
Yordan seperti tak memperdulikan Ica yang sudah menendang,menyeret bahkan melemparnya keluar dari unit apartemennya. Sekarang fokus Yordan membawa Jeki periksa ke dokter spesialis untuk memastikan kalau si Jeki baik-baik saja dan masih bisa bertarung.
Yordan berjalan tertatih-tatih menuju lift yang akan membawanya sampai ke lantai bawah. Tiba lobi,Yordan kembali tertatih-tatih berjalan menuju parkiran tempat ia memarkirkan mobilnya. Ia masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobil. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh,agar bisa secepatnya menyelamatkan sang sahabat kecil.
Sedangkan Ica setelah menutup pintu unit apartemennya,ia kembali masuk ke dalam kamar dan membuang tubuhnya ke atas tempat tidur. Dengan posisi tubuh telungkup Ica menangis sesunggukan karena pelecehan yang baru saja Yordan lakukan. Walaupun hanya sekedar mencium tapi buat Ica itu adalah salah satu bentuk pelecehan,karena itu adalah ciuman pertamanya dan yang lebih menyakitkan Yordan melakukannya karena nafsu bukan karena cinta.
⭐⭐⭐⭐⭐
Pagi ini Ica bangun dengan mata yang bengkak. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin. Ia menghela nafasnya saat kejadian semalam kembali berputar di otaknya.
"Arrrgghh...keluar-keluar-keluar!!!" Ica memukul-mukul kepalanya agar memori kejadian semalam menghilang dari isi kepalanya.
Ica melangkahkan kakinya menuju kamar mandi,mengisi air dalam bath up. Mana tau dengan ia berendam di dalam bath up otaknya bisa kembali segar dan kejadian semalam bisa ia lupakan.
Satu jam ia berada dalam kamar mandi.
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka.
Ica melangkahkan kakinya menuju ruang ganti untuk mengganti bathrobenya dengan pakaian yang akan ia pakai ke rumah orangtuanya. Ica ingin memberitahu mama Nivi tentang rencananya yang akan melanjutkan sekolah di New York,ia memutuskan untuk datang ke rumah orangtuanya,karena ia juga sangat rindu orang-orang yang ada di rumah orangtuanya. Tapi ia sengaja menunggu papa Fano berangkat ke kantor terlebih dahulu.
Ica melihat jam yang ada didinding kamarnya,sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Jadi bisa di pastikan papa Fano sudah berangkat kerja. Ica mengambil hp nya dan memesan taksi online. Lalu menelpon sang mama,memberitahu kalau dirinya akan datang kesana. Setelah menelpon mama Nivi,taksi online yang Ica pesan sudah tiba di lobi apartemen.
Ica buru-buru keluar dari unit apartemennya menaikki lift menuju lobi.
Ica masuk ke dalam taksi online yang sudah ia pesan. Mobil pun melaju menuju rumah orangtua Ica.
Setengah jam mobil itu membelah jalanan,akhirnya sampai juga di depan rumah orangtua Ica. Setelah membayar ongkos taksi,Ica pun turun dari dalam mobil. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang rumah orangtua Ica.
"Pak...tolong buka gerbangnya dong." Teriak Ica pada satpam yang sedang berjaga dirumahnya pagi ini.
Pak Damar yang mendengar ada orang yang minta di bukakan pintu gerbang pun,berjalan ke arah pintu gerbang dan melihat siapa yang datang dari sela-sela pintu gerbang.
"Eh non Ica..." pak Damar pun memencet tombol agar pintu gerbang otomatis itu terbuka.
"Silahkan masuk non."
"Makasih pak Damar. Bapak sehat kan?" Tanya Ica ramah.
"Alhamdulilah non sehat. Non juga gimana kabarnya? Para pekerja di rumah ini kangen banget sama non Ica."
"Sama pak,Ica juga kangen banget sama kalian semua. Makanya Ica nekat dateng kesini."
"Yang sabar yah non,Tuhan gak akan memberikan cobaan kepada hamba Nya melebihi kemampuan hamba Nya." Pak Damar tau alasan Ica keluar dari rumah majikannya itu.
"Iya pak. Makasih yah pak. Ica masuk ke dalam dulu yah." Ica permisi pada pak Damar.
"Iya non silahkan.." pak Damar mempersilahkan Ica masuk ke dalam rumah orangtuanya.
Pak Damar menggeleng-gelengkan kepalanya setelah Ica berlalu dari hadapannya. Iya kasihan melihat Ica,di umurnya yang masih delapan belas tahun Ica harus menghadapi kerasnya kehidupan karena keegoisan papanya sendiri.
__ADS_1
"Ternyata mau orang kaya,mau orang miskin,masalah tetap aja ada walaupun bentuk masalahnya aja yang beda." Lirih pak Damar.
Pak Damar pun kembali ke dalam pos nya setelah menutup kembali pintu gerbangnya.
"Mama...." teriak Ica saat kaki nya sudah menginjak ruang tamu rumah orangtuanya.
