ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 58, Keributan dipagi hari


__ADS_3

Dafi baru pulang ke rumah setelah dua pekan ikut sensus di Pulau Sumatera.


Dia sebenarnya udah merencanakan akan lanjut ambil S1 Statistika sambil menunggu pengangkatan PNS. Tapi waktunya belum nemu yang pas.


Dunia kerja dan langsung terjun ke sasaran membuatnya sangat enjoy dan melupakan sejenak dunia kampus.


Cita-citanya buat keliling Indonesia pelan-pelan akan terwujud. Kerja dibidang yang dia sukai sejak SMP pun sedang dia bangun.


Menyibukkan diri kerja menjadi obat terampuh akan sakitnya putus cinta dengan Rahma. Walaupun masih susah move on dari bayangan Rahma. Dompet dari Rahma saat Dafi ulang tahun masih terpakai hingga kini, bahkan foto Rahma (Rahma yang meletakkan didalamnya) masih tersimpan apik disana.


Dafi sedang duduk diatas kapal penyebrangan Merak Bakauheni sambil menikmati kopi instan. Pemandangan laut lepas membuatnya merasa tenang. Teman-temannya yang lain memilih buat tidur, tapi Dafi ga bisa tidur.


Dibukanya dompet coklatnya, diambil perlahan foto Rahma.


"Rahma ... Kakak tau kita sama-sama belum panjang pikiran dalam memutuskan sesuatu, masih adakah harapan buat Kakak kelak? Dalam hati ini rasanya masih sulit dibohongi, masih ada kamu didalamnya. Semakin mencoba melupakan, semakin sakit rasanya. Kakak ga pernah berkhianat, tapi dari situ Kakak belajar harus tegas terhadap wanita. Ya .. pagi ini semua sudah Kakak selesaikan hal yang menjadi duri dalam hubungan kita, walaupun semua udah terlambat, tapi inilah penyelesaian yang ingin Kakak tunjukkan sama kamu. Tunggu Kakak dua tahun lagi, Kakak akan datang saat kelulusanmu" ujar Dafi dalam hati.


Angin berhembus kencang, ketika akan dimasukkan kembali kedalam dompet, foto Rahma terbang dan ga bisa tertangkap oleh Dafi. Akhirnya foto Rahma terbang dibawa angin dan jatuh ke laut lepas.


"Ya Allah ... inikah kuasaMu ... yang memberikan peringatan kalo hamba ga boleh terlalu mencintai makhluk ciptaan Mu? Maafkan hamba ya Allah, telah meracuni diri sendiri dengan memandang foto yang bukan mahramku ... Astaghfirullah ... ampuni hamba ya Allah" ucap Dafi dengan suara yang kalah sama suara mesin yang bertemu deburan air di laut.


⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪


Saat Dafi tadi pagi akan check out dari salah satu hotel di Lampung, dokternya Rian menelpon, selain memberitahukan bahwa Rian sudah absen terapi selama dua Minggu terakhir, beliau juga meminta maaf kepada Dafi.


"Mas Dafi maafin Sania ya, saya kira dengan mengenal Mas Dafi, konsentrasinya bisa terbagi. Tapi saya ga menyangka dia senekat itu. Maaf kalo jadinya Mas Dafi jadi korban" pinta dokternya Rian.


"Ya .. saya dan kekasih saya jadi korban. Kami putus karena postingannya Sania" jawab Dafi blak-blakan.

__ADS_1


"Saya atas nama Sania, benar-benar minta maaf ya" ujar dokternya Rian lagi.


"Maaf dok, saya rasa ada sesuatu yang ga beres didiri Sania ya, sempat beberapa kali saya angkat telponnya, nada bicaranya aneh. Ini bukan sebuah obsesi saya rasa" ungkap Dafi hati-hati.


"Mas Dafi pernah baca tentang semakin cerdas seseorang maka akan rentan kena gangguan mental?" tanya dokternya Rian.


"Kaya bipolar gitu dok?" balik Dafi bertanya.


