Pelatihku

Pelatihku
Episode 66


__ADS_3

Risda baru masuk kedalam kelasnya ketika bel masuk berbunyi, hal itu langsung membuat teman temannya menatap kearahnya aneh. Tidak biasanya Risda akan telat untuk masuk kedalam kelasnya seperti saat ini, Risda pun langsung duduk dibangkunya.


"Lo habis begadang, Da? Tumben telat," Tanya Mira kepada Risda.


"Gue dari kelasnya Renzo, dia sakit."


"Tumben lo tiba tiba perhatian dengan seorang cowok? Emang sakit apa dia? Kok bisa sakit?"


"Badannya panas kek kompor gas tau, untung saja ngak terlalu parah sakitnya,"


"Kok bisa? Apa jangan jangan habis meluk lo kemarin ya? Lo kan memang panas, pantes saja dia ikut panas."


"Sialan lo, Ra. Pegang nih tangan gue, panas ngaknya. Orang suhu badan gue normal normal aja tuh, kagak panas sama sekali."


"Dih, ogah... nanti gue ketularan panasnya, ucapan lo kan memang panas, Da. bahkan lebih panas dari api neraka,"


"Kayak pernah keneraka aja lo, Ra. Bisa bisanya ngomong kayak gitu,"


"Kata orang orang kan begitu, neraka itu panas."


"Kata siapa? Lo pernah ngerasain sakit panas kagak? Nah itu gambaran dari neraka, jadi bukan panas saja tapi juga dingin. Sakit panas dan meriah itu adalah pancaran dari neraka,"


...****Sedikit belajar ilmu agama ya****...


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


Sesungguhnya penyakit demam (panas) adalah berasal dari panas neraka jahanam. [1]


Dari panas atau bagian neraka Jahannam, maknanya nyala/lidah api dan radiasi panasnya. Ulama berselisih mengenai penisbatan dengan neraka jahannam. Ada yang berpendapat bahwa ini penisbatan secara hakikat, sehingga jilatan api adalah memang bagian dari Jahannam. Allah telah menakdirkan munculnya dengan sebab-sebab agar hamba-Nya bisa mengambil pejaran (ketika terkena demam, pent). Sebagaimana kenikmatan dan kebahagiaan dari kenikmatan surga, Allah tampakkan di dunia agar menjadi pelajaran (contoh) dan petunjuk.


Pendapat yang lain menyatakan bahwa penisbatan (dengan Jahannam) semacam penyerupaan saja. Yaitu panas demam menyerupai panas Jahannam agar menjadi peringatan bagi jiwa-jiwa akan panasnya neraka Jahannam.[2]


Api kalian ini yang dinyalakan oleh anak cucu Adam hanyalah 1 bagian dari 70 bagian dari panasnya api Jahannam. Mereka berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, api di dunia ini saja sungguh sudah cukup (untuk menyiksa).” Maka beliau bersabda, “Maka sesungguhnya api jahannam dilebihkan 69 kali lipat panasnya, dan setiap bagiannya (dari 69 ini) mempunyai panas yang sama seperti api di dunia.[3]


demam adalah bagian jatah seorang mukmin dari neraka.[4]


Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata,


Aku pernah mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang sakit. Kemudian Aku letakkan tanganku di atas selimut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku dapati panasnya (sangat panas karena yang disentuh adalah selimutnya, bukan badannya).


Aku berkata, “wahai Rasulullah, betapa beratnya demam ini!”


Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Sesungguhnya kami para nabi, diberi ujian yang sangat berat, sehingga pahala kami dilipat gandakan.”


Abu Said pun bertanya, ‘wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;


“Para nabi, kemudian orang shaleh. Sungguh ada diantara mereka yang diuji dengan kemiskinan, sehingga harta yang dimiliki tinggal baju yang dia gunakan. Sungguh para nabi dan orang shaleh itu, lebih bangga dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan kalian ketika mendapat rezeki.”[5]


Para Sahabat terkena demam ketika sampai di Madinah. Maka Abu Bakar dan Bilal terkena demam. Kemudian ‘Aisyah menemui mereka kemudian berkata,


“wahai ayah bagaimana keadaannmu? Wahai Bilal bagaimana keadaanmu?”


Abu Bakar ketika tertimpa demam beliau berkata,


"Setiap orang bersama keluarganya padahal kematian lebih dekat daripada tali sandalnya.”[6]


Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk Ummu as-Saib (atau Ummu al-Musayyib), kemudian beliau bertanya, "Apa yang terjadi denganmu wahai Ummu al-Sa’ib (atau wahai Ummu al-Musayyib), kenapa kamu bergetar?"


