
"Mas kayanya tidur mulu deh" protes Qeena yang baru masuk kamar dan melihat Dafi baru bangun.
"Ini juga tidur colongan. Dari kemarin di bus sampe tadi sore kan belum tidur. Kalian mah enak di mobil bisa tidur, Mas kan nyupir .. mana bisa tidur. Jam berapa sekarang?" tanya Dafi.
"Sebelas" jawab Qeena sambil melepaskan jilbabnya terus menuju kamar mandi.
Tadi sampe rumah masih jam lima kurang, Dafi sempat tidur sampe Maghrib, kemudian ba'da Maghrib silaturahim ke rumah Pak RT dan Pak RW sampe jam delapan malam, abis itu pulang terus sholat dan makan. Balas-balas chat di HP nya selama tiga puluh menit terus ketiduran, baru jam sebelas ini dia bangun karena ga ngeliat Qeena di kamarnya. Soalnya tadi pas balas-balas chat, Qeena lagi video call sama Mak Nuha dan saudara-saudaranya di kamar.
Qeena keluar dari kamar mandi.
"Mas .. pinjam kaos buat tidur ya sama celana karet punya ngga?" ujar Dafi.
"Ada dilemari. Emang ga bawa baju lagi?" tanya Dafi.
"Ya ga banyak. Tadi nyuci dulu tuh baju-baju kita, udah dijemur juga. Baju tinggal dua stel, besok kan buat ke Ciloto sama buat pulang" jelas Qeena.
Qeena membuka lemari bajunya Dafi yang rapih. Dia lagi liatin isinya, mencari kaos yang keliatannya udah lