
Mama Nivi membelalak. Pasalnya suaminya paling susah untuk di ajak liburan ke luar kota atau luar negri.
"Papa serius. Terus kerjaan papa gimana?" Tanya mama Nivi yang sangat tau kalau suaminya itu penggila kerja.
"Ada asisten papa,lagi pula kan papa bisa meeting virtual kalau sampai ada sesuatu yang mendesak." papa Fano sangat ngotot ingin mengintili istrinya. Bukan karena cemburu dengan bang Satria,tapi karena sudah lama ia tak berbagi kasih sayang dengan istrinya. Paham lah yah,namanya juga laki-laki....
"Tapi Nita gimana pah..."
"Kan ada Nurul sama Indri. Lagian kita pergi cuma seminggu kan,gak jadi masalah lah itu."
Mama Nivi menengok Ica. Dengan sorot matanya,ia menanyakan pada Ica apakah papa Fano boleh ikut. Ica yang mengerti dengan tatapan mata mama Nivi pun mengangguk
Kemudian mata mama Nivi kini beralih pada mommy Sarah. Mommy Sarah pun mengangguk tanda mengizinkan papa Fano untuk ikut dengan mereka.
"Ini semua gara-gara bapaknya si bule kampret!! Kalau dia gak ikut,gak mungkin lakiknya si Nivi minta ikut juga.!" Kesal mommy Sarah dalam hatinya.
Bagaimana tidak kesal,padahal mommy Sarah berniat untuk reunian kecil-kecilan dengan teman-temannya di New York. Kalau daddy Edwin ikut,alamat semua rencananya gagal total karena mommy Sarah tau denganbsikap over posesif yang dimiliki suaminya itu,pasti sang suami tidak akan mengizinkannya untuk kumpul-kumpul dengan teman-temannya dulu.
Setelah drama kecil-kecilan dua pasang suami istri itu berakhir,mereka pun berangkat ke bandara.
Namu sebelumnya,mama Nivi menghubungi Nita untuk memberitahu kalau dirinya dan sang suami,ikut ke New York. Kemudian menghubungi Nurul dan Indri,dua asisten rumah tangganya untuk menjaga Nita selama dirinya dan sang suami ke New York.
Sedangkan mommy Sarah mengirimkan pesan pada Ray dan Sam,agar berhenti menjaga Yordan setelah jam pulang kerja. Mommy Sarah membiarkan Yordan tanpa pengawasan bodyguard,karena mommy Sarah yakin dan percaya kalau Yordan tak akan mungkin bermain dengan jalang lagi,karena batre pedang Yordan masih dicabut sementara. Kemudian menghubungi Dini dan Yani,dua asisten rumah tangganya kalau daddy Edwin menemani dirinya yang pulang kampung.
Setelah sampai di bandara,papa Fano heran karena mereka tidak menuju ruang tunggu penumpang komersial. Namun keruang khusus untuk penumpang pesawat pribadi.
"Siapa sebenarnya mereka?" Papa Fano bertanya-tanya dalam hati.
Setengah jam mereka menunggu,akhirnya kini mereka sudah berada di dalam pesawat pribadi milik daddy Edwin. Rasa penasaran semakin menggelayut di hati papa Fano.
"Sat,kamu kenal dengan kedua orang itu?" Tanya papa Fano pada Satria. Karena kini dirinya duduk bersebelahan dengan Satria,sedangkan mama Nivi dengan Ica dan pastinya mommy Sarah dengan pasangan bucinnya,siapa lagi kalau bukan daddy Edwin.
"Mommy Sarah sama daddy Edwin?" Bang Satria malah balik bertanya.
Papa Fano mengangguk.
"Masa om Fano gak kenal mereka? Mommy Sarah pemilik SFF Group kalau daddy Edwin pemilik Adiguna Asia Jaya." Jelas bang Satria.
Mata papa Fano membelalak.
__ADS_1
"Jadi itu pak Edwin Adiguna?" Tanya papa Fano sekali lagi,sepertinya ia masih tidak percaya kalau laki-laki di hadapannya adalah orang kaya no lima di negaranya.
Bang Satria mengangguk.
Keluarga Nia adalah menempati urutan nomor tiga sebagai orang terkaya di negara itu,sedangkan keluarga Irlan menempati urutan nomor empat dan keluarga Yordan dan Igo menempati urutan no lima.
Kalau di banding dengan kekayaan yang dimiliki papa Fano,jelas jaraknya sangat jauh. Karena keluarga Ica hanya masuk di lima belas besar urutan orang kaya di negara itu.
⭐⭐⭐⭐⭐
Meninggalkan papa Fano yang masih shock dengan kenyataan yang baru ia ketahui dari bang Satria,kita beralih pada Yordan.
Alarm pulang kerja pun berbunyi.
