Penantian Sang Casanova

Penantian Sang Casanova
eps. 137


__ADS_3

Mendengar jawaban daddy nya,tubuh Yordan pun melemas.


"Ya udah,kalau gitu kita siap-siap biar nanti malam kita berangkat." Kata mommy Sarah antusias. Ia seperti tak memperdulikan nasib anaknya yang sudah jatuh ketiban durian pulak. Sakit...Ngenes...!!


Mommy Sarah dan mama Nivi pun beranjak dari tempat duduknya,disusul papa Fano dan daddy Edwin. Kini hanya ada Nita,Ica dan Yordan di meja itu.


"Kak,aku ke toilet bentar yah. Mau ganti pembalut." Bisik Ica pada sang suami.


Yordan yang sedang malas bersuara,hanya menganggukkan kepalanya.


Ica pun beranjak dari tempat duduknya menuju toilet.


Begitu Ica pergi,tiba-tiba saja si otak cerdas memberikan ide pada Yordan cara agar adik ipar satu-satunya itu tidak jadi tinggal dengan mereka.


"Nit.." panggil Yordan.


Nita yang sedang memainkan hp nya itu pun menoleh ke arah Yordan.


"Kenapa kak?!"


"Kakak denger katanya kamu lagi pengen mobil mini cooper keluaran terbaru yah?!" Tanya Yordan.


"Iiikkh kok kakak tau? Pasti dari kak Ica yah?!"


Yordan mengangguk.


"Kakak bisa beliin kamu mobil mini cooper keluaran terbaru itu,asal ada syaratnya." Yordan mulai mengajak adik iparnya itu bernegosiasi.


"Apa?"


"Syaratnya gampang kok,gak susah. Cukup kamu tinggal di rumah orangtua kamu aja,jangan ngekorin kakak sama kakak kamu. Gimana?!"


"Nanti kalau papa sama mama tau kalau aku tinggal dirumah sendiri,pasti kakak di marahin sama papa."


Yordan nampak berpikir sejenak.


"Ia juga yah. Apalagi kalau nanti si bule bar-bar tau,bisa berabe ini urusannya."


"Ya udah gini aja. Kan kakak kamu punya apartemen di bawah apartemen kakak,jadi kamu tinggal disitu aja. Nanti kakak sama kakak kamu tinggal di apartemen kakak. Gimana mau gak?!" Kata Yordan memberikan solusi.


Apartemen yang dulu pernah mommy Sarah sewa untuk tempat tinggal Ica selama menjadi asisten Yordan,telah Yordan beli atas nama Ica setelah Yordan menyadari perasaannya terhadap Ica. Bahkan isi dalam apartemen itu pun tak pernah Yordan rubah,ia hanya menyuruh cleaning servis membersihkan apartemen itu seminggu sekali.


Niatnya Yordan ingin memberikan kejutan pada Ica kalau Ica telah selesai dengan studi nya,tapi karena hubungan mereka dalam keadaan yang tidak baik,Yordan jadi lupa memberitahukannya pada Ica.

__ADS_1


Tak perlu berpikir lama,Nita yang sudah sangat menginginkan mobil impiannya itu,langsung menganggukkan kepala. Biar saja di bilang adik ipar matre,karena kenyataannya bukan dia lah yang meminta pada kakak iparnya itu.


"Oke aku setuju. Yang penting kak Yordan gak ingkar janji,kalau kakak ingkar janji,aku kasih tau sama mama dan mommy nanti."


"Beres. Kamu mau beli mobil itu sekarang juga gak pa-pa."


"Beneran?!" Tanya Nita antusias.


Yordan mengangguk.


"Yeeeaaay.." teriak Nita bersorak.


"Yeaaay kenapa Nit?! Kok seneng gitu?!" Tanya Ica yang baru datang dari toilet.


Mata Yordan memberi kode pada Nita agar jangan memberitahu pada Ica tentang kesepakatan mereka.


"Gak pa-pa kok kak." Jawab Nita yang mengerti akan kode mata yang di berikan kakak iparnya itu.


"Ya udah yuk kak,kita siap-siap. Orang mommy sama mama juga udah mau pulang tuh." Belum sempat Ica mendudukkan bokongnya di kursi,Nita sudah menariknya agar kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap pulang.


⭐⭐⭐⭐⭐


Tak terasa dua minggu sudah berlalu,Ica pun sudah tak satu minggu tak di jaga si Sailor Moon lagi. Tapi Yordan terlihat tidak antusias dengan terowongan Icablanca yang sudah tidak kebanjiran. Terbukti dengan Yordan yang tidak menanyakan pada Ica,apa landasan sudah bisa di pacu atau belum. Bukan tanpa sebab Yordan seperti itu,selama dua minggu ini dirinya benar-benar kelimpungan mengurus dua perusahaan sekaligus. Sangking sibuknya,ia sampai tidak ingat akan ritual kuda lumping yang gagal di malam pengantin mereka.


Malam ini Yordan sengaja pulang cepat,karena ingin meluangkan waktu makan malam bersama dengan istrinya. Hanya sebatas makan malam,Yordan benar-benar sedang kerasukan setan kantor yang gila kerja.


