Penantian Sang Casanova

Penantian Sang Casanova
eps. 80


__ADS_3

"Lagian salah daddy sendiri,kenapa naro mereka di kamar sebelah. Padahal tadi mommy sudah sengaja naro mereka di kamar ujung,biar suaranya gak kedengaran sampe disini." Kini mommy Sarah menyalahkan sang suami.


"Mana daddy tau kalau mommy punya tujuan sendiri naro mereka di kamar ujung."


"Makanya peka dong dad.!!!" Cebik mommy Sarah.


Daddy Edwin kembali memeluk mommy Sarah.


"Mom.."


"Hemh..."


"Mommy ngerasain sesuatu gak?"


"Apa?"


Daddy Edwin menuntun tangan istrinya untuk menyentuh sesuatu yang sudah berdiri tegak di bawah sana. Mendengar suara laknat dari sebelah kamarnya,tubuh daddy Edwin ikut memberikan sinyal agar daddy Edwin segera membawa mommy Sarah mengelilingi syuuurga dunia.


"Astaga dad..jangan yang aneh-aneh,kamar ini juga gak pake peredam suara. Nanti kalau mereka dengar kita gimana" Mommy Sarah mengingatkan suaminya.


"Daddy gak peduli,memangnya kita aja yang harus dengar suara mereka,mereka juga harus dengar suara kita." Tangan daddy Edwin mulai menjalar kemana-mana.

__ADS_1


"Dad...hemph..." bibir mommy Sarah langsung di bungkam oleh bibir daddy Edwin. Kemudian daddy Edwin mengangkat tubuh mommy Sarah ke atas ranjang. Dan pertempuran panas pun terjadi di kamar itu.


Mungkin kedua pasangan tak sadar usia yang tak tahu malu itu,tak ingat kalau ada lelaki lajang yang ada di kamar ujung. Sekalipun bang Satria sudah di ungsikan di kamar paling ujung,tetap saja suara-suara yang mencemari telinga itu sampai ketelinganya.


Bang Satria hanya geleng-geleng kepala. Ia menghela nafasnya.


"Cih....dasar para lansia gak tau malu. Udah pada tua masih aja pada ganas.!!! Gak punya perasaan!!! Mereka gak inget kali ada gue disini.!! Bisa-bisanya mereka tanding gelud,emangnya mereka pikir gue juri adu gelud ranjang apa!!!" Umpat bang Satria.


Tak ingin telinga tercemari lebih lama lagi,bang Satria menutup telinganya menggunakan earphone sambil menyalakan musik. Ia pun kembali memeriksa laporan-laporan yang di kirim asistennya mengenai usaha restorannya yang sudah memiliki sepuluh cabang di Belanda.


⭐⭐⭐⭐⭐


Rencananya bang Satria berada di New York hanya sepuluh hari baru pulang ke Belanda untuk kembali menjalankan usaha restorannya. Namun mommy Sarah menentangnya habis-habisan,karena laki-laki dan perempuan tidak baik tinggal bersama sebelum tali pernikahan menyatukan mereka. Walaupun mommy Sarah percaya kalau bang Satria termasuk laki-laki yang bisa menjaga kehormatan seorang wanita,tetap saja setan-setan mesum yang sedang berkeliaran mencari mangsa bisa merasuki tubuh bang Satria atau kekasihnya jika mereka berada dalam apartemen yang sama.


Setelah bang Satria pergi,daddy Edwin,mommy Sarah,mama Nivi dan papa Fano pun keluar dari mansion untuk berkeliling kota New York.


Mereka pergi ke Liberty Island,pulau kecil yang tak berpenghuni yang sangat terkenal karena merupakan tempat berdirinya patung liberty.


Kemudian mereka pergi ke Wall Street di pinggiran kota Manhattan yang begitu terkenal karena identik dengan bursa perdagangan saham dan kepentingan finansial di Amerika. Mereka juga tak lupa untuk berfoto-foto di Charging Bulls yang terkenal sebagai spot foto di New York.


Setelah puas berfoto-foto,mereka pun pergi ke outlet barang-barang branded di Woodbury Premium Outlet untuk menyegarkan mata dan hati mommy Sarah dan mama Nivi tapi membuat kantong daddy Edwin dan papa Fano menjerit. Yah..walaupun menjerit tetap saja mereka membiarkan istri-istri mereka khilaf berbelanja.

__ADS_1


Setelah puas berbelanja,mereka pun memilih untuk mengisi perut mereka di restoran yang menyediakan makanan Asia karena lidah daddy Edwin,papa Fano dan mama Nivi yang hanya terbiasa dan perut mereka yang hanya kenyang dengan makan makanan Asia.


"Niv,ayo kita berbelanja lagi di 5th Avenue." Ajak mommy Sarah setelah menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


Mata daddy Edwin dan papa Fano membulat saat mendengar ajakan mommy Sarah untuk berbelanja lagi. Jujur,daddy Edwin dan papa Fano sudah menyerah menemani mereka berbelanja. Papa Fano memberikan kode melalui tatapan matanya pada sang istri agar menolak ajakan mommy Sarah,tapi sepertinya mama Nivi tidak peka. Melihat ketidak pekaan mama Nivi akan kode mata yang di berikan oleh sang suami,daddy Edwin pun berinisiatif untuk mencegah niat istrinya untuk kembali berbelanja.


"Mom..ini sudah sore,dua jam lagi daddy ada rapat virtual. Lebih baik kita pulang saja. Belanjanya kita lanjutkan besok saja,gimana."


"Tapi dad,besok jadwalnya beda lagi..."


"Ayo lah mom,besok daddy kasih kartu unlimated daddy untuk mommy pakai belanja,gimana? Mau yah??" Rayu daddy Edwin. Dan sepertinya bujuk rayu sang suami cukup mempan untuk si bule bar-bar. Yah..walaupun tanpa daddy Edwin merayu dengan cara memberikan kartu unlimated untuk sang istri belanja,pasti si bule bar-bar akan merampok isi dompet sang suami bucin.


"Baiklah,kalau gitu kita pulang. Tapi kita mampir di Brooklyn Bridge dulu untuk foto-foto."


Daddy Edwin pun mengangguk. Kini daddy Edwin dan papa Fano bisa bernafas lega.


Sesuai permintaan mommy Sarah untuk singgah di Brooklyn Bridge mengabadikan momen kebersamaan mereka disana,sambil menikmati sunset. Saat mereka sedang berfoto,ternyata ada juga pasangan yang sedang melakukan sesi foto sepertinya untuk prewed. Otak jahil mommy Sarah langsung memberikan sinyal agar mommy Sarah memotret diam-diam pasangan itu,karena di lihat dari belakang, postur tubuh si perempuan dan laki-laki itu mirip dengan postur tubuh Ica dan bang Satria. Lalu menguploadnya menjadi status di salah satu aplikasi chat. Dengan caption 'biar lah sunset yang menjadi saksi bisu keabadian cinta kalian'. Setelah selesai menguploadnya,mommy Sarah tersenyum tipis membayangkan reaksi si bule kampret yang pasti seperti cacing kepanasan.


Setelah puas berfoto-foto sambil menikmati sunset,para pasangan tak sadar usia itu pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke mansion.


Nih..othor udah kasih double up. Jangan lupa kasih secangkir kopi yah buat othor...😄😄😄

__ADS_1


__ADS_2