Penantian Sang Casanova

Penantian Sang Casanova
eps. 157


__ADS_3

Tak lama dokter yang memeriksa Yordan pun keluar dari dalam ruangan.


"Gimana anak saya dok?!" Tanya daddy Edwin yang tak kalah panik dari istri dan menantunya.


Sangking paniknya,begitu mommy Sarah memberitahu kalau Yordan pingsan,daddy Edwin langsung berlari ke kamar sang anak dan tanpa disangka-sangka,tanpa bantuan orang lain,daddy Edwin langsung mengangkat tubuh Yordan yang postur tubuhnya lebih besar dari dirinya. Entah kekuatan dari mana sampai-sampai daddy Edwin bisa mengangkat tubuh Yordan yang lebih berat dan besar dari dirinya itu. Mungkin ini lah yang di namakan The Power of Panic.


"Anak anda baik-baik saja kok tuan Adiguna. Mungkin tuan Yordan hanya kelelahan saja." Jawab dokter yang memeriksa Yordan dengan nada santai.


"Baik-baik apanya!!! Orang anak saya pingsan kok!!! Coba periksa sekali lagi!!" Bentak daddy Edwin pada dokter itu. Ia tak terima sang dokter nampak menyepelekan kesehatan putra semata wayangnya.


Mendapat bentakan dari salah satu orang terpandang dan berpengaruh di negaranya,jantung sang dokter hampir saja copot. Seluruh badannya gemetaran,takut-takut daddy Edwin meminta pihak rumah sakit memecatnya.


Melihat daddy Edwin membentak,mommy Sarah dan Irna menelan slivanya. Karena baru kali ini baik mommy Sarah maupun Irna melihat daddy Edwin membentak seseorang. Walaupun daddy Edwin terkenal dingin dan tegas,tapi tak pernah sekalipun daddy Edwin membentak orang lain.


"Dad,sabar dad." Kata mommy Sarah sambil mengelus dada suaminya untuk menurunkan emosi sang suami.


"Mommy tenangin daddy dulu,biar Irna aja yang bicara sama dokter."


Mommy Sarah pun menurut dan membawa sang suami duduk di ruang tunggu.


"Coba dokter Farel periksa lagi keadaan adik saya itu. Karena sudah sebulan lebih dia muntah-muntah terus." Pinta Irna pada partner kerjanya di rumah sakit itu.


"Baik lah dokter Irna,saya akan melakukan pemeriksaan sekali lagi." Dokter Farel pun kembali masuk ke dalam ruang periksa.


Setelah lima belas menit,akhirnya dokter Farel keluar dari dalam ruang periksa.


"Hasilnya tetap sama dokter Irna,anak tuan Adiguna dalam keadaan baik-baik saja. Kalau dokter Irna tidak percaya,dokter Irna bisa lihat sendiri hasil lab. ini dan periksa sendiri kondisi anak tuan Adiguna." Kata dokter Farel sambil menyodorkan hasil lab. pada Irna.


Irna mengambil hasil lab. yang disodorkan dokter Farel dan membacanya dengan teliti.


"Aneh." Gumam Irna dalam hati. Merasa aneh dengan hasil pemeriksaan yang berbanding terbalik dengan kondisi Yordan,Irna memutuskan untuk memeriksa keadaan Yordan sendiri.


Irna pun masuk ke dalam ruang periksa dan diikuti dokter Farel dari belakang.


"Kak Irna..." panggil Ica sambil terisak saat melihat Irna masuk ke dalam ruang periksa.

__ADS_1


"Tenang Ca. Jangan nangis,Yordan baik-baik aja kok." Irna langsung memeluk Ica.


Irna mengernyitkan keningnya karena merasakan perubahan tubuh Ica.


"Baik-baik gimana kak,buktinya kak Yordan gak bangun-bangun sampe sekarang. Kak Yordan gak lagi mati suri kan kak.!!" Isakan Ica semakin menjadi-jadi.


