
Mata mommy Sarah,daddy Edwin dan Ica membelalak mendengar kata-kata Irna.
"Mak..maksud kamu,Ica hamil?" Tanya mommy Sarah masih dalam keadaan kaget.
"Iya mom. Ica hamil. Kalau Irna lihat,usia kandungannya sudah masuk sepuluh minggu."
Mendengar kabar yang Irna berikan,mommy Sarah tidak kuasa menahan tangisnya,tangis haru dan bahagia karena harapannya ingin menimang cucu bisa terkabul.
Ia mendekati Ica dan memeluk menantunya itu.
"Makasih sayang..makasih. Makasih udah mau mengandung calon cucu mommy." Kata mommy Sarah sambil terisak di pelukan Ica.
Ica yang masih shock dengan kabar yang Irna berikan hanya mampu menganggukkan kepalanya.
"Mom,Ica nya jangan di peluk kenceng-kenceng. Kasihan cucu kita di dalam nanti." Kata daddy Edwin sambil menarik tubuh istrinya agar melepaskan pelukannya dari tubuh Ica.
"Ini mom." Irna memberikan tissue pada mommy Sarah untuk menyeka air matanya.
"Mommy sama daddy duduk dulu yah. Biar Irna selesein pemeriksaan sama Ica dulu." Pinta Irna.
Mommy Sarah menganggukkan kepalanya,ia dan daddy Edwin pun berjalan ke arah sofa yang ada di dekat pintu ruangan itu.
Setelah Irna selesai memeriksa Ica,Irna pin menyuruh Ica untuk duduk di kursi di depan meja kerja Irna.
"Selamat yah Ca atas kehamilannya. Dan selamat kamu termasuk wanita beruntung yang gak ngalamin morning sickness"
"Maksud kak Irna?"
"Maksudnya,kamu gak harus lemas karena muntah-muntah,karena suami tengil kamu itu yang udah gantiin kamu ngerasain itu."
"Jadi Yordan muntah-muntah sampe pingsan gitu karena morning sickness?" Tanya mommy Sarah penasaran.
"Iya mom,jadi Yordan itu sekarang lagi mengalami kehamilan simpatik." Jelas Irna.
"Sampe kapan dia begitu?" Tanya mommy Sarah lagi.
"Yah biasanya sih hanya sampai trimester satu,tapi ada beberapa kasus yang sampe anaknya lahir baru selesai merasakan kehamilan simpatik."
"Jadi selama sembilan bulan kak Yordan nanti muntah-muntah?" Ica yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara.
"Mungkin iya mungkin juga enggak. Kan tiap orang beda-beda. Tapi ada beberapa orang trimester pertama,mual dan muntah,nanti trimester ke dua ngidam yang aneh-aneh,dan masuk trimester tiga akan merasakan sakit pinggang lah,gampang pegal lah,bahkan ada yang sampe ikut merasakan kontraksi saat istrinya melahirkan. Jadi kita lihat aja nanti Yordan sampe dimana. Kalau Yordan sampe sembilan bulan kayak gitu,fiks kamu tuh wanita yang beruntung."
Ica diam seribu bahasa mendengar penjelasan Irna,apa ia harus bahagia atau sedih mendengar penjelasan Irna. Satu sisi dia bahagia karena tidak perlu mengalami mual dan muntah seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya,tapi di satu sisi dia juga tidak tega melihat suaminya tersiksa karena kehamilan simpatiknya.
"Oh iya Ca,apa Yordan muntah-muntah hanya di pagi hari? Biar kakak bisa kasih dosis yang pas untuk Yordan." Pertanyaan Irna membuyarkan lamunan Ica.
__ADS_1
Ica mencoba mengingat-ingat disaat kapan saja Yordan muntah-muntah. Tak lama ia menggeleng.
"Kayaknya bukan pagi aja deh kak."
"Terus kapan aja? Kira-kira ada keluhan lain selain muntah?"
"Keluhan lain kayaknya gak ada. Tapi kalau untuk waktu muntah-muntahnya...." Ica ragu mengatakan kejadian tepatnya karena di ruangan itu sekarang bukan hanya ada dirinya dan Irna,melainkan ada papa dan mama mertuanya juga. Karena Yordan selalu muntah-muntah setiap mereka habis bermain jungkat-jungkit.
"Kenapa? Apa ada waktu tertentu Yordan muntah-muntah?" Tanya Irna penasaran karena Ica menggantung kalimatnya.
Ica menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Kapan?"
"Em..itu..em.." Ica masih ragu dan malu mengatakan hal tabu itu.
"Bilang aja Ca,biar Irna tau." Mommy Sarah yang juga penasaran ikut membuka suaranya.
Ica menghela nafasnya sebelum memberitahu waktu khusus itu pada Irna.
"Kak Yordan selalu muntah-muntah kalau kita habis berhubungan badan kak." Jawab Ica malu-malu sambil menundukkan wajahnya.
Mendengar jawaban Ica,Irna,mommy Sarah dan daddy Edwin tertawa terbahak-bahak. Bahkan tawa daddy Edwin terdengar yang paling kencang di antara mereka bertiga.
"Kok pada ketawa?" Tanya Ica heran.
"Lucu..lucu..lucu banget!!" Jawab daddy Edwin masih sambil tertawa.
"Apanya yang lucu?" Tanya Ica lagi.