Dia menjawab, "Sakit demam yang tidak ada keberkahan Allah padanya."


Maka beliau bersabda, "Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat".[7]


Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya[8]


Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.[9]


Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.[10]


...***Disimak ya, jangan diskip***...


Mira pun mengangguk angguk kan kepalanya kepada Risda, memang Risda orangnya begitu kasar akan tetapi dirinya juga paham dengan ilmu agama. Tak beberapa lama kemudian akhinya seorang guru pun masuk kedalam kelas tersebut, dan mereka lalu memulai pelajaran dihari itu.


"Da, nanti latihan lo libur kan?" Tanya Rania yang tengah duduk dibelakang Risda ketika mengingat bahwa hari ini adalah hari jum'at.


"Iya, emang kenapa?" Tanya Risda balik.


"Yok main kerumah Nanda, kita buat brownies kukus nanti," Ajak Rania.


"Mumpung latihan lo libur, Da. Kapan lagi coba kita main bareng gini?" Tanya Septia.


"Iya Da, sebelum lo berangkat tadi, kita sudah merencanakannya," Ucap Mira.


"Emang rumah Nanda dimana? Jauh ngak dari sini?" Tanya Risda kepada teman temannya.


"Ngak jauh sih, lo tau rumah gue ngak?" Tanya Rania.


"Gue tau, dan gue ngak nanya rumah lo, Ran. Gue tuh nanya rumah Nanda, bukan lo,"

__ADS_1


"Sialan lo, Da. Lah ini gue kasih tau, rumah Nanda tuh ngelewati rumah gue, jalan didepan rumah gue itu lo terus aja ke selatan. Nanti berangkat bareng bareng deh," Ucap Rania menjelaskan kepada Risda, akan tetapi Risda sama sekali tidak paham.


"Ran, gue nebeng ke lo ya? Gue kan ngak berani naik sepeda motor," Ucap Mira kepada Risda.


"Gampang soal itu, Ra. Pokoknya nanti kita berangkat bareng bareng deh, sekalian kita mampir ke minimarket untuk beli bahan bahannya."


"Syiapp!!" Jawab mereka bersamaan.


"Eh, btw nanti iuran berapa'an? Gue kagak punya uang banyak soalnya," Tanya Risda sambil menengok kearah saku bajunya.


"Soal uang pikir nanti aja, Da. Kita cuma beli bahan doang, soal kompor dan yang lainnya itu urusan Nanda, orang dia yang ngajak," Ucap Rania.


"Oke deh, kalo gitu gue setuju,"


"Mantap."


"Jadi siapa saja yang ikut?" Tanya Mira.


"Gue, lo, Risda, Nanda, Septia, sama Kartika."


"Oke oke."


Setelah berdiskusi, mereka pun langsung melanjutkan tugas sekolah mereka. Mereka pun diberikan tugas sekolah yang cukup banyak oleh guru yang ada dikelasnya itu, sementara guru tersebut tengah sibuk untuk menyiapkan soal soal ujian nantinya.


Ketika guru tersebut pergi dari kelas, mereka masih tetap mengerjakan tugas tersebut. Risda pun nampak celingukan kearah sekitarnya, entah apa yang sedang dirinya cari saat ini.


"Apa'an sih lo, Da? Jangan bilang lo mau nyontek gue lagi," Tanya Mira dengan sewotnya.


"Diihh... Nyontek lo yang ada jawaban gue salah semua anjiiir! Kalo beruntung ya betulnya cuma sebiji doang," Jawab Risda yang tak kalah sewotnya.


"Penting kan gue selesai ngerjainnya." Mira pun menutupi soal jawabannya itu dan melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Lagian gue juga udah selesai, gue cuma nyari'in pulpen gue yang dipinjem sama noh biang kerok, alias David."


"Hoax.. Mana coba gue lihat jawaban lo? Emang udah semua?"


"Udah dong. Ogah, yang ada lo nya yang nyontek gue nanti, gue kagak iklas dicontek sama lo,"


"Huffftttt... Tega lo, Da. Sama temen sendiri aja kayak gini,"


"Mangkanya jangan seudzon mulu jadi orang,"


Risda pun langsung bangkit dari duduknya dan langsung mengumpulkan buku tugasnya tanpa memberi contekan kepada Mira, melihat itu hanya membuat Mira mendengus kesal karenanya.


Jam istirahat pun telah tiba, Risda langsung buru buru untuk pergi kekantin untuk membeli makanan. Biasanya Afrenzo lebih dulu sampai dikantin daripada dirinya, akan tetapi kali ini dia tidak melihat keberadaan dari Afrenzo.


Risda menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan dari Afrenzo, akan tetapi dirinya sama sekali tidak melihat bayangan dari lelaki itu. Ia pun mendekat kearah penjual yang ada dikantin itu, yakni Pendekar besar yang dimaksud oleh Afrenzo.


"Pak, apa Renzo ngak kesini?" Tanya Risda.


"Belum kelihatan, mungkin masih dikelas."


"Baiklah, Pak. Saya beli 2 minuman botol ya, jangan yang dingin."


"Iya,"


Pak Hajirohman tersebut langsung mengambilkan dua botol minuman mineral, ia lalu memberikannya kepada Risda. Risda pun langsung membayarnya, dan memasukkan minuman tersebut kedalam kantung plastik.


"Makasih, Pak."


Risda pun segera bergegas keluar dari area kantin tersebut, ia pun langsung bergegas menuju kearah kelas Afrenzo untuk menghampiri lelaki itu. Sesampainya disana, Risda melihat Afrenzo yang tengah menyandarkan kepalanya dibangku kelasnya.


Melihat itu langsung membuat Risda bergegas untuk menghampirinya, ia takut kalo Afrenzo akan sakit lagi saat ini. Risda pun melihat bahwa kedua mata Afrenzo kini tengah terpejam dengan eratnya, ia melihat wajah kelelahan yang terpancarkan diraut wajah Afrenzo.


"Renzo, lo masih sakit?" Tanya Risda, akan tetapi tidak mendapatkan sahutan dari Afrenzo.


Risda pun hendak menempelkan punggung tangannya dikening Afrenzo, akan tetapi tiba tiba Afrenzo membuka kedua matanya dan langsung mencekal tangan Risda dengan kuatnya.


"Akh... Sakit, Renzo!" Pekik Risda.


Melihat bahwa tangan Risda yang tengah dia pegangi dengan kuatnya itu, langsung membuat Afrenzo melepaskan pegangan tangannya. Begitulah seorang Afrenzo jika dibangunkan tiba tiba, maka refleknya akan keluar begitu saja.


Rahma pun tidak berani untuk membangunkan anaknya dengan cara menyentuh anggota tubuhnya, karena jika melakukan itu maka reflek yang dimiliki oleh Afrenzo pun membuat Afrenzo menyerangnya tiba tiba.


Biasanya Rahma akan membangunkannya dengan cara mengetuk pintu kamar Afrenzo dengan kerasnya, akan tetapi dirinya jarang melakukan itu karena Afrenzo yang selalu bangun tepat waktu karena telah menjadi kebiasaan.


"Sorry," Ucap Afrenzo singkat.


"Lo masih sakit? Apa perlu gue antar lo pulang saja, Renzo?"


"Gue ngak sakit, cuma ngantuk."


"Lo habis begadang apa gimana? Tidak biasanya lo tidur dikelas,"


"Kenapa?"


"Ya gue ngerasa aneh aja sih,"


"Kenapa kemari?" Afrenzo mengulangi pertanyaannya karena Risda menjawab pertanyaan sebelumnya tidak sesuai dengan yang dia tanyakan.

__ADS_1


"Gue khawatir sama lo, Renzo. Nanti lo ngak sadarkan diri lagi kayak kemarin,"


"Gue ngak papa,"


"Minum dulu," Ucap Risda dan langsung menyodorkan sebotol minuman kepada Afrenzo hingga membuat Afrenzo langsung menatap kearah kedua mata Risda.


"Ini ngak ada sangkut pautnya dengan hutang gue, jadi lo tenang saja," Ucap Risda lagi kepada Afrenzo.


"Thanks..."


Afrenzo pun langsung membuka tutup botol tersebut, ia pun meneguknya, melihat itu langsung membuat Risda menerbitkan senyuman diwajahnya. Afrenzo pun menghabiskan setengah dari botol minuman tersebut, entah karena haus atau bagaimana lelaki itu.


"Kalo lo sakit, terus turnamen beladiri besok gimana? Lo kan pelatih kami disini," Tanya Risda yang membayangkan tentang pertandingan beladiri yang diadakan esok hari.


"Pertandingan tetap jalan, gue harus datang buat memberikan penghargaan atlet yang berprestasi,"


"Kalo ngak kuat jangan dipaksakan, Renzo. Nanti lo malah makin parah sakitnya,"


"Gue ngak sakit," Jawab Afrenzo dengan tegasnya.


Risda yang memang tidak percaya itu pun langsung menyentuhkan punggung tangannya dikening Afrenzo, memang benar suhu tubuh Afrenzo terasa normal saat ini. Afrenzo pun tiba tiba bangkit dari duduknya hingga membuat Risda sangat terkejut, Afrenzo pun mencoba untuk mendekat kearah Risda hingga membuat Risda termundurkan beberapa langkah.


Tanpa Risda sadari bahwa tubuhnya itu menabrak sebuah tembok yang ada dibelakangnya, ketika hendak bergegas pergi dari sana Afrenzo pun mencegahnya dengan menempelkan telapak tangannya ditembok hingga Risda tidak bisa pergi dari tempat itu.


"Renzo, lo mau ngapain?" Tanya Risda dengan bergidik ngeri melihat tatapan tajam dari Afrenzo.


"Bunuh lo," Jawab Afrenzo.


"Jangan! Gue kan masih pengen hidup, lagian gue juga belum nikah. Masak iya gue mati dalam keadaan jomblo? Pake ngenes lagi," Risda pun sedikit ketakutan dihadapan seorang Afrenzo.


"Gue ngak peduli,"


"Lo seriusan, Renzo? Lo jangan kayak gini, Renzo. Nanti lo dihajar lagi sama Bokap lo, Gue ngak mau lo dipukuli lagi kayak kemaren,"


"Kenapa? Lo takut lihat gue dipukuli?"


"Gue ngak mau lo dipukuli lagi,"


"Diem dan nurut ke gue,"


"Lo mau gue ngapain?"


"Jadi anak yang baik, jangan kebanyakan mengumpat. Udah berapa kali gue bilang ke lo? Tapi lo tetap saja ngelakuin itu,"


"Renzo, mengubah kebiasaan itu ngak semudah yang lo bilang. Gue udah coba berusaha tapi kata kata itu terlontarkan begitu saja, lantas apa hubungannya itu dengan ini?"


"Apa lo lupa tadi pagi? Berapa kali lo mengumpat?"


Risda pun mengingat ingat kejadian tadi pagi, "Sorry... Gue akan berusaha lagi, sekarang lepasin gue ya? Ngak enak dilihat banyak orang nanti,"


"Disini sepi,"


"Iya sekarang sepi, bagaimana kalo nanti?"


"Lalu kenapa?"


"Lo mau kejadian kemaren terulang lagi?"


"Boleh,"


"Renzo! Gue ngak mau,"


"Janji dulu, baru gue akan lepasin."


"Gue ngak bisa janji, tapi gue akan berusaha untuk itu, Renzo."


"Baiklah, kalau ketahuan mengumpat lagi, lo bakalan tau hukuman apa yang akan gue berikan ke lo nanti."


Afrenzo pun menurunkan tangannya kembali, melihat itu langsung membuat Risda menghela nafas lega. Afrenzo lalu berjalan menuju kearah tempat duduknya, dan dirinya pun langsung duduk dibangkunya kembali.


"My darlingku datang!" Teriak seseorang dari kejauhan hingga membuat keduanya menoleh kearah yang sama.


"Renzo! Selametin gue!" Teriak Risda dan langsung naik keatas bangku Afrenzo yang memang dekat dengan tembok untuk menghindari lelaki itu.


"Darling, kenapa naik keatas meja? Nanti kalo jatuh gimana?" Tanya Benni kepada Risda.


"Jangan panggil gue kayak gitu, anj..." Risda langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika dirinya hendak mengumpat. "Kenapa disekolahan ini bisa ada murid kayak lo, sih!"


"Aku sudah 5 tahun disini, tapi ngak naik kelas."


"Astaga ya Allah, lo gila sejak kapan?" Tanya Risda sambil menepuk keningnya dengan keras.


"Aku ngak gila, aku masih normal. Kata Ibuku, ngak boleh ngmong kayak gitu,"


"Iya deh iya deh, minggir! Gue mau kembali kekelas!" Sentak Risda.


Risda pun langsung lompat kelantai, is pun sedikit mendorong tubuh Benni agar dia bisa terlepas dari tempat itu.


"Makkkk!!! Tolong!!' Teriak Risda seraya berlari dari tempat tersebut untuk keluar dari dalam kelas Afrenzo.

__ADS_1


__ADS_2