ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 211, Balik kandang.


__ADS_3

Setelah sholat tarawih, Dafi dijemput oleh seseorang pakai motor, Dafi membawa tas ransel aja. Dia menuju ke rumah Pimpinan Pondok Pesantrennya dulu, sekarang beliau bertempat tinggal di Semarang karena sudah tidak aktif di Pondok Pesantren lagi, beliau sudah digantikan sama anak-anaknya. Usianya sudah menginjak tujuh puluh tahun, tapi kesehatannya masih tampak baik.


Yang menjemput Dafi adalah salah satu santri yang ikut mengurus Pak Kyai melipir menghabiskan masa tua untuk tinggal di Semarang, beliau cukup kenal sama Dafi karena dulu Dafi adalah santri istimewa yang pernah Pesantren miliki. Apalagi hingga sekarang, Dafi selalu berkontribusi buat perkembangan pesantrennya.


Rumah para Kyai, jika menjelang akhir Ramadhan kebanyakan disesaki oleh para jama'ah, tapi kali ini Pak Kyai sudah berpesan agar ga banyak yang menjumpainya karena beliau ingin bisa beribadah secara maksimal di akhir-akhir Ramadhan.


Di rumah Pak Kyai nampak lebih banyak keluarga daripada santri dan jama'ah lainnya. Dafi sampai disana hampir tengah malam dan langsung wudhu untuk mengikuti dzikir bersama.


Kyai Syarif, seorang Kyai karismatik yang cukup dikenal dinegeri ini, tapi beliau lebih senang dianggap sebagai seorang guru daripada seorang Kyai. Karena menurutnya guru itu banyak pahalanya karena akan mengalir pahala sampai meninggal kelak karena mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Banyak orang politik yang mendekat ketika akan pemilihan kepala daerah dan legislatif, tapi beliau sudah mewanti-wanti agar yang bertamu ke tempatnya harus melepaskan atribut politik serta tidak membicarakan tentang dukung mendukung dalam pemilihan kepala daerah. Karena beliau sadar, khawatir tidak sanggup melawan godaan harta dan tahta jika turun ke politik praktis.


Jam satu malam, dzikirannya break dulu. Para tamu yang belum bersalaman, maju kedepan buat bersalaman. Diberikan wejangan satu per satu. Pas giliran Dafi mencium tangan Kyai Syarif, langsung Kyai memeluknya seperti anak dan Bapak yang lama ga ketemu.


"Nak Dafi .. makin gagah, bagaimana Ramadhan kali ini, sudah khatam berapa kali?" ucap Pak Kyai yang sangat bisa mengenali semua santrinya.


"Alhamdulillah ada kemajuan dibanding tahun kemarin Pak Kyai .. per tadi pagi saya sudah khatam empat kali" jawab Dafi sambil menunduk, ntah kenapa kalo melihat wajah Pak Kyai rasanya sungkan.


"Alhamdulillah .. ini hadiahnya" jawab Kyai Syarif sambil memberikan sebuah kotak ke Dafi, Dafi menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Inilah yang dianggap spesial oleh seorang santri, mendapatkan hadiah dari Kyai yang karismatik. Beliau punya hadiah untuk para santri jika berhasil khatam Al-Qur'an selama Ramadhan.


"Buka kotaknya" perintah Kyai Syarif.


Dafi membuka dan ada dua tasbih disana. Ada tasbih berwarna hitam dan hitam.


"Paham kan maksudnya?" tanya Pak Kyai.


"Afwan Pak Kyai .. ilmu saya belumlah tinggi untuk mengerti pesan ini" jawab Dafi merendah.


"Bertasbihlah pada Allah, nanti kamu akan menemukan jawabannya. Hidup itu pilihan .. ada hitam dan putih, tentukan dengan baik agar ga menyesal dikemudian hari. Bapak yakin kok kalo kamu itu sangat pandai buat paham pesan ini. Berpeganglah pada agama ya Nak.. biar selamat dunia akhirat" lanjut Pak Kyai.


"Baik Pak Kyai" jawab Dafi.


Selanjutnya Pak Kyai memberikan nasehat kepada semua sambil para tamunya menikmati kudapan sebelum waktu sahur.


"Gusti Allah iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan (Allah itu dekat meski tubuh kita tidak dapat menyentuhnya, jauh tiada batasan). Ingat 4 M .. Mohon, Mangesthi, Mangastuti, Marem (Selalu meminta petunjuk Allah untuk meyelaraskan antara ucapan dan perbuatan agar dapat berguna bagi sesama). Kita ini 3 N .. Natas, Nitis, Netes (Dari Allah kita ada, bersama Allah kita hidup dan bersatu dengan Allah lah tujuan nanti kita kembali)" nasehat Pak Kyai.


Makan sahur disana disajikan dalam nampan-nampan yang bisa dimakan buat empat orang. Dafi mendapatkan kesempatan yang belum pernah dia dapatkan, bisa makan senampan sama Pak Kyai dan anaknya.


Mereka semua makan dengan tertib, ga ada yang ngobrol. Makannya pun perlahan, ga buru-buru.

__ADS_1


"Ini Nak Dafi .. tugas orang tua kan harus menyuapi anaknya biar perut terisi, kalo perut terisi, tubuh kamu bisa bekerja dengan baik, jadi otak mendapatkan nutrisi buat berpikir" ucap Pak Kyai sambil menyodorkan suapan terakhir buat Dafi.


"Alhamdulillah Pak Kyai selalu memberikan kami makan yang cukup baik makanan ilmu dan makanan untuk perut" jawab Dafi sambil membuka mulutnya menerima suapan terakhir dari Pak Kyai.


Ada waktu setelah sahur, Dafi diajak berbincang di ruang baca Pak Kyai.


"Nak ... sudah sepuluh tahun berlalu, masih saja kamu berkorban buat orang-orang yang kamu sayang. Ga salah ... tapi sekarang saatnya kamu bahagia. Datang ke rumah istri, silaturahim dengan keluarganya, terus bawa ke Jakarta buat silaturahim dengan keluarga kamu. Tujuannya biar saling menyelamatkan muka, apa kata saudara kalo kalian ga satu tempat saat hari raya. Semoga momen ini bisa kamu manfaatkan buat memfitrikan hati. Jangan lupa silaturahim ke Ciloto ya, nanti ada sesuatu disana yang akan mengubah dunia istri kamu. Cepat diurus pernikahannya secara resmi sama istri, udah pas itu jodohnya. Tapi memang cobaannya kamu harus ekstra sabar, istri kamu ini kan dari latar belakang yang berbeda, mau ga mau pola pikir pun berbeda. Jangan keras sama dia, aslinya dia cengeng" nasehat Pak Kyai.


"Baik Pak Kyai" jawab Dafi.


"Kayanya kamu di Semarang juga sebentar, nanti akan balik ke Jakarta lagi. Jangan lupa bawa main kesini istrinya ya" ucap Pak Kyai.


"Insyaa Allah Pak Kyai" jawab Dafi lagi.


"Nanti ba'da subuh, ikut sama rombongan anak saya ke Wonogiri ya, mau antar saudaranya pulang kampung. Kalo udah sampe Wonogiri, langsung bawa ke Jakarta aja istrinya, takbiran di jalan. Nanti sampe Jakarta kan sekitar subuh, masih bisa sholat Ied bersama keluarga" lanjut Pak Kyai.


"Baik Pak Kyai" kata Dafi lagi.


Dafi membayar dzakat fitrah buat dirinya, Qeena dan Mak Nuha lewat anaknya Pak Kyai Syarif. Tidak lupa mengeluarkan infaqnya juga. Khawatir mepet waktu.


Dafi sudah menelpon Qeena buat bersiap dia bawa ke Jakarta, sudah bilang juga ke Mak Nuha tentang rencananya.


Dafi menjalankan semua nasehat Pak Kyainya, Dafi diantar sampe rumah Mbahnya Qeena.


Suasana rumah ramai karena udah kumpul, aroma masakan khas lebaran pun mulai tercium. Memang kalo didaerah Jawa, hari raya idul fitri berbeda dengan di Jakarta, disana akan lebih ramai dihari ketujuh yang biasa disebut kupatan. Karena tradisinya tanggal dua Syawal langsung shaum Syawalan, silaturahim saling bermaafan pun sesuai sholat Ied langsung berbaris dan bisa sekampung barisannya.


Setelah basa basi sama keluarga, Dafi menyampaikan niatnya membawa Qeena ke Jakarta. Mak Nuha memutuskan buat ga ikut tapi mengijinkan Qeena ke Jakarta ikut Dafi selama empat hari.


Berat bagi Qeena dan Mak Nuha melewatkan idul fitri secara terpisah, tapi ini sudah keputusan final dan Mak Nuha lebih nyaman seperti itu. Dafi ga memaksa Mak Nuha ikut. Keluarga Mak Nuha pun mendukung langkah Dafi yang akan membawa Qeena.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Mas gimana sih, dari kemarin HP nya off. Dia kan orang sibuk ya ... kenapa HP bisa off" oceh Bu Fia sambil duduk santai di ruang tengah.


"Ya mungkin dia ada keperluan lain. Fajar kan udah bilang kalo H-1 mungkin baru berangkat dari sana" jawab Pak Dzul.


"Hari ini dong, keburu ga besok sholat bareng kita" kata Bu Fia.

__ADS_1


"Ya pasti dia kejar itu Bun" jawab Pak Dzul.


"Bunda ya .. kalo Mas ada, ga pernah diperhatiin, kalo Mas ga ada, malah dicariin" ujar Izma.


🌺


Rupanya di rumah hanya ada Mba Mini dan Mas Anto, karena Mba Parti, Mas Narko dan Mba Tinah jatah pulang kampung tahun ini. Rumah bagian luar dalam sudah dirapihkan termasuk rumahnya Dafi, bumbu juga sudah disiapkan, tapi yang namanya masak dalam jumlah banyak pasti repot.


Izma hanya bantu sekedarnya, Bu Fia malah ga bantu sama sekali karena khawatir haus kalo didepan kompor.


🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠🏠


Tahun ini sama seperti tahun sebelumnya, keluarga Aa' Zay akan berlebaran di rumah Pak Shaka di Pondok Indah, nanti hari kedua lebaran baru balik ke Ciloto.


Saino juga sudah ke rumah orang tuanya di Jakarta, kalo Agung akan sholat ied bareng keluarganya di Ciloto, baru setelahnya ke Jakarta menuju rumah orang tuanya Valencia. Damar juga sudah ada di Jakarta, tapi Mak Imah akan merayakan di Villa bersama karyawan Villa yang memang asli orang Ciloto.


Mak Imah udah terbiasa dalam suasana sepi ketika hari raya. Jadi ga menjadi beban, hanya tahun ini merasa sedih karena hubungan sama keluarga sebenarnya sudah membaik, hanya karena ga mau bertemu sama Iyuslah yang membuat Mak Imah memutuskan buat menjauh sejenak dari keluarganya.


Menurut keluarga Mak Imah, sudah beberapa kali Iyus mencari dirinya, merayu ke keluarga Mak Imah agar bisa rujuk sama Mak Imah. Bahkan Nyaknya Iyus pun ikut datang buat meminta maaf.


🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒


Selepas Dzuhur, Dafi dan Qeena diantar sama Pakdenya Qeena menuju terminal memakai dua motor. Dafi yang memboncengi Qeena. Sedangkan Pakdenya Qeena memboncengi anaknya. Awalnya Dafi akan pakai travel aja, tapi travel dari Wonogiri sangat jarang yang menuju Jakarta, jadinya diputuskan buat naik bus.


Sesampainya di terminal, Dafi dan Qeena mencari bus yang tercantum di tiket yang tadi siang sudah dibeli sama Dafi.


Mereka berdua naik bus double decker yang kelas eksekutif (bus tingkat yang mewah, hanya tersedia tiga puluh empat seat dalam satu bus. Terbagi kelas eksekutif dan ekonomi. Kelas eksekutif hanya menyediakan enam seat aja dengan komposisi dua sebelah kanan dan satu sebelah kiri. Ada pemisah tirai dengan kelas ekonomi, bagian atas juga termasuk kelas ekonomi. Tadinya Dafi mau mencari sleeper bus tapi ga ada kalo pemberangkatan dari Wonogiri. Harga tiketnya mencapai hampir lima ratus ribu per seatnya dan full toll trans Jawa, rutenya Wonogiri-Solo-Jakarta).


Sebelum naik ke bus.


"Mas .. ini kan bus berangkat jam dua siang, nanti buat berbuka gimana? mau beli dulu ke minimarket? masih ada waktu kok" kata Qeena.


"Kita dapat snack box dan makan malam kok, kalo kelas eksekutif ada dispenser air panas buat bikin mie instan cup kalo mau. Untuk teh dan kopi juga disediakan disana secara free" jelas Dafi.


"Berarti beli minum aja?" tanya Qeena.


"Iya .. Mas air mineral aja belinya, kamu mau apa?" kata Dafi.

__ADS_1


"Sama aja Mas" jawab Qeena.


Dafi yang ke minimarket, Qeena udah duduk didalam bus. Setelah membeli minuman, Dafi naik kedalam bus dan duduk disebelah Qeena. Kondektur bus membagikan snack box untuk enam orang yang memesan seat di kelas eksekutif.


__ADS_2