ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 97, Menunggu di Bandara


__ADS_3

Aa' Zay lagi ada undangan buat para pengusaha dibidang pertanian ke daerah Jambi. Dia akan naik pesawat dari Soekarno Hatta. Saino yang anter dia ke Bandara. Rencananya akan pergi selama tiga hari disana. Aa' Zay berangkat sendirian karena Saino dan Agung akan sibuk nerima tamu saat Aa' Zay pergi.


Setelah sampe di Bandara Soetta, Dafi baru dapat pemberitahuan ada delay pesawatnya. Akhirnya dia menunggu di ruang tunggu, temannya sedang asyik mabar (main bareng) game online di HP nya masing-masing.


Aa' Zay duduk disebelah Dafi, dia sedang video call dengan anak-anaknya. Zavier dan Zayda sudah besar tapi belum pernah naik pesawat sekali pun, jadi sangat antusias sekali melihat pesawat. Tadi Aa' Zay sempat mengirim beberapa video pesawat yang ada di Bandara.


"Ayah ... nanti Aa' beliin pesawat kaya gitu ya" pinta Zavier dengan polosnya.


"Kan Aa' udah sering dibeliin pesawat-pesawatan" sahut Aa' Zay.


"Tapi ga bisa terbang kaya yang di video Ayah. Aa' mau yang bisa terbang" jawab Zavier.


"Nanti ya kalo Aa' udah besar .. jadi pilot, jadi bisa liat pesawat sambil terbang" sahut Aa' Zay.


"Dede Zayda juga mau Yah naik pesawat, pesawatnya bawa pulang ya Yah" timpal Zayda.


"Turun dimana pesawatnya? kan ga ada lapangan didekat rumah kita" jawab Aa' Zay dengan sabar.


"Villa punya Kakek Ayah kan besar lapangannya (anak-anak Zay memang manggil Pak Shaka seperti ini karena pernah mendengar kalo Erin dan Aa' Zay memanggil Pak Shaka dengan sebutan Ayah, sedangkan anak-anak diminta memanggil Kakek. Jadilah dipanggil Kakek Ayah)" kata Zavier.


"Ga muat A' .. pesawat itu besar, nanti ya kalo ada rejekinya kita naik pesawat bareng-bareng, biar Aa' tau seberapa besarnya pesawat" ujar Aa' Zay.


Setelah puas ngobrol sama anak-anak, Aa' Zay memasukkan HP nya ke tas.


"Anaknya ya Mas? lucu-lucu" buka Dafi.


"Iya ... ya masih lucu-lucunya, saya baru sebentar aja ninggalin rumah udah kangen jadinya sama mereka" sahut Aa' Zay.


"Inget jaman masih kecil saya tuh teriak-teriak ... kapal bagi duit .. kapal bagi duit" cerita Dafi.


"Ya itulah celotehan anak, masih polos apa adanya dan selalu bikin kita rindu selalu dekat sama mereka" jawab Aa' Zay.


"Mau ke Jambi juga Mas?" tanya Dafi.

__ADS_1


"Iya ... ga taunya delay ... ya sabar deh" kata Aa' Zay.


"Oh ya saya Dafi ... Mas kesana pulang kampung atau apa ya? keliatannya bukan orang sana" ujar Dafi basa basi.


"ada undangan aja kesana .... saya Zay" kata Aa' Zay sambil menyodorkan tangannya.


"Keren namanya ... dengan logat rada Sunda gini .. biasanya sama orang sekitar pasti jadi dipanggil Jay" jawab Dafi sambil menyambut uluran tangan Aa' Zay.


"Tau aja nih ... saya di kampung dikenalnya dengan panggilan Aa' Zay, saya anak tertua jadi adik panggilnya Aa' eh malah semua ikutan" ujar Aa' Zay.


"Saya ikutan aja deh panggilnya Aa' Zay" sahut Dafi.


"Mangga ... bebas aja saya mah" jawab Aa' Zay.


Aa' Zay mengeluarkan plastik yang didalamnya ada bungkusan dari kertas nasi. Susah payah Dafi menahan ketawa karena melihat kresek dan kertas nasi coklat, teringat sama kaya bungkusan Ibu-ibu kalo habis pengajian.


