
Rini yang pernah melapor pada sang madam tentang kelakuan Yordan yang menghabiskan sabun kalau datang ke apartemen Ica,malah mendapat dukungan dari sang madam untuk mengerjai Yordan dengan cara meminta uang tutup mulut. Tidak mungkin kan Rini melakukan hal itu kalau tidak ada sang penguasa yang memberi dukungan penuh.
"Orang pedangnya udah nyala lagi dad,semenjak ketemu sama Ica. Mommy takut tuh anak berulah lagi karena gak tahan nunggu Ica selesai kuliah. Lihat aja kalau sampe si bule kampret berani macam-macam,gak akan ada toleransi lagi kali ini." Kata mommy Sarah sambil menggertakan giginya dan mengepalkan tangannya.
Daddy Edwin yang melihat istrinya sangat khawatir plus emosi mencoba menenangkan hati sang istri.
"Gak usah terlalu khawatir gitu lah mom,percaya sama Yordan. Kan mommy bilang Yordan cintanya udah mentok sama Ica,daddy yakin kalau Yordan gak akan berani berbuat macam-macam disana. Yordan itu hasil kolaborasi kita berdua mom. Dia punya sisi setia seperti daddy dan sisi tegas seperti mommy. Udah yah,jangan dipikirin lagi,mending kita tidur lagi,lihat tuh udah jam berapa."
"Gimana gak khawatir sih dad,Yordan itu anak kita satu-satunya,kalau hidupnya begitu terus,kapan dia mau nikahnya. Kalau dia gak nikah-nikah,gimana kita mau punya cucu untuk nerusin usaha kita." Mommy Sarah malah semakin ngegas.
"Iya mom,daddy tau,daddy juga ngerti kok maksud mommy. Tapi nanti kalau mommy sakit gara-gara mikirin Yordan,terus nanti daddy siapa yang ngurus?!"
"Cih...kalau bukan gara-gara daddy gak mungkin mommy sepusing ini sekarang.!!" Sekarang daddy Edwin yang jadi pelampiasan amarah.
"Loh kok daddy?!" Tanya daddy Edwin yang tidak mengerti kenapa tiba-tiba sang istri menyalahkan dirinya.
"Iyalah!!! Coba dulu daddy gak diam-diam vasektomi,mungkin Yordan udah punya sepuluh adik,dan mungkin kelakuannya ada yang lebih baik dari si bule kampret itu."
"Kok jadi bahas itu lagi sih mom?! Kan kita berdua udah janji gak akan bahas itu lagi." Kata daddy Edwin tak senang.
"Makanya daddy ikut pusing dong kayak mommy,bukan malah suruh mommy tidur.!!" Balas mommy Sarah dengan nada sedikit meninggi.
Daddy Edwin menghela nafasnya,lebih baik ia mengalah dan mengakhiri perdebatan unfaedah ini. Karena percuma saja berdebat dengan istrinya,pasti akan selalu ada saja jawaban dari sang istri. Sekalipun istrinya yang kalah debat,suami harus tetap mengalah demi kesejahteraan dan keharmonisan ranjang,eh...salah kesejahteraan dan keharmonisan rumah tangga maksudnya.
__ADS_1
"Iya...iya...ini daddy udah ikut pusing. Tuh kalau gak percaya,pegang aja.!!"
Dengan bodohnya,mommy Sarah memegang kepala sang suami untuk memastikan kebenaran ucapan suaminya.
"Bukan kepala yang ini yang pusing mom,tapi kepala yang ini." Daddy Edwin memindahkan tangan mommy Sarah dari kepalanya dan mengarahkan tangan istrinya ke bawah.
"Daddy ikh..!" Mommy Sarah memukul malu-malu lengan sang suami karena merasakan sesuatu yang sudah mengeras disana.
"Cih..kok merah gitu mukanya? Kayak baru pertama kali megang aja!!"
"Habis daddy tiba-tiba naro tangan mommy kesitu sih. Mommy kan kaget.!!"
