
Mama Nivi pun tak lagi membahas masalah Ica dengan Yordan atau membahas masalah rumah tangganya dengan papa Fano,mama Nivi beralih topik pembicaraan mengenai usaha yang akan ia jalankan nanti dan membahas masalah keberangkatan Ica besok lusa.
Apa kabar dengan Yordan dan Jeki sang sahabat?
Sejak mommy Sarah memaksa anak semata wayangnya tersebut untuk masuk bekerja di kantor sang suami,mau tidak mau Yordan harus berurusan dengan berkas-berkas yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Sudah stres memikirkan nasib si Jeki,sekarang malah ditambah pekerjaan yang sepertinya tidak ada habisnya.
Yordan menatap meja kerja Ica yang ada di ruang kerja Yordan.
Suasana yang sangat berbeda ia rasakan sejak tidak adanya Ica di ruangan itu,dan kini ia baru sadar kalau kehadiran Ica sudah memberi warna baru dalam hidupnya,yang awalnya Yordan tidak menyukai sikap Ica yang terlalu agresif padanya,sekarang Yordan merindukan itu,yang tadinya telinga Yordan harus berdengung setiap kali bersama dengan Ica karena mulut Ica yang ributnya tak kalah dengan petasan cabe,kini ia justru merindukan kebisingan si petasan cabe.
Yordan menghela nafasnya,entah sudah berapa kali ia seperti itu hanya karena mengingat momen-momen bersama Ica. Apalagi momen khilaf yang ia lakukan tadi malam karena tersulut api emosi saat Ica mengatakan akan menjual keperawanannya pada laki-laki di club malam.
Ceklek. Pintu ruangan Yordan terbuka.
Daddy Edwin masuk dan melihat keadaan anak semata wayangnya tersebut.
"Kamu kenapa?" Tanya daddy Edwin yang melihat Yordan seperti sedang tak bergairah.
"Yordan lagi lemes dad." Jawab Yordan malas.
"Ada apalagi sekarang?"
Yordan menggeleng.
"Gak ada apa-apa,Yordan cuma lemes aja." Sangkal Yordan. Ia malu menceritakan pada daddy Edwin kalau Jeki sedang dalam keadaan mati suri.
Kasihan Yordan,padahal Jeki hanya cidera ringan saja,tapi karena sugesti dari dokter Adrian membuat Yordan memang sedang mati suri.
"Ya udah,,ayo pulang. Atau kamu mau nginep disini?"
Yordan melihat jam yang melingakar di pergelangan tangannya,sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Karena terus memikirkan Ica,Yordan jadi tidak sadar kalau ini sudah lewat jam pulang kerja.
__ADS_1
Yordan pun beranjak dari kursi kebesarannya,dan melangkah ke arah daddy nya.
"Anterin Yordan ke apartemen yah dad. Yordan gak bawa mobil soalnya."
"Enak aja.!! Pulang kamu ke rumah,kan mobil mu banyak dirumah."
"Ya elah dad..muter-muter dong. Yordan lagi males banget nyetir dad.."
"Pokoknya kamu pulang ke rumah,kita makan malem bareng sama mommy dirumah.!" Perintah daddy Edwin dengan nada tegasnya.
Yordan pun pasrah dan mengikuti kemauan sang daddy.
Mereka pun keluar dari ruangan Yordan dan berjalan menujun lift yang akan membawa mereka turun ke lantai bawah.
Ayah dan anak itu berjalan dengan gagahnya setelah keluar dari dalam lift menuju tempat parkir. Mereka pun masuk ke dalam mobil,mobil yang di kendarai supir pribadi daddy Edwin itu pun melaju menuju rumah utama
⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah makan malam bersama mommy dan daddy nya,Yordan berencana untuk pulang ke apartemennya. Namun mommy Sarah melarangnya untuk pulang ke apartemen. Karena mommy Sarah takut kalau Yordan menghampiri Ica di unit apartemen Ica,kemudian Yordan akan tau kalau Ica akan segera berangkat ke New York,kalau sampai itu terjadi,bisa di pastikan si bule kampret itu akan berbuat nekat untuk menggagalkan keberangkatan Ica. Seandainya tidak ada masalah rumah tangga yang menimpa orangtua Ica,rencananya mommy Sarah ingin menyembunyikan Ica sampe hari keberangkatan Ica. Tapi sekarang,mommy Sarah merubah rencana,dengan tidak mengizinkan Yordan pulang ke apartemennya sampai hari keberangkatan Ica.
