
"Kamu udah melakukan yang terbaik untuk Ica. Kamu hebat Nivi. Jadi apa rencana kamu selanjutnya?" Tanya mommy Sarah pada mama Nivi.
Mama Nivi menggedikkan bahunya.
"Entah lah aku bingung."
Mama Nivi adalah anak pertama dari tiga bersaudara,dua saudara mama Nivi adalah laki-laki. Setelah orangtua mama Nivi meninggal,semua harta orangtuanya di kuasai oleh ke dua adiknya. Untungnya mama Nivi bukan orang yang gila harta,jadi walaupun sebenarnya ada beberapa warisan yang harusnya menjadi milik mama Nivi,tapi mama Nivi tidak memperdebatkannya. Karena pada saat itu usaha papa Fano juga sudah stabil bahkan meningkat. Mama Nivi hanya mengabdikan dirinya untuk mengurus anak dan suaminya. Tapi karena ia sudah memutuskan untuk bercerai dari papa Fano,ia harus merubah haluan hidupnya dari ibu rumah tangga menjadi wanita karir.
"Gimana kalau kamu buka butik? Ica bilang,bakat ngedesignnya itu diturunkan dari kamu. Atau buka toko kue,kata Ica kue-kue buatan kamu juga paling the best." Mommy Sarah memberikan ide-ide sesuai kemampuan mama Nivi.
Mama Nivi sejenak berpikir.
"Kalau buka butik harus punya modal banyak. Jadi aku mulai buka toko kue aja lah kayaknya."
"Kalau kamu mau aku bisa modalin kamu buka butik."
Mama Nivi menggeleng.
"Gak usah Sarah,kamu udah banyak bantu Ica. Masa kamu mau bantu aku lagi buka butik. Aku gak mau ngerepotin kamu."
"Aku gak ngerasa di repotin kok Niv,lagian mau aku kemanain lagi uang aku kalau bukan untuk bantu orang-orang terdekat aku dan bantu anak-anak yatim-piatu."
"Tapi tetap aja aku gak mau nyusahin kamu,aku mau belajar mandiri dari sekarang. Yah walaupun telat,tapi lebih baik dari pada gak mencoba sama sekali."
Mommy Sarah menghela nafasnya,ia memahami keinginan mama Nivi.
"Tapi kalau butuh bantuan apa-apa ngomong aja sama aku,jangan segan-segan dan merasa merepotkan,oke.!"
Mama Nivi mengangguk.
"Kalau gitu,gimana kalau hari ini kita langsung bergerak cari tempat untuk mama buka toko kue??!!" Ucap Ica yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.
"Ide bagus. Ayo.." sambut mommy Sarah,lalu menarik tangan mama Nivi.
__ADS_1
Sepertinya mommy Sarah dan Ica lah yang paling bersemangat dalam hal ini.
"Tunggu,kata kamu Nita mau kesini. Nanti kalau dia kesini terus gak ada orang disini gimana?" Tanya mama Nivi.
"Astaga...Ica sampe lupa.!!! Ya udah mama sama mommy Sarah aja yang pergi,nanti kalau Nita udah dateng,Ica kasih kabar ke mama."
Mommy Sarah mengangguk setuju.
Mama Nivi dan mommy Sarah pun keluar dari unit apartemen Ica untuk mulai mencari lokasi.
⭐⭐⭐⭐⭐
Hampir satu jam Ica menunggu Nita,akhirnya yang ditunggu datang juga.
Kini Nita dan Ica duduk di ruang tamu apartemen Ica. Ica sudah menghubungi mama Nivi memberitahu kalau Nita sudah sampai di apartemennya.
Ica menyuguhkan es jeruk kesukaan Nita dan beberapa cemilan untuk sang adik.
"Di minum dulu. Kalau laper,makan cemilan ini dulu,kakak udah kasih tau mama supaya bawain makan siang buat kita." Ica pun duduk disebelah adiknya.
"Mulai sekarang kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri,jangan pacaran-pacaran dulu apalagi sama laki-laki kayak yang bawa kamu ke club waktu itu ,jangan makan sembarangan mulu,karena kalau kamu sakit udah gak ada mama yang ngurus. Jangan terlalu di forsir belajarnya,sesekali main game atau nonton drakor atau nge mall sama temen-temen kamu biar otak kamu gak sedeng." Ica memberi nasehat pada Nita.
"Yang kakak omongin tadi beneran?? Kakak gak lagi ngeprank aku kan?!" Tanya Nita yang masih belum yakin dengan kata-kata kakaknya waktu menyuruh Nita datang ke apartemennya.
"Cih..emangnya kakak kurang kerjaan apa mau ngeprank kamu.!" Jawab Ica malas karena adiknya tak mempercayainya.