"Salah satunya bisa jadi bipolar memang. Tapi Sania belum sampe seperti itu. Kami baru menyadarinya setahun yang lalu. Dia memang jiwa kompetisinya tinggi. Selalu mau jadi juara ditiap lomba yang diikuti. Belajar lebih giat lagi dan seakan haus ilmu. Kami kira itu positif aja buat dirinya, tapi ternyata menjadi boomerang buat Sania. Dia sering terkena kecemasan fisik dan gelisah. Postingannya di medsos itu merupakan salah satu kegelisahannya, bagaimana dia gelisah ketika tambah cinta sama Mas Dafi setelah bertemu dan ga mau ada yang bisa memiliki Mas Dafi selain dia. Dari kegelisahannya akhirnya memutuskan untuk memberitahukan ke semua orang kalo Mas Dafi hanya miliknya. Saat Mas Dafi meminta untuk menghapus postingan, dia pun mengalami kecemasan berlebih ... badannya bergetar, keluar keringat dan menangis. Menurut penelitian memang ditemukan bahwa orang-orang cerdas memiliki kandungan protein yang sama di otak dengan pengidap skizofrenia dan bipolar. Protein ini dapat menjadi penghubung antara kecerdasan dan jenis gangguan jiwa. Memang penelitian lebih lanjut masih terus dikembangkan untuk membuktikan apakah protein tersebut benar-benar dapat mempengaruhi otak manusia. Bagian otak yang berfungsi mengatur kehidupan sosial jarang digunakan oleh orang-orang cerdas. Jadi mereka mempunyai energi lebih untuk dialihkan. Pengalihannya memungkinkan mereka untuk berpikir, berkonsentrasi dan memecahkan persoalan rumit. Kami masih terus memberikan obat dan terapi buat Sania setahun belakangan ini. Jadi Mas ... tolong jangan tekan dia dulu, sudah benar menghindari dia daripada berkonfrontasi. Kami pihak keluarga sudah bilang nomer HP Mas Dafi ganti dan kerja keluar kota. Sekali lagi ... saya minta maaf ya Mas" pinta dokternya Rian.


"Saya paham dok .. semoga Sania bisa kembali normal lagi. Untuk terapi Rian, mohon maaf saya akan cek kalo sudah pulang ke rumah. Saya juga akan pindah dokter ya, saya rasa ini yang terbaik buat saya juga" ucap Dafi.


"Oh ya gapapa Mas, nanti jika dibutuhkan saya bisa memberikan resume medis tentang Rian agar rekan sejawat saya bisa melanjutkan terapi yang sudah berjalan" kata dokternya Rian.


⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪


"Kebayang ga sih mereka ... hubungan gw berantakan sama cinta pertama gegara anaknya mengidap gangguan mental yang mereka udah tau sejak setahun yang lalu. Kenapa ga langsung jelasin sih jadi ga serumit ini. Kalo perlu Rahma denger penjelasan ini, jadi ga salah persepsi. Rahma juga sih, susah banget sih percaya sama gw. Gw kan bukan playboy yang gampang mengumbar cinta. Nyatain cinta ke dia aja bikin meres otak gimana caranya. Kenapa cinta tuh ribet ya? bukannya cinta harusnya membuat orang jadi bahagia? Apa gw terlalu naif memandang cinta? halahhhh ... mana kerjaan numpuk nih selepas sensus. Mana bikin laporan dan kajian ini itu. Fajar juga ribet tiap hari telponnya cuma tentang hilangnya Qeena. Lagian Mak Nuha sama Qeena kenapa harus menyelesaikan masalah pake masalah sih. Kan jadi gw juga mau ga mau kepikiran. Please ya semua ... otak gw bisa ngebul iniiiii" umpat Dafi dalam mobilnya, dia sampe ngomong sendiri dan menyetel musik buat hiburan.


🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡


Mas Anto lagi bersihin rumput halaman depan, dia langsung membuka pagar begitu melihat mobil Dafi sudah didepan pagar. Iyus lagi menyuci mobil di carport depan dan menghalangi jalan masuknya mobil.


