
Risda kini tengah berjalan disebuah lorong yang ada disekolahnya seorang diri, waktu menunjukkan masih pagi sehingga murid murid lainnya belum datang. Risda datang kesekolah lebih awal, seperti biasa jika dirinya berangkat lebih awal maka dia belum sarapan dirumah.
"Orang yang ada dirumah lo jarang masak ya?" Tanya siswa cowok yang ada dikelasnya, karena mereka semua sampai hafal soal itu.
"Masak sih, cuma pas gue mau berangkat belom matang," Jawab Risda.
"Itu trik saudara lo kali, biar lo kagak makan dirumah,"
"Santuy dong. Gue kan masih punya uang dari Nyokap gue, jadi ngak perlu khawatir buahaha..." Risda pun tertawa dengan kerasnya.
"Kalo gue sih mending gue tabung uangnya,"
"Itu kan lo, lagian Nyokap gue sanggup kok biayain gue."
Risda pun langsung duduk di bangkunya, karena dirinya sangat malas untuk meladeni orang yang begitu penasaran dengan hidupnya itu. Bukannya membantunya untuk membelikan makanan atau apapun itu, justru lelaki itu hanya mengomentarinya saja.
Cukup lama kemudian, teman temannya pun datang satu persatu dikelas itu, hingga membuat kelas tersebut sangat ramai. Risda yang terbiasa tidak makan pagi itu, dirinya merasa sudah terbiasa makan dijam siang pada waktu istirahat.
"Da," Panggil Rania yang selaku ketua kelas, dikelas itu.
"Iya hadir, ada apa?" Tanya Risda.
"Wulan kenapa? Kok ngak masuk lagi?" Tanyanya sambil menoleh kearah bangku Wulan.
"Kagak tau lah, ngapain nanya gue?" Tanya Risda dengan sinisnya.
"Lo kan tetangganya, Da. Masak gue harus tanya Mira sih? Mira kan rumahnya sangat jauh dari rumah Wulan,"
"Tanya aja noh sama rumput bergoyang. Mungkin bisa dapat gelengan,"
"Ngenes ngomong sama lo."
Risda sendiri pun merasa khawatir dengan Wulan, akan tetapi dirinya tidak mau menunjukkannya kepada teman temannya itu. Didalam hati kecilnya, dirinya ingin mendatangi rumah Wulan untuk menanyakan kabarnya, karena beberapa hari ini dirinya tidak masuk sekolah.
"Apa gue tanya saja ya sama Kakaknya? Mungkin dia tau mengapa Wulan ngak masuk, tapi gue harus jawab apa kalo dia tanya kenapa ngak sama Wulan lagi? Dia kan tidak tau apa apa soal ini," Batin Risda.
Risda pun bertekad untuk menanyakan kondisi Wulan kepada saudara Wulan itu, ketika berangkat sekolah pun Risda melihat bahwa rumah Wulan masih terkunci. Oleh karena itu, dirinya tidak mengetahui kondisi Wulan beberapa hari ini, apalagi dirinya terus dihujani oleh masalah.
"Belakangan ini Wulan jarang masuk kelas, mungkin lo tahu kenapa dia tidak masuk kelas, lo kan tetangganya mana mungkin lo tidak tahu soal dia. Wulan bahkan sama sekali tidak mengirim surat kepada sekolah, kalau lama lama seperti ini dia bisa dikeluarkan dari sekolah. Apa lo ngak kasihan sama dia?" Tanya Rania.
Sangking banyaknya masalah yang dihadapi, dia sampai lupa dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Bahkan dirinya pun sama sekali tidak menyadari bahwa Wulan tidak masuk beberapa hari ini, sehingga dirinya sedikit terkejut ketika Rania bertanya kepadanya soal Wulan.
"Da, kenapa lo malah bengong?" Tanya Rania sambil menyenggol pundak Risda.
"Eh, gue ngak papa kok. Lo tadi bilang apa?" Tanya Risda dan langsung tersadarkan dari lamunannya.
"Lo nggak denger gue ngomong dari tadi?"
"Maaf, gue ngelamun."
"Ya Allah, Da. Mangkanya kalo ada orang ngomong itu dengerin, jangan bengong mulu, kesambet baru tau rasa lo. Gue tadi ngomong kalau Wulan gak masuk terus nanti dia bisa dikeluarkan dari sekolah, emang lo nggak kasihan sama dia kalau sampai dikeluarkan dari sekolah?"