"Gak Ca,dia masih sadar kok." Kata Irna untuk menenangkan Ica.


Irna menjauhkan tubuh Ica dari pelukannya. Dia mulai memperhatikan tubuh Ica dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Ca..."


"Hemh.." jawab Ica masih dalam keadaan terisak.


"Kamu terakhir datang bulan kapan?" Tanya Irna curiga. Ia curiga penyebab Yordan muntah-muntah karena Ica yang sedang hamil.


Ica nampak berpikir. Tak lama matanya membulat,karena baru ingat kalau sudah hampir tiga bulan ia tidak datang bulan.


"Astaga,udah hampir tiga bulan aku gak dateng bulan!" Jawab Ica dengan raut wajah terkejut.


"Aku sibuk ngurus butik kak,jadi gak inget sama jadwal bulanan aku." Jawab Ica sambil menyengir.


"Ya udah,ayo ikut kakak." Kata Irna sambil menarik tangan Ica.


"Tapi kak..ini kak Yordan gimana?"


"Udah biarin aja dia,dia baik-baik aja kok. Yang harus di periksa itu kamu,ayo."


"Sus,tolong pindahin adik saya ke kamar rawat yah." Pinta Irna pada suster yang ada di ruangan itu.


"Loh,dokter Irna gak jadi periksa langsung anaknya tuan Adiguna?" Tanya dokter Farel karena melihat Irna dan Ica yang ingin keluar dari ruang pemeriksaan meninggalkan Yordan sendiri.


Irna menggeleng.


"Yang harus di periksa itu istrinya dok. Saya permisi mau periksa adik ipar saya ini dulu." pamit Irna pada dokter Farel. Ia pun meneruskan langkahnya keluar dari ruang pemeriksaan.

__ADS_1


"Irna..Ica..kalian mau kemana?" Teriak mommy Sarah saat melihat Irna dan Ica keluar dari ruang periksa. Mommy Sarah dan daddy Edwin baru saja kembali dari kantin rumah sakit untuk mengisi perut sambil menurunkan emosi daddy Edwin.


"Mau periksa Ica mom." Jawab Irna.


Mommy Sarah mengernyitkan keningnya.


"Yordan yang sakit kok Ica yang di periksa?"


"Nanti deh Irna jelasin,sekarang mommy sama daddy ikut aja sama Irna." Irna juga menarik tangan mommy Sarah dan daddy Edwin untuk ikut dengannya ke ruangannya.


Ceklek. Irna membuka ruangannya.


"Sini. Kamu baring disini." Irna menarik tangan Ica dan menyuruhnya untuk naik ke atas ranjang pemeriksaan.


"Sebenarnya Ica mau diapain sih Na?" Tanya mommy Sarah yang masih belum paham dengan maksud Irna.


"Mau di periksa mom." Jawab Irna,sambil menuangkan gel di atas perut Ica.


Ia pun memeriksa perut Irna yang sudah di olesi gel dengan alat usg.


Tak lama Irna tersenyum.


"Kamu kenapa senyum-senyum gitu?" Tanya mommy Sarah saat melihat Irna senyum-senyum sendiri.


"Mommy,daddy,sini!" Irna menyuruh mommy dan daddy Edwin mendekati ranjang tempat Ica berbaring.


"Kenapa?" Tanya mommy Sarah


"Mommy sama daddy lihat ini." Kata Irna sambil menunjuk lingkaran yang ada di layar monitor.


Mommy Sarah dan daddy Edwin memperhatikan lingkaran yang di tunjuk Irna,kening mereka sampai berkerut karena tak melihat apa-apa di lingkaran itu.


"Apa itu,mommy gak ngerti."


"Astaga mommy...ini calon cucu mommy sama daddy."

__ADS_1


Mata mommy Sarah,daddy Edwin dan Ica membelalak mendengar kata-kata Irna.


__ADS_2