"Jangan ketawa... nanti kalo udah punya istri akan mengalami hal kaya gini" kata Aa' Zay dengan santainya.


"Nah itu .. hampir selemari khusus deh istri saya beli kotak makan, warna warni sampe yang satu set piring gitu deh, ini semua gegara saya dibawain bekel terus tempatnya lupa saya bawa pulang, sekarang ga boleh bawa lagi. Maklum merek Tappywer kan nge-hits banget dikalangan Ibu-ibu tapi bikin ribet, dibeli tapi ga boleh dipake, ga tau kenapa begitu. Saya bilang mah kalo pajangan jangan plastik, ga ada indah-indahnya. Lagian kalo buat investasi juga ga bisa, emang plastik harganya bakalan naik dari tahun ke tahun?" ujar Aa' Zay sambil menyodorkan sebungkus kertas nasi ke Dafi.


"Kok bisa ya?" tanya Dafi heran.


"Entahlah... makanya sekarang kalo dibawain makanan selalu pake kertas nasi gini, biar langsung dibuang katanya" tambah Dafi.


"Saya belum pernah tuh diomelin Bunda waktu tempat makan saya ketinggalan jaman sekolah dulu" ucap Dafi.


"Ada dua kemungkinan... kamu anak sultan jadi kotak makanan harganya ga ngaruh buat Ibu kamu, atau mereknya pasti bukan Tappywer" terka Aa' Zay.


"Kayanya sih bukan merek itu, inget-inget dulu jaman saya kecil mah mereknya macanstar" jawab Dafi.


"Makanya sekarang anak-anak saya juga dibeliin merek macanstar aja deh, daripada Ibunya ribut aja kalo tuh tempat makan ketinggalan. Namanya anak-anak ya, kadang udah buru-buru mau pulang atau mau main jadinya tuh barang akhirnya ketinggalan, sampe rumah Ibunya marah-marah terus heboh ke sekolahan lagi cuma buat nyari tuh tempat makan dan tempat minum. Saya aja udah tiga kali ini Mas kena gantiin, jadi saya kan petani ya, suka dibawain makanan, dipakein lah tuh satu set Tappywer eh saya sibuk terus ketinggalan, kena ganti lima ratus ribu, akhirnya daripada gantiin mulu ya mending gini aja deh pake kertas nasi, langsung buang. Lagian harga plastik begitu aja mahal" curhat Aa' Zay.


"Unik ya berumah tangga itu" lanjut Dafi.

__ADS_1


"Unik banget, nanti juga kamu ngerasain sendiri" jawab Aa' Zay.


"Ini apa ya A'?" tanya Dafi saat menerima bungkusan dari Aa' Zay.


"Roti gandum isi selai srikaya .. enak deh .. cobain aja, homemade nih, ga ada dimana-mana. Untung tadi istri saya bilang bawa aja buat iseng-iseng di jalan, lumayan buat ganjal perut" kata Aa' Zay.


"Orang Indonesia sekali ya .. roti buat makanan iseng, makasih ya rotinya" jawab Dafi lagi.


Dafi membuka bungkusan kertas nasi, rada malu juga sih, tapi dia melihat Aa' Zay dengan santainya makan roti tersebut.


Pas gigitan pertama, Dafi merasa ga asing sama roti dan selai tersebut. Banyak emang roti dan selai dengan merek ternama, tapi rasa ini sangat familier di mulutnya.


"A' .. roti ini buatan istrinya Aa'?" tanya Dafi spontan.


"Bukan .. pesan sama tetangga dekat rumah, dia usaha roti dan selai, eh tapi apa aja deh sekarang usahanya, pinter bikin kue soalnya" celoteh Aa' Zay.


"Rasa ini khas banget A' .. seakan dekat sama keluarga" ucap Dafi.


"Ada kenangan sama roti dan selai srikaya?" tanya Aa' Zay.


"Kenangan sih ada sedikit, tapi mengingatkan saya tentang perjuangan wanita-wanita hebat yang pernah saya kenal" ujar Dafi.


"Wanita hebat?" ucap Aa' Zay heran.


"Ya A' .. dulu saat saya TK ada wanita paruh baya berdagang roti bakar seorang diri. Berjuang mencari nafkah setelah suaminya meninggal. Tanpa ada anak dan saudara, beliau bertahan di Ibukota yang terkenal kejam. Kadang membagikan roti secara gratis ke pengemis dan anak-anak sekolah yang sudah kehabisan uang jajan. Baginya hal itu adalah bentuk sedekah yang beliau bisa bagi. Terus Ibu ini membantu seorang Ibu lagi beserta putrinya yang terlunta-lunta di Jakarta. Mereka hidup bertiga terlihat bahagia. Gambaran keluarga yang harmonis. Segala cobaan mereka lalui bertiga hingga ada yang merasa iri sama kemajuan para wanita tangguh yang hebat nyari duitnya ini. Usaha pun terancam gulung tikar, pemilik roti bakar meninggal dan Ibu serta anaknya harus balik kampung. Ayah saya sudah respect terhadap anaknya sejak kecil, makanya Ayah berjuang biar anak ini sekolah di Jakarta. Mereka di Kampung bahu membahu mencari nafkah, bahkan anaknya sejak SMP sudah ikut kerja. Saat diijinkan ke Jakarta, baru aja masuk SMA beberapa bulan, mereka terus menghilang tanpa jejak. Sebulan yang lalu Ayah berhasil menemukan keberadaannya, tapi Ayah bilang kalo dia udah bahagia" cerita Dafi.


"Hebat ya Ibu anak itu. Kok hampir sama ya kaya tetangga saya yang jual roti ini. Saat datang ke daerah saya, anak ini dalam kondisi putus sekolah. Padahal saya rasa dia anak yang pandai, akhirnya dia melanjutkan homeschooling, kerja di Klinik dan bantuin bebenah di rumah saya. Ibunya dulu bikin roti sendiri, tapi sekarang anaknya ikut bantuin. Saya suka kasian liat anaknya, perempuan... masih muda .. tapi dipaksa dewasa sebelum umurnya. Ga pernah anak ini mengeluh ke kami atau ke Ibunya, semua dikerjakan dengan penuh senyuman. Dia sekarang sedang merintis usaha rotinya, memakai jaringan toko online sayuran yang saya punya. Memang belum maksimal, tapi setiap hari ada aja pesanan makanan. Kalo ngeliat dia, seperti melihat istri saya saat muda dulu, tapi bedanya wanita ini lebih tangguh dan lebih berani. Padahal ya ... dengan wajah cantiknya, dia bisa aja hidup senang. Banyak para juragan, rekan kerja bahkan sepupu saya jatuh cinta sama dia ... tapi dia lebih memilih kerja keras daripada berpangku tangan. Cita-citanya punya toko roti dan kue, jadi bisa menyerap tenaga kerja wanita yang bernasib sama seperti dia. Sudah saya bilang kalo sulit berkembang di daerah yang sekarang. Daerah kami kan Kampung, belum familier makan roti atau kue, lakunya tuh tutug oncom. Semoga setelah lulus homeschoolingnya, dia mau menerima tawaran saya buat merintis usaha kue dan rotinya di Tebet, saya punya ruko disana, menyatu sama toko sayur online saya, sayang aja bagian atas masih ga terpakai secara maksimal. Ya kita tunggu aja keputusannya" papar Aa' Zay.


"Wanita emang makhluk yang hebat ya A' .. kadang kita memandang mereka kaum lemah, padahal mereka punya ribuan cerita yang bikin kita merasa kecil dihadapannya" kata Dafi.


"Makanya ... saya selalu berusaha mendukung wanita yang ingin berdikari, para pejuang keluarga... agar mereka bisa mengubah nasibnya. Karena do'a-do'a para wanita ini makbul adanya. Saya udah ga ada Ibu ... tapi ada do'a para wanita hebat dibelakang saya yang membuat semua usaha saya bisa seperti sekarang" kata Aa' Zay.


Pengumuman agar para penumpang naik ke pesawat sudah berkumandang. Aa' Zay dan Dafi saling bertukar nomer HP karena Dafi tertarik buat beli selai srikaya yang baru aja dia nikmati.

__ADS_1


__ADS_2