
Sudah seminggu Ica memesan makanan yang sangat ia inginkan lewat aplikasi,dan seminggu pula Yordan mencurigai Ica. Karena setiap Yordan sudah tertidur,Ica sering keluar dari kamar mereka. Sangking curiganya,Yordan pernah mengintip Ica dari jendela balkon atas.
Seperti malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam,setelah Jeki ngapel jam sembilan,Yordan langsung berpura-pura tidur. Begitupun Ica yang menyusul Yordan pura-pura tidur. Setelah dirasa Yordan sudah tidur pulas,baru lah Ica mengambil hp nya dan memesan makanan yang sangat ingin dia makan lewat aplikasi.
Setelah menunggu hampir setengah jam,hp Ica pun berbunyi tanda si tukang ojek pengirim makanan untuk Ica telah sampai di depan rumah utama.
Perlahan Ica turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Setelah Ica keluar dari kamar,Yordan membuka matanya dan langsung turun dari ranjang. Yordan keluar dari kamar dan mengintip dari jendela balkon.
Nafas Yordan memburu melihat Ica kembali keluar rumah dan bertemu laki-laki lain di depan rumah utama. Yordan pikir,laki-laki yang mengantarkan makanan untuk Ica itu adalah selingkuhan Ica yang siaga mengantarkan ngidam istrinya. Bukan tanpa alasan ia berpikir seperti itu,itu semua karena ia teringat akan kata Ica yang akan mencari papa baru untuk baby dua M jika Yordan tidak mau memenuhi keinginan ngidamnya. Karena pernah suatu hari di tengah malam,Ica meminta dibelikan martabak,namun karena Yordan sudah sangat lelah dan mengantuk,Yordan menolak permintaan Ica dan tanpa sadar Yordan menyenggak Ica dengan berkata : "Duuuh Ca!! Besok ajalah,aku capek,kamu ngerti gak sih aku capek!!".
Sakit hati,jelas. Itu lah yang dirasakan Ica,tapi ia mencoba berpikir positif dan tidak mau cengeng atau protes pada suaminya. Dan semenjak sat itu Ica tak pernah lagi membangunkan suaminya untuk dibelikan makanan ini-itu. Sedangkan Yordan si manusia tidak peka dengan perasaan istrinya,menganggap semua itu biasa saja,ia tidak ingat secara tidak langsung ia sudah menyakiti hati istrinya.
Dengan rahang mengeras dan tangan terkepal,Yordan turun ke lantai bawah untuk memergoki Ica yang sedang menerima makanan dari laki-laki lain.
"Icaaa!!!" Teriak Yordan dari teras rumah sambil berjalan ke arah Ica dengan langkah lebar.
Sontak Ica menoleh ke arah Yordan.
"Kak Yordan." Lirih Ica.
"Hei kamu!!! Berani-beraninya kamu nganterin makanan buat istri saya!!! Kamu mau godain istri saya!!" Bentak Yordan pada tukang ojek online yang mengantar pesanan Ica.
Mulut Ica menganga mendengar tuduhan Yordan pada si tukang ojek.
"Kakak salah..."
"Diam kamu!!! Aku lagi gak bicara sama kamu!!" Bentak Yordan pada Ica.
Pak satpam yang sejak tadi berada di dalam pos penjagaan,langsung keluar dari dalam pos karena merasa telah terjadi kesalahpahaman segitiga.
"Maaf den Yordan,mas ini..."
"Kamu juga diem!! Kamu lihat istri saya tiap malam keluar dan diantar makanan sama laki-laki ini,tapi kamu diam aja!! Kamu mau saya pecat,saya aduin kamu sama madam karena udah membiarkan istri saya selingkuh!!" Bentak Yordan pada satpam yang mencoba meluruskan kesalahpahaman segitiga tersebut.
__ADS_1
Sedangkan si tukang ojek yang sejak tadi melihat dan mendengar Yordan yang salah paham dengan dirinya berniat membuka suara dan menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi niatnya itu ia urungkan karena Ica sudah lebih dulu membuka suara.
"Kak Yordan stop!! Mas ini tukang ojek online yang nganter pesanan makanan aku tau gak!!" Gantian,kini Ica yang membentak Yordan dan langsung pergi meninggalkan tempat kejadian salah paham.
Mendengar penjelasan Ica,Yordan langsung melihat si tukang ojek,sedangkan si tukang ojek langsung memperlihatkan tulisan yang ada di belakang jaket yang ia gunakan. Karena Yordan selalu melihat si tukang ojek dari kejauhan,jadi Yordan tidak melihat logo yang ada di belakang jaket si tukang ojek. Jadi Yordan pikir,orang yang mengantar makanan untuk Ica adalah orang yang sama setiap harinya.
"Jadi ka...kamu.." lirih Yordan.
"Iya den,ini tukang ojek yang nganterin pesanannya non Ica,makanya saya..."
"Aaaakkhh...udah stop stop!!!" Yordan yang merasa malu langsung pergi dari tempat kejadian salah paham menyusul Ica yang kini sudah berada dalam kamar.
Ceklek. Yordan membuka pintu kamar.
Dan terlihat lah Ica yang sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil menangis.
"Ca..." Yordan berjalan mendekati Ica.
"Kamu mau kemana?" Tanya Yordan saat Ica melewati dirinya.