"Untuk apa kasihan sama dia? Dianya sendiri aja nggak kasihan sama hidupnya, kalau seandainya dia kasihan dia bakalan masuk sekolah kok. Emang nomornya nggak bisa dihubungi? Lo tanya aja langsung kedia lewat ponsel,"
"Kalau bisa dihubungin ngapain gue tanya ke lo?"
"Iya juga sih, ngapain ya lo tanya gue?"
"Pulang sekolah nanti, kita sama sama ke rumahnya yuk buat tanya kabarnya? Mungkin saja dia kena musibah sehingga tidak bisa masuk sekolah," Sela Mira tiba tiba.
Sedari tadi teman temannya itu terus mendengarkan pembicaraan yang dilakukan oleh Rania dan juga Risda. Awalnya mereka bingung dengan apa yang dikatakan oleh keduanya, akan tetapi mereka akhirnya paham soal itu.
__ADS_1
Mira menyarankan untuk mendatangi rumahnya, karena hanya Risda yang tahu alamat rumah Wulan sehingga mereka mengajak Risda untuk pergi ke sana. Sementara Risda tidak ingin ke rumah temannya itu, apalagi telah terjadi perselisihan di antara keduanya.
"Bener tuh apa yang dikatakan Mira, lebih baik kita langsung datang aja untuk memeriksa keadaannya. Siapa tahu Wulan memang membutuhkan bantuan, lagian nggak ada salahnya kok berkunjung ke rumahnya," Ucap Septia.
"Kalau semuanya setuju, jadi gimana?" Tanya Rania.
"Baiklah akan gue antar ke rumahnya, gue hanya antar di gang rumahnya saja tapi tidak ikut masuk. Kalau kalian nggak setuju soal itu mending gak usah datang," Ucap Risda.
Keputusan Risda sudah bulat, bahwa dirinya tidak akan datang kerumah Wulan. Jika teman temannya ingin datang kesana, dia akan mempersilahkannya akan tetapi dia tidak ikut untuk masuk kedalam rumahnya.
"Da, kok lo gitu sih?" Tanya Mira sambil memegangi pundak Risda dengan kedua tangannya.
"Kalo kalian tidak suka, mending ngak usah datang sekalian. Gue ngak mau menginjakkan kaki dirumahnya," Jawab Risda dengan tegasnya tanpa adanya senyuman diwajahnya.
"Ra, kita hormati saja keputusan Risda. Lagian kalo dia mau mengantarkannya juga itu sudah bagus, daripada kita yang kesasar nantinya," Sela Rania.
"Tapi Ran, apa gunanya kalo dia tidak ikut juga? Masak iya kita tiba tiba datang kesana, terus kalo ditanya tau rumahnya dari mana, lalu kalian mau jawab apa?" Mira tetap kekeh untuk mengajak Risda kerumah Wulan.
"Itu bisa alasan, Ra. Sudah jangan bertengkar, jangan sampai hal ini membuat kita saling bermusuhan," Ucap Septia sambil memegangi tangan Mira.
Mira pun melepaskan pegangan tangannya dari pundak Risda itu, Risda pun hanya membuang muka dari wajah Mira dan memilih untuk duduk kembali dibangkunya. Lagian berdebat dengan mereka tidak akan membawa solusi apapun, seorang wanita lebih memilih pakai hati daripada logika.
"Da, lo beneran mau kan ngantarin kita?" Tanya Rania kepada Risda.
"Pulang sekolah nanti gue anterin kalian kesana, tapi gue langsung balik latihan. Gue ngak ikut masuk," Ucap Risda sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Baiklah, itu sudah lebih dari cukup. Maafin Mira soal tadi ya?"
"Bukan masalah."
*****
"Belom makan lagi?" Tanya Afrenzo.
Risda hanya menggelengkan kepalanya, dirinya pun terus melanjutkan makannya itu karena dirinya sangat kelaparan saat ini. Afrenzo sendiri pun langsung meminum minuman yang dirinya bawa sebelumnya, tidak ada percakapan diantara keduanya selama Risda masih makan.
Afrenzo tidak pernah meminum minuman dingin apalagi mengandung es, sehingga dirinya selalu memesan minuman hangat, entah itu teh hangat, coklat panas, susu hangat, dan bahkan masih banyak lainnya.
