Penantian Sang Casanova

Penantian Sang Casanova
eps. 44


__ADS_3

Mommy Sarah tersenyum melihat sikap Ica. Dia mengelus rambut Ica lalu melepas blazernya.


Pintu ruangan mommy Sarah terketuk,mommy Sarah menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu. Ternyata OB yang membawa pesanan untuk Ica.


OB itu pun masuk dan menaruh pesanan untuk Ica di meja,setelah itu OB itu keluar kembali.


"Sambil nunggu kamu siap cerita ke mommy,makan dulu pesanan kamu."


Ica pun mengangguk,tanpa malu-malu ia menyantap cemilan dan minuman yang sudah mommy Sarah pesan untuknya.


Mommy Sarah sengaja menyuruh Ica untuk menyantap makanan pesanan Ica agar Ica bisa mengalihkan sementara rasa sedihnya,jadi saat dia menceritakan apa yang terjadi sebenarnya tadi malam,ia tidak akan terlalu sakit hati.


"Udah siap cerita?" Tanya mommy Sarah disela-sela Ica yang tengah asik memasukkan telur gulung kedalam mulutnya.


Ica mengangguk sambil mengunyah telur gulungnya. Setelah si telur gulung meluncur ke leher,Ica pun mengambil minum dan mulai bercerita.


Mommy Sarah membelalak mendengar cerita Ica,ia kaget bukan kepalang karena Yordan bisa-bisanya memikirkan cara seperti itu untuk membuat Ica sakit hati dan mundur teratur.


"Dasar bule somplak!!! Waktu bayi kebanyakan makan omega tiga dan enam yah begitu!! Otaknya kepinteran!!" Gerutu mommy Sarah.


"Udah kamu gak usah sedih-sedih lagi!! Biar Yordan itu anak kandung mommy,tapi mommy gak akan membenarkan tindakan Yordan sama kamu. Sekarang kamu buang jauh-jauh perasaan kamu buat anak gak berakhlak itu!! Kamu fokus aja sama diri kamu,masa depan kamu. Kalau kamu sukses,jangankan Yordan si mas Aldebaran itu aja akan ngejar-ngejar kamu!!"


"Iya mom.." kata Ica sambil mengangguk.


"Oh iya mommy ada sesuatu buat kamu." Mommy Sarah berdiri dari duduknya menuju meja kerjanya,dia mengambil amplop yang ada di laci meja kerjanya. Kemudian berjalan lagi ke arah sofa dan duduk disamping Ica.


"Ini. Baca dulu." Mommy Sarah memberikan amplop putih kepada Ica.


Ica menerima amplop itu dan membuka isi nya. Membacanya dengan seksama.


Mata Ica membulat setelah membaca isi amplop yang mommy Sarah berikan padanya.

__ADS_1


Isinya adalah formulir pendaftaran perguruan tinggi di Parson The New School For Design di Greenwich Village di New York City.


" mom...ini..." matanya melihat ke arah mommy Sarah.


Mommy Sarah mengangguk dan tersenyum pada Ica.


"Kamu tinggal pilih jurusan mana yang akan kamu ambil,nanti mommy yang urus semuanya."


"Tapi mom,biaya nya pasti mahal. Ica gak sanggup bayar mom.." Ica menunduk,ia sadar sekarang dirinya sebatang kara. Karena papa Fano sudah tidak menganggap Ica sebagai anaknya lagi.


"Huuush..kamu ngomong apa sih??! Kan mommy udah bilang,kamu tinggal pilih mau daftar ke jurusan apa. Nanti mommy yang urus biaya administrasi sama tempat tinggal kamu selama disana."


"Tapi mom..."


"Udah gak ada tapi-tapian,pikirin baik-baik tawaran mommy. Karena waktu yang kamu miliki cuma dua minggu."


"Ica gak enak mom..mommy udah baik banget sama Ica,Ica takut ngecewain mommy dan gak bisa bales kebaikan mommy ke Ica."


Ica menatap mommy Sarah yang begitu bersemangat. Dan itu mampu membangkitkan gairah Ica dalam menggali bakat terpendamnya.