"Dia gak kenapa-kenapa dad,dia lemes karena harus puasa sampe waktu yang belum bisa ditentukan." Jawab mommy Sarah santai,sambil memberikan baju tidur untuk sang suami.
Daddy Edwin mengambil baju tidur yang ada di tangan istrinya itu.
"Maksudnya?" Tanya daddy Edwin tak mengerti ucapan sang istri.
Mommy Sarah menceritakan kejadian yang terjadi,dari mulai Yordan yang ingin membuka segel Ica,sampai Yordan yang harus berakhir di dokter Adrian karena tendangan maut Ica.
Daddy Edwin yang awalnya sangat marah karena Yordan hampir saja berbuat bejad pada anak angkat kesayangan istrinya itu,kini menjadi kasihan setelah mendengar kalau benda kramat Yordan harus merasakan sepak terjang dengkul Ica.
Sebagai sesama laki-laki,daddy Edwin tau bagaimana rasanya mendapat serangan di bagian sana.
__ADS_1
"Apa pedangnya Yordan masih bisa berfungsi?" Tanya daddy Edwin yang malah mengkhawatirkan pusaka anaknya itu.
"Masih,tapi untuk sementara mommy suruh dokter Adrian mencabut batre pedang anak gendeng mu itu dulu. Kalau yang punya pedang udah balik dari studinya,baru nanti di pasang lagi."
Daddy Edwin mengernyitkan keningnya.
"Emang bisa gitu?"
"Gak tau juga,kayaknya bisa. Kata dokter Adrian tergantung Yordan mau sampe kapan percaya dengan sugesti yang diberikan dokter Adrian."
"Yah...mudah-mudahan sampe Ica balik dari New York nanti." Mommy Sarah berdoa dalam hati.
Daddy Edwin manggut-manggut saja.
"Oh iya dad,mulai besok biar Yordan kerja di perusahaan mommy,karena mulai besok mommy sibuk mau bantu Nivi,mamanya Ica buka usahanya. Lagian lusa Ica juga harus berangkat ke New York,rencananya mommy sama mama nya Ica mau antar Ica ke sana,sekalian liburan. Boleh yah dad..??!" Izin mommy Sarah pada suaminya.
Walaupun mommy Sarah terlihat lebih dominan di banding suaminya,tapi mommy Sarah tak pernah lupa akan kodratnya sebagai istri yang harus meminta izin pada suami saat ingin melakukan sesuatu.
Daddy Edwin sejenak berpikir. Ia mengeluarkan senyum devil sebelum memberikan jawaban.
Ia mendekati istrinya yang sedang duduk di didepan meja rias untuk memakai skincare. Dan memeluk istrinya itu dari belakang,serta mencium pundak terbuka istrinya,karena sekarang mommy Sarah memakai daster berbahan satin dengan tali tipis di pundaknya.
"Oke,Yordan boleh kerja di perusahaan mommy selama yang mommy inginkan,mommy juga boleh liburan ke New York tapi paling lama hanya seminggu. Tapi....." daddy Edwin menjeda kata-katanya,ia memberikan kissmark di leher istrinya terlebih dulu sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Eugh.." mommy Sarah melenguh saat daddy Edwin bermain-main di lehernya.
Daddy Edwin memutar tubuh istrinya,sehingga kini mereka berhadapan.
"Mommy tau maksud daddy kan?" Tanya daddy Edwin di telinga istrinya dengan suara yang serak dan berat,karena daddy Edwin sedang menahan hasratnya.
Mommy Sarah mengangguk mengerti dengan kode yang diberikan suaminya. Mommy Sarah mendorong suaminya hingga terjerembab di atas ranjang.
__ADS_1
"Tunggu sini,mommy minum obat encok dulu." Mommy Sarah pun mengambil obat encok dari dalam laci nakas,dan meminumnya.
Mommy Sarah tau,kalau suamimya dalam mode tegangan tinggi,tak ada yang bisa menghentikannya,sekalipun mommy Sarah menjerit meminta daddy Edwin mengakhiri permainannya. Daddy Edwin tatap menerjang mommy Sarah sampai subuh tiba. Meskipun sudah tidak muda lagi,tapi stamina daddy Edwin tidak kalah dengan stamina pengantin baru. Membuat mommy Sarah harus mengkonsumsi obat encok setiap daddy Edwin meminta haknya.