Mas Anto udah meminta Iyus buat keluarin mobil dulu biar mobil Dafi bisa masuk nanti baru mobilnya Bu Fia masuk carport lagi. Iyus tetap dableg, alasannya tanggung lagi nyuci. Mobil Dafi disuruh taro aja diluar dulu, kalo dia udah berangkat antar Bu Fia baru mobil Dafi bisa masuk kedalam rumah.


Dafi yang udah cape jiwa raga pun jadi kesal karena beberapa kali klakson ga diindahkan sama Iyus, Dafi akhirnya keluar mobil, memberikan kunci mobilnya ke Mas Anto.


"Bisa mundur sebentar ga? Banyak yang mau saya keluarin di mobil, jadi saya mau masukin sekalian ke garasi. Saya ini udah cape, mau istirahat kalo barang-barang saya udah dikeluarin" kata Dafi dengan nada kesal.

__ADS_1


"Lagi nanggung ini Mas, nanti deh paling juga setengah jam lagi kita berangkat ke kantor, ga liat nih lagi nyabunin? busanya juga masih banyak dimana-mana" sahut Iyus cuek.


"Ngerti bahasa Indonesia ga? Saya banyak yang mau dikeluarin dari mobil, itu berkas-berkas penting. Saya udah cape nyetir, mau rapihin bawaan terus tidur. Bisa ga sih, ga bikin saya emosi tiap ketemu?" tanya Dafi makin kesel.


"Kasih aja kunci mobil ke Anto, nanti Anto yang masukin. Gitu aja kok repot sih Mas. Kan bisa juga dia yang turunin terus Mas sekarang istirahat" kata Iyus.


Ga pake lama, Dafi langsung tendang ember yang masih ada air sabunnya, terus dia masuk kedalam mobil Bu Fia, memundurkan mobil dan meminta Mas Anto masukin mobilnya kedalam garasi samping. Setelah mobilnya Dafi masuk, Dafi memasukkan kembali mobil bundanya ketempat semula, terus dia langsung menuju garasi.


Air sabun berantakan di carport. Bu Fia keluar karena ada keributan, dia marah-marah liat carport rumah berantakan sama air sabun.


"Ini kenapa air sabun berantakan begitu, air juga basah kemana-mana. Liatnya tuh ga enak" omel Bu Fia.


"Mas Dafi Bu, pulang langsung marah-marah ga pake sebab, wong saya lagi nyuci mobil dia ga sabar mau masuk, bisa kan mobilnya taro luar dulu terus nanti kalo saya udah selesai nyuci mobil baru mobilnya masuk" jelas Iyus sok lugu.


Bu Fia melihat kearah samping, Mas Anto dan Mas Narko lagi bantuin nurunin barang-barang Dafi. Dafi pun lagi menata kardus-kardus yang berisi berkas-berkas sensus manual. Dipastikan lagi jumlah dan kode dikardusnya.


"Mas ... sini.." panggil Bu Fia. Dafi langsung menghampiri Bu Fia. Mencium tangan dan pipi Bundanya.


"Kamu pulang-pulang langsung marah kenapa? Stress dimana masa numpahin di rumah, ga sopan juga kamu kaya gitu. Kamu kan terpelajar Mas, harusnya bisa paham sama orang seperti Mas Iyus itu" kata Bu Fia menasehati.


"Bunda tanya deh sama supir kesayangan Bunda itu, kupingnya denger ga kalo saya lagi ngomong. Tau kan Mas cape ini cape, eh malah ngeselin kalo diajak ngomong" jelas Dafi.


"Tapi ga perlu sampe marah-marah bisa kan? Yang Bunda tau kamu tuh orang yang sangat menghargai semua pekerja-pekerja kita, kamu lama tinggal di pesantren emang ga diajarin Akhlakul Karimah?" tanya Bu Fia.


"Segala bahas Akhlakul Karimah... maaf ya Bunda udah nerapin belum ke Rian? Mas cape Bun, malas berdebat lagi. Sekarang mau mandi terus tidur, ga mau otak dipake buat mikir pagi-pagi kaya gini" jawab Dafi langsung ngeloyor masuk kedalam rumah.


Bu Fia hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2