Ica pun mengangguk penuh semangat.


"Bagus..gitu dong..!" Mommy Sarah mengusap puncak kepala Ica.


"Sekarang kamu ke kantor daddy Edwin,tapi inget jangan kasih tau Yordan tentang ini. Mommy punya rencana untuk membuat serangan balasan ke Yordan!!" Mata mommy Sarah menyeringai licik.


"Lihat aja kamu bule kampret,mommy akan buat kamu sakit mental kayak si Irlan itu!!" Kata mommy Sarah dalam hati.


"Maksud mommy serangan balasan apa?" Tanya Ica yang tidak mengerti maksud mommy Sarah.


"Kamu gak perlu tau. Yang penting kamu jangan cerita apa-apa ke Yordan tentang ini. Dan satu lagi,kamu harus bisa bersikap sebiasa mungkin ke dia. Biar dia gak besar kepala karena udah nyakitin kamu. Paham?!"

__ADS_1


Walau sebenarnya Ica tidak mengerti tapi Ica manggut-manggut saja daripada harus mengeluarkan tenaga lebih untuk memikirkan kata-kata mommy Sarah.


Setelah panjang lebar berbicara dengan mommy Sarah,Ica pun pergi ke kantor daddy Edwin di Adiguna Asia Jaya.


Ica tiba di kantor daddy Edwin satu jam sebelum makan siang.


Tok tok tok


Ica mengetuk pintu ruangan Yordan.


Mendengar pintu ruangannya terketuk,dengan malas Yordan menyuruh orang yang mengetuk pintu untuk masuk.


Yordan sudah berpikir kalau Ica hari ini tidak akan datang,itu membuatnya benar-benar malas bekerja. Dari tadi yang ia lakukan di ruangannya hanya membolak-balikkan berkas-berkas yang menumpuk tanpa membacanya dan sesekali tangannya mencorat-coret kertas kosong dengan tulisan yang ia tak sadari kalau ia sudah menulis nama Ica di kertas itu.


Ceklek. Ica pun membuka pintu ruangan Yordan setelah mendapat izin dari pemilik ruangan untuk masuk.


Dengan malas dan muka lecek,Yordan menoleh kearah pintu. Raut wajah Yordan berubah seketika saat melihat Ica berdiri didepan pintu. Yordan pun berdiri dari duduknya,bukan hanya Yordan sepertinya si Jeki pun ikut bahagia melihat kedatangan Ica. Si Jeki ikut berdiri tegak untuk menyambut kedatangan Ica.


"Kok baru datang jam segini?" Tanya Yordan sok tegas untuk menyamarkan perasaan bahagianya atas kehadiran Ica. Sontak itu membuat Jeki melemas karena putus asa. Jeki pikir Yordan bisa mengerti dengan isi hati Jeki,huuuft ternyata tidak.


"Ada urusan bentar" jawab Ica singkat sambil melangkahkan kakinya di meja kerjanya yang ada di dalam ruangan itu yang sudah di setting oleh mommy Sarah.


Ica mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya yang besarnya tak kalah dari kursi Yordan. Ah iya..Ica adalah anak emas mommy Sarah.


"Kenapa gak bilang?!" Tanya Yordan mulai kesal karena Ica dengan gampangnya menjawab,padahal ia sudah seperti orang linglung menunggu kedatangan Ica.


"Emang aku harus bilang sama kakak???! Gak kan? Kan yang gaji aku mommy Sarah bukan kakak. Jadi tadi aku minta izinnya sama mommy Sarah." 😎😎😎


Mendengar jawaban Ica,Yordan pun diam seribu bahasa apalagi Ica membawa nama istri tercintanya tuan Edwin Adiguna.


Yordan kembali duduk di kursi kebesarannya. Mulutnya memang tak lagi menanyakan perihal keterlambatan Ica,tapi mulut Yordan cukup berisik dengan membicarakan hal-hal unfaedah. Dan itu sukses membuat darah militer Ica mendidih.

__ADS_1


Braaaaakkk..


__ADS_2