
Mendengar suara papa Fano,mama Nivi dan Ica sontak melepaskan pelukannya dan menengok ke arah papa Fano.
"Papa.." lirih Ica pelan namun masih bisa di dengar papa Fano.
"Jangan panggil saya papa,saya bukan papa kamu..!!!" Teriak papa Fano.
"Fano..!!!! Keterlaluan bicara mu itu.!!! Biar gimana pun Ica anak kamu.!!!" Mama Nivi sudah tersulut emosi mendengar papa Fano tak mengakui Ica anaknya.
"Cih...anak mana yang lebih memilih menurut pada orang lain dari pada sama orangtuanya sendiri."
"Terus apa bedanya dengan kamu,orangtua macam apa kamu yang gak mau mendukung bakat anaknya sendiri..!!! Malah orang lain yang tidak ada andil dalam membesarkan Ica bisa mengetahui bakat Ica bahkan rela menyekolahkan Ica. Apa kamu sebagai orangtua gak malu!!!"
"Karena orang itu mau mengambil keuntungan dari anak bodoh ini..!!! Paling-paling anak bodoh ini udah menjual tubuhnya agar bisa disekolahkan..!!" Kata-kata papa Fano semakin membuat mama Nivi naik pitam.
Mama Nivi berjalan mendekati papa Fano.
PLAAAAAK.
Mama Nivi menampar wajah suamimya,ia tak tahan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut tak berfilter suaminya itu. Bisa-bisanya seorang ayah kandung berburuk sangka pada putrinya sendiri.
"Jahat mulut kamu itu Fano!!!! Tega kamu berburuk sangka sama anak kamu sendiri.!!! Jangan mentang-mentang kamu udah sukses,kamu bisa merendahkan orang lain seenaknya sendiri.!!! Apalagi yang kamu rendahkan itu putri kamu.!!!" Bentak mama Nivi,air mata mengalir deras di wajah mama Nivi.
"NIVI....!!! Udah berani kamu sama saya sekarang yah.!!!!" Papa Fano balik membentak istrinya,tangannya sudah ia naikkan ke udara siap menampar istrinya.
"Apa??? Kamu mau mukul saya?? Pukul...!!! Ayo pukul..!!" Mama Nivi makin mendekatkan wajahnya kepada papa Fano.
"Mama.." teriak Ica yang ingin menghentikan aksi mama Nivi yang membelanya mati-matian.
Mendapat tantangan dari istrinya membuat emosi papa Fano meninggi sampai-sampai ia gelap mata dan melayangkan tamparan,namun tamparan itu tidak mendarat di wajah istrinya melainkan di wajah Ica.
"Ica...!!!" Teriak mama Nivi yang melihat tamparan papa Fano malah mendarat di wajah Ica.
Mama Nivi mendekati Ica dan melihat pipi Ica yang memar.
"Keterlaluan kamu Fano!!!! Kamu udah benar-benar jadi monster karena sifat ambisius kamu itu!!! Apa kamu lupa janji mu saat anak-anak kita baru lahir.!!! Kamu berjanji akan selalu menjaga kedua putri kita,gak akan kamu biarkan kedua putri kita tersakiti. Tapi kenapa malah sekarang kamu yang menyakiti putri kita????!!! Mana janji kamu itu Fano!!!! Mana!!!!!" Teriak mama Nivi sambil memeluk putri nya.
"Aku udah gak sanggup hidup sama laki-laki monster kayak kamu!!! Aku mau kita cerai.!!!!" Teriak mama Nivi lagi.
Ica kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulut mama Nivi. Karena membela dirinya mama Nivi sampai mempertaruhkan rumah tangganya yang sudah ia bangun hampir dua puluh tahun.
__ADS_1
"Mama...jangan ngomong gitu mah..!!!" Mohon Ica pada sang mama.
"Mama udah gak tahan sama ke ambisiusan papa kamu. Kalau ambisius sebatas pekerjaan mama masih bisa maklum,tapi ke ambisiusan papa kamu udah melewati batas,bahkan ia sekarang berambisi untuk menjadikan anak-anaknya robot sesuai keinginannya."
Papa Fano membelalakan matanya mendengar istrinya yang ingin meminta cerai. Di lubuk hati yang paling dalam ia sangat mencintai istrinya. Apalagi mama Nivi adalah orang yang selalu setia menemani papa Fano dari nol. Bahkan mama Nivi juga lah yang membujuk orangtuanya agar mau membantu papa Fano saat usaha papa Fano bangkrut,makanya usaha papa Fano berkembang pesat sampai sekarang.
Rasa ego yang tinggi yang di miliki papa Fano membuat papa Fano mengingkari kata hatinya yang terdalam. Bukan kata maaf yang terucap dari mulut papa Fano,malah kata setuju untuk bercerai lah yang keluar dari mulutnya.
"Baik kalau itu mau kamu.!!! Akan segera saya urus surat-suratnya.!!! Dan ingat, Nita harus ikut dengan saya.!!! Kamu bawa saja parasit ini bersama kamu.!!!" Setelah mengatakan itu papa Fano buru-buru melangkahkan kakinya dari halaman belakang menuju ruang kerjanya. Ia membuka pintu ruang kerjanya dengan kasar dan menutup pintu itu dengan cara membantingnya.
Papa Fano menghempaskan bokongnya di sofa yang ada diruang kerjanya.
"Arrrggghh.." papa Fano menjambak rambutnya frustasi. Sepertinya ia menyesali kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya. Tapi ia masih begitu gengsi untuk meminta maaf dan menarik semua kata-katanya tersebut.
Mama Nivi berjalan menuju kamarnya,mengambil koper dan menyusun baju-bajunya. Ia akan keluar dari rumah papa Fano.
"Mah..jangan gini mah. Inget masih ada Nita yang butuh mama." Bujuk Ica.
"Kamu tenang aja,papa kamu gak akan menindas Nita seperti papa menindas kamu. Untuk sekarang biarkan Nita bersama papa kamu,karena melawan pun sekarang gak akan ada artinya,malah nanti papa kamu jadi semakin kasar sama kita. Mama janji akan memperjuangkan hak asuh Nita nanti di pengadilan."
"Ica gak setuju kalau papa sama mama sampai cerai hanya karena bela Ica."
Mama Nivi membelai rambut putrinya.
Mama Nivi kembali menyusun pakaiannya. Setelah selesai,mama Nivi keluar dari dalam kamar. Ia berpamitan pada kedua art nya sebelum melangkahkan kakinya keluar dari rumah yang sudah ia tinggali kurang lebih sepuluh tahun.
Papa Fano melihat kepergian istri dan putri sulungnya dari layar cctv. Hatinya tetap saja mengeras tak mau mengalah.
⭐⭐⭐⭐⭐
Ica membawa mama Nivi ke apartemennya.
Ceklek. Ica membuka apartemennya.
"Ayo mah masuk." Ica mempersilahkan sang mama masuk sambil menggeret koper sang mama.
Mama Nivi pun masuk ke dalam apartemen Ica dan duduk di ruang tamu. Setelah membawa koper sang mama ke dalam kamar,Ica ikut duduk bersama sang mama di ruang tamu.
"Mah,Ica udah kirim pesan ke Nita tentang mama dan papa,Nita bilang pulang sekolah dia mau kesini."
__ADS_1
Mama Nivi mengangguk paham.
"Kapan kamu akan pergi ke New York?"
"Mungkin tiga atau empat hari lagi mah."
"Kamu udah persiapkan barang-barang yang mau kamu bawa?"
Ica menggeleng.
"Astaga...kamu tuh yah. Ayo kita siapkan barang-barang yang akan kamu bawa."
"Gak ada barang apa-apa mah,cuma baju doang."
"Tetap aja kamu harus persiapkan dari sekarang,biar pas hari H gak keteteran."
Ica pun mengikuti kata-kata mama Nivi,Ica dan mama Nivi masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan barang-barang yang akan Ica bawa.
Ica menelpon mommy Sarah dan menceritakan kepada mommy Sarah tentang masalah yang terjadi dengan mama dan papa nya.
Tak lama mommy Sarah datang ke apartemen Ica untuk menghibur mama Nivi yang kini telah menjadi sahabatnya. Dan disini lah mama Nivi dan mommy Sarah sekarang,di ruang tamu unit apartemen Ica.
"Keputusan kamu udah tepat Niv,kalau aku jadi kamu,aku juga akan melakukan hal yang sama." Kata mommy Sarah memberi dukungan untuk mama Nivi.
"Jujur Sarah,aku takut meninggalkan Nita di bawah didikan papanya yang ambisius itu. Aku takut Nita akan berubah menjadi monster seperti papanya."
"Kita berdoa saja agar hal itu tidak terjadi. Dan kita juga harus berjuang sampai titik darah penghabisan agar nanti hak asuh Nita ada pada mu. Saya akan bantu sebisa saya." Mommy Sarah mengusap lengan mama Nivi.
"Di minum dulu mom,mah.." Ica menyuguhkan es jeruk untuk mommy Sarah dan mama Nivi.
"Apa kamu udah siapkan semua barang-barang yang akan kamu bawa?" Tanya mommy Sarah pada Ica.
"Udah mom."
"Bagus. Urusan disana juga besok sudah selesai. Jadi lusa kamu udah bisa berangkat. Mommy juga udah persiapkan apartemen untuk kamu disana."
"Makasih mom."
"Makasih Sarah,kamu udah baik banget sama Ica. Sebagai mama nya aku malu banget,karena aku gak bisa melakukan hal yang udah kamu lakukan untuk Ica."
__ADS_1
"Kamu udah melakukan yang terbaik untuk Ica. Kamu hebat Nivi. Jadi apa rencana kamu selanjutnya?" Tanya mommy Sarah pada mama Nivi.
Mama Nivi menggedikkan bahunya.