
Baru saja mereka bertiga berpelukan,bunyi orang membuka kode pass unit apartemen Ica membuyarkan keharuan keluarga kecil itu.
Mereka bertiga pun saling melepaskan pelukan mereka dan mengelap air mata mereka masing-masing.
Ceklek. Pintu apartemen Ica terbuka.
"Mommy..Sarah.." kata Ica dan mama Nivi serempak.
"Loh...kalian kenapa? Terus laki-laki ini siapa?" Tanya mommy Sarah heran saat melihat tiga orang yang ada di hadapannya seperti orang yang habis menangis.
"Kenalin Sar,ini papa nya Ica. Suami ku." Mama Nivi memperkenalkan papa Fano ke mommy Sarah.
"Pah,kenalin ini Sarah. Wanita baik hati yang mendukung anak kita,bahkan ia rela mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan Ica di luar negri." Mama Nivi memperkenalkan mommy Sarah pada papa Fano.
Mommy Sarah yang tidak menyukai papa Fano karena keegoisannya pada Ica,mau tidak mau menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan papa Fano.
"Sarah."
Papa Fano membalas uluran tangan mommy Sarah.
"Fano"
"Jadi bu Sarah yang akan menyekolahkan anak saya ke New York?"
"Iya. Apa kamu kesini mau menggagalkan keberangkatan anak kamu?" Tanya mommy Sarah sinis.
Papa Fano menggeleng.
"Tidak. Saya malah mau mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya pada bu Sarah karena ingin menyekolahkan anak saya. Tapi sebagai seorang ayah,biar saya yang bertanggung jawab membiayai sekolah Ica."
Mommy Sarah terkejut dengan ucapan papa Fano. Namun matanya menatap papa Fano penuh selidik.
"Apa kamu sedang bersandiwara sekarang?" Tanya mommy Sarah curiga.
"Sar.." mama Nivi menggelengkan kepala,memberi kode pada mommy Sarah agar tidak meneruskan kecurigaannya.
Mommy Sarah menghela nafasnya.
"Baik lah,karena Ica adalah anak kandung mu ,aku akan menyerahkan tanggung jawab ini kembali pada mu. Aku harap kamu bisa menjadi seorang ayah yang selalu mendukung bakat anak mu,bukan malah merendahkan kemampuan anak mu." Mommy Sarah memberikan sindiran pedas pada papa Fano.
Mommy Sarah mengalah dari papa Fano karena papa Fano memang lebih berhak atas diri Ica.
"Tapi aku gak akan pernah memaafkan kamu kalau sampai kamu berani menyakiti Ica lagi. Karena aku sudah menganggap Ica seperti anak kandung ku sendiri." Ancam mommy Sarah dengan memberikan tatapan tajam pada papa Fano.
Papa Fano mengangguk paham.
"Saya mengerti. Saya juga sudah sadar akan semua keegoisan saya selama ini yang selalu menginginkan Ica menjadi seperti keinginan saya."
Ting ting ting tong.
Tiba-tiba saja bel apartemen berbunyi membuyarkan ketegangan antara mommy Sarah dan papa Fano.
__ADS_1
Ceklek. Ica membuka pintu unit apartemennya.
"Bang Sat.." sepertinya Ica keceplosan memanggil nama bang Satria dengan tidak lengkap di depan para orangtua.
Mata bang Satria melotot mendengar Ica memanggil namanya seperti itu,kalau hanya antara Ica,Tia dan Nia tidak masalah. Tapi ini ada para orangtua yang sedang memperhatikan mereka.
Ica cengar-cengir menyadari kesalahannya.
"Uuups...sori ABANG SATRIIIIIAAA" kata Ica sambil menekankan pada kata 'abang Satria'.
Mommy Sarah,mama Nivi dan papa Fano geleng-geleng kepala mendengar Ica memanggil bang Satria dengan tidak lengkap.
"Nak Satrianya di suruh masuk dong Ca." Pinta mama Nivi.
"Masuk bang." Ajak Ica.
Bang Satria pun masuk ke dalam apartemen Ica dan bergabung dengan mommy Sarah,papa Fano dan mama Nivi di ruang tamu. Sebelum duduk,bang Satria mencium punggung tangan mommy Sarah,mama Nivi dan papa Fano.
Papa Fano mengernyitkan keningnya melihat banh Satria menggeret koper.
"Kamu mau kemana Sat?" Tanya papa Fano.
"Mau ikut ke New York om sama Ica,mommy Sarah dan mama Nivi."
Papa Fano langsung menatap istrinya.
"Kamu juga mau ikut ke New York?"
"Kenapa? Kamu gak izinin istri kamu ikut mengantar Ica ke New York?" Tanya mommy Sarah dengan tatapan tidak suka.
"Berapa lama kamu disana?" Papa Fano tidak menggubris pertanyaan mommy Sarah,ia malah kembali bertanya pada istrinya.
"Kira-kira satu minggu lah,mama sekalian mau liburan,udah lama mama gak liburan."
