
Akhirnya orang tua Dafi berkenalan secara resmi ke keluarga Zahwa, semua ikut termasuk adik-adiknya dan Nenek Sri. Zahwa dan keluarganya menyambut dengan tangan terbuka, apalagi bisa dibilang posisi jabatan Pak Dzul lebih tinggi daripada jabatan Bapaknya Zahwa.
Dengan kondisi Rian pun ga bermasalah, bagi Zahwa dan keluarga, kondisi Rian seperti itu adalah hak prerogatif dari Allah yang memberikan Rian ke keluarga Pak Dzul.
Ibunya Zahwa menjamu para tamu istimewanya dengan hidangan khas dari Sungai Penuh, kampung halamannya. Keluarga besarnya pun ikut menyambut keluarga Pak Dzul. Bahkan tadi Pak Buyung yang ikut menjemput ke Bandara.
Disepakati kalo pernikahan baru akan dilaksanakan dua tahun lagi karena Zahwa masih asyik sama dunia kerja. Dia sudah merencanakan kalo menikah akan full menjadi Ibu Rumah Tangga, ditambah pula nantinya Dafi akan menerima pindah-pindah penempatan selama sepuluh tahun pertama ini.
"Alhamdulillah ya jauh-jauh kesini kami pulang ga tangan hampa. Tapi memang kami kembalikan ke Zahwa .. pihak keluarga terutama Mas Dafi siap kapanpun untuk menikah" kata Pak Dzul.
Semua yang hadir hanya tertawa aja. Makan siang bersama terasa hangat aja, Zahwa duduk ngobrol bareng sama Fajar dan Dafi.
"Kok lama sih Mba nikahnya .. kenapa ga secepatnya aja, kan selama belum punya anak bisa karier dulu" ujar Fajar.
"Masih muda Mas Fajar. Saya kan masih dua puluh dua tahun" jawab Zahwa.
"Lah tuaan saya setahun ya kalo gitu. Tapi jangan panggil Mas lah .. panggil Fajar aja, nanti kan mau jadi Kakak ipar" ledek Fajar sambil menyantap makanan.
"Tumben nih calon dokter ga sibuk di stase, bisa ikut kesini" ujar Dafi.
"Acara penting Kakak tercinta harus hadir dong, ini juga tukeran dinas sama teman, dinas sampe dua hari full ga pulang akhirnya bisa nih ikut, besok pagi udah harus balik karena malamnya udah dinas lagi" jelas Fajar.
"Makasih ya udah nyempetin hadir, kamu sendiri gimana sama pacarnya... kapan rencana nikahnya?" tanya Zahwa.
"Kawin sama siapa? pacar aja ga punya" jawab Dafi iseng.
"Beneran belum punya pacar? masa sih seorang calon dokter, tampang juga lumayan, baik dan ramah pula ... ga punya pacar?" kata Zahwa.
"Saya emang ga mau punya pacar Mba .. tapi calon istri ada" jawab Fajar rada sombong.
"Calon istri yang mana sih Jarrrr" ledek Dafi lagi.
"Yang sedang memantaskan diri buat menjadi istri seorang Fajarlah" ucap Fajar happy.
"Masih ga paham memantaskan diri dimananya. Maksudnya Qeena bukan nih?" tanya Dafi.
"Emang siapa lagiiiii" jawab Fajar.
"Oh ya Jar ... sebulan yang lalu Mas ketemu sama Aa' Zay, kamu pasti kenal kan, yang bantu Qeena di Ciloto. Mas kenalan di Bandara terus makan roti yang dia bawa dan mengalirlah cerita. Mas juga denger tentang kamu dari sudut pandang Aa' Zay. Saran Aa' Zay bagus, dia ingin kamu dan Damar ga usah nguber dulu, biarkan Qeena menyembuhkan lukanya. Jangan dia tambah membenci kaum pria seperti kita. Intinya dia anak baik, hanya lagi proses pencarian jati diri. Percaya aja kalo jodoh ga akan kemana. Dia yang telah tertulis dalam lembaran takdirmu ga akan pernah jadi milik orang" nasehat Dafi.
"Ya Mas ... Fajar juga lagi berusaha membuka hati buat yang lain. Kecewa banget dia mempermainkan hati Fajar begitu aja. Cuma dianggap Kakak setelah banyak hal dan ucapan yang Fajar bilang" kata Fajar.
