Penantian Sang Casanova

Penantian Sang Casanova
eps. 78


__ADS_3

Di lihatnya nama asisten mommy Sarah. Yordan pun menggeser tombol hijau di layar hp nya.


"Halo pak Ari."


"Pak Yordan dimana? Apa pak Yordan lupa kalau hari ini kita harus ke kota S untuk mengecek pabrik disana? Dan lusa kita harus ke kota Y,kemudian lusanya lagi kita harus ke kota M.?" Pak Ari,sang asisten mommy Sarah mengingatkan jadwal kunjungan ke pabrik SFF Group yang ada di berbagai kota.


Yordan sejenak berpikir.


"Masa sih ada jadwal itu,kok gue gak inget??!" Yordan bertanya-tanya dalam hatinya,karena kemaren sebelum pulang kerja,sang sekretaris tak memberitahukan jadwal itu padanya.


Karena memang sebenarnya,jadwal itu di buat dadakan. Setelah mommy Sarah mengupload foto Ica yang sedang bersandar di bahu bang Satria,mommy Sarah langsung mengirim pesan kepada sang asisten agar Yordan di berikan jadwal seminggu penuh untuk kunjungan ke pabrik-pabrik yang ada di luar kota.


"Halo pak Yordan. Bapak dimana sekarang,biar saya jemput. Waktu penerbangan satu setengah jam lagi ini." Tanya pak Ari sekali lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Yordan.


Mendengar waktu penerbangan tinggal satu setengah jam lagi,Yordan pun tersadar dari lamunannya yang mencoba mengingat-ingat jadwal yang disebutkan pak Ari.


"Akh..iya pak,saya di apartemen. Bapak datang aja kesini." Kata Yordan.


"Kalau begitu pak Yordan langsung turun saja,karena saya sudah ada di lobi."


Mata Yordan membelalak. Kenapa orang-orang yang bekerja dengan mommy Sarah,selalu membuat dirinya sport jantung.


"Tunggu pak,saya belum siapin baju yang mau di bawa."


"Gak usah bawa baju pak,kan uang bapak banyak,nanti tinggal di beli di sana."


Jawaban pak Ari sukses membuat Yordan terdiam seribu bahasa. Selain membuat sport jantung,orang-orang yang bekerja dengan mommy Sarah sepertinya sudah terkontaminasi oleh pedasnya mulut mommy Sarah.


Yordan pun mengakhiri panggilannya. Buru-buru ia keluar dari unit apartemennya dan turun ke lobi.


Api semangat Yordan untuk menyusul Ica ke New York yang tadi sempat berkobar-kobar,kini meredup seketika karena dirinya yang harus melakukan tugas yang sebenarnya ia tidak tau kapan jadwal tugas itu di buat.


Meninggalkan Yordan yang sedang melaksanakan tugas.


Kini rombongan mommy Sarah sudah berada di bandara. Mobil penjemput mommy Sarah pun sudah menunggu di pintu kedatangan.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Adiguna." Sapa orang suruhan mommy Sarah yang berada di New York.

__ADS_1


Erick,orang kepercayaan mommy Sarah yang ditugaskan untuk mengurus perkuliahan Ica di New York sekaligus,orang yang mengurus perusahaan almarhum orangtua mommy Sarah.


Erick membuka pintu mobil agar mommy Sarah dan daddy Edwin masuk kedalam mobil.


Ada tiga mobil penjemput rombongan mommy Sarah. Mobil pertama untuk mommy Sarah dan daddy Edwin,mobil kedua untuk papa Fano dan mama Nivi dan mobil ketiga untuk Ica dan bang Satria.


Setelah ketiga pasangan itu masuk ke dalam mobil,mobil pun melaju meninggalkan kawasan bandara.


"Apa kita langsung ke mension Nyonya?" Tanya Erick.


"Kita antar Ica dulu ke apartemennya." Jawab mommy Sarah.


Mobil pun melaju ke arah apartemen Ica yang jaraknya tak jauh dengan tempat Ica kuliah.


Kini tiga pasangan itu sudah sampai di apartemen Ica yang di sediakan mommy Sarah.


"Kenalkan ini Rini,asisten yang akan membantu mu mengurus apartemen ini." Mommy Sarah memperkenalkan asisten yang ia sediakan untuk Ica.


Mama Nivi,papa Fano,bang Satria dan Ica mengelilingi unit apartemen yang akan Ica tinggali.


Setelah mengelilingi apartemen Ica,mommy Sarah,daddy Edwin,papa Fano,mama Nivi dan bang Sat melanjutkan perjalanan menuju mansion keluarga mommy Sarah.


