
Setengah jam Irlan menunggu akhirnya Yordan keluar juga dari dalam kamar mandi.
"Kayak anak perawan aja loe,lama banget di kamar mandi."
"Suka-suka gue lah,kan loe yang mau nunggu gue..!!" Jawab Yordan tak suka sambil melangkahkan kakinya menuju ruang ganti.
"Loe pernah kencan kan sama Ica?" Todong Irlan.
Yordan langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah Irlan.
"Udah jadi admin lambe nyinyir loe sekarang??" Yordan malah balik bertanya.
"Alah gak usah ngelak loe,gue tau loe pernah ngajak dia nonton.." Irlan memaksa Yordan untuk mengaku.
"Ralat..bukan gue yang ngajak nonton tapi dia yang ngajak nonton. Lagian kenapa sih loe tanya-tanya." Yordan mulai penasaran dengan sahabatnya yang satu ini kenapa tiba-tiba ia mencari Ica.
"Jadi loe tau dong dimana rumah si Ica itu?"
Yordan menggeleng berbohong. Ia masih enggan mengatakan tentang kedekatannya dengan Ica pada Irlan maupun Igo.
"Emangnya loe gak nganterin dia pulang waktu habis nonton?" Tanya Irlan heran.
"Gak..dia pulang sendiri naik taksi. Katanya ada keadaan darurat. Itu aja harusnya kita masih mau makan,tapi dia langsung ngibrit pas baca pesan." Yordan menjelaskan.
Irlan membuang nafasnya kasar.
Melihat Irlan yang putus asa membuat Yordan semakin penasaran. Hantu kepo kembali merasukinya.
"Loe kenapa sih?"
"Gue bingung harus nyari Nia kemana. Kemaren gue tungguin dia dirumah papa Niko,tapi dia gak nongol-nongol. Gue yakin Nia gak ada di rumah itu. Makanya gue tanya sama loe,manatau loe tau rumahnya Ica. Gue mau nyari Nia disana." Jawab Irlan sambil berbaring di atas ranjang yang hampir setiap malam Yordan pakai untuk memuaskan nafsunya dengan para partner sex nya.
Yordan mengangguk paham. Sekarang dia mengerti kalau sahabatnya ini sedang galau mencari istrinya.
"Loe masih kekeh mau batalin gugatan?" Tanya Yordan.
Irlan mengangguk.
__ADS_1
"Tapi Nia masih kekeh mau nerusin gugatan. Makanya gue mau nyari dia,gue mau minta kesempatan kedua."
"Loe sadar gak,kalau dia kekeh mau cere dari loe itu berarti dia udah nyerah atau dia udah gak punya perasaan apa-apa lagi ke loe. Terus loe mau maksa dia untuk bersama loe tapi hati dia udah jatuh kepada cowok lain. Loe egois itu namanya. Dia aja bisa ikhlas ngelepas loe biar bersama Melda. Masa loe loe gak bisa ikhlas ngelepas dia sama laki-laki yang dia cintai."
Sepertinya wejangan yang ia berikan untuk sahabatnya adalah wejangan untuk dirinya juga yang telah menyakiti Ica dan membuat Ica pergi meninggalkannya.
"Kayaknya loe bener..gue udah terlalu egois pengen nahan Nia disisi gue,padahal gue sendiri belum yakin dengan perasaan gue sendiri. Apa ini cinta atau cuma obsesi gue doank. Mungkin akan lebih baik buat dia pergi dari gue. Tapi gue gak akan berhenti ngejar dia kalau emang Tuhan mempertemukan gue dengan Nia lagi." Sepertinya omongan Yordan masuk di akal Irlan.
Setelah mendapat wejangan dari Yordan,Irlan pun keluar dari apartemen Yordan. Sedangkan Yordan masih termangu dengan kata-kata bijak yang baru saja ia katakan pada Irlan. Cukup lama ia pikir apa ia harus mundur saja untuk mendapatkan Ica atau ia harus mendapatkan Ica sebelum Ica menikah dengan bang Satria.
Akhirnya Yordan memutuskan untuk mendapatkan Ica dan memberitahu pada Ica tentang kondisi si Jeki,jika Ica mau menerima keadaan si Jeki maka Yordan akan mencari pengobatan terbaik sampe ke ujung dunia sekalipun,namun jika Ica tak mau menerima Yordan maka Yordan akan tetap memaksa Ica untuk menerimanya.
Wejangan yang ia berikan pada Irlan tak berlaku untuk dirinya,karena motto yang berlaku untuk dirinya sekarang adalah selama janur kuning belum melengkung,Ica masih bisa di tikung,sekalipun sudah melengkung Ica tetap harus di tikung.
