
Tia dan Ica berjalan beriringan keluar dari ruangan Irlan dan diikuti Yordan dan Igo dari belakang.
"Gue nebeng mobil loe yah Ca." Kata Tia,karena sewaktu ke kafe Irlan,Tia naik taksi. Ia tidak berani menyetir disaat dirinya sedang kelelahan.
Tia yang mengambil jurusan kedokteran,harus rela menyelesaikan pendidikannya lebih lama dari dua sahabatnya. Selain pendidikan yang lebih lama,waktu dan pikiran juga sangat terkuras,membuat ia tak punya waktu untuk berpacaran. Jangankan berpacaran,memikirkannya saja Tia tidak kepikiran.
Mendengar Tia yang ingin nebeng mobil Ica,Igo dengan garcep nya menawarkan diri untuk mengantar Tia.
"Babang Igo aja yah neng yang anter pulang." Tawar Igo dengan tidak tau malunya.
Melihat tingkah sang sahabat,Yordan sampai mengusap wajahnya. Sungguh malu-maluin karena Igo yang tidak bisa jaga image.
"Apaan sih loe!! Minggir.!" Sentak Tia.
Mendengar sang sahabat di tolak mentah-mentah,Yordan tertawa dalam hati.
"Mampus loe!! Keganjenan sih loe jadi laki!!" Umpat Yordan dalam hati.
"Jangan galak-galak dong neng. Niat hati babang kan baik mau nganter pulang." Kata Igo masih terus berusaha.
Bukannya menjawab Tia malah mencebik dan menarik tangan Ica untuk segera menjauh dari Igo.
"Bantuin gue dong Dan." Mohon Igo pada sang sahabat.
"Loe anter si Ica pulang,gue anter Tia pulang." Kata Igo lagi.
Yordan menghela nafasnya,ia jadi tak tega melihat wajah Igo yang memohon padanya. Ia pun melangkah panjang untuk menghampiri Ica dan menarik tangan Ica.
"Loe pulang bareng gue." Kata Yordan sambil menarik Ica menuju mobilnya.
__ADS_1
"Pak,bapak pulang aja,biar Ica saya yang anter pulang." Kini Yordan meminta supir keluarga Ica untuk pulang terlebih dulu.
Setelah Ica terpisah dari Tia,baru lah Igo mendekati Tia lagi dan menarik tangan Tia seperti yang Yordan lakukan pada Ica. Mungkin beginilah definisi guru kencing berdiri,murid kencing berlari. Apa yang Yordan lakukan,langsung ditiru Igo.
"Ekh...apa-apaan nih!!! Enak aja main tarik-tarik,lepas gak?! Gue pukul loh sampe loe geger otak!!" Bentak Tia pada Igo tapi Igo tak menggubris kata-kata Tia,dia tetap menarik tangan Tia sampe ke mobilnya dan memasukkan Tia ke dalam mobil. Setelah memasangkan Tia sabuk pengaman,baru lah Igo masuk ke dalam mobilnya.
Kini mobil Igo dan mobil Yordan sudah beranjak dari parkiran kafe milik Irlan menuju rumah gadis-gadis mereka.
"Ca..." panggil Yordan memecah keheningan di dalam mobil.
"Emmm" jawab Ica sekenanya.
"Udah tiga tahun lebih loh kita begini. Kita baikan yuk." Kata Yordan langsung ke intinya.
Ica menatap wajah Yordan,begitu pun dengan Yordan yang menatap wajah Ica. Mata mereka pun saling berpandangan. Ica pun segera mengalihkan pandangannya melihat jalanan ketika mata mereka saling bertemu.
"Bisa gak kita gak bahas ini dulu kak,aku lagi mau fokus bantu kak Irlan." Jawab Ica.
"Irlan itu kan temen aku juga Ca,yah gak mungkin lah aku gak bantuin dia kalau kita balik kayak dulu lagi." Sahut Yordan yang merasa jawaban Ica terlalu di paksakan.
"Aku butuh kepastian kamu sekarang Ca. Kamu masih ada rasa gak sama aku? Kalau kamu udah gak punya perasaan apa-apa bilang ke aku Ca,jangan buat hubungan kita ngegantung kayak gini." Kata Yordan lagi. Sepertinya emosinya tersulut kembali.
Ini lah yang Ica tidak suka dari Yordan,setiap memohon kembali,selalu saja dengan urat dan nada yang meninggi. Membuat Ica benar-benar takut untuk menjalani hubungan dengan Yordan lagi.
"Loh kok kakak bilang aku yang ngegantungin,kan aku udah bilang,kalau kakak mau cari cewek lain,yah cari aja!! Kan kakak yang gak mau!! Terus kenapa sekarang kakak bilang kalau aku yang ngegantungin.!! Aku capek kak ribut terus sama kakak setiap kita bahas masalah ini. Kakak ngomongnya selalu maksa,selalu menyudutkan aku terus." Jawab Ica dengan nada tak kalah meninggi dari Yordan.
"Maaf Ca,aku terlalu emosi,sampe gak sadar sama ucapan aku sendiri." Kata Yordan sambil mengusap wajahnya. Ia sadar kalau barusan ia telah meninggikan suaranya pada Ica.
