
Meninggalkan mommy Sarah dan daddy Edwin yang sudah berdamai dari perang yang hanya berlangsung beberapa menit. Ada Yordan dan Ica yang belum selesai berperang melawan rasa sakit. Jika Ica sedang berperang melawan rasa sakit untuk melahirkan buah cintanya dengan Yordan,sedangkan Yordan sedang berperang melawan rasa sakit karena Ica yang tak henti menjambak,mencakar bahkan sampai memiting leher Yordan.
"Jangan teriak-teriak Ca,nanti tenaganya habis." Kak Irna memberi peringatan pada Ica.
"Kak...kok dedek Jeju belum lahir-lahir juga sih?" Tanya Yordan yang sudah tidak sabaran. Bukan tidak sabaran melihat dedek Jeju,melainkan tidak sabar dengan cara Ica mengekspresikan rasa sakitnya.
"Sabar Dan,pembukaannya belum lengkap,kurang satu pembukaan lagi." Jawab kak Irna yang nampak sudah mulai kesal dengan tingkah Yordan.
"Aduuuh kak,aku mau BAB." Jerit Ica.
Irna pun langsung menyuruh bidan untuk memeriksa jalan lahir si dedek Jeju apakah kesepuluh palang sudah terbuka semua.
"Pembukaan lengkap dok." Kata bidan yang memeriksa jalan lahir dedek Jeju.
Kak Irna pun berdiri tepat di depan terowongan Icablanca.
"Ca,kalau kakak belum suruh ngejan jangan ngejan yah. Kamu masih inget kan simulasi kalau mau melahirkan?!" Tanya kak Irna.
Ica hanya menganggukkan kepalanya sambil menahan rasa sakit.
"Bokong kamu jangan diangkat,mata juga jangan merem,jangan teriak-teriak,ngejannya jangan di leher tapi di perut." Irna kembali mengingatkan Ica sekali lagi.
Kembali Ica menganggukkan kepala.
"Aaaaaa..." teriak Ica saat kembali merasakan kontraksi hebat.
"Ngejan Ca..." perintah kak Irna saat mendengar Ica kembali berteriak.
Percobaan pertama belum berhasil,karena sepertinya Ica masih mengejan di leher bukan di perut.
__ADS_1
"Ngejannya jangan di leher Ca." Irna mengingatkan Ica bahwa tekhnik mengejan yang baru saja Ica lakukan salah.
"Ayo sayang kamu bisa." Yordan hanya bisa memberikan semangat pada sang istri dan yang pastinya sambil menahan rasa sakit akibat cengkraman Ica di lengannya.
"Aaaaaaa.....kak....aaaa Ca..." Ica dan Yordan sama-sama menjerit. Namun bukan menjerit karena pelepasan melainkan menjerit kesakitan.
Ica menjerit kesakitan karena ia merasakan kontraksi hebat kembali,sedangkan Yordan menjerit karena sekarang Ica menarik bulu-bulu yang tumbuh di dada Yordan.
"Ngejan Ca." Perintah Irna lagi saat Ica kembali berteriak.
"Aaaaaa..." bukannya mengejan,Ica malah berteriak.
"Astaga Ica!!! Udah di bilang jangan teriak." Omel Irna karena di percobaan kedua,kembali Ica melakukan tekhnik yang salah.
"Aku nyerah kak,aku gak sanggup." Kata Ica dengan nafas yang terengah-engah.
"Udah telat kalau kamu mau nyerah sekarang!!! Kamu pasti bisa kok,ayo dong jangan putus asa gitu,kasihan si Jeju kalau kelamaan di pintu,dia bisa kehabisan oksigen." Irna memberikan semangat pada Ica.
Dua bidan itu pun langsung mengambil posisi,satu disebelah kanan Ica dan satu di sebelah kiri Ica sedangkan Yordan langsung pindah tepat di atas kepala Ica.
"Aaaa.." kembali Ica merasakan kontraksi hebat.
"Ayo Ca ngejan yang bener!" Perintah Irna.
"Aaaaaaakkkkhh.." ada yang berteriak tapi bukan Ica karena tekhnik mengejan Ica kali ini sudah benar. Siapa lagi pelaku yang berteriak kali ini kalau bukan si bule kampret. Kali ini ia berteriak karena Ica bukan hanya menarik bulu dadanya melainkan Ica juga menggigit lengan Yordan agar Ica tak berteriak.
Karena tekhnik mengejan Ica yang sudah benar dan di bantu dua bidan yang mendorong dedek Jeju,akhirnya kepala dedek Jeju pun sudah kelihatan.
"Bagus Ca. Ayo Ca sekali lagi,ini kepala dedek Jeju udah kelihatan." Irna memberi semangat pada Ica.
__ADS_1
"Aaaaaa...." kembali Ica berteriak merasakan kontraksi.
"Ngejan lagi Ca,kali ini lebih panjang ngejannya." Irna memberikan semangat pada Ica.
Ica pun kembali mengejan dengan di bantu dua bidan mendorong dedek Jeju. Dan Yordan pun kembali berteriak karena Ica kembali menggigit lengannya agar Ica tak berteriak.
"Oweeek...oweeeek...oweeek.." tangis dedek Jeju pun pecah saat berhasil keluar dari dalam perut mama nya.
"Selamat yah Ca,Dan,anak kalian perempuan." Kata Irna.
Mendengar suara tangis bayi,Ica langsung menangis terharu,ia tak menyangka akhirnya ia bisa juga menjadi sarjana mengejan. Mulutnya juga tak henti-hentinya mengucapkan syukur karena bisa melahirkan buah cintanya dan Yordan dengan selamat.
Sama halnya dengan Ica,Yordan pun ikut terharu saat mendengar suara tangis anaknya. Entah sadar apa tidak atau mungkin karena rasa sayangnya terhadap buah cintanya dengan Ica,Yordan malah menghampiri dedek Jeju yang sedang di bersihkan oleh bidan dan meninggalkan Ica yang masih lemas karena baru saja bertempur di medan perngejanan dan ditambah darah yang sangat banyak yang keluar demi melahirkan dedek Jeju.
"Kamu mau kemana?" Tanya Irna saat melihat Yordan yang hendak meninggalkan Ica.
"Mau lihat Jeju kak."
"Kamu tuh yah,istri kamu baru selesai melahirkan bukannya di cium kek ngucapin terimakasih,ini malah langsung mau nengok anak kamu!!! Temenin dulu istri kamu,dia belum selesai mempertaruhkan nyawa!!! Masih ada fase berbahaya setelah melahirkan!!!" Omel Irna.
"Astaga!!!" Yordan menepuk jidatnya karena lupa mengucapkan terimakasih untuk Ica.
Cepat-cepat Yordan memutar tubuhnya dan mendekati Ica yang masih terlihat lemas di atas ranjang bersalin.
Cup cup cup. Yordan mengecup singkat kening,pipi dan bibir Ica.
"Kamu hebat Ca. Makasih yah sayang udah rela bersakit-sakit demi melahirkan anak aku." Kata Yordan sambil kembali menghujani kecupan singkat di wajah Ica.
"Anak kita kak." ralat Ica karena tak terima Yordan mengatakan dedek Jeju hanya lah anaknya.
__ADS_1
"iya...iya..anak kita." Yordan pun meralat kata-katanya.