Penantian Sang Casanova

Penantian Sang Casanova
eps. 149


__ADS_3

Dengan langkah gontai,Yordan berjalan ke arah sofa dan mendudukkan dirinya disana sambil menunggu Ica keluar dari kamar mandi.


Tak lama Ica pun keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan handuk kecil yang melilit di kepalanya.


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena Yordan yang ketiduran di atas sofa. Ica berjalan mendekati Yordan dan duduk di sofa yang Yordan tiduri. Ica memperhatikan dengan seksama wajah Yordan yang sangat jelas terlihat sangat lelah.


"Padahal dia udah capek banget tapi masih aja mau begituan." Lirih Ica sambil mengusap rahang tegas sang suami.


Tak ingin menganggu sang suami yang sedang terlelap,Ica pun mengecup sekilas bibir Yordan dan membiarkan Yordan tidur di atas sofa. Karena tidak mungkin Ica memindahkan Yordan ke tempat tidur. Setelah mengeringkan rambutnya dan tanpa menukar bathrobe dengan pakaian rumahan, Ica langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menyusul sang suami ke alam mimpi. Akibat perjalanan yang memakan waktu lebih dari delapan belas jam,membuat tubuh keduanya lelah. Dan agenda mereka sore itu hanya lah tidur untuk menukar rasa lelah mereka dengan tenaga yang akan di pakai nanti malam.


Waktu sudah menunjukkan pukul hampir jam dua belas malam. Yordan terbangun lebih dulu karena merasakan cacing-cacing yang sedang berdemo di dalam perut nya.


"Eugh.." Yordan melenguh sambil menguletkan tubuhnya.


"Jam berapa nih." Tanya Yordan pada dirinya sendiri sambil mengerjapkan matanya untuk melihat jam yang ada dinding kamar.


"Jam dua belas?!" Lirih Yordan saat melihat jam dinding. Ia pun mendudukkan tubuhnya dan melihat ke arah tempat tidur.


Dengan kesadaran yang belum terkumpul semua,Yordan berjalan ke arah tempat tidur untuk membangunkan istrinya.


"Ca..ca.." panggil Yordan sambil mengguncangkan tubuh Ica.


"Hemh..." jawab Ica dengan mata yang masih terpejam.


"Bangun Ca..laper nih."


Ica pun mengerjapkan matanya.


"Jam berapa nih?" Tanya Ica pada Yordan. Sama seperti Yordan,kesadaran Ica juga belum terkumpul semua.


"Udah mau jam dua belas."


"Jam dua belas apa?" Tanya Ica.


Tapi baru saja Ica bertanya seperti itu,sontak mereka berdua pun saling berpandangan. Kini kesadaran mereka sudah terkumpul. Refleks Ica langsung mendudukkan tubuhnya dan Yordan langsung berjalan ke arah jendela dan membuka tirai jendela itu.


"Malem Ca.." kata Yordan sambil menengok ke arah Ica.


"Mampus!!" Ica langsung berdiri dari tempat tidur.


Ica dan Yordan sadar kalau mereka sekarang berada di pulau kecil dan di pulau itu hanya ada mereka berdua saja. Adapun penjaga vila,tapi si penjaga vila tidak tidak tinggal di vila itu melainkan tinggal di sebuah rumah yang jaraknya satu kilometer dari vila. Apalagi hari sudah malam,penerangan pun hanya di sekitar vila saja.


"Terus kita makan apa kak?" Tanya Ica. Perutnya pun juga sudah merasakan lapar.


Tidak mungkin mereka keluar vila untuk mencari makanan,karena di pulau itu tidak ada penjual makanan.


Sedangkan yang ditanya juga tidak tahu,karena bukan Yordan yang mempersiapkan acara bulan madu ini.

__ADS_1


"Si Chi Chi nyiapin bahan makanan gak yah di dapur?!" Gumam Yordan dalam hati.


"Ikut aku." Yordan menarik Ica keluar dari kamar menuju dapur yang ada di lantai bawah.


Setelah sampai di dapur dan tepat berdiri di depan kulkas,Yordan berdoa terlebih dahulu sebelum membuka pintu kulkas.


"Moga-moga aja si bule bar-bar gak punya pikiran buat gue sama bini gue mati kelaparan disini." Begitu lah doa Yordan,padahal maksud dari doanya semoga saja ada bahan makanan dalam kulkas itu.


"Cepetan buka kulkasnya kak." Desak Ica karena Yordan tak kunjung membuka kulkasnya.


Yordan pun membuka kulkas itu perlahan.


"Selamat..!!!" Kata Yordan sambil mengelus dadanya karena di dalam kulkas ternyata banyak stok makanan.


"Si madam emang paling the best lah. Prepare dia buat bulan madu gue sama Ica emang gak kaleng-kaleng." Kata Yordan dalam hati.


Melihat banyak bahan makanan di kulkas,Ica langsung mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk ia masak.


"Kamu bikin apa Ca?" Tanya Yordan saat melihat Ica mengeluarkan daging tenderloin,spaghetti,kentang dan beberapa sayuran dari dalam kulkas.


"Aku bikinin steak sama spaghetti aja yah kak."


"Terserah kamu aja,yang penting cacing-cacing di dalam perut bisa makan."


"Makan ini dulu kak buat ganjel perut." Ica menyodorkan buah apel ke arah sang suami.


"Cih.." Ica berdecih sambil memutar bola matanya malas.


"Udah gak usah yang aneh-aneh,makan ini dulu,dan jangan ganggu aku lagi masak!!" Tegas Ica dan langsung memutar tubuhnya,ia pun memulai aksinya memasak. Sedangkan Yordan hanya duduk dan melihat Ica memasak sambil memakan apel pemberian Ica untuk mengganjal perutnya.


Melihat Ica dari belakang yang sedang memasak di tambah Ica yang hanya memakai bathrobe yang panjang bathrobe nya hanya satu jengkal di atas lutut,membuat otak mesum Yordan membayangkan yang aneh-aneh. Si otak pun memberikan sinyal pada Yordan untuk memulai modusnya lagi.


"Ca..."


"Emmm."


"Mau di bantu gak?"


"Gak usah. Kakak diem aja disitu dan duduk yang tenang!! Jangan coba-coba mendekat!!" Kata Ica sambil mengacungkan pisau dapur ke arah Yordan. Ica tau kalau suaminya itu hanya modus.


"Cih...galak bener!!" Lirih Yordan setelah mendapat ancaman dari Ica.


Mau tidak mau,Yordan hanya duduk diam sambil memperhatikan Ica yang memasak dari belakang.


Setengah jam kemudian makanan yang Ica masak pun siap di hidangkan. Dengan menu steak dan spaghetti ala chef Ica,pasangan pengantin baru itu pun menikmati makan malam mereka yang sudah sangat terlambat.


⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


Setelah memberi makan cacing-cacing yang ada di perut mereka,pasangan pengantin baru itu pun kembali ke dalam kamar.


Setelah meminum vitamin penyubur kandungan yang bertopeng pil kb dan memakai serangkaian perawatan wajah,Ica naik ke atas ranjang dan bersender di kepala ranjang. Ia pun mengambil hp nya untuk mengecek pesan yang masuk di hp nya sambil menunggu Yordan yang sedang membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.


Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka.


Dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya dan rambut yang basah,Yordan keluar dari dalam kamar mandi.


Yordan mengernyitkan keningnya karena melihat Ica yang memakai piyama bukan baju haram. Padahal di dalam kamar mandi,Yordan berekspektasi kalau saat ia keluar dari dalam kamar mandi,Ica sudah menyambutnya dengan baju haram.


Melihat Yordan sudah keluar dari dalam kamar mandi,Ica pun menurunkan kakinya dan berjalan mendekati Yordan. Melihat Ica mendekatinya,hati Yordan bersorak gembira,Yordan pikir,Ica akan berinisiatif menyerangnya lebih dulu. Tapi sayang,apa yang ia pikirkan tidak sesuai kenyataannya. Karena Ica mendekatinya hanya untuk membantu mengeringkan rambutnya.


"Sini aku keringin rambutnya." Ica menarik tangan Yordan dan membawanya duduk di depan meja rias.


Ica pun mulai menyalakan hairdryer dan mulai mengeringkan rambut Yordan.


Walaupun kenyataan tidak sesuai ekspektasi,tapi itu tidak membuat Yordan putus asa dan kehilangan akal. Ia mengirimkan sinyal kepada otak mesumnya untuk kembali memulai permodusannya.


"Ca..kamu pake parfum apa sih? Wanginya enak banget." Tanya Yordan sambil menatap istri yang sedang berdiri mengeringkan rambutnya dari pantulan cermin. Mode modus on.


"Aku gak pake parfume kok,cuma pake body lotion aja." Ica belum sadar kalau pertanyaan itu adalah start sang suami memulai permodusannya.


"Masa sih,coba sini aku cium tangan kamu." Yordan menarik tangan Ica dan mencium punggung tangan istrinya.


"Bukan wangi yang ini Ca." Kata Yordan lagi sambil melepaskan tangan istrinya.


"Terus wangi apa? Wangi melati? Tante kunti dong aku.!" Tanya Ica ketus.


"Bentar deh,biar aku pastiin dulu." Jawab Yordan,ia pun menghentikan aktifitas tangan Ica yang sedang mengguyar-guyar rambutnya dan memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan istrinya.


Karena posisi Ica yang sedang berdiri,jadi begitu Yordan memutar tubuhnya,penampakan pertama yang Yordan lihat adalah cetakan buah siicakama yang tertutup kain piyama.


Yordan menelan slivanya susah payah melihat penampakan itu,Yordan yakin kalau buah siicakama tidak dibalut kain pelindung,karena boba siicakama tercetak jelas di balik piyama Ica. Yordan menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri kalau ia tidak boleh langsung melahap buah penutupnya itu. Ia harus melakukan tahapan demi tahapan sampai si buah menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam mulutnya.


"Pastiin apa sih kak?" Tanya Ica heran dengan kelakuan suaminya.


Yordan tak menjawab,ia langsung mengangkat kedua tangan Ica dan mulai mengendus-endus ketiak sang istri.


"Yang ini bukan." Lirih Yordan. Yordan pun kembali menurunkan tangan istrinya.


Yordan kembali mengendus-endus dan kini leher Ica lah tempat endusannya.


"Kakak mau ngapain sih?" Tanya Ica yang masih belum menyadari dirinya sedang terancam kenikmatan.


Bukannya menjawab,Yordan malah manarik tubuh Ica agar tubuh mereka saling berdempetan,bibir Yordan pun memulai aksinya di leher Ica.


"Ssh...ah..kak stop!!" Ica pun mendesah tapi sambil berusaha mendorong tubuh Yordan,namun semakin Ica meronta,Yordan semakin mengeratkan dekapannya dan aksi bibir Yordan di leher Ica pun semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


__ADS_2