Minum minuman dingin akan membuatnya mudah sakit, sehingga karena itu dirinya selalu meminum minuman hangat ataupun air mineral disuhu biasa. Risda pun telah selesai menghabiskan makanannya itu, dirinya pun langsung menyambar minumannya dan meminumnya hingga tandas tak tersisa.
"Kakek dan Nenek gue udah ngak kerja disawah lagi, jadi urusan masak itu tergantung sama Tante gue. Gue kalo makan itu suka lama, lah sementara kalo dia masak itu pas gue siap siap mau berangkat. Kalo gue nunggu matang, gue bisa telat sampai disekolahnya," Ucap Risda dengan menghela nafas panjang.
"Kok gitu sih Tante lo? Emang dia ngak punya anak yang masih sekolah?"
"Ada sih, Namanya Aditya. Dia masih duduk dibangku kelas 4 SD, tapi dia kalo berangkat juga mepet jamnya. Dia juga ngak pernah makan dirumah, palingan bekal,"
"Apa dia ngak mikir pendidikan anaknya kalo jarang sarapan pagi?"
"Gue ngak tau soal itu, tadi gue berangkat aja dia masih motong sayuran. Kalo gue tungguin sampai matang pun, gue bakalan datang kesekolah kalo sudah masuk jam pelajaran,"
Risda sudah merasa sebal sejak pagi, dirinya mondar mandir untuk melihat apakah masakannya selesai dimasak atau belum. Pertama dirinya melihat Tantenya sedang memotong sayuran, melihat itu langsung membuat Risda masuk kembali ke kamarnya untuk menunggu lagi.
Ketika keluar untuk kedua kalinya, dirinya masih melihat Tantenya mencuci sayuran, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi lewat 10 menit. Jam segitu biasanya Risda sudah memanaskan motornya untuk siap siap berangkat.
Ketika keluar untuk yang ketiga kalinya, Risda melihat tantenya menyalakan kompor yang ada di dapur. Dan hal itu masih perlu banyak yang dilakukan, dan masakan itu tidak akan cepat masak siap disajikan.
Biasanya dirinya akan kesekolah tepat di jam 06.30, dan dia akan sampai kesekolah disaat jam 7 pas. Sepuluh menit lagi akan terdengar bunyi bel masuk sekolah, jika Risda berangkat terlambat maka dia pun masuk sekolahnya pasti terlambat.
"Sabar ya? Semoga Allah segera membuka pintu hatinya agar secepatnya sadar,"
"Aamiin... Makasih ya, Renzo. Ucapan lo selalu membuat gue ngerasa lebih tenang,"
__ADS_1
Afrenzo pun tersenyum kearah Risda, dirinya pun mengangkat tangannya dan mengusap pelan puncak kepala Risda. Risda merasa senang karena usapan yang diberikan oleh Afrenzo, hingga hal itu langsung menimbulkan sebuah senyuman yang cerah diwajah Risda.
"Renzo, apa gue selalu nyusahin lo selama ini?" Tanya Risda tiba tiba.
"Ngak."
"Gue minta maaf sama lo, maafin gue karena sering ngerepotin lo selama ini, Renzo. Gue selalu buat masalah, tapi lo yang nyelesaiin masalah gue,”
"Lo ngak salah, ngak perlu minta maaf. Gue tau soal itu,"
"Renzo, bahkan lo jauh lebih paham soal gue daripada orang yang selalu ada didekat gue. Lo begitu baik sama gue, tapi gue justru sering nyusahin lo selama ini. Maafin gue,"
"Da, lo ngak perlu minta maaf. Lo ngak salah,"
"Tapi Renzo, gue ngerasa ngak enak sana lo,"
"Bukan masalah."
Afrenzo pun tersenyum dengan tulusnya kepada Risda, senyum itu hanya pernah dilihat oleh Risda dan juga anggota keluarganya saja. Sosok sedingin Afrenzo tidak mudah tersenyum kepada siapapun, karena hal itulah Risda merasa spesial bagi sosok tersebut.
Hanya Risda yang dapat melihat senyumannya itu, sementara seluruh temannya bahkan teman akrabnya sekali pun tidak pernah melihat senyuman itu. Hal itu langsung membuat Risda kembali tersenyum kearahnya, melihat senyuman itu seketika langsung membuat dirinya ikut tersenyum.
"Senyum lo bagus, sangat indah," Ucap Risda tanpa sadar.
