
Mata mommy Sarah kembali tertuju pada layar tablet yang sempat ia jeda.
Setelah melihat semua isi rekaman cctv unit apartemen Yordan,mommy Sarah menarik senyum tipis di bibirnya.
"Rasain kamu bule kampret.!!! Makanya,kalau ada wanita yang tulus mencintai kamu,hargai!!! Bukan malah di sakiti dengan tantangan yang sangat menjijikkan.!!! Mommy akan buat kamu menyadari arti Ica buat hidup kamu.!!" Lirih mommy Sarah pelan,namun masih bisa didengar oleh daddy Edwin.
"Mom,jangan terlalu keras sama Yordan,kasihan dia."
"Mommy hanya ingin mendidik dia,agar dia bisa lebih menghargai wanita dad. Mommy ingin membuat anak kita satu-satunya itu kembali ke jalan yang benar."
"Iya daddy tau. Tapi menurut daddy,Yordan sudah sadar dengan perasaannya sendiri. Jadi biarlah dia berjuang mendapatkan Ica."
Mommy Sarah menggeleng.
"Ica itu masih sangat polos dad,sedangkan Yordan,bisa saja dia masih plin plan dengan apa yang ia rasakan. Mommy gak mau,Yordan mendekati Ica dengan perasaan yang masih plin-plan,kasihan Ica."
Daddy Edwin menghela nafasnya,karena tidak mungkin ia menang jika harus berdebat dengan sang istri. Apalagi sang istri sangat membela harga diri wanita,apalagi jika wanitanya sepolos dan sebaik Ica.
"Terserah mommy aja. Mending daddy istirahat." Daddy Edwin pun berdiri dan membaringkan tubuhnya kembali di atas ranjang.
Mommy Sarah mengeluarkan hp nya untuk menanyakan keadaan Yordan pada sang asisten.
⭐⭐⭐⭐⭐
Kini mommy Sarah,daddy Edwin,papa Fano,mama Nivi dan bang Satria tengah berkumpul ruang keluarga,mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Bang Satria yang tadinya ingin meminta izin untuk menemui kekasihnya setelah makan malam,mengurungkan niatnya karena topik pembicaraan keempat orangtua yang ada di hadapannya sangat lah menarik untuknya. Apalagi bang Satria tergolong pengusaha baru,ia tak malu meminta pendapat mommy Sarah,daddy Edwin dan papa Fano yang memang sudah lama berkecimpung di dunia bisnis.
Tak terasa waktu sudah larut malam. Mereka pun kembali ke dalam kamar masing-masing.
"Dad.." panggil mommy Sarah pada sang suami yang baru saja keluar dari dalam ruang ganti.
"Iya mom." Daddy Edwin melangkahkan kakinya menuju sang istri yang sedang memoleskan skincare ke wajahnya.
"Mommy minta izin untuk kumpul dengan teman-teman mommy boleh." Tanya mommy Sarah hati-hati.
"Boleh." Jawab daddy Edwin santai sambil menatap pantulan wajah sang istri dari cermin.
__ADS_1
Mommy Sarah membelalak,tumben suaminya dengan sangat mudah mengizinkan dirinya untuk berkumpul dengan teman-temannya.
"Tapi,mommy juga harus bolehin daddy untuk kumpul dengan teman lama daddy."
Mommy Sarah mengernyitkan keningnya.
"Memangnya masih ada teman daddy yang menetap di negara ini?" Tanya mommy Sarah,karena setau mommy Sarah teman-teman suaminya berasal dari negara yang sama dengan sang suami.
Daddy Edwin mengangguk.
"Anima,dia menikah dengan pria di negara ini."
"Anima??" Mommy Sarah sejenak berpikir mengingat teman sang suami yang bernama Anima.
Tak lama mata mommy Sarah membulat sempurna setelah mengingat siapa Anima,karena Anima adalah perempuan gatal yang pernah mendekati suaminya,meski tau kalau sang suami sudah beristri.
"Maksud daddy si Anemia,perempuan gatal yang pernah ngejar-ngejar daddy,padahal dia tau kalau daddy udah nikah sama mommy??!" Tanya mommy Sarah dengan nada sedikit meninggi.
Daddy Edwin mengangguk santai. Hatinya tersenyum puas karena sudah berhasil membuat istrinya kebakaran jenggot.
Braaak. Mommy Sarah menggebrak meja riasnya dan memutar tubuhnya untuk menghadap sang suami.
"Daddy mau mommy tinggalin??!! Berani-beraninya daddy mau ketemuan sama si Anemia itu.!!" Bentak mommy Sarah,mode bar-bar on.
