
Di dalam kamar Ica tidak bisa tidur kembali,bayang-bayang tubuh atletis Yordan berputar-putar di otaknya.
"Aaarrrgh..kok otak gue jadi mesum gini sih!!" Ica memukul-mukul kepalanya pelan,agar bayangan keseksian tubuh Yordan pergi dari otaknya.
"Mending gue bikin sarapan aja deh.." Ica pun keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah,kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur.
Sesampainya di dapur,dua ART dirumah mommy Sarah,mbak Dini dan mbak Yani ternyata sudah lebih dulu disana. Sepertinya mereka baru mau memulai membuat sarapan.
"Pagi mbak.."
Dini dan Yani pun menoleh ke arah sumber suara.
"Pagi juga non.." balas Dini dan Yani.
"Mau bikin sarapan yah mbak?" Tanya Ica.
"Iya non."
"Boleh kalau saya aja yang bikin sarapannya?"
"Ikh jangan non,nanti madam marah sama kami kalau calon istrinya den Yordan di suruh masak.."
"Apa calon istri??" Kata Ica dalam hati,tak di pungkiri hatinya berjingkrak kegirangan karena di bilang calon istrinya Yordan oleh Dini dan Yani.
"Ish saya bukan calon istrinya mbak,saya cuma asisten pribadinya kak Yordan" bantah Ica.
"Apa bedanya atuh non,calon istri sama asisten pribadi. Kan sama-sama harus memenuhi semua kebutuhannya den Yordan. Ya...kecuali kebutuhan yang satu itu sih.." kata mbak Yani sambil cekikikan di akhir kalimatnya.
"Kebutuhan apa mbak?" Mode lemot Ica on.
"Ish..si enon kayak gak tau aja. Yah kebutuhan ranjang lah..."kini Dini dan Yani sama-sama cekikikan.
Sedangkan Ica otaknya semakin traveling kemana-mana.
Ia menggelengkan kepalanya,membuyarkan pikiran mesum dari otaknya.
"Udah akh,jadi ngomongin yang gak jelas. Sini saya aja yang buat sarapannya." Kini Ica sudah memakai celemek dan mulai untuk memasak.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐
Kini mommy Sarah,daddy Edwin,Yordan dan Ica sudah berkumpul di meja makan.
"Ini beneran kamu yang masak Ca?" Tanya mommy Sarah saat sudah memasukkan makanannya ke dalam mulut.
Masakan simple tapi begitu nampol di lidah mommy Sarah.
Ica mengangguk.
"Kenapa mom,gak enak yah?" Tanya Ica ragu.
"Ini tuh enak banget Ca..Ternyata,kamu udah cantik,baik,pinter masak lagi..Bener-bener menantu idaman kamu tuh..."
"Uhuk...uhuk.." Mendengar mommy nya mengatakan menantu idaman,Yordan jadi keselek makanan yang baru ia masukkan ke dalam mulut.
Sedangkan Ica mukanya sudah merah merona.
"Si bule kalau ngomong gak di saring dulu,kalau Ica baper kan berabe gue!!" Gerutu Yordan dalam hati.
Daddy Edwin yang sudah terbiasa dengan suasana seperti ini,tidak menghiraukan perkataan anak dan istrinya itu,daddy Edwin tetap melanjutkan sarapannya.
"Asal kamu tau yah,mending jadi istri gak bisa masak daripada gak bisa mijet. Kalau istri gak bisa masak,yah tinggal beli di luar. Tapi kalau istri gak bisa mijet,nanti suami nyari pijetan di luar gimana??." Jawab mommy Sarah tegas.
Yordan menghela nafasnya,seperti hari-hari sebelumnya,pagi ini Yordan kalah telak adu mulut dengan sang mommy.
"Jadi Ca,mulai sekarang kamu harus belajar mijet,biar nanti kalau udah punya suami,suaminya gak mijet ditempat lain."
Ica pun mengangguk seolah-olah paham padahal otaknya gak mudeng sama sekali dengan pembicaraan absurd ini.
"Udah Ca lanjutin aja sarapannya,kerjaan kita numpuk di kantor." Ucap Yordan yang tak mau mommy nya melanjutkan kata-kata yang akan mencemari otak polos Ica.
⭐⭐⭐⭐⭐
Tiga hari sudah Ica menjadi asisten pribadi Yordan. Dan hari ini adalah hari terakhir mereka bekerja di kantor mommy Sarah.
"Kak,nanti malam kakak ada acara?" Tanya Ica sambil membereskan meja kerjanya.
__ADS_1
"Belum tau." Jawab Yordan santai sambil membereskan meja kerjanya juga.
"Emang kakak gak keluar malam minggu sama pacar kakak?" Ica mengkepoi urusan pribadi Yordan,penasaran apakah Yordan sudah memiliki pacar atau belum.
"Kamu pikir aku anak abege yang harus keluar malam minggu bareng pacar. Kalau aku mau keluar yah keluar aja." Jawab Yordan kesal,karena Ica selalu menganggapnya seperti anak abege.
"Oh iya..aku lupa,kakak kan udah tua. Jomblo akut lagi. Hehehe.." Ica terkekeh mengejek Yordan.
Yordan memutar bola matanya malas mendengar ejekan Ica.
"Buat apa punya pacar,kalau yang gue butuhin cuma teman ranjang doang." Gerutu Yordan dalam hati. Ingin sekali ia meneriakkan kata-kata itu pada Ica.
Kini mereka sudah berada dalam mobil untuk pulang ke apartemen.
"Kak,.." panggil Ica.
"Hemh.." jawab Yordan yang sedang fokus menyetir.
"Nanti malam,kita keluar yuk.." ajak Ica.
"Kan aku masih punya utang ngajak jalan kakak karena kakak udah nolong aku sama Nita waktu itu di club." Lanjut Ica penuh harap.
"Kan waktu itu kita udah nonton,jadi kamu gak punya hutang apa-apa lagi sama aku."
"Tapi kan nontonnya gak sampe habis. Ayo lah kak..mau yah.." mohon Ica.
Ingin sekali Yordan menolak,tapi melihat wajah Ica yang memohon membuat hatinya mengiba.
"Oke,tapi aku gak bisa lama-lama. Aku ada janji sama temen-temen aku di club." Akhirnya Yordan menerima ajakan Ica.
Yordan menyeringai. Tapi itu tidak gratis marimar.
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1