"Kesal boleh .. tapi dendam jangan" ujar Dafi lagi.
"Ini kenapa ya .. diacara kita loh Mas ... malah bahas cewe lain. Siapa namanya tadi ... Qeena... ya Qeena.. seberapa spesial sih dia?" tanya Zahwa penasaran.
"Ga usah dibahas lagi lah Mba... Qeena hanya spesial dimata saya, bukan dimata Mas Dafi .. bukannya itu lebih penting buat Mba tau" ujar Fajar yang masih sensi.
🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞
__ADS_1
"Mak ... Aa' tuh sebenarnya ketemu sama Dafi, sebulan yang lalu pas ke Jambi. Dia nitipin oleh-oleh, tapi sama Qeena oleh-olehnya ga dibawa pulang malah dibagi ke Bang Saino dan Agung. Aa' juga baru tau kemarin pas ngobrol sama Bang Saino. Kalo boleh tau sebenarnya ada apa ya diantara Qeena sama Dafi? ada keributan?" tanya Aa' Zay penasaran.
"Ga .. mereka akur-akur aja. Lagian mereka berdua mah jarang ngobrol. Qeena lebih sering dekat sama Mas Fajar sedari kecil. Nah kalo Mas Dafi baru deh deketnya sama Emak" jawab Mak Nuha.
"Apa Mak ribut sama dia?" tanya Aa' Zay.
"Ngga .. dia malah baik banget sama Emak" ujar Mak Nuha.
"Orangnya emang sabar dan nrimo gitu ya Mak?" selidik Aa' Zay.
"Sama dialah Emak cerita semua keresahan yang Emak rasain. Pernah Emak minta tolong sama dia buat nemuin Qeena sama keluarganya, tapi dia menolak. Terakhir ya deket karena Qeena jadi anak asuh Ayahnya" ucap Mak Nuha.
"Mak mau ngobrol sama dia?" tanya Aa' Zay.
"Aa' punya nomernya?" tanya Mak Nuha balik.
"Ada ... nanti ya coba Aa' chat dulu, siapa tau dia lagi sibuk kerja" pinta Aa' Zay.
"Ya..." jawab Mak Nuha antusias.
Rupanya Dafi sedang meeting, jadi belum bisa nerima telepon, dia janji akan telepon balik kalo sudah senggang.
Dafi baru telepon balik ke Aa' Zay setelah jam delapan malam. Saat itu Mak Nuha udah di rumahnya. Aa' Zay menelpon Qeena, menyampaikan kalo Dafi ingin bicara sama Mak Nuha. Sekarang posisi Aa' Zay sedang ga di rumah karena ada keperluan diluar rumah.
Akhirnya Qeena mengijinkan Aa' Zay memberikan nomer HP nya ke Dafi.
"Assalamualaikum.. " sapa Dafi.
"Ini Qeena ya? sehat?" tanya Dafi.
"Alhamdulillah sehat .. sebentar ya Emak lagi di kamar mandi" jawab Qeena.
"Ya ... " jawab Dafi.
Ga ada pembicaraan apapun sampai Mak Nuha keluar dari kamar mandi. Qeena langsung menyerahkan HP nya ke Mak Nuha.
"Assalamualaikum Mas Dafi... apa kabar?" tanya Mak Nuha.
"Waalaikumsalam... Alhamdulillah baik Mak, Mak Nuha gimana kabarnya? maaf ya Dafi baru bisa hubungin sekarang. Soalnya Ayah dan Fajar ga mau kasih tau nomernya Qeena ke Dafi" ucap Dafi.
"Ya Allah... Mas ... mohon maaf ya Emak pergi tanpa pamit" kata Mak Nuha.
"Udahlah Mak .. yang udah ya udah. Yang penting sekarang Emak sehat dan yang Dafi denger udah lumayan usahanya" ucap Dafi.
"Emak mah udah banyak di rumah aja Mas, yang cari duit Qeena. Emak paling kalo ada pesenan masakan aja, kaya pepes gitu" jelas Mak Nuha.
"Kangen deh sama jangan ndeso yang Mak Nuha bikin.. kapan ya bisa ketemu sama Emak" ujar Dafi.
"Emang Mas sekarang kerjanya jauh?" tanya Mak Nuha.
__ADS_1
"Jauh kalo dari Ciloto Mak... oh ya Mak ...
