
"Woi pegangin anjiiirrr! Nih orang tenaganya kuat banget," Teriak Risda sambil memegangi pintu kelasnya.
"Tahan, Da. Kita berjuang bersama," Ucap Septia.
"Anjaay berjuang, kek mau perang dunia aja deh kalian," Ucap Mira dengan santainya.
"Bacooot lo, Ra!" Umpat Risda.
"Woi jangan berdebat nama sih? Bisa ngak sih fokus dikit?" Sela Septia.
"Woi kalian bertiga! Bukain dong!" Teriak Rania dari dalam.
"Kagak mau!" Teriak Risda balik sambil memegangi gagang pintu.
Entah apa yang dilakukan oleh Mira, Risda dan Septia. Ketiganya tengah menahan pintu kelas tersebut agar Rania tidak bisa keluar dari dalam kelas, mereka sangat heboh ketika mengetahui bahwa Abdul mau menyatakan cinta kepada Rania, sehingga ketiganya pun mengunci dua orang itu didalam kelas.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, ketiganya langsung mengunci Rania dan Abdul didalam kelas sesuai dengan rencana sebelumnya. Dalang dari rencana ini adalah Risda sendiri, melihat temannya disukai oleh lelaki membuatnya paling heboh sendiri.
Tanpa Risda sadari bahwa dari kejauhan sosok Afrenzo sedang mengawasinya sambil melihat kedua tangannya didepan dadanya, Afrenzo kini berdiri didalam kelasnya sambil melihat kearah cendela kelasnya dan dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Risda dan yang lainnya.
"SMA atau TK?" Gumannya sambil melihat kearah Risda.
Tingkah Risda disekolahan lebih mirip kayak anak TK daripada SMA, disana Risda nampak ceria dan sukanya bermain main daripada serius. Sikap jahilnya itu membuat dirinya nampak terlihat seperti anak TK, yang sukanya bermain main.
"Woi tangan gue!" Teriak Septia ketika tidak sanggup untuk menahan pintu.
"Lebay lo," Ucap Risda.
"Gue kagak kayak lo, Da. Gue ini cewek dan patut untuk bersikap lebay,"
"Dih, lalu lo pikir gue ini cowok? Kalo gue cowok untuk apa pake jilbab?"
"Kali aja lo nyamar, yang lainnya mana tau kalo lo itu sebenarnya cowok, Da. Habisnya sikap lo mirip cowok,"
"Mirip pala lo peyang?"
"Bodoamat!"
"Woi itu password gue anjiiirr!"
Septia malah menjulurkan lidahnya untuk mengejek Risda, sementara Risda pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Septia. Tak beberapa lama kemudian, tenaga orang yang ada didalam kelas itu sangat kuat hingga membuat ketiganya kewalahan untuk menahan pintu.
"Woi buka! Sudah selesai!" Teriak Abdul dari dalam.
Mendengar teriakan tersebut langsung membuat Risda dan yang lainnya mengendorkan tenaganya, pintu itu pun langsung terbuka begitu saja. Pandangan pertama kali yang dilihat oleh Rania adalah Risda, dan cewek itu pun mengepalkan tangannya dengan erat.
"Gimana? Ide gue bagus kan?" Tanya Risda tanpa rasa bersalah kepada Abdul.
Mendengar pertanyaan itu langsung membuat Abdul mengacungkan dua jempolnya kearah Risda, Risda pun menepuk dadanya bangga. Sebuah jitakkan pun meluncur begitu saja dikening Risda, dan pelakunya adalah Rania.
"Bagus apanya bangsaat!" Ucap ketus dari Rania.
"Dih, marah?" Tanya Risda dengan sok polosnya.
"Gimana Ab? Udah diterima belom?" Tanya Septia.
"Udah dong, thanks ya semuanya. Sekarang gue udah resmi pacaran sama Rania," Ucap Abdul.
"Selamat! Jangan lupa pajak jadiannya," Seru Risda.
"Gampang, nanti makan makan dirumah gue,"
"Wokeh Ab,"
Mereka pun bercanda tawa sebentar, setelah itu mereka bergegas menuju kearah parkiran dan mengambil motor mereka masing masing kecuali Risda. Risda kembali masuk kekelas untuk membereskan buku bukunya sebelum pulang, karena hari ini latihannya liburan sehingga dirinya menunggu dikelas untuk ekstrakurikuler selanjutnya.
