Penantian Sang Casanova

Penantian Sang Casanova
eps. 67


__ADS_3

Selesai makan keluarga ceremai ini berkumpul di ruang keluarga.


Entah sudah berapa kali Yordan menghela nafasnya karena melihat siaran langsung kemesraan kedua orang tuanya.


"Mesra-mesraan tiap hari,tapi punya anak cuma sebiji." Celetuk Yordan pelan,namun masih bisa di dengar oleh mommy dan daddy nya.


"Buat apa punya anak banyak-banyak tapi gak berkualitas,mending sedikit tapi berkualitas." Daddy Edwin yang menjawab celetukan anaknya.


Mommy Sarah malah tidak senang dengan apa yang dikatakan suaminya.


"Cih...berkualitas apaan kayak gitu. Seandainya mommy tau gedenya kayak begini,mending dari orok mommy kasih air tajin anak gendeng mu itu." Cibir mommy Sarah.


"Makanya produksi lagi lah mom,manatau nanti yang keluar gak kayak Yordan" padahal niat hati Yordan menyuruh mommy dan daddynya untuk punya anak lagi,agar kehidupannya tidak selalu di gentayangi sang mommy.


"Dari dulu mah mommy mau banget,daddy kamu nih yang gak mau punya anak lagi,maunya ritualnya doang." Mommy Sarah menyalahkan sang suami.


Menjadi kambing hitam perdebatan anak dan istrinya daddy Edwin menghela nafasnya.


"Bukan gak mau mom,tapi daddy gak kuat harus ngeliat mommy kesakitan lagi pas melahirkan." Daddy Edwin beralasan.


"Cih...alasan.!!! Bilang aja daddy gak mau kalau mommy lebih perhatian sama anak-anak." Cibir mommy Sarah,ia membuka kartu AS suaminya yang sangat posesif.


"Masa sih mom?" Yordan tak menyangka,dibalik kewibawaan seorang Edwin Adiguna yang terkenal tegas dan bertangan dingin,ada sisi keposesifannya juga,apalagi posesifnya itu terhadap anak sendiri.


"Asal kamu tau aja yah,dulu waktu kamu lahir,daddy ini sempet protes ke mommy karena mommy kasih kamu ASI eksklusif dan langsung mommy kasih dari sumbernya. Daddy kamu nyuruh supaya ASI nya di masukin aja dalam botol,biar sumbernya tetap milik daddy." Mommy Sarah memberikan lirikan mengejek pada suaminya.


"Terus mommy nurutin kata daddy?" Yordan sepertinya sangat antusias mendengar kisah orangtuanya.


Mommy Sarah menggeleng.


"Ya enggak lah,dimana-mana seorang bapak harus ngalah sama anaknya. Mommy ancam daddy,kalau daddy gak mau ngalah sama kamu,mommy akan pulang ke New York." Mommy Sarah menjeda sebentar kata-katanya untuk mengisi oksigen ke paru-parunya.


"Bahkan sampe kamu umur lima tahun,daddy kamu nyiapin tiga pengasuh untuk bantu mommy jagain kamu,kata daddy biar mommy bisa lebih fokus dan perhatian sama daddy. Yang paling mommy gak habis pikir,saat kamu mau masuk SD,daddy kamu sampe nyuruh kakek-nenek kamu ambil kamu dan bawa kamu ke kota M,biar kamu sekolah disana. Bahkan...."


"Sudah mom,gak usah diterusin." Daddy Edwin memotong kata-kata istrinya,agar mulut tak berfilter istrinya itu tidak melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Biar aja,biar Yordan tau kenyataan yang sebenarnya,biar bukan mommy aja yang disalahkan." Mommy Sarah tak mau mendengarkan peringatan suaminya.


Daddy Edwin pasrah,melihat istrinya yang membuka aib dirinya di depan anaknya. Lebih baik ia menulikan telinganya dari pada harus mendengar percakapan istri dan anaknya itu.


"Bahkan sangking takutnya daddy kamu mommy hamil lagi,tanpa sepengetahuan mommy,daddy kamu sampe pergi ke rumah sakit untuk pensterilan saluran repriduksinya biar mommy gak hamil." Mommy Sarah nampak kesal mengingat kejadian itu.


"Daddy di kebiri?" Tanya Yordan yang mengira pensterilan dan kebiri itu sama.


"Bukan di kebiri,kalau di kebiri sinyal daddy hilang. Kalau di steril atau vasektomi,sinyal daddy masih kuat tapi benihnya aja yang gak keluar." Mommy Sarah menjelaskan.


"Oooo" mulut Yordan membulat sempurna. Matanya kini memandang daddy nya yang seolah-olah tak mendengar percakapan anak dan istrinya itu.