Alhamdulillah Dafi udah ketemu calon istri disini. Ayah dan Bunda juga udah minta secara resmi ke keluarganya, tapi akan nikah selambatnya dua tahun kedepan" cerita Dafi.
"Alhamdulillah... Emak senang dengarnya" kata Mak Nuha.
"Mak ... Qeena udah tau siapa ayah dan ibu kandungnya?" tanya Dafi hati-hati.
"Udah .. nama ... foto ... kisahnya ... semua dia udah tau. Emak pernah ajak dia ke rumah keluarga Bapaknya, tapi mereka udah pindah. Emak kayanya belum ikhlas mengenalkan dia ke Bapaknya" tukas Mak Nuha.
"Itu kan yang buat Emak pergi" ujar Dafi.
"Ya .." jawab Mak Nuha.
"Mak ... Dafi pernah ketemu seorang Ibu, belum terlalu tualah.. sekitar tiga puluh lima tahunan. Beliau cerita tentang masa lalunya yang kelam dan lagi nyari anak. Kok kaya serpihan puzzle ya .. Emak pernah cerita tentang orang tua Qeena dan nyambung seperti kisah Ibu ini. Seingat Dafi, Emak ga pernah nyebut nama orang tua kandung Qeena ya ke Dafi. Siapa ya Mak namanya?" tanya Dafi penasaran.
"Maaf Mas ... Qeena minta nama mereka jangan pernah disebut lagi. Tolong hormati masa lalu kami ya .. " pinta Mak Nuha.
"Maaf ya Mak kalo Dafi jadi kepo gini. Sekali lagi Dafi minta maaf. Mak ... gimana kabar Mbah di Kampung?" tanya Dafi mengalihkan pembicaraan.
"Lagi sakit Mas .. makanya Emak bingung, mau pulang kampung ongkosnya gede kalo berdua, Emak ga tega ninggalin Qeena sendirian di rumah. Lagian Emak pikir mending buat biaya berobat. Jadi Bapaknya Emak udah ditempat tidur aja" kata Mak Nuha sedih.
"Mak ... boleh Dafi kirim uang buat Mbah? minta rekeningnya ya" ujar Dafi.
"Ga usah Mas .. jangan lagi keluarga kami harus hidup terus menerus dalam sebuah kata hutang budi" jawab Qeena yang mendengar pembicaraan di HP nya karena di loud speaker.
"Qeena ... Mbah kan sakit, Mas ga minta kamu balas kok setiap rupiah yang Mas keluarin. Mas tulus kok ngasih ke Mbah" jelas Dafi.
"Udah dulu ya Mas ... kita mau tidur, assalamualaikum" kata Qeena sambil mematikan sambungan telepon.
"Waalaikumsalam" jawab Dafi heran.
"Emak ngapain sih segala cerita sama Mas Dafi, kan Qeena udah bilang, nanti Qeena yang cari uang buat kirim ke Mbah. Kalo Emak mau pulang kampung ya pulang aja, gapapa Qeena disini" kata Qeena.
"Qeena ... Mak kecewa ... Mak ga kenal Qeena ... kemana anak Emak yang manis, yang penurut, yang ga pernah nyakitin orang" ujar Mak Nuha menangis.
"Mak ... jangan nangis Mak .. maafin Qeena Mak" kata Qeena sambil memeluk Emaknya tapi Mak Nuha menolak dan masuk kamar.
"Mak ... Mak ... buka Mak pintunya" panggil Qeena dari luar kamar.
"Tidurlah Qeena ... udah malam" jawab Mak Nuha kecewa.
Malam ini Qeena nangis sejadi-jadinya. Merutuki kelakuannya sendiri.
"Kenapa jadi kejam sama orang ya? tapi bukankah semua orang juga kejam sama gw .. ya... seenaknya mereka menghina karena kemiskinan, bahkan Om Dzul menjadi Bapak Asuh karena ingin nantinya bisa nikah sama Mas Rian. Belum lagi bullyan dari teman sekolah karena ga punya Bapak ... arrghh ... kenapa musti dilahirkan sih" marah Qeena pada dirinya sendiri.
Ada beberapa chat dari Dafi.
#Orang yang istimewa bukanlah dia yang selalu ada didepan mata, tapi dia yang selalu ada dihati dan tak pernah lepas dari do'a#.
__ADS_1
"Apa maksudnya sih ini?" ucap Qeena yang masih marah.