Daddy Edwin menggeleng.
"Namanya Anima mom.." kata daddy Edwin meralat sebutan yang istrinya itu berikan pada si perempuan gatal itu.
"Daddy kan juga mau ketemu sama teman lama daddy,mom. Masa mommy aja yang bisa ketemuan sama temen-temen mommy,sedangkan daddy gak boleh." Lanjut daddy Edwin. Sepertinya daddy Edwin tidak peduli dengan mode bar-bar istrinya.
"Terserah!!! Mau Anima kek,Animasi kek,Animal kek.!!! Buat mommy dia itu si Anemia,perempuan gatal yang kurang asupan darah bersih di tubuhnya!!!" Mommy Sarah melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Jangan samain pertemuan mommy dengan teman-teman mommy dengan pertemuan daddy dengan si Anemia dong!! Kalau mommy kan memang pure berteman sama mereka,kalau daddy sama si Anemia kan...." mommy Sarah tak melanjutkan perkataannya karena sudah dipotong oleh suaminya.
"Apa? Mommy mau bilang kalau daddy pernah selingkuh sama Anima,gitu?? Kan mommy tau dengan jelas kalau Anima yang kejar-kejar daddy. Tapi hati daddy hanya untuk mommy seorang. Memangnya mommy aja yang bisa cemburu,daddy juga cemburu,memangnya mommy gak tau gimana perasaan Luke sama mommy.!! Kalau mommy gak ngizinin daddy ketemu sama dia,daddy juga gak ngizinin mommy ketemuan sama teman-teman mommy."
__ADS_1
Daddy Edwin memutar langkahnya menuju ranjang. Kalau mommy Sarah mengeluarkan mode bar-bar,kalau daddy Edwin mengeluarkan jurus ngambek.
Mommy Sarah membulatkan matanya ketika sang suami tahu kalau temannya yang bernama Luke pernah menyukainya dan jujur mommy Sarah dulu juga sempat menyukai Luke sebelum mommy Sarah berakhir di ranjang apartemen daddy Edwin.
Melihat suaminya yang sedang ngambek,mommy Sarah mendekati daddy Edwin. Seperti yang pernah di katakan Yordan,kalau si bule bar-bar paling tidak bisa kalau di ambekin sang suami.
"Dad.." mommy Sarah menggenggam tangan sang suami dan mengelus-elus lengan daddy Edwin,agar daddy Edwin tak ngambek lagi padanya.
"Hemh.."
"Jangan ngambek dong dad. Mommy minta maaf kalau mommy egois,mommy gak akan buat acara kumpul-kumpul kalau gitu. Tapi daddy juga jangan ketemuan yah sama si Anemia.!" Rayu mommy Sarah.
Melihat wajah memelas sang istri ingin sekali daddy Edwin melepaskan tawanya,namun sebisa mungkin ia tahan.
Daddy Edwin pun mengangguk.
"Daddy gak akan ketemu sama Anima. Asal mommy pegang kata-kata mommy."
Mommy Sarah mengangguk.
"Janji,gak akan." Mommy Sarah mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membuat angka dua ke udara.
Daddy Edwin pun memeluk istrinya dan mengecup puncak kepala sang istri. Baru sesaat mereka berpelukan,telinga mereka harus tercemar dengan suara-suara yang bersumber dari kamar sebelah.
Jeritan,racauan dan desahan yang keluar dari mulut mama Nivi terdengar jelas sampai di kamar mommy Sarah dan daddy Edwin. Sepertinya mommy Sarah lupa memberitahu pada pasangan itu kalau semua kamar yang ada di kamar ini,tidak memiliki peredam suara.
"Wah...ternyata papanya Ica ganas juga di ranjang." Mulut tak berfilter mommy Sarah tiba-tiba mengomentari suara-suara laknat yang sampai ditelinganya.
Daddy Edwin melepaskan pelukannya dari sang istri.
"Mommy muji papa nya Ica?! Emangnya daddy gak ganas atau gak memuaskan" Mode cemburu daddy Edwin on kembali karena kini mommy Sarah memuji keganasan papa Fano.
"Ish...bukan muji dad,mommy hanya komentar. Mana mungkin daddy gak ganas,malah daddy itu sangat ganas dan memuaskan,makanya mommy harus minum obat encok dulu sebelum ritual sama daddy." Kilah mommy Sarah,padahal otak mommy Sarah sempat treveling kemana-mana.
Daddy Edwin memutar bola matanya jengah. Tapi dalam hatinya sangat bangga dengan pengakuan dari bibir sang istri.
__ADS_1