"


"Jadi lo pernah begitu juga?"


"Mau jitak tangan kiri atau kanan?"


Risda lalu langsung menutup mulutnya dengan rapat rapat, tidak biasanya lelaki itu mengancam terlebih dahulu. Seperti biasa dirinya akan langsung memberikan sebuah jitakkan kepada Risda, akan tetapi kali ini dunia bertanya lebih dulu antara tangan kiri atau kanan.


Ancaman lelaki itu sepertinya bukanlah hal yang main main, sehingga hal itu langsung membuat Risda menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Apalagi dengan tatapan yang tidak bersahabat yang diberikan oleh Afrenzo kepadanya, tatapan itu seakan akan begitu sangat mencengkeram dengan eratnya.


Sehingga hal itu langsung membuat Risda berdiam diri tanpa menyakiti ucapannya, daripada dirinya yang merasa sakit akibat ulah Afrenzo lebih baik dirinya berdiam diri. Memang benar sih apa yang dikatakan oleh Afrenzo, Risda pun mulai paham dengan apa yang dikatakan oleh Afrenzo sebelumnya.


Tak beberapa lama kemudian bel masuk sekolah pun berbunyi, hal itu langsung membuat keduanya segera bergegas untuk masuk ke dalam kelas mereka masing masing. Keduanya lalu berpisah ketika berada di tengah tengah kelas mereka, Riska langsung masuk ke dalam kelasnya sementara Afrenzo pun demikian.


Ketika Risda sampai di kelasnya dirinya terkejut melihat teman temannya yang sudah berganti pakaian, sementara dirinya masih tetap memakai pakaian olahraga.


"Lo nggak ganti pakaian dulu, Da?" Tanya Mira.


"Kalau gue gantinya nanti gimana? Gue lagi males sekarang," Jawab Risda yang kembali bertanya kepada Mira.


"Sebentar lagi ada jam pelajaran Bu Yunita, Emang lu mau dihukum olehnya?"


Bu Yunita adalah seorang guru yang dikenal begitu killer dalam soal menghukum, bahkan masalah sekecil apapun itu akan dibesarkan olehnya sehingga murid tersebut dihukum. Bu Yunita juga termasuk guru wakepsek, oleh sebab itu dirinya begitu tegas dalam mendidik.


Mendengar itu langsung membuat Risda bergegas menuju ke bangkunya untuk mengambil pakaian gantinya, dirinya takut terkena amukan dari guru itu. Sehingga Risda segera bergegas untuk mengganti pakaiannya di kamar mandi, dengan segera dirinya melakukan itu karena takut sebelum dirinya selesai berganti pakaian Bu Yunita sudah berada di dalam kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2