Yordan berdiri dari duduknya menuju ruang ganti. Setelah memakai pakaiannya,ia keluar dari unit apartemennya menuju unit apartemen Ica di lantai bawah.
Ting tong ting tong. Berkali-kali Yordan memencet bel namun pinta tak kunjung terbuka.
"Apa Ica udah balik ke rumah bokapnya?" lirih Yordan.
Buru-buru Yordan memutar tubuhnya menuju lift untuk mengantarnya ke lantai bawah.
Namun saat dirinya sudah berada di parkiran,ia harus terima kenyataan kalau ternyata dirinya tak membawa kunci mobil. Mau tidak mau ia harus kembali naik ke unit apartemennya. Mungkin sangking tergesa-gesanya ia lupa kalau ia tak membawa kunci mobil,dompet dan hp nya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Kini mobil Yordan sudah sampai di depan rumah orangtua Ica,namun sayang dirinya tidak bisa masuk ke dalam rumah. Karena sesuai perintah papa Fano,tidak boleh ada seorang pun di perbolehkan masuk ke dalam rumah selama papa Fano dan mama Nivi pergi ke luar negri.
"Jadi Ica gak pulang kesini pak?" Tanya Yordan sekali lagi setelah beberapa saat berdebat dengan satpam rumah keluarga Ica.
"Iya mas,gak percaya banget sih."
Dengan langkah gontai Yordan kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Terus dia kemana?" Tanya Yordan sedikit berpikir.
"Aaaiiiisshh!!!! Tadi pagi si Irlan yang nyariin bini nya,sekarang gue yang nyariin Ica.!!" Yordan menggeram frustasi.
__ADS_1
"Eh..tunggu dulu.!! Bini nya si Irlan ngilang,terus Ica juga ngilang. Mungkin aja sekarang Ica lagi sama Nia kerumah temennya yang satu lagi. Mending gue datengin ke rumah temennya satu lagi." Yordan pun menyalakan mesin mobil dan berlalu dari depan rumah keluarga Ica.
Namun baru saja ia keluar dari gardu perumahan tempat tinggal orangtua Ica,ia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Shiit.!!! Gue mana tau rumah temennya Ica yang satu lagi.!!! Njiir lah..!!" Umpat Yordan sambil memukul-mukul setir mobilnya.
Yordan mengambil hp nya untuk melakukan panggilan ke nomor Ica,namun sayang nomor Ica tidak aktiv.
Yordan pun membuka aplikasi chat yang ada di hpnya untuk mengirim chat pada Ica,namun matanya gagal fokus karena melihat status mommy nya yang baru setengah jam yang lalu di upload.
Yordan membuka status sang mommy,mata Yordan membelalak sempurna melihat foto Ica yang sedang tertidur bersandar di bahu bang Satria dan dengan caption 'uluh....uluh...yang mau foto prewed ke New York,mesra amat nempel terus.'
Tangan Yordan meremas hp yang ia genggam,rahangnya pun mengeras.
"Gue udah siapin bahu gue buat loe bersandar,tapi kenapa loe malah milih bahunya si Satria Baja Hitam,kurang kekar apa coba bahu gue Ca. Kalau bahu gue kurang memuaskan,loe bisa bersandar di paha gue,dada gue,terserah loe deh dimana asal jangan bersandar sama si Satria Baja Hitam itu.!!" Kata Yordan kesal melihat Ica yang begitu nyaman tertidur di bahu bang Satria.
Yordan yang hatinya galau kembali mengendarai mobilnya tanpa tujuan. Entah sadar atau tidak,kini mobil Yordan sudah terparkir di kawasan taman kota tempat ia dan Ica pernah singgah.
"Kok gue kesini?!" Lirih Yordan yang baru menyadari tempat dimana ia berada.
Walau pikirannya menolak untuk turun,namun hati dan tubuhnya malah menuntun Yordan untuk turun dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya untuk duduk di bangku kosong yang ada di pinggir taman.
"Bro...bro..bro..sini bro..!" Panggi Yordan pada dua orang pengamen yang melintas di hadapannya.
"Ada apa mister?" Tanya salah seorang pengamen itu.
"Nyanyiin gue lagu." Pinta Yordan,kemudian ia mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Nih gue kasih lima ratus ribu." Yordan menyodorkan uang pecahan seratus ribu sebanyak lima lembar.
Mata dua orang pengamen itu membelalak melihat uang yang di sodorkan Yordan. Tentu saja itu rejeki nomplok untuk mereka.
"Mau lagu apa mister?"
"Apa aja. Yang penting lagu galau."
"Ok mister."
__ADS_1
Salah seorang pengamen yang memegang gitar itu pun mulai memetik gitarnya untuk mengambil nada.