"Kakak kenapa sih gak pernah berubah,selalu mengandalkan emosi kakak setiap kita bicara. Kakak sadar gak sih,setiap kakak membahas tentang hubungan kita,selalu ada aja satu dua kalimat kakak yang selalu menyudutkan aku. Dan itu yang selalu buat aku mikir dua kali untuk kembali menjalin hubungan sama kakak."
__ADS_1
"Maaf Ca." Lirih Yordan. Benar apa yang dikatakan Ica,setiap Yordan meminta Ica untuk mengakhiri break mereka,pasti ada satu dua kalimat Yordan yang selalu menyudutkan Ica.
Misalnya Yordan yang selalu mengatakan kalau Ica pengen hidup bebas di New York,makanya Ica tidak mau mengakhiri break mereka,padahal jelas-jelas empat bodyguard selalu mengelilingi Ica belum lagi bodyguard utusan mommy Sarah yang Ica tidak ketahui,jadi mana mungkin ia bisa hidup bebas seperti yang Yordan tuduhkan padanya. Bahkan Yordan yang masih suka menuduh Ica ada main dengan Bryan,padahal Ica sudah sebisa mungkin menjaga jarak dengan Bryan karena tidak mau Yordan kembali menuduhnya berselingkuh dengan Bryan. Bahkan bukan hanya Bryan,semua manusia berjenis kelamin laki-laki sebisa mungkin Ica jauhi,tapi tetap saja Yordan berpikiran negatif tentang dirinya. Dan semua kata-kata menyudutkan Ica itu selalu Yordan katakan disaat Yordan tersulut emosi. Seandainya saja kata-kata laknat itu tak pernah keluar dari mulut Yordan,mungkin sudah lama Ica mengakhiri break Yordan.
Memang Yordan sudah berjuang,bersabar dan berubah dalam menanti Ica. Ia tak pernah lagi main perempuan dan tidak pernah lagi ke club. Begitupun dengan Ica,yang mulai bersikap tegas untuk menolak ajakan teman-temannya jika mereka mengajak ke club. Namun semua perubahan Yordan langsung terpatahkan hanya karena satu dua kalimat Yordan yang menyudutkan Ica.
"Sekarang kakak bilang maaf,terus besok disaat kita bahas masalah hubungan kita,kakak ngomong yang enggak-enggak lagi tentang aku. Jadi untuk apa permintaan maaf kakak sekarang dan yang kemaren kemaren kemaren kemaren itu?!"
"Aku kan udah minta maaf Ca."
"Sekarang gini,kalau aku melakukan kesalahan berulang-ulang dan berulang-ulang juga aku minta maaf,emangnya kakak gak bosen dengar permintaan maaf aku?!"
Yordan hanya bisa diam dan menundukkan kepala sambil tangannya terus mencengkram setir mobil.
"Aku rasa gak ada artinya kita break kak. Kalau di otak kakak hanya stuck dengan rasa curiga kakak. Bukannya tiap hari W,X,Y dan Z kasih laporan sama kakak tentang aktifitas aku? Aku kemana,sama siapa,bikin apa? Harusnya kakak lebih tenang dong. Sedangkan aku aja gak ada yang ngelaporin sama aku apa-apa aja yang udah kakak lakuin disaat kita berjauhan,tapi aku gak pernah ngeluarin satu kalimat yang menyudutkan kakak."
"Jadi sekarang aku harus gimana Ca?! Jujur,aku juga gak tau kenapa kata-kata laknat itu keluar dari mulut aku Ca. Mungkin aku terlalu emosi karena hubungan kita yang semesra saat awal-awal kita pacaran. Mungkin karena jarak yang memisahkan kita Ca,makanya aku jadi gampang berburuk sangka sama kamu. Tapi jujur,sampai detik ini di hati aku cuma ada kamu. Dan aku harap di hati kamu masih tersimpan nama aku."
Ica mengehela nafasnya,mungkin benar yang di katakan Yordan kalau hubungan jarak jauh selalu membuat pikiran orang yang biasanya positif bisa berubah menjadi negatif. Ica bukannya tidak pernah berpikir negatif tentang Yordan tapi ia berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran negatifnya tentang Yordan agar hubungan mereka bisa terus langgeng.
"Kalau memang karena hubungan jarak jauh kita yang jadi alasan kakak selalu menyudutkan aku. Kalau begitu,aku minta kita break enam bulan lagi,aku mau lihat apa dengan jarak kita yang sudah dekat ini kakak masih sering menyudutkan aku."
Mata Yordan membelalak saat Ica meminta waktu enam bulan lagi.
"Apa gak bisa di kurangin Ca waktunya." Tawar Yordan.
"Kenapa kakak gak bisa?"
"Bukannya gak bisa Ca,tapi kelamaan."
__ADS_1
"Kakak aja bisa bertahan tiga tahun lebih,kenapa hanya enam bulan aja kakak bilang kelamaan?! Kalau kakak gak bisa ya udah,kakak cari cewek lain aja."
Yordan menggaruk-garuk kepalanya frustasi. Masalahnya jika jarak berjauhan,Yordan bisa menyibukkan diri dengan pekerjaan. Namun jika sudah berada di negara yang sama,ia tidak yakin kalau dirinya sanggup untuk tidak menjumpai Ica. Akh...apalagi si Jeki yang sinyalnya langsung 5G jika berdekatan dengan Ica. Sabun lagi...sabun lagi.