"Sar...." sudah lama daddy Edwin tidak memanggil nama istrinya,begitu pun mommy Sarah yang tidak pernah memanggil nama sang suami,dan malam ini ingin sekali ia mendengar sang istri memanggil namanya. Daddy Edwin pun mengambil tangan sang istri dan menciuminya.
"Kita udah gak muda lagi dad.."
"Justru karena kita udah gak muda lagi,makanya aku pengen kita kembali ke masa muda kita. Sebenarnya,daddy iri sama Yordan karena ia bisa mengalami yang namanya masa pacaran,karena kita kan dulu gak mengalami masa itu. Dan daddy ingin sekali merasakan masa itu di hari tua kita."
"Buat apa daddy iri sama Yordan,harusnya Yordan yang iri sama daddy,karena daddy mendapatkan mommy tanpa harus berjuang seperti Yordan." Maksud kata berjuang yang ada di otak mommy Sarah berbeda dengan kata berjuang yang ada di otak daddy Edwin.
Kalau kata berjuang yang ada di otak daddy Edwin adalah perjuangan cinta seperti yang di lakukan Yordan untuk mendapatkan cinta,namun yang ada di otak mommy Sarah adalah berjuang menahan hasrat selama bersama dengan Ica,karena dulu daddy Edwin dan mommy Sarah menikah karena sebuah tragedi.
"Rasanya tuh beda aja mom,ibarat mau nyebrang sungai,daddy lewat jembatan kalau Yordan harus nelusuri sungai. Mungkin dari sudut pandang Yordan,daddy yang enak karena harus lewat jembatan,gak perlu susah payah melawan arus sungai. Begitu juga dari sudut pandang daddy,yang melihat Yordan harus berjuang menelusuri sungai,kelihatan tangguh dan gantleman."
__ADS_1
"Buat mommy,daddy juga gantleman kok,karena pada saat itu daddy bertanggung jawab sama mommy,padahal waktu itu mommy yang goda daddy." Kata mommy Sarah menenangkan jiwa insecure suaminya. Daddy Edwin memang paling pintar membalikkan keadaan. Yang awalnya mommy Sarah ngomel-ngomel gak jelas,sekarang mommy Sarah malah berbalik menenangkan suaminya.
"Sar..."
"Ya Ed.." jawab mommy Sarah,karena tak mau mendengar suaminya membahas masa lalu yang membuat suaminya merasa iri dengan anaknya,akhirnya mommy Sarah meladeni panggilan sang suami dengan membalas memanggil nama daddy Edwin.
"Obat encok mu masih banyak kan?!" Tanya daddy Edwin memberi kode pada sang istri untuk melakukan ritual.
Dengan wajah merah merona,mommy Sarah mengangguk malu-malu.
"Gak masalah kan kalau besok kamu gak kekantor?!"
Mommy Sarah mengangguk sekali lagi.
"Betul? Kayaknya malam ini aku gak akan bisa ngerem deh,kan udah seminggu kita gak naik roller coaster." Tanya daddy Edwin sekali lagi.
Memang betul sudah seminggu pasangan tidak sadar usia itu tidak melakukan ritual. Bukan karena mommy Sarah yang sedang datang bulan,melainkan karena kesibukan daddy Edwin di kantor.
Semenjak sang istri menguasai anak tunggal mereka untuk tetap bekerja di kantornya,daddy Edwin tidak punya banyak waktu untuk berleha-leha,seandainya Yordan ikut membantunya di perusahaan,mungkin kesibukannya tidak akan seperti ini dan jadwal untuk beritual pun tidak akan terbengkalai. Bagaimana tidak terbengkalai,daddy Edwin yang selalu pulang di atas jam sembilan malam,harus terima saat dia membuka kamar,istrinya sudah tidur pulas memeluk guling. Yang harusnya jadwal melakukan ritual bersama sang istri,daddy Edwin harus ikhlas melakukan ritual dengan selingkuhannya si sabun mandi.
Mommy Sarah menganggukkan kepalanya sekali lagi.
"Apapun buat kamu Ed,aku pasrah.." sepertinya hasrat mommy Sarah sudah sama tingginya dengan sang suami,tapi memang dasar wanita kalau lagi pengen melakukan ritual,suka malu-malu untuk minta duluan.
__ADS_1