Yordan membereskan meja kerja nya yang tidak berantakan. Karena seharian ini ia tidak melakukan apa-apa. Berkas-berkas yang harus ia periksa dan tanda tangani pun ia biarkan begitu saja. Ia masih saja kepikiran dengan kata-kata Ica tadi pagi. Walaupun hatinya sudah bertekad untuk mendapatkan Ica sebelum janur kuning melengkung di depan rumah Ica. Tapi tetap saja hatinya masih tak tenang,pasalnya bagaimana ia mau mendapatkan Ica kalau dua bodyguard bayaran mommy Sarah selalu mengintili dirinya. Dan kalaupun Yordan berhasil merangsek masuk ke dalam hati Ica lagi,apa Ica mau menerima Yordan yang pedangnya tak bisa lagi diajak bertarung.
Hati Yordan benar galau apa yang harus ia lakukan sekarang,mengobati si Jeki dulu sambil mengetahui perasaannya yang terdalam terhadap Ica atau mendapatkan Ica terlebih dahulu karena ia tak rela jika Ica dimiliki oleh laki-laki lain selain dirinya kemudian baru mengobati si Jeki.
Yordan keluar dari ruangannya. Kedua bodyguard pun berdiri melihat Yordan keluar dari ruangannya.
"Mau langsung pulang den?" Tanya Sam pada Yordan.
Yordan pun berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai bawah,diikuti Sam dan Ray dari belakang. Melihat Sam dan Ray terus menempel padanya seperti kutil membuat Yordan sangat jengah. Seandainya Sam dan Ray bukan orang mommy Sarah,sudah pasti Yordan akan menghajar dua bodyguard itu sampai kapok.
Ting. Lift yang membawa mereka ke lobi pun terbuka.
Dengan gaya yang di buat se cool mungkin Yordan melangkahkan kakinya menuju parkiran. Ia mengeluarkan kunci mobilnya dan melemparnya pada Ray agar Ray yang menyetir mobil. Ray pun menangkap kunci yang di lemparkan Yordan.
Yordan pun masuk ke dalam mobil dan duduk kursi belakang. Sedangkan Ray duduk di kuris kemudi,Sam duduk di kursi depan sebelah pengemudi.
Ray pun menyalakan mesin mobil,kemudian melajukan mobil Yordan keluar dari area gedung SFF Group menuju rumah utama.
Kini mobil yang dikemudikan Ray sudah terparkir mulus di garasi rumah utama.
Mereka bertiga pun keluar dari dalam mobil.
"Den Yordan,kami pulang dulu." Pamit Ray dan Sam kepada Yordan.
Yordan mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Loh kok kalian pulang? Memangnya madam kalian gak nyuruh kalian ngintilin saya dua puluh empat jam?" Tanya Yordan heran.
Ray dan Sam menggeleng.
"Tidak den,sebelum madam pergi,madam mengirim pesan kalau sehabis den Yordan pulang bekerja,kami tidak lagi menjaga den Yordan."
Hati Yordan bersorak kegirangan,akhirnya dirinya kini benar-benar bebas.
"Ya udah,pulang sana." Yordan pun mempersilahkan Ray dan Sam untuk pulang.
"Baik den,sampai bertemu lagi besok di perusahaan." Kini Sam yang berbicara. Ray dan Sam memang bekerja di SFF Group sebagai tim keamanan profesional perusahaan.
Yordan pun mengangguk.
Melihat Ray dan Sam yang sudah pergi dengan motor mereka. Yordan pun melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
Yordan mengintip ke dalam ruang keluarga untuk mengetahui keberadaan daddy Edwin,tapi tak ada daddy nya disana. Kemudian ia berjalan menuju ruang kerja daddy nya. Ia membuka sedikit pintu dan mengintip,namun ruang kerja daddy Edwin pun kosong.
"Apa daddy belum pulang? Akh..mobilnya ada kok. Apa di dalam kamar?!" Yordan bertanya-tanya dalam hati.
Kemudian Yordan melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Rul,daddy mana?" Tanya Yordan pada Nurul.
"Tuan Edwin ikut madam pulang kampung den." Jawab Nurul.
Mata Yordan membelalak.
"Kok daddy gak ngasih tau gue?"
"Yah mana saya tau atuh den. Den Yordan tanya aja langsung sama tuan Edwin. Kok malah tanya sama Nurul den."
Yordan memutar bola matanya jengah. Bicara dengan kedua asisten rumah tangga yang ada di kediaman utama,sama saja sedang berbicara dengan mommy Sarah. Ngeselin.
"Cih...tinggal jawab gak tau aja,kenapa harus panjang banget sih embel-embelnya." Yordan berdecih.
Yordan memutar langkahnya untuk keluar dari dapur.
"Eh den Yordan..." panggil Nurul.
__ADS_1
¤¤ Jangan lupa singgah di novel terbaru aku y¤ah,judulnya AKHIR PENDERITAAN CLARISA. 🙏🙏🙏 ¤¤¤