"Mau tidur di kamar sebelah." Jawab Ica ketus sambil terus berlalu dari hadapan Yordan.
"Hey.." cepat-cepat tangan Yordan menarik tangan Ica.
"Lepas!!" Ica langsung menghentakkan tangan Yordan.
"Kok kamu marah sih?"
"Yah wajar lah marah,kakak udah nuduh aku selingkuh!!!" Kata Ica dengan nada yang meninggi karena emosi dengan pertanyaan Yordan.
"Oke aku minta maaf kerena udah nuduh kamu yang gak-gak. Tapi itu semua karena kamu juga yang gak bilang sama aku kalau kamu pesan makanan dari aplikasi,kan biasanya kamu kalau mau apa-apa selalu ngomong sama aku." Yordan membela dirinya.
Ica memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Kakak gak inget pernah bentak aku gara-gara aku minta di beliin martabak?" Ica mengingatkan momen dimana Yordan membentak dirinya.
Yordan mengernyitkan keningnya mencoba mengingat-ingat apa yang di katakan Ica.
"Astaga" kata Yordan sambil mengusap kasar wajahnya saat mengingat apa yang di katakan Ica.
"Jadi gara-gara itu kamu gak pernah bangunin aku minta ini-itu?"
Ica tak menjawab dan membuang pandangannya dari Yordan.
"Maafin aku sayang,aku gak sadar udah bentak kamu sambil ngomong gitu." Kata Yordan sambil memeluk Ica dari belakang.
"Minggir,gak usah peluk-peluk!!!" Bentak Ica sambil melepaskan tangan Yordan yang melingkar di perutnya.
"Udah dong sayang,jangan ngambek-ngambek lagi. Aku kan udah minta maaf." Mohon Yordan.
"Kakak ngerti gak sih perasaan aku gimana sekarang?! Waktu kakak bentak aku dan minta aku ngertiin kakak,dari situ hati aku udah sakit banget!! Tapi aku mencoba untuk berpikir positif dan ngertiin kondisi kakak!! Aku berusaha mandiri dan gak nyusahin kakak,tapi kenapa kakak malah nuduh aku selingkuh?" Kata Ica sambil menangis.
"Kakak yang mau aku hamil dan aku ngalah nurutin maunya kakak. Tapi begitu aku ngidam ini-itu,kakak malah ngeluarin seribu satu cara untuk gak nurutin ngidam aku. Sekarang aja kakak gak bisa jadi papa siaga,gimana nanti aku melahirkan dan gimana nanti kalau anak kita udah lahir? Maunya kakak cuma aku gitu yang ngurus anak sendiri!! Kalau kakak belum siap jadi orangtua,ngapain kakak ngotot minta anak? Apa kakak pikir dengan umur dan harta yang mapan,udah bisa jadi orangtua? Gak kak!! Punya anak itu juga butuh kesiapan mental,kesiapan kesabaran,kesiapan waktu dan tenaga. Karena kalau kita gak punya kesiapan itu semua,gimana kita mau jadi orangtua siaga untuk anak-anak kita!! Lihat tuh di luar sana,kenapa banyak orangtua menelantarkan anak mereka,bahkan ada juga yang menghabisi nyawa anak mereka sendiri? Karena mereka gak memiliki kesiapan itu semua!!" Lanjut Ica lagi.
"Bukan gitu Ca. Kata orang sih,ngidam itu bisa di kontrol. Aku bukannya gak mau nurutin ngidam kamu,tapi aku cuma mencoba ngulur waktu aja. Misalnya kamu minta sesuatu tengah malam,jadi aku mencoba ngulur waktu sampai besok paginya. Dan kalau soal kamu yang melahirkan nanti,gak mungkin lah aku gak siaga. Malah aku udah bilang sama mommy,kalau mommy sama daddy pulang dari New York,aku wfh lagi biar bisa nemenin kamu dua puluh empat jam."
"Sekarang aku tanya,yang ngidam itu siapa? Orang yang bilang kalau ngidam itu bisa di kontrol atau aku? Ngidam itu bukan masalah makanan yang di inginkan!! Ngidam itu masalah hormon. Mungkin ada orang yang kalau ngidamnya gak kesampaian,mereka biasa aja,tapi banyak juga ibu-ibu hamil,apalagi yang hamil anak pertama,kalau gak kesampaian ngidamnya bisa sedih,sakit hati dan stres. Sedangkan ibu hamil itu di anjurkan untuk selalu seneng,gak stres."
Yordan diam seribu bahasa mendengar kata-kata Ica. Tak ingin memperpanjang perdebatan,Yordan pun memilih mengalah dan kembali meminta maaf.
"Kamu bener Ca. Aku minta maaf karena udah gak ngertiin kamu. Aku janji,mulai sekarang,secapek-capeknya aku,aku akan usahain apa ngidamnya kamu. Jangan ngambek lagi yah. Kan kamu yang bilang,ibu hamil itu harus seneng gak boleh stres,jadi kamu juga gak boleh memperpanjang masalah ini,oke."
Ica pun menganggukkan kepalanya menyetujui kata-kata Yordan.
Melihat Ica menganggukkan kepalanya,Yordan bernafas lega.
"Selamat. Hampir aja gue tidur sama guling." Gumam Yordan dalam hati. Karena kalau Ica memilih untuk memperpanjang masalah ini,sudah bisa di pastikan Ica akan tidur di kamar tamu.
__ADS_1