Mbak Nurul yang mendengar suara Ica,ia segera berlari dari dapur menuju ruang tamu.
"Astaaagaaa non Ica..." teriak mbak Nurul senang melihat Ica ada di rumah majikannya. Mbak Nurul berlari memeluk Ica.
"Kangen banget sama non Ica."
Ica mengelus punggung mbak Nurul.
"Ica juga mbak kengen banget sama sama mbak Nurul." Tak terasa air mata mengalir di pipi Ica.
"Ekhm..." mama Nivi berdehem agar Ica dan mbak Nurul menyadari kedatangan mama Nivi.
Mbak Nurul melepaskan pelukannya dari Ica. Ica pun mengelap air mata haru yang mengalir di pipinya.
"Mama.." Ica beralih memeluk mamanya.
Mama Nivi mengelus rambut putri sulungnya tersebut.
"Ica kangen banget sama mama." Ica makin mengeratkan pelukannya.
"Kamu aja kangen banget,apalagi mama Ca..." kata mama Nivi.
"Mbak tolong bikinin jus alpukat untuk Ica yah,sama keluarin cemilan,bawa ke halaman belakang." Kata mama Nivi pada mbak Nurul.
"Baik bu." Mbak Nurul pun kembali ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan untuk Ica.
"Kita ngobrol di halaman belakang aja yuk." Ajak mama Nivi pada putri sulungnya itu.
Mereka pun melangkahkan kaki menuju halaman belakang.
"Nita sekolah mah...?!" Tanya Ica setelah duduk di sofa halaman belakang.
Mama Nivi mengangguk.
"Kamu sehat kan? Kok mama lihat kamu agak kurusan?!"
"Sehat mah,mungkin karena capek kerja."
"Terus gimana kabar nak Yordan dan mommy Sarah?"
"Semua sehat mah." Ica tak ingin memberitahu mama nya tentang kejadian di hotel waktu itu dan kejadian di coffee shop kemarin. Biarlah itu menjadi rahasia dirinya,mommy Sarah dan Yordan saja.
"Kamu bagus-bagus kerjanya,jangan sampai mengecewakan mommy Sarah yang baiknya selangit sama kamu." Mama Nivi memberikan nasehat untuk putrinya.
__ADS_1
"Iya mah."
Pembicaraan mereka pun terjeda ketika mbak Nurul datang membawa jus alpukat dan cemilan kesukaan Ica.
"Makasih mbak.."
"Sama-sama non Ica cantik."
"Mbak Nurul bisa aja. Minta di naikkin yah gajinya?"
Mbak Nurul tersenyum malu-malu.
"Non Ica bisa aja."
"Doain aja Ica sukses yah mbak,nanti Ica kasih THR lima kali lipat deh."
"Amiiin."
Setelah perbincangan singkat dengan Ica,mbak Nurul beranjak dari halaman belakang.
"Mah,ada yang pengen Ica bicarain sama mama." Kata Ica setelah menyeruput jus alpukatnya.
"Apa? Kok kayaknya serius banget?" Tanya mama Nivi penasaran.
"Ica mau berangkat ke New York mah,mommy Sarah mau nyekolahin Ica disana."
Mama Nivi membulatkan mata nya,ia kaget bukan kepalang. Pasalnya ini New York,seandainya masih luar kota mama Nivi tidak akan seterkejut ini.
"Terus kamu terima?"
Ica mengangguk.
"Ini kesempatan Ica untuk menggali bakat Ica mah. Ica mau tunjukkin ke papa kalau Ica bisa sukses sekalipun Ica gak sepintar Nita dan papa."
Mama Nivi menghela nafasnya. Benar apa yang dikatakan Ica,ini adalah kesempatan emas untuk Ica. Tapi mama Nivi seakan belum siap merelakan putrinya berada di negara orang sendirian.
"Pergi lah Ca,raih lah cita-cita mu. Mama akan selalu mendoakan mu dimana pun kamu berada." Kata mama Nivi sambil memeluk tubuh Ica.
"Makasih mah,makasih mama mau dukung Ica." Ica membelas pelukan mama Nivi dan mengeratkan pelukannya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata dan sepasang telinga yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.
"Ngapain lagi kamu disini??!!!" Teriak papa Fano yang melihat Ica ada di halaman belakang rumahnya.
Papa Fano kembali pulang ke rumah karena ada berkas yang ketinggalan di rumahnya. Ia tidak menyuruh mama Nivi untuk mengantar berkasnya karena memang hanya papa Fano yang tau dimana letak berkas itu.
Begitu papa Fano masuk ke dalam rumah,ia melihat mbak Nurul membawa nampan ke halaman belakang.
Papa Fano penasaran siapa tamu yang datang,papa Fano melangkahkan kakinya menuju halaman belakang.
__ADS_1
Papa Fano menggeram saat mendengar Ica akan melanjutkan sekolah ke luar negri. Papa Fano masih tidak terima kalau Ica melanjutkan sekolah di bidang yang berhubungan dengan seni.