
Mata Yordan membulat mendengar syarat dari daddy Edwin.
"Mak..maksudnya dad,semua aset Yordan termasuk mobil-mobil Yordan beralih atas nama Ica? Dan kalau daddy ngambil alih tempat parkir mobil-mobil Yordan dan di jadikan parkiran umum berbayar,berarti Yordan harus bayar biaya parkir mobil-mobil Yordan dong?!"
Daddy Edwin menganggukkan kepalanya.
"Gimana,mau gak? Kalau gak mau,daddy juga gak mau bantu kamu."
"Udah lah,daripada kamu bayar mahal untuk parkiran doang,yah mending kamu jual aja semua mobil kamu." Mommy Sarah mengompori.
"Enak aja!!! Oke,Yordan mau. Yang penting daddy bantuin Yordan dapetin toko berlian itu." Kata Yordan mantap.
"Bagus. Itu baru namanya gentleman." Puji daddy Edwin sambil mengacungkan jempolnya.
"Mom,bikin surat perjanjiannya." Perintah daddy Edwin pada mommy Sarah.
"Siap laksanakan sayang." Jawab mommy Sarah dengan nada manja sambil melirik Yordan,seperti sedang mengejek Yordan. Mommy Sarah pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja kerja sang suami untuk membuat surat perjanjian tertulis antara suami dan anaknya.
"Dulu mau ngedapetin si Millie,gue ngeluarin dua miliar,lah sekarang gue harus ngerelain semua aset gue atas nama Ica hanya untuk satu toko berlian. Gimana caranya gue nambah mobil kalau gini.." gerutu Yordan dalam hati.
Tak lama mommy Sarah mendekati dua lelaki kesayangannya itu dan menyerahkan surat perjanjian kepada daddy Edwin.
Daddy Edwin pun membaca surat perjanjian yang di buat oleh mommy Sarah. Merasa tak ada yang salah,daddy Edwin pun meletakkan surat perjanjian ke atas meja.
"Tanda tangan." Perintah daddy Edwin.
Yordan pun mengambil surat itu dan membacanya terlebih dahulu sebelum ia menandatangani nya.
"Jadi dad,setelah Yordan tanda tangan,berapa lama toko itu jadi milik Ica.?"
"Paling lama dua minggu."
"Secepat itu?"
"Cih...kamu ngeraguin daddy kamu?!" Mommy Sarah langsung membuka suara karena Yordan yang tak mempercayai kemampuan negosiasi suaminya.
Yordan menggelengkan kepalanya. Ia pun menandatangani surat perjanjian itu.
"Nih dad." Yordan menyorong selembar kertas itu ke arah daddy Edwin.
"Ya udah,sekarang kamu balik ke kamar kamu dan bilang sama Ica kalau paling lama dua minggu toko berlian yang Ica mau akan jadi miliknya." Perintah daddy Edwin.
"Baik dad."
__ADS_1
Yordan pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruang kerja daddy Edwin.
Dua minggu berlalu.
Sesuai dengan perkataan daddy Edwin,toko berlian yang Ica mau sudah sah menjadi milik Ica dan dengan bangga nya Yordan memberikan surat-suratnya pada Ica serta memberikan surat-surat kepemilikan aset milik Yordan yang sekarang sudah berpindah tangan atas nama Ica.
Mata Ica membelalak saat melihat begitu banyak sertifikat mengatas namakan namanya.
"Ini semua apa kak?"
"Itu semua serifikat aset milik aku yang aku pindahkan atas nama mu."
"Ya ampun kak,aku kan gak minta ini semua. Aku cuma minta toko berlian doang kok."
Yordan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Ica yang duduk di pinggiran ranjang.
"Kamu pantes dapetin semua itu sayang. Yah...itung-itung biar gak ada perempuan yang mau sama aku lah,karena semua aset aku atas nama kamu." Balas Yordan gombal padahal dalam hatinya sudah cenat-cenut.
"Iya juga yah." Gumam Ica dalam hati.
Sama sekali tak terlintas di pikiran Ica kalau ada sesuatu yang aneh,sekalipun terlintas,Ica juga tak mau tau.
"Ca.."
"Kamu kan udah hamil gede,gak baik loh kalau kerja kamu main hp terus. Gimana kalau mulai besok kamu menyibukkan diri di butik dan kalau kamu bosen di butik,kamu bisa ke toko kue nya mama Nivi atau apalah,yang penting jangan cuma main hp." Kata Yordan memberi masukan,padahal tujuannya sih agar Ica tak melihat barang-barang branded lagi yang bisa membuat rekeningnya kering kerontang.
Ica nampak memikirkan kata-kata Yordan. Tak lama ia menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Yordan. Karena benar apa yang di katakan Yordan,semenjak hamil anak ke dua,Ica lebih sering bermalas-malasan,kadang ke butik hanya dua atau tiga jam,setelah itu pulang ke rumah untuk tidur dan sebelum tidur Ica hanya memainkan hp nya dan membuka situs penjualan barang-barang branded.