Mendengar ucapan Risda, langsung membuat Afrenzo merasa salah tingkah dihadapan gadis itu. Dirinya pun tidak bisa berkata kata lagi di hadapan Risda, karena mendadak dirinya seakan akan terasa terpaku tanpa bisa melakukan apapun.
"Astaga! Apa yang gue omongin barusan? Renzo, jangan salah paham ya, tadi gue ngak sadar apa yang gue ucapkan," Ucap Risda yang baru sadar dengan apa yang dirinya katakan sebelumnya.
"Ngak papa, sebaiknya kita kembali ke kelas saja. Habis ini jam pelajaran akan dimulai," Ucap Afrenzo dan langsung bangkit dari duduknya.
"Renzo, lo ngak marah ke gue kan? Gue bener bener ngak sadar dengan apa yang gue ucapkan tadi kok. Gue ngak bohong,"
"Gue ngak marah, hanya saja gue ada tugas."
"Lo yakin?"
"Iya."
Risda melihat bahwa lelaki itu seperti sedang salah tingkah di hadapannya, dirinya pun merasa bersalah karena ucapan yang ia ucapkan tanpa dirinya sadari itu. Mungkin karena ucapan itu langsung membuatnya menjadi salah tingkah, oleh karena itu lelaki itu ingin sekali buru-buru untuk kembali ke kelas.
"Tunggu! Gue ikut juga, gue mau balik ke kelas juga," Ucap Risda dan langsung bergegas untuk menyusul Afrenzo.
Kini keduanya sedang berjalan dengan beriringan, sesekali Risda akan menatap wajah lelaki itu yang terlihat seperti salah tingkah. Sementara Afrenzo, dirinya sibuk menundukkan kepalanya dan sama sekali tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Renzo," Panggil Risda sambil menggandeng tangannya itu.
"Hem?" Deheman Afrenzo sambil menatap kearah wajah Risda.
"Apa gue begitu berartinya dalam hidup lo selama ini? Kita berdua juga kan baru kenal, bagaimana mungkin menganggap gue orang yang begitu berarti. Lo anak orang kaya sementara gue hanya anak seorang pembantu, bagaimana mungkin orang seperti gue itu bisa berarti dalam hidup lo? Lo itu tampan dan bakalan bisa dapat wanita yang memiliki kedudukan tinggi, halo salah jika anggap gue itu sebagai wanita yang sangat berarti. Gue bukan apa apa dan gue juga bukan siapa siapa, gue tidak pantas untuk dianggap sebagai orang yang berarti bagi siapapun,"
"Lo berarti bagi orang yang sangat tepat buat lo. Seorang sahabat tidak diukur dari kekayaan orang tua, itu adalah harta mereka bukan harta kita. Sahabat sejati tidak diukur karena kedudukan, seberapapun tinggi kedudukan orang itu sama sekali tidak berarti jika sudah masuk ke dalam tanah. Sementara sahabat sejati insya Allah akan bersama di Jannah-Nya,"
"Lo bener, Renzo. Tapi gue sadar diri karena gue hanya anak seorang pembantu. Ucapan mereka benar bahwa gue nggak pantes bersahabat sama lo, banyak orang yang ngomongin gue macam macam tentang lo dan gue. Mereka bilang bawa gue pakai pelet buat deketin lo, bahkan ada yang bilang bahwa gue ini cewek kecentilan yang menginginkan lo,"
"Da, nggak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki keunggulan dan kelemahan masing masing, jangan pernah dengarkan ucapan orang karena orang hanya bisa berucap tanpa bisa bertindak. Biarkan mereka berkata apapun sesuka hatinya, penilaian manusia tidak berarti dimata Allah. Penilaian mereka tidak akan bisa menentukan kita masuk neraka atau surga, selama kita bisa berbuat baik maka lakukan itu. Semakin tinggi pohon maka semakin besar resikonya terkena angin,"
"Tapi ucapan itu sangat menyakitkan, Renzo. Mereka menuduh gue macam macam,"
"Kebohongan tidak perlu bukti apapun, sementara kejujuran butuh bukti yang kuat agar tidak menjadi fitnah. Lakukan Apapun yang ingin lo lakukan asalkan itu masih berada di batas wajar, jangan pernah dengarkan ucapan orang lain karena itu akan melemahkan, yakinlah pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa untuk melakukan yang terbaik."
"Iya Renzo, akan gue usahain."
__ADS_1