Dikelas itu hanya ada Risda seorang diri, sementara yang lainnya pun pulang kerumah mereka masing masing. Ketika sedang memasukkan bukunya, Risda merasa ada yang tengah berjalan menuju ketempatnya itu, Risda mendengarkan setiap langkah demi langkah yang dilakukan oleh orang itu.
"Aaaa ....." Teriak Risda.
Risda terkejut bukan main ketika mendapati sosok Afrenzo yang berdiri dibelakangnya itu, Afrenzo terlihat sangat menyeramkan dan lebih seram daripada mahluk halus. Karena terkejutnya, hal itu langsung membuat Risda jatuh terduduk dikursinya.
"Lo ngagetin banget sih, bener bener kayak demit tau ngak? Tiba tiba ada tiba tiba ngak ada," Gerutu Risda kesal karena sangking terkejutnya dirinya itu.
"Udah gue bilang, jangan mengumpat," Ucap Afrenzo dengan dinginnya hingga membuat Risda menunduk ketakutan.
"Maaf Renzo," Cicit Risda pelan sangking takutnya.
"Berapa kali lo mengumpat?"
"2 kali ini,"
Afrenzo pun mendekatkan tubuhnya kepada Risda, melihat itu membuat Risda kesulitan untuk meneguk ludahnya sendiri. Tatapan keduanya pun bertemu, Risda mampu melihat kedua mata Afrenzo dengan sangat jelasnya.
"Lo mau apa!?" Tanya Risda dengan paniknya.
__ADS_1
Hal yang dilakukan oleh Afrenzo selanjutnya pun tidak disangka sangka oleh Risda, dengan beraninya Afrenzo pun merekatkan sebuah lakban hitam dibibir milik Risda itu hingga membuat kedua mata Risda langsung membulat sempurna.
"Mmmmm..." Risda berusaha untuk melepaskan lakban tersebut akan tetapi kedua tangannya langsung dipegangi oleh Afrenzo.
"Jangan dilepas, atau mau gue beri hukuman yang lebih parah lagi nanti," Ucap Afrenzo sambil menatap tajam kearah Risda.
"Nih bocah maunya apa sih? Kadang kadang emang aneh deh. Atau jangan jangan pasien RSJ yang kabur," Batin Risda menjerit.
Afrenzo pun langsung bergegas untuk duduk disebelah Risda, dirinya pun menatap lurus kedepan menuju kearah papan tulis yang putih bersih itu. Tatapannya seakan akan tengah memandang kearah jauh, Risda terus memperhatikan sosok lelaki itu.
"Da... Jika suatu hari nanti gue ngak ada, lo harus hidup lebih baik kedepannya, jangan kebanyakan mengumpat,"
"Mmmmm..."
"Ngak usah dijawab, dengarkan saja ucapan gue. Hidup manusia tidak ada yang tau sampai kapan, gue hanya berpesan sama lo, perbaikilah perkataan lo."
Setelah mengatakan itu Afrenzo pun bangkit dari duduknya, melihat itu langsung membuat Risda mengenggam pergelangan tangan cowok itu dengan eratnya. Risda dapat merasakan bahwa tangan cowok itu terasa panas, dan sepertinya tengah tidak baik baik saja.
"Gue ngak papa, jangan lupa besok latihan,"
Afrenzo pun melepaskan pegangan tangan Risda dan langsung bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Melihat itu langsung membuat Risda menarik paksa lakban yang ada dimulutnya itu, dan dirinya pun bergegas untuk menyusul Afrenzo.
"Renzo tunggu!" Teriak Risda dan langsung menghentikan langkah kaki dari Afrenzo.
Risda pun langsung bergegas untuk menghampirinya, dirinya pun kembali mengenggam erat tangan Afrenzo yang terasa semakin panas saat ini. Pandangan keduanya pun kembali bertemu, Risda menatap lekat lekat kearah kedua mata Afrenzo.
"Lo sakit, Renzo? Lo sakit apa? Badan lo panas sekali,"
"Hanya demam, tapi lo ngak pelu khawatir."
"Hanya? Pantes saja omongan lo ngawur kali ini. Lo ngak bakalan kenapa kenapa kan?"
"Gue ngak papa, hanya nafas gue yang panas doang,"
"Kita cek kedokter ya? Gue ngak mau lo sakit, Renzo. Lo harus sembuh pokoknya,"
"Ngak usah, gue mau ke aula beladiri dan istirahat disana. Kalo lo butuh apa apa nanti kesana saja,"
"Gue anter ya?"