"Kak.." panggil Ica. Kini mereka sedang berada di meja makan dan sudah selesai makan malam.


"Ya Ca.." jawab Yordan,tapi matanya fokus pada layar ipad nya.


"Daritadi aku perhatiin,kakak sambil makan juga liatin ipad mulu. Emangnya ipad kakak itu lebih menarik yah dari pada aku?" Sebuah kalimat sindiran plus kode keras akhirnya meluncur bebas dari bibir Ica.


"Yah tetap kamu lah yang menarik sayang,cuma sekarang aku tuh lagi banyak banget kerjaan." Yordan menatap wajah Ica sebentar sambil menoel dagu istrinya itu,kemudian matanya kembali menatap layar ipad.


"Ish...!!" Ica kesal walaupun jawaban Yordan terkesan romantis,tapi tetap saja perhatian Yordan tertuju pada layar ipadnya.


Baru saja Ica ingin melayangkan protesnya karena Yordan terus menatap layar ipadnya,tiba-tiba saja nada dering di hp Yordan berbunyi,menandakan ada panggilan masuk ke hp sang suami. Dengan cepat Yordan mengambil hp nya dan menggeser tombol hijau. Entah sadar atau tidak,Yordan langsung berdiri dari tempat duduknya meninggalkan Ica di ruang makan sendirian tanpa berpamitan.


Mata Ica membelalak saat melihat Yordan meninggalkannya di ruang makan sendirian.


Sangking kesalnya dengan sikap Yordan,Ica sampai melemparkan serbet ke atas meja dengan kasar dan berdiri tempat duduknya menuju kamarnya. Ica membuka pintu kamar dengan kasar dan menutupnya dengan cara membanting.


Ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dengan posisi telungkup dan wajah ia benamkan di atas bantal,Ica menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Kak Yordan jahat,dia udah gak peduli lagi sama aku!!! Kak Yordan jahat...jahat...jahat..!!" Teriak Ica sambil memukul-mukul bantalnya.


Sedangkan Yordan yang baru selesai menerima telpon,ia kembali lagi ke ruang makan,namun ia tak mendapati Ica disana.


"Kemana dia? Apa lagi di toilet?!" Yordan bertanya-tanya dalam hati,karena tidak mungkin Ica pergi tanpa membereskan terlebih dahulu meja makan.


Yordan pun memilih untuk duduk kembali sambil menunggu Ica. Baru saja Yordan mendudukkan bokongnya,tiba-tiba ia mendengar seperti ada suara seorang anak perempuan yang menangis. Bulu kuduk Yordan pun berdiri mendengar suara itu.


"Anak siapa tuh yang nangis? Apa jangan-jangan itu anak gue yang gue buang di closet bertahun-tahun yang lalu." Kata Yordan berasumsi sendiri.


"Aduuuuh kalau bener bahaya nih,harus pindah apartemen gue nih." Kata Yordan lagi sambil bibirnya terus komat-kamit tak jelas.


Suara yang tadinya sayup-sayup terdengar di telinga Yordan,makin lama suara itu menjadi semakin jelas.


"Kayak suara bini gue.." Yordan pun berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti arah sumber suara yang ternyata dari dalam kamarnya.


"Ca..kamu nangis?!" Tanya Yordan saat sudah masuk ke dalam kamar,namun Yordan tak melihat Ica karena Ica kini sedang ada di ruang ganti.


Yordan pun berjalan ke ruang ganti untuk memastikan keadaan Ica.


Mata Yordan membelalak saat melihat Ica sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Kamu mau kemana?!" Tanya Yordan penasaran bercampur khawatir.


"Aku mau pulang ke rumah mama." Jawab Ica sambil terisak.


"Memangnya mama udah pulang?"


Ica menggeleng.


"Aku males disini."


Mendengar jawaban Ica yang ketus,Yordan yakin kalau masalah terletak pada dirinya. Yordan pun mendekati Ica dan memeluk istrinya itu dari belakang.


"Aku minta maaf kalau aku salah. Jangan nangis lagi yah,kita selesaikan masalah kita baik-baik dan dengan kepala dingin." Yordan membalikkan tubuh Ica agar bisa berhadapan dengannya. Yordan menatap wajah Ica yang penuh dengan air mata.


"Sekarang bilang sama aku,kamu kenapa? Kamu marah sama aku?!" Tanya Yordan sambil mengusap air mata yang ada di pipi Ica.


Mendengar pertanyaan Yordan,Ica semakin kesal saja. Ia langsung menghempaskan tangan Yordan yang sedang menyeka air matanya.


"Buat apa minta maaf,kalau kesalahan kakak aja kakak gak tau apa!!" Kata Ica dengan nada meninggi.


"Aku tuh bukan cenayang Ca yang bisa baca pikiran orang. Aku minta maaf,karena aku sadar aku pasti udah bikin salah sama kamu makanya kamu sampe nangis gini. Sekarang bilang sama aku,aku bikin salah apa sama kamu?!"

__ADS_1


Ica tetap diam tak mau menjawab. Ia mau Yordan lah yang berpikir sendiri kesalahan apa yang sudah ia lakukan.


__ADS_2