"Jadi ini beneran?? Mama sama papa berantem bahkan sampe mau cerai?" Tanya Nita masih tak percaya.
Ica mengangguk.
"Makanya mulai sekarang kamu harus mandiri. Siapin baju dan peralatan sekolah kamu sendiri,kalau mau makan jangan nunggu di panggil dulu,kalau perlu mulai sekarang kamu belajar masak deh sama mbak-mbak di rumah."
Mendengar kata-kata sang kakak,Nita malah menangis sesunggukan. Ia tak tahu bagaimana nasibnya tanpa mamanya. Karena memang selama ini mamanya lah yang mengurus semua kebutuhan Nita tugas Nita hanya lah belajar dan belajar. Berbeda dengan Ica yang memang terbiasa menyiapkan keperluan sekolahnya sendiri,bahkan ia sering ikut membantu memasak dan berbelanja.
__ADS_1
"Aku mau ikut mama aja kak." Kata Nita sambil menangis sesunggukan.
Ica menghela nafasnya,ia tau bahkan sangat tau kalau adiknya tak bisa apa-apa tanpa sang mama. Ia memeluk adik satu-satunya itu.
"Mama pasti akan memperjuangkan kamu supaya bisa ikut dengan mama,tapi untuk sementara ini kamu harus bisa bertahan hidup dengan papa." Ica mengelus punggung adiknya itu.
"Tapi papa kita kejam kak."
"Hush..gak boleh ngomong gitu,biar gimana pun itu papa kita. Darahnya mengalir di nadi kita,hasil keringat dan jerih payahnya lah yang membuat kita bisa sampai seperti ini. Papa bukan kejam tapi hanya terlalu ambisius. Kita berdoa saja semoga papa segera sadar dan tidak jadi bercerai dengan mama."
"Tapi Nita udah gede kak,Nita berhak memilih harus tinggal dengan siapa."
"Umur kamu masih lima belas tahun Nita,kamu belum bisa memilih untuk tinggal dengan siapa. Kamu tinggal dengan mama atau papa,semua pengadilan yang memutuskan. Makanya mama akan berusaha sekeras mungkin hak asuh kamu jatuh di tangan mama,tenang aja ada mommy Sarah yang akan bantu kita." Ica mencoba menenangkan adiknya.
Drama kakak-beradik itu pun terjeda karena mendengar ada orang yang memencet kunci pintu unit apartemen Ica. Siapa lagi orangnya kalau bukan mommy Sarah yang tau kode unit apartemen Ica.
"Nita..." mama Nivi langsung menghampiri putri bungsunya,dari air mata yang masih mengalir di pipi Nita,mama Nivi bisa pastikan kalau anak sulungnya sudah menceritakan kejadian tadi pagi kepada anak bungsunya itu.
"Mamah...Nita gak mau tinggal sama papa,Nita takut mah..." rengek Nita sambil sesunggukan di pelukan mamanya.
"Sementara sayang,mama gak akan membiarkan kamu tinggal selamanya dengan papa,mama akan memperjuangkan hak asuh kamu mati-matian." Kata mama Nivi sambil mengelus rambut anak bungsunya.
"Tapi Nita takut sama papa mah,kalau papa jahatin Nita kayak papa jahat sama kak Ica,siapa yang akan belain Nita nanti disana??!"
Mama Nivi melepaskan pelukannya dari sang anak. Ia menatap wajah Nita.
"Lihat mama.!" Perintah mama Nivi karena Nita tak mau melihat wajah sang mama.
Mama Nivi menghela nafasnya saat sang anak menatapnya.
"Papa gak akan pernah jahatin kamu,karena prestasi kamu selalu membanggakan papa. Selama kamu terus berprestasi,papa gak akan menekan kamu seperti papa menekan kakak kamu. Lagi pula papa bukan orang jahat,mama kenal sama papa mulai dari kami sama-sama duduk di bangku SMA,mama yakin seribu persen papa bukan orang jahat,hanya saja papa mu sekarang sedang kehilangan kompas penunjuk arah yang membuat ia menjadi tersesat karena ambisi nya. Sebagai anak,kamu dan Ica berkewajiban menjadi kompas manual yang membantu papa kalian kembali ke arah yang semestinya."
"Apa yang dikatakan mama mu benar Nita,mommy akan membantu mama mu semampu mommy. Jadi lebih baik untuk sementara kamu tinggal dengan papa mu,biar masalah tidak semakin runyam." Mommy Sarah ikut mengelus rambut Nita.
__ADS_1
Setelah membujuk Nita susah payah agar mau tinggal dengan papa Fano,akhirnya Nita mau menurut perkataan mama dan kakaknya. Nita pun pulang ke rumah papa Fano dengan diantar supir keluarga,karena Nita datang ke apartemen Ica memang dengan supir keluarga.