Penantian Sang Casanova

Penantian Sang Casanova
eps. 168


__ADS_3

"Kalau gitu jangan gym ball sayang." Kata Yordan sambil mengelus rambut istrinya. Sepertinya Yordan mulai mengeluarkan jurus modusnya.


"Terus?"


"Mending suruh Jeki balapan di terowongan. Kan kak Irna juga nyaranin supaya si Jeki sering-sering balapan." Bisik Yordan di telinga Ica.


Blush. Wajah Ica tiba-tiba memerah mendengar sang suami berbisik menggoda di telinganya.


Walaupun sudah sering di modusin sampai jam terbang Jeki di arena balap sudah tak terhingga lagi,tapi mendengar bisikkan godaan dari sang suami membuat hati Ica jadi deg deg seeer.


"Kok malu-malu gitu? Mau gak? Dari pada tuh bola yang keenakan bergesekan dengan pintu terowongan,yah mending kamu kasih jackpot buat si Jeki. Sambil menyelam minum air lah Ca. Enaknya dapet,faedahnya juga dapet."


"Kakak banyak omong yah daritadi. Ya udah ayok." Ajak Ica tanpa basa-basi panjang seperti Yordan.


Mendapat lampu hijau dari sang istri,tanpa banyak kata,Yordan langsung membuka semua kain yang menutupi tubuhnya dan tubuh Ica. Kemudian ia mendudukkan dirinya di atas ranjang. Setelah Yordan duduk di atas ranjang,barulah Ica naik ke atas ranjang dan duduk di pangkuan Yordan. Jika tadi Ica bergerak-gerak di atas bola besar,sekarang Ica bergerak-gerak diatas pangkuan Yordan dengan posisi membelakangi sang suami,karena perut Ica sudah sangat menggelembung jadi agak kesulitan kalau posisi mereka berhadapan.


⭐⭐⭐⭐⭐


Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Seperti biasa,sehabis Yordan membantu Ica merangsang pembukaan jalan lahir,tidak ada satupun dari sepasang calon papa dan mama muda ini yang kembali memakai pakaiannya. Hanya bermodal selimut dan pelukan sudah cukup menghangatkan tubuh keduanya.


Setelah membantu sang istri,Yordan langsung tertidur pulas. Namun tidak dengan Ica. Saat matanya sudah sangat mengantuk,tapi perutnya tidak bisa di ajak bekerjasama. Setelah Yordan menjenguk anak mereka,rasa sakit di perut Ica kembali datang kemudian tak lama menghilang,tapi satu jam kemudian datang lagi tak lama menghilang lagi,dan begitu terus sampai waktu menunjukkan jam dua dini hari. Layaknya perempuan korban ghosting,Ica terlihat gelisah,sebentar miring kanan,sebentar miring kiri,sebentar telentang. Seandainya saja ia bisa tengkurap,mungkin itu juga sudah ia lakukan.


Karena tidak bisa tidur,perlahan Ica mendudukkan dirinya. Ia pun menurunkan kakinya dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian berjalan ke arah dispenser yang sengaja Yordan letakkan di dalam kamarnya,untuk mempermudah Ica mengambil minum jika kehausan tengah malam seperti saat ini.


Baru saja ia mengambil gelas,tiba-tiba rasa sakit di perutnya kembali datang.


"Ssshh..aaaauuw.." rintih Ica.

__ADS_1


Kali ini rasa sakitnya lebih sakit dari rasa sakit sebelumnya,sampai-sampai membuat gelas yang Ica pegang terlepas dari tangannya.


PRAAANG. Gelas pun pecah di atas atas lantai.


Mendengar suara benda terjatuh,sontak Yordan langsung membuka matanya dan terlihatlah Ica sedang memegang perutnya dengan mengeluarkan suara rintihan sambil berpegangan pada dispenser.


"Ica..!!!" Teriak Yordan panik,ia langsung lompat dari atas tempat tidur.


"Astaga." Pekik Yordan saat melihat pecahan gelas di bawah lantai dekat kaki Ica.


Yordan tetap mendekati Ica sambil memperhatikan langkahnya agar tidak menginjak pecahan gelas.


"Kamu kenapa,hah?" Tanya Yordan panik.


"Sa..sakit kak." Sangking sakitnya,Ica sampai susah payah mengeluarkan suara.


Ia pun kembali mendekati dispenser dan mengambil segelas air putih hangat untuk Ica.


"Ini di minum dulu." Yordan menyodorkan segelas air putih itu ke hadapan Ica.


Ica pun mengambil gelas itu dari tangan Yordan dan perlahan menenggak air hangat yang ada di dalamnya. Sambil menutup mata,kemudian ia menyenderkan tubuhnya agar bisa meletakkan kepalanya di pinggiran sofa.


"Sekarang,buang nafas. Eh...salah-salah!! Tarik nafas,buang perlahan,tarik lagi,buang lagi." Yordan menirukan gaya instruktur prenatal yoga dan Ica mengikuti instruktur yang Yordan berikan.


"Gimana,udah lebih enakan?" Tanya Yordan. Walaupun ia melihat Ica yang sudah membaik,tapi hatinya masih cemas.


Ica pun mengangguk.

__ADS_1


"Mau minum lagi?" Tanya Yordan.


Ica menggeleng. Perlahan ia membuka matanya untuk melihat wajah suaminya.


"Astaga kak!!" Teriak Ica sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa? Kamu lihat apa? Lihat hantu?" Tanya Yordan kembali panik sambil melihat ke arah belakangnya,takut-takut ada makhluk tak kasat mata yang Ica lihat di belakangnya.


Masih dengan tangan yang menutup wajahnya,Ica menggeleng.


"Terus kenapa?"


"Itu si Jeki kenapa gak di masukin lagi sih ke kandangnya!!!"


Sontak Yordan langsung melihat ke arah bawahnya,dimana sang sahabat sedang tertidur pulas.


"Aku kirain apaan Ca!!! Ya mana sempet lah,orang aku udah panik duluan dengar suara gelas pecah." Kata Yordan sambil bernafas lega.


"Di masukin dulu itu ke kandang binatang buasnya.!" Perintah Ica.


Yordan menganga mendengar Ica mengatakan kalau Jeki si pembawa kenikmatan untuk soulmatenya,dikatai binatang buas.


"Kok kamu bilang sahabat aku binatang buas sih Ca!! Kamu udah berkali-kali dibawa terbang ke langit ke tujuh sama dia,kok sekarang malah kamu bilang dia binatang buas?!" Tanya Yordan,ia tak terima sang sahabat di hina.


"Gimana gak binatang buas,kalau si Jeki dan kaumnya udah keluar bisa bikin perut kaum perempuan buncit kayak gini. Udah sana cepetan masukin ke kandang,keburu dia bangun. Bisa-bisa aku lupa daratan lagi kalau dia bangun.!"


"Cih..bilang aja buas kenikmatan!!" Gerutu Yordan sambil memutar tubuhnya untuk memungut pakaiannya.

__ADS_1


__ADS_2