"Tapi gimana aku sa...." baru saja papa Fano ingin protes,bel apartemen Ica berbunyi lagi.
"Siapa lagi itu?" Tanya papa Fano.
Mama Nivi dan Ica menggedikkan bahu. Hati Ica sudah dag dig dug,takut-takut yang datang adalah Yordan.
Mommy Sarah bangkit dari duduknya dan membukakan pintu.
Ceklek. Ternyata daddy Edwin yang membunyikan bel.
Melihat daddy Edwin yang ternyata yang datang,Ica pun bernafas lega.
Daddy Edwin ikut mengantar mommy Sarah ke apartemen Ica. Namun saat mereka di loby,daddy Edwin menyuruh mommy Sarah untuk naik terlebih dahulu karena daddy Edwin mau mengecek situasi apartemen itu yang notabene adalah milik daddy Edwin.
Daddy Edwin masuk ke dalam unit apartemen Ica.
"Wah..sudah banyak orang ternyata." Kata daddy Edwin melihat sudah ada bang Satria,mama Nivi,Ica dan papa Fano di ruangan itu.
__ADS_1
"Dad,kenalin itu papa nya Ica. Dan laki-laki ganteng itu namanya Satria." Mommy Sarah memperkenalkan papa Fano dan bang Satria pada suaminya.
Mendengar istrinya mengatakan ganteng pada laki-laki lain,daddy Edwin langsung memberikan plototan pada istrinya.
Mommy Sarah yang cepat tangkap dengan maksud plototan mata suaminya langsung cepat-cepat meralat kata-katanya.
"Tapi tetap daddy yang paling guanteng di mata mommy.." kata mommy Sarah sambil cengengesan.
Daddy Edwin pun menghela nafasnya kemudian mendekati papa Fano dan menjabat tangan papa Fano.
"Edwin."
"Fano." Papa Fano membalas jabatan tangan daddy Edwin.
Kemudian daddy Edwin beralih ke bang Satria.
"Satria om." Bang Satria berdiri dan langsung menyalam tangan daddy Edwin.
"Jangan panggil om,panggil aja daddy." Entah kenapa daddy Edwin sangat tidak suka kalau dirinya di panggil om.
Daddy Edwin pun mendudukkan dirinya di sofa yang bersebelahan dengan istrinya.
"Jadi kamu yang mau ikut ke New York?" Tanya daddy Edwin pada bang Satria.
Bang Satria mengangguk.
Daddy Edwin memperhatikan bang Satria dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mencari sinyal-sinyal yang akan membahayakan hubungannya dengan sang istri tercinta,karena sang istri sempat mengatakan kalau bang Satria ganteng.
Melihat kehadiran bang Satria,entah kenapa daddy Edwin jadi tidak rela membiarkan istrinya pulang kampung tanpa dirinya. Daddy Edwin takut kalau hati mommy Sarah akan kecantol dengan laki-laki brondong yang ada di hadapannya itu. Walaupun daddy Edwin percaya kalau istrinya tidak akan mungkin melakukan hal itu.
"Kalau gitu aku juga ikut ke New York." Kata daddy Edwin. Hanya untuk berjaga-jaga dari hal yang tidak diinginkan,daddy Edwin pun memilih mengintili istrinya.
Heleh...memang dasar daddy Edwin bucin akut.!! Bilang aja cemburu dengan bang Satria gara-gara mommy Sarah bilang kalau bang Satria itu ganteng.
Mommy Sarah membelalakkan matanya,karena keinginan daddy Edwin untuk ikut bersamanya sangat mendadak.
"Kalau daddy ikut yang jaga Yordan siapa dad?"
"Kamu kan udah sewa bodyguard buat Yordan. Biar bodyguard yang jaga Yordan." Jawab daddy Edwin kesal,karena sepertinya istrinya tidak senang kalau dirinya ikut.
"Tapi dad...."
"Gak ada tapi-tapian. Pokoknya daddy mau ikut. Masalah pakaian,nanti kita beli disana." Daddy Edwin langsung memotong kata-kata mommy Sarah. Ternyata daddy Edwin kalau sudah cemburu sangat mengesalkan.
"Kalau begitu aku juga ikut." Kini papa Fano yang ikut-ikutan mau ngintilin istrinya.
Mama Nivi membelalak. Pasalnya suaminya paling susah untuk di ajak liburan ke luar kota atau luar negri.
HAI...HAI....HAI....Othor bikin project baru nih,judulnya AKHIR PENDERITAAN CLARISA. Udah ada yang baca novel pertama othor yang judulnya MENGEJAR CINTA MANTAN ISTRI belum?? Kalau belum,silahkan di kepoin. Kalau udah,pasti tau dong sama yang namanya Alex dan Clara?? nah,project baru othor ini mengisahkan tentang mereka. Yuk di kepoin..
🙏 🙏 🙏 🙏 🙏 🙏 🙏 🙏
__ADS_1