Penantian Sang Casanova

Penantian Sang Casanova
eps. 84


__ADS_3

Kini Yordan sudah berada di dalam kamar di unit apartemennya.


Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Dimana sih lo Ca." Sambil menatap langit-langit kamarnya.


Sebelum ia masuk ke dalam unit apartemennya,Yordan singgah ke unit apartemen Ica,berkali-kali Yordan memencet bel,namun tak ada yang membuka pintu. Yordan yakin kalau Ica sudah tidak tinggal disana lagi.


Yordan mengambil hp nya dan menelpon seorang detektif handal untuk mencari keberadaan Ica.


"Halo Rich... gue butuh bantuan loe.!" Yordan menelpon Richie,mantan intel yang di keluarkan secara tidak hormat dari kesatuannya karena ketahuan meretas data-data perbankan di berbagai negara.


"Bantuan apa?"


"Bantu gue nyari keberadaan seseorang."


"Cuma itu?"


"Iya."


"Oke. Gampang."


"Gue kirim dari email data-data orang itu. Dan gue minta besok loe udah dapet hasilnya."


"Cih...itu mah tergantung harga bro..!"


"Terserah loe minta berapa,tinggal sebut aja gue transfer setengahnya sekarang,besok kalau udah nemu orangnya gue transfer sisanya."


"Oke."


Panggilan pun berakhir. Yordan sudah tidak sabar menunggu hari esok.


Keesokan paginya.


Kini Yordan sudah berada kantor sang mommy. Di dalam ruangannya Yordan bolak-balik melihat layar hp nya. Menunggu kabar dari Richie.


Begitu bunyi nada dering di hp Yordan berbunyi,cepat-cepat ia mengambil hp itu dan melihat siapa yang melakukan panggilan ke nomornya.

__ADS_1


Ia menggeser tombol hijau melihat nomor Richie yang melakukan panggilan telepon.


"Gimana? Ketemu?"


"Ketemu lah. Dia ada di New York di apartemen xxx di kamar nomor xxx."


"Yakin?" Tanya Yordan merasa aneh dengan info yang Richie berikan. Pasalnya apartemen yang Ica tinggali,adalah salah satu apartemen elite yang ada di kota itu.


"Yakin banget. Kalau loe gak percaya gue bisa kasih bukti foto yang orang suruhan gue kasih ke gue,biar loe puas.!"


"Oke,coba loe kirim. Gue takut loe nanti salah orang." Kata Yordan yang masih meragukan informasi dari Richie.


Richie langsung mengakhiri panggilannya dan mengirimkan lima bukti foto ke nomor Yordan.


Yordan pun membuka foto-foto yang baru saja Richie kirimkan.


"Iya bener ini Ica. Tapi kenapa dia tinggal di apartemen? Kenapa gak di hotel kalau emang cuma datang liburan atau sekedar foto prewed?"


Hp Yordan kembali berbunyi,dan ternyata Richie menghubunginya lagi.


"Gimana,gue gak salah orang kan?"


"Kata informan gue disana, tuh cewek kuliah di universitas Parson The New School For Design. Dia tinggal sama satu orang art yang berkebangsaan sama dengan tuh cewek."


Mendengar informasi yang di berikan Richie,otak cerdas menarik kesimpulan. Bahwa ternyata semua ini ada campur tangan si bule bar-bar.


"Oke Rich thanks banget. Gue langsung transfer sisanya." Yordan pun mengakhiri panggilan telponnya.


Kemudian ia mentransfer sisa pembayaran ke rekening Richie.


"Dasar bule bar-bar,ternyata emak gue sendiri dalang di balik keruwetan ini. Tapi gak pa-pa,gue jadi semakin yakin kalau gue bisa ngedapetin Ica dengan mudah. Karena gue yakin si bule bar-bar sebenarnya ada di pihak gue. Dasar si Chi Chi,mau bilang sayang sama anak aja malu-malu,harus pake cara beginian segala.!" Yordan menaikkan sudut bibirnya sambil berbicara di depan cermin.


Yordan kembali memencet-mencet layar hp nya untuk melakukan pemesanan tiket menuju New York dimana Ica berada. Ia sengaja menaikki pesawat komersil kelas first class dan mengurusnya tiketnya sendiri,agar niatnya kali ini tak bisa terhalangi oleh akal bulus mommy Sarah.


Setelah tiket berhasil di dapatkan,Yordan langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya kemudian cepat-cepat mengistirahatkan tubuhnya. Karena ia mengambil penerbangan jam lima subuh dan harus tiba di bandara setidaknya jam setengah empat subuh.


Ia menyetel alarm di hp nya jam satu subuh agar ia tidak telat bangun. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu Ica. Ia tak peduli dengan amukan si bule bar-bar kalau si bule bar-bar itu tau dirinya menyusul Ica ke New York.