"Ya lucu lah Ca. Tuh bule kampret kan paling gak bisa nahan kalau soal urusan ranjang,di otaknya cuma ************ terus,biar sampe pagi main cangkul-cangkulan juga dia tahan. Tapi gara-gara kehamilan simpatik,pasti satu ronde aja udah KO dia." Kini mommy Sarah yang menjawab.
"Tapi bagus deh,biar kamu gak di gempur terus sama dia. Kehamilan trimester satu masih rentan,belum boleh sering-sering jenguk si dedek. Jadi dengan Yordan yang seperti ini,paling tidak trimester satu ini kamu aman lah Ca." Timpal Irna.
BRAAAK. Pintu ruangan Irna terbuka kasar disaat mommy Sarah,daddy Edwin dan Irna masih tertawa bahagia karena puas membayangkan Yordan yang sempoyongan sehabis bergelut,karena biasanya Ica lah yang selalu sempoyongan sehabis bergelut dengan Yordan.
Sontak keempat orang yang ada di dalam ruangan itu menengok ke arah pintu.
"Yordan..kak Yordan." Lirih mereka bersamaan saat melihat Yordan berdiri di depan pintu dengan wajah kesal. Kesal karena mereka meninggalkan Yordan sendirian di kamar rawat sedangkan mereka malah ketawa-ketiwi di rungan Irna.
Saat melihat penampakan Yordan di depan pintu,mommy Sarah daddy Edwin dan Irna yang sempat menghentikan tawanya sejenak kembali tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak,karena sekarang hanya menggunakan celana boxer yang Ica asal sambar tadi,apalagi celana boxer yang Ica ambil itu udah lumayan sempit. Entah karena sang sahabat yang semakin berotot karena push up sehari tiga kali atau memang celananya yang mengecil,entah lah..!!
"Bagus yah kalian malah ketawa-ketawa disini. Sesenang itu kah kalian liat aku sakit?" Tanya Yordan sinis sambil melangkahkan kakinya mendekati Ica dan duduk di kursi di sebelah Ica.
"Kamu udah baikan?" Tanya mommy Sarah,ia tak menggubris pertanyaan sinis anaknya,karena ia tau kalau sekarang Yordan sensitif karena hormon ibu hamil yang pindah ke dirinya.
__ADS_1
"Cih..menurut mommy?!" Tanya Yordan balik.
"Udah..udah..jangan marah-marah. Mumpung kamu disini,ada yang pengen kakak kasih tau sama kamu." Irna menengahi perdebatan ibu dan anak itu.
"Ini." Irna menyodorkan foto hasil usg tadi pada Yordan.
"Ini apa?" Tanya Yordan sambil mengambil foto yang di sodorkan Irna.
"Itu foto anak kamu yang sangat kamu nanti-nantikan."
Mata Yordan membelalak,hampir saja ia lupa bernafas mendengar kata-kata Irna.
"Maksudnya...Ica hamil kak?" Tanya Yordan dengan raut wajah tak percaya.
Irna mengangguk sembari tersenyum pada Yordan.
Melihat Irna mengangguk,Yordan langsung menoleh ke arah Ica dan langsung memeluk tubuh Ica dengan erat.
"Makasih Ca...makasih." Sama dengan mommy Sarah yang bahagia waktu mendengar Ica hamil,Yordan pun menangis karena bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
"Jangan kekepin gitu Ica nya Dan,inget ada cucu mommy di dalam perut Ica.!" Mommy Sarah memperingatkan Yordan saat melihat Yordan begitu erat memeluk istrinya.
"Cucu mommy juga anak Yordan!!" Jawab Yordan tak suka karena belum apa-apa mommy Sarah sudah mengklaim hasil kerja keras Yordan selama tiga shift sehari.
Yordan melihat foto hasil usg itu.
"Baby 2M ku.." kata Yordan dalam hati saat melihat foto itu. Karena untuk mendapatkan bayi yang ada di perut Ica sekarang Yordan harus mengeluarkan uang sebesar dua M,harga yang hampir sama untuk membuat bayi tabung.
"Udah berapa umurnya anak aku ini kak?" Tanya Yordan pada Irna tapi matanya tak berhenti memandang foto hasil usg anaknya.
"Udah masuk minggu ke sepuluh."
"Minggu kesepuluh,berarti dua bulan lebih dong kak?"
Irna mengangguk.
"Pantes aku gak pernah puasa bulanan." Lirih Yordan mengingat-ingat kembali hari-hari kebelakang.
"Jadi Dan,kamu itu sedang mengalami kehamilan simpatik. Makanya kamu mual dan muntah." Irna memberitahu Yordan penyebab dirinya seperti mengalami mual dan muntah.
"Kehamilan simpatik? Apaan lagi tuh?"
Irna pun menjelaskan dari a-z tentang kehamilan simpatik pada Yordan dan beberapa kemungkinan yang akan terjadi pada Yordan seperti yang Irna jelaskan sebelumnya pada mommy Sarah dan Ica.
Mendengar penjelasan Irna,Yordan hanya manggut-manggut saja. Entah dia mengerti apa yang Irna jelaskan apa hanya sekedar pura-pura mengerti,yang penting uang dua M yang ia keluarkan untuk sebotol penyubur kandungan serta pasukan cebong yang sahabatnya semburkan untuk mengakuisisi pabrik pembuatan generasi Yordan tak terbuang sia-sia dan langsung memberikan feedback padanya.
__ADS_1