Melihat Ica mengangguk,Yordan pun akhirnya bernafas lega.
"Selamat gue,akhirnya rekening gue gak rewel kayak bunyi token listrik yang mau habis." Gumam Yordan dalam hati.
⭐⭐⭐⭐⭐
Dua bulan kemudian.
Waktu masih menunjukkan pukul empat subuh,tapi seisi rumah sudah di buat heboh karena Ica yang mengeluh mulas dan mengeluarkan flek dari terowongannya.
Tapi untungnya kehebohan kali ini tidak seperti kehebohan saat Ica ingin melahirkan baby Millie,dimana pada saat itu mommy Sarah lupa mengganti baju dinasnya dan Yordan yang lupa membawa koper yang sudah di siapkan jauh-jauh hari,bahkan mommy Sarah dan Yordan sampai melupakan daddy Edwin dan lupa menghubungi kak Irna.
Belajar dari pengalaman,saat mendengar Ica mengeluh mulas dan mengeluarkan flek,dengan sigap Yordan langsung menghubungi kak Irna untuk standby di rumah sakit. Setelah menghubungi kak Irna,Yordan pun menggendong Ica turun ke lantai bawah dan mengetuk pintu markas satu untuk memberitahu sang penghuni markas kalau Ica akan melahirkan,setelah memberitahu penghuni markas satu,Yordan pun membawa Ica masuk ke dalam mobil dan mendudukkan Ica di kursi belakang.
Setelah mendudukkan Ica ke di dalam mobil,dengan berlari Yordan masuk kembali ke dalam rumah dan naik ke lantai dua menuju markasnya untuk mengambil perlengkapan yang akan di bawa ke rumah sakit. Untungnya saat kehebohan terjadi,baby Millie tidak terbangun. Kalau sampai terbangun,bisa-bisa seisi rumah harus bermain telenovela-telenovelaan terlebih dahulu dengan baby Millie.
__ADS_1
Kini semua barang yang sudah masuk ke bagasi mobil,tak lama mommy Sarah dan daddy Edwin keluar dari dalam rumah dan berjalan mendekati Yordan yang sedang berdiri di depan pintu kursi kemudi.
"Mau ngapain kamu?" Tanya mommy Sarah saat melihat Yordan yang hampir masuk ke kursi kemudi.
"Yah..mau nyetir lah mom."
"Enak aja kamu!!! Duduk di belakang kamu,temenin istri kamu. Biar daddy yang bawa mobil." Omel mommy Sarah. Karena kalau Yordan yang bawa mobil,otomatis mommy Sarah lah yang duduk di belakang bersama Ica. Dan mommy Sarah tidak mau duduk bersama Ica yang sedang kesakitan,takut-takut terkena cakaran dan jambakan maut dari Ica sebagai pelampiasan rasa sakit.
"Kena lagi deh gue.!!" Gerutu Yordan dalam hati,padahal sengaja ia ingin membawa mobil dan menumbalkan si bule bar-bar sebagai pelampiasan Ica.
Sambil terus ngedumel dalam hati,mau tak mau Yordan beralih ke kursi penumpang untuk menemani Ica.
Setelah Yordan masuk ke dalam mobil,daddy Edwin pun mulai mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumah utama.
Baru saja mobil yang daddy Edwin kendarai keluar dari area perumahan elit itu,tiba-tiba Ica meringis kesakitan.
"Aaarrrgh..." ringis Ica sambil memegang perutnya.
"Sakit lagi?" Tanya Yordan panik,tapi ia tidak berani mendekatkan duduknya dengan Ica,takut kena jambakan dan cakaran.
Ica hanya menjawab dengan anggukkan.
"Kasih air mineral Dan." Perintah mommy Sarah.
Yordan pun mengambil botol yang berisi air mineral dan menyodorkan botol itu pada Ica.
"Buka dong kak." Kata Ica dengan suara lemah saat melihat botol yang Yordan berikan masih tersegel.
KRAAAK. Yordan membuka tutup botol yang masih tersegel itu dan memberikannya lagi pada Ica.
Ica pun mengambil botol yang sudah terbuka tutupnya. Namun baru saja botol sampai di tangan Ica,perut Ica langsung terasa keram lagi,sontak Ica memencet botol air mineral itu dan...
BYUUUR. Air mineral yang ada di dalam botol langsung tersembur keluar dan mengenai wajah dan tubuh Yordan.
"Astaga kak,maaf gak sengaja,tiba-tiba perut aku keram." Kata Ica merasa bersalah.
Yordan menghela nafasnya.
"Gak pa-pa sayang,aku ngerti kok." Jawab Yordan sambil tersenyum,padahal dalam hatinya ia ngedumel karena ia tidak membawa pakaian ganti.
"Perut kamu udah gak sakit lagi?" Tanya Yordan.
Ica menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kok gue curiga yah kalau anak gue yang ke dua ini gak jauh beda kelakuannya sama si Millie." Gumam Yordan dalam hati.