__ADS_1


Padahal di kamarnya,sekarang mommy Sarah sedang memantau gerak-gerik sang anak melalui tabletnya. Senyum tipis terbit di pipinya,melihat kegesitan sang anak mencari informasi tentang Ica. Mommy Sarah memang sengaja tidak menutup informasi tentang Ica dari Yordan,kalau mommy Sarah mau sebelum Yordan menghubungi Richie,mommy Sarah bisa meminta Richie untuk berpihak padanya. Namun,mommy Sarah tidak seperti papa Niko,ayah dari Nia dan papi Tian,ayah dari Irlan yang menutup informasi tentang Nia dari Irlan. Jadi sekeras apapun Irlan berusaha hasilnya sia-sia. Karena sebenarnya,mommy Sarah hanya ingin melihat sejauh mana usaha sang anak untuk menemukan pujaan hatinya dan sedalam apa perasaan Yordan untuk Ica.


Mommy Sarah menutup tabletnya. Dan mengambil hp nya dan melakukan panggilan ke nomor bodyguard khusus untuk menjaga anak semata wayangnya itu.


"Halo..siapkan diri kalian besok. Si bule kampret akan terbang besok ke New York." Perintah mommy Sarah pada sang bodyguard.


Bodyguard yang di utus mommy Sarah adalah Ray dan Sam.


"Baik madam."


"Tugas kalian hanya mengawasi anak sableng itu dari kejauhan. Jangan sampai kehadiran kalian terendus si bule kampret itu."


Mommy Sarah mengakhiri panggilannya. Mommy Sarah memang selalu memberikan bodyguard tak terlihat untuk menjaga Yordan,bukan hanya untuk memata-matai anaknya itu,namun sekaligus untuk melindungi keselamatan anak semata wayangnya tersebut dari saingan-saingan bisnis mommy Sarah atau daddy Edwin. Karena,biar bagaimanapun mereka hanya mempunyai Yordan sebagai penerus kerajaan bisnis mereka dan penerus keluarga. Kalau sampai Yordan kenapa-kenapa,tidak ada lagi artinya semua harta yang mereka miliki.


Kini Yordan telah berada di New York. Sesampainya di New York,ia langsung memesan kamar hotel yang berdekatan dengan gedung apartemen tempat Ica tinggal,karena jam masih menunjukkan pukul dua subuh waktu New York. Yordan yang merasa jetlag pun memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dahulu.


⭐⭐⭐⭐⭐


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang waktu setempat. Cacing-cacing yang berdemo di dalam perut Yordan mampu membangunkan Yordan dari tidurnya.


"Eugh.." Yordan melenguh sambil mengulet-ulet kan badannya. Perlahan ia membuka matanya.


"Jam berapa nih?!" Yordan pun meraba-raba nakas untuk mengambil hp nya yang seingatnya ia letakkan disana.


"Astaga..udah jam dua belas lewat!! Kok bisa sih,padahal tadi malem udah gue stel alarm jam tujuh." Pekik Yordan sambil mendudukkan tubuhnya. Memang sebelum ia terbuai di alam mimpi,Yordan sempat menyetel alarm,tapi sayang alarm yang ia setel bukan waktu New York melainkan waktu negaranya.


Cepat-cepat Yordan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tujuannya setelah mandi,ia ingin langsung menemui sang masa depannya.


Dengan pakaian casual,Yordan melangkah dengan gagahnya keluar dari unit kamar hotel. Baru saja beberapa langkah kakinya keluar dari gedung hotel,tiba-tiba saja para cacing di perut Yordan memberi peringatan keras pada Yordan untuk segera memberi mereka makan.


"Shiit..nih perut kenapa gak bisa di ajak kompromi sih!!!" Kesal Yordan,karena baginya memberi makan cacing-cacingnya bukan hal darurat sekarang,karena hal yang terpenting sekarang adalah bertemu dengan Ica dan secepatnya merebut hati Ica kembali.


Mau tidak mau,Yordan pun memutar langkahnya masuk ke dalam kafe yang ada di samping gedung hotel tempat ia menginap.


Begitu masuk ke dalam kafe,mata Yordan langsung clingak-clinguk untuk mencari tempat duduk yang pas agar pandangan matanya bisa mengarah pada gedung apartemen Ica yang ada di seberang kafe.


Entah memang jodoh atau hanya kebetulan,Yordan melihat sesosok wanita yang tubuhnya sangat mirip dengan Ica dari belakang. Yordan yang penasaran pun,langsung mendekati sesosok wanita itu.

__ADS_1


"Ca.." Yordan menepuk pundak si wanita.


Si wanita pun berbalik dan..


__ADS_2