"Waktu mommy tau kalau daddy kamu melakukan vasektomi,mommy marah besar bahkan mommy minta cerai sama daddy kamu saat itu,karena daddy kamu egois,mengambil keputusan sendiri tanpa kasih tau mommy. Hanya karena gak mau kasih sayang mommy terbagi-bagi,daddy kamu sampai melakukan itu." Mommy Sarah masih saja kesal kalau mengingat momen-momen itu.


"Cih...masa sama anak sendiri daddy juga cemburu." Ejek Yordan pada daddy nya.


Sementara daddy Edwin masih saja menulikan telinganya.


"Makanya waktu kamu naik kelas tiga SD,daddy kamu bawa kamu lagi ke sini. Karena itu syarat dari mommy kalau memang daddy kamu gak mau mommy cerein. Makanya kalau kamu mau protes karena mommy selalu bergentayangan di hidup kamu,kamu protesnya sama daddy,jangan cuma mommy saja yang kamu umpat dalam hati kamu."


"Mana ada.!! Gak pernah yah Yordan ngumpat mommy." Kilah Yordan.


Hampir saja mommy Sarah melempar majalah ke wajah Yordan,tapi tangan daddy Edwin langsung menangkap tangan istrinya. Bukan untuk membela Yordan,tapi...


"Udah,gak usah ribut. Besok jam berapa mommy berangkat ke New York?"


"Jam sepuluh pagi."


"Naik pesawat pribadi kita kan?" Tanya daddy Edwin lagi.


Mommy Sarah mengangguk.


"Kalau gitu,suruh pilotnya tunda sampai jam satu siang." Perintah daddy Edwin pada sang istri.


"Loh kenapa?" Tanya mommy Sarah heran.

__ADS_1


Daddy Edwin mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya.


"Kasih daddy bekal dulu sebelum mommy pergi satu minggu ninggalin daddy." Bisik daddy Edwin di telinga istrinya.


Mommy Sarah melipat kedua bibirnya,wajahnya merona karena tau apa yang di maksud suaminya. Mommy Sarah pun mengangguk malu-malu kucing.


Melihat istrinya mengangguk,daddy Edwin langsung menarik tangan istrinya untuk berdiri. Dan merangkul pinggang sang istri berjalan menuju markas mereka,meninggalkan Yordan yang menganga melihat ekspresi sang mommy yang malu-malu kucing.


"Cih...kayak anak perawan aja.!!" Umpat Yordan pada sang mommy setelah pasangan tak sadar usia itu meninggalkan ruang keluarga.


Yordan pun ikut beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Keesokan paginya Yordan terbangun karena alarm yang ia pasang pukul enam pagi berbunyi. Yordan mengernyitkan keningnya saat melihat celana boxer yang ia pakai basah.


"Gue ngompol?" Lirih Yordan bertanya pada diri sendiri.


Ia pun memegang celananya yang basah,dan menciumnya,apa bau pesing atau tidak. Dan ternyata tidak.


"Ini kayak bau..." mata Yordan membelalak karena ternyata itu basah muntahan sang sahabat.


Yordan mengernyitkan keningnya,pasalnya tadi malam ia bermimpi sedang melanjutkan kekhilafannya dengan Ica pada waktu di apartemen Ica.


"Masa iya cuma mimpi gitu doang bisa muntah loe Jek.!!" Baru saja Yordan berkata seperti itu,tiba-tiba ia teringat kalau sahabatnya itu sedang mati suri.


"Wah...gak bener loe jek,masa lagi mati suri aja loe bisa muntah. Loe lagi mati suri apa lagi masuk angin sih Jek." Ia mengajak ngobrol si Jeki. Tapi si Jeki tetap tak kunjung memberi jawaban.


Merasa penasaran,Yordan mengambil hp nya dan membuka koleksi video-video tentang dunia pergulatan,tujuannya untuk memancing emosi si Jeki. Namun,tetap saja si Jeki calm down,tak mau menunjukkan ke bar-barannya.


Yordan mendesah frustasi.


"Gue harus gimana Jek? Ngomong dong Jek,apapun yang loe minta akan gue kasih deh Jek asal loe bangun,frustasi gue kalau loe gini Jek. Cuma loe sahabat yang selalu setia memberi kebahagiaan buat gue..!!" Kata-kata absurd keluar dari mulut Yordan yang sudah frustasi tingkat dewa.


Tak ingin lama-lama frustasi,Yordan pun bangkit dari ranjangnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dan sekali lagi,ia kembali membujuk si Jeki untuk bangun dari koma nya.

__ADS_1


__ADS_2