Namun mommy Sarah melarang papa Fano,mama Nivi dan bang Satria tinggal di apartemen Ica karena ingin membiarkan Ica beristirahat agar besok tubuh Ica segar untuk memulai aktivitasnya sebagai mahasiswi. Mommy Sarah juga melarang orang tua Ica dan bang Satria menginap di hotel karena,mansion keluarga mommy Sarah mempunyai banyak kamar.


Kini dua pasangan tak sadar usia itu plus bang Satria sudah berada di mansion keluarga mommy Sarah. Para pelayan yang bekerja di mansion itu pun membawa barang bawaan mereka masuk ke dalam mansion kemudian menuju lantai atas.


"Ini kamar untuk Satria." Tunjuk mommy Sarah pada kamar yang bersebelahan dengan kamar yang akan di pakai mommy Sarah dan daddy Edwin.


"Dan yang di ujung sana,kamar untuk kalian." Kata mommy Sarah menunjuk kamar yang akan dipakai papa Fano dan mama Nivi.


Namun,baru saja mereka melangkah perkataan daddy Edwin membuat langkah mereka terhenti.


"Tunggu dulu."


Mommy Sarah,papa Fano,mama Nivi dan bang Satria pun menoleh ke arah daddy Edwin.


"Ada apa dad?" Tanya mommy Sarah.

__ADS_1


"Kamu,pindah ke kamar itu." Daddy Edwin menunjuk kamar yang berada di ujung untuk bang Satria yang sebelumnya ditunjuk mommy Sarah untuk kamar orangtua Ica.


"Sedangkan untuk orangtua Ica di kamar ini." Daddy Edwin menunjuk kamar yang tadi ditunjuk mommy Sarah untuk bang Satria.


Mommy Sarah memutar bola matanya malas,karena mommy Sarah tau apa maksud sang suami menukar kamar bang Satria dengan kamar orangtua Ica. CEMBURU. Daddy Edwin sepertinya masih cemburu dengan bang Satria hanya karena mommy Sarah menyebut bang Satria ganteng.


Mama Nivi dan papa Fano pun melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar yang ditunjuk daddy Edwin,begitu pun dengan bang Satria,ia pun berjalan ke arah kamar yang di tunjuk oleh suami mommy Sarah itu.


Mommy Sarah dan daddy Edwin pun masuk kedalam kamar.


Daddy Edwin langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Mom..sini." daddy Edwin menepuk sisi kirinya yang kosong.


"Sebentar dad,ada yang harus mommy cek." Kata mommy Sarah sambil mengeluarkan tablet miliknya kemudian mendudukkan bokongnya di atas sofa.


"Cek apa?" Tanya daddy Edwin heran,karena tidak mungkin istrinya mengecek pekerjaan jika sang istri sedang berada dengan daddy Edwin.


"Cek anak mu,si bule kampret." Jawab mommy Sarah sambil membuka rekaman cctv yang ia sambungkan ke layar tabletnya.


Daddy Edwin yang penasaran bangkit dari atas ranjang dan duduk di sebelah mommy Sarah.


Mata mommy Sarah membelalak saat melihat isi rekaman itu,karena melihat anaknya memasukkan wanita ke dalam kamar yang ada di unit apartemennya.


"Dasar bule kampret!!! Batre pedangnya udah di cabut aja masih mau main perang-perangan!!! Gimana kalau gak dicabut,entah sudah berapa wanita yang ia ajak main pedang-pedangan.!!!" Kesal mommy Sarah.


Tak lama kemudian,mata daddy Edwin yang membelalak melihat wanita itu melepaskan semua pakaiannya hingga tak ada satu benang pun menempel di tubuh sang wanita. Mommy Sarah melirik sang suami.


"Dad.!!!" Sentak mommy Sarah yang melihat suaminya tak berkedip.


Daddy Edwin langsung mengalihkan pandangannya dari layar tablet sang istri.


"Apa sih mom,orang daddy gak liat dia telanjang,daddy lagi serius perhatiin wajah anak kita." bohong daddy Edwin.


"Kalau kamu perhatiin Yordan,terus darimana kamu tau kalau si perempuan telanjang??!!Awas kalau kamu sampai macam-macam,mommy...." belum sempat mommy Sarah mengeluarkan kata-kata ancaman pada sang suami,daddy Edwin sudah memotong terlebih dulu.


"Iya sayang,daddy mana berani sih macam-macam sama mommy. Daddy kan sayang sama mommy." Rayu daddy Edwin pada sang istri.

__ADS_1


Mata mommy Sarah kembali tertuju pada layar tablet yang sempat ia jeda.


__ADS_2