"Ngak perlu,"
Afrenzo kembali bergegas meninggalkan Risda ditempat itu, Risda pun menatap kearahnya hingga bayangannya tak lagi dapat dilihat oleh mata Risda. Belakangan ini memang Afrenzo tengah sakit, akan tetapi kali ini suhu tubuhnya sangat tinggi hingga menyentuhnya sekali saja sudah membuat Risda kepanasan.
*****
Setelah selesai mengikuti ekstrakurikuler desain grafis, Risda langsung bergegas menjalankan motornya menuju kearah parkiran aula beladiri. Ia melihat pintu aula tersebut sudah tertutup dengan rapatnya, dan dirinya tidak mendapati motor Afrenzo disana.
"Mungkin dirinya sudah pulang kali,"
Untuk memastikan dugaan itu benar, Risda pun melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam aula beladiri itu. Dirinya lalu membuka pintu aula tersebut, dengan perlahan lahan.
"Aaaa..." Teriak Risda dan langsung menutup kedua matanya dengan kedua tangannya.
"Ngapain lo?" Tanya seseorang yang ada didalam aula tersebut.
Risda teriak bukan karena melihat siapa orang tersebut, melainkan melihat Afrenzo yang tengah berlatih dengan telanj*ng dada. Dada bidang milik Afrenzo pun terlihat begitu jelas dikedua mata Risda, mendengar teriakan tersebut langsung membuat Afrenzo kembali memakai bajunya.
"Lo ngapain ngak pake baju disini?" Tanya Risda yang masih setia menutup kedua matanya.
"Udaranya panas, biar suhu tubuh gue menurun," Jawab Afrenzo.
"Tapi ngak kayak gini juga kali, mata gue ternodai, Renzo. Lo harus tanggung jawab,"
"Lo yang harus tanggung jawab, tubuh gue udah lo lihat,"
"Ngak mau, pokoknya lo yang harus tanggung jawab!"
"Buka mata lo sekarang!"
"Lo ngak pake baju tau!"
"Buka!"
Risda pun mengintip diantara sela sela jarinya, melihat Afrenxo yang sudah memakai bajunya kembali pun langsung membuat Risda menegapkan kedua tangannya kembali. Risda melihat keringat Afrenzo yang bercucuran dikeningnya itu, dan dirinya pun langsung menempelkan punggung tangannya di kening Afrenzo.
"Udah ngak panas lagi," Ucap Risda lirih.
"Gue kan udah bilang, gue ngak papa,"
"Lo aneh, Renzo. Belakangan ini lo berbicara panjang lebar ke gue, lo sebenernya itu dingin sejak kecil atau gimana sih?"
"Gue sama kayak lo, tapi di ubah oleh mereka menjadi dingin,"
"Tapi jangan dingin dingin ke gue ya? Gue mudah flu soalnya,"
__ADS_1
Sebuah jitakan pun meluncur begitu saja dikening Risda, pelakunya adalah Afrenzo sendiri yang memang hobi barunya adalah menjitak kepala Risda. Risda pun mendengus kesal dan mengusap usap keningnya yang telah dijitak oleh Afrenzo itu.
"Sakit tau ngak sih?" Tanya Risda dengan kesalnya.
"Kenapa ngak pulang?"
"Gue takut lo kenapa kenapa, mangkanya gue kesini setelah ekstrakulikuler. Btw, motor lo kemana kok ngak ada didepan?"
"Dipinjem Fandi, mangkanya gue belum pulang."
"Cowok sialan itu? Mau ngapain dia pinjem motor lo? Kayak kagak punya motor aja tuh orang,"
"Ngak baik ngomong gitu, dia sedang kesusahan sekarang."
Risda pun mendengus pelan, meskipun begitu dirinya tidak membantah ucapan dari Afrenzo. Keduanya pun langsung duduk di kursi panjang yang ada didalam aula beladiri itu, Afrenzo pun mengusapi keringatnya dengan handuk kecil yang dibawa olehnya itu.
"Renzo, gue boleh minta nomor telpon lo ngak?" Tanya Risda ketika mengingat bahwa dirinya belum memiliki nomor telpon dari Afrenzo.
"Untuk apa?" Tanya Afrenzo balik.
"Ya untuk latihan, mungkin saja ada jurus yang gue lupa atau gimana gitu,"
"Kalo lupa tinggal datang ke aula beladiri."
"Pliss Renzo, gue minta ya?"
"Mana ponsel lo?"
"Bentar,"
Risda pun buru buru untuk mengeluarkan ponsel miliknya itu, dirinya pun langsung menyerahkannya kepada Afrenzo. Afrenzo pun langsung menerima uluran ponsel tersebut, dirinya pun memencet sesuatu didalam ponsel milik Risda itu.
"Sudah," Ucap Afrenzo dan kembali menyerahkan ponsel tersebut kepada Risda.
"Thanks ya,"
*****
Pagi ini, seperti biasanya. Risda berangkat sekolah lebih awal daripada sebelumnya, dirinya tidak sarapan pagi karena dirumahnya masakannya belum matang. Dengan keadaan lapar dirinya berjalan menyusuri lorong sekolahan itu.
Wajahnya nampak terlihat badmood sekali, dirinya sangat kesal dengan orang rumah yang sama sekali tidak memikirkan dirinya itu. Sudah tau bahwa Risda berangkat sekolah pagi ini, tapi justru mereka malah tidak masak dan masih standby didalam kamarnya untuk tidur itu.
Kali ini Kartika pun masuk sekolah, sudah 2 hari dirinya tidak masuk sekolah. Ketika berjalan di lorong itu, Risda tidak sengaja melihat Kartika yang juga tengah menyusuri lorong itu.
"Tika tunggu!" Teriak Risda dan langsung bergegas untuk mendatangi gadis itu.
Mendengar teriakkan Risda langsung membuat Kartika menoleh kebelakang dan mendapati sosok Risda yang tengah berlari kearahnya. Kartika pun terlihat tidak seceria sebelumnya, hal itu langsung membuat Risda mengerutkan keningnya.
"Lo kenapa, Tik?" Tanya Risda keheranan dengan gadis itu.
"Gue mau pindah sekolah, Da. Tante gue maksa banget buat gue pindah sekolah dari sini," Jawab Kartika dengan nada sedihnya.
"Pindah sekolah? Kenapa menadak gini?" Tanya Risda yang keheranan.
"Iya Da, katanya Tante gue, sekolah disini itu kejauhan banget dari rumah. Lalu dia nyuruh gue untuk pindah,"
"Jangan, Tik. Pindah sekolah itu ngak enak banget tau, gue udah ngalamin sebelumnya. Disaat semuanya akur, tiba tiba kita datang sebagai siswa baru, jadi kita tidak bisa seakrab mereka."
Risda memang pernah pindah sekolah disaat dirinya masih duduk dibangku kelas 5 SD dulu, karena keluarganya yang berantakan sehingga dirinya terpaksa untuk ikut Ibunya bekerja dan sekolah didekat tempat bekerja Ibunya.
Disanalah dirinya bertemu dengan ke 5 anak majikan Ibunya itu, didekat rumah majikan Ibunya tersebut terdapat rumah teman sekelasnya disekolah baru. Disanalah Risda dijauhi oleh teman temannya karena dirinya yang hanya anak dari seorang pembantu rumah tangga.
Risda masih teringat dengan jelas perkataan teman temannya yaitu
"Jangan sok ya kamu disekolahan ini! Kamu itu murid baru disini,"
"Ngakunya saudaranya, ternyata dia cuma anak pembantunya, Chafid sendiri yang bilang ke gue"
"Dih, jijik banget. Orang ngak mampu aja sok kaya,"
Masih banyak lagi hinaan hinaan yang didapatkan oleh Risda saat itu, dan sejak saat itu dirinya takut untuk berteman karena dia hanyalah anak seorang pembantu.
Dirinya tidak pernah cerita kepada Ibunya mengenai hal yang terjadi disekolahan itu, menerima hinaan begitu banyak membuat Risda langsung ngedrop dan sakit untuk beberapa hari dan sangat lemas tanpa tenaga.
Dirinya harus menelan hinaan itu seorang diri, karena begitu banyaknya hinaan yang dirinya dapatkan langsung membuatnya takut untuk berteman dan memulai pembicaraan dengan yang lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa dukungannya ya, dukungan kalian begitu berarti dan semangat untuk Author agar bisa terus berkarya. Semoga dengan adanya novel ini, kita bisa belajar untuk menghargai hidup,
🗣️: Thor kok babnya panjang banget sih
Author : Yang Author tulis ini bukan hanya karangan belaka saja, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari sini. Mungkin ini cara Author untuk mengetik sekaligus berdakwah, apapun yang Author tulis akan Author pertanggung jawabkan diakhirat nanti
Jadi, bijaklah dalam membaca ya besti
__ADS_1
Dan selalu dukung Author, bukan untuk nyari keuntungan tapi agar novel ini tidak tenggelam begitu saja. Mungkin cara berdakwah Author berbeda dengan yang lainnya :v
Tapi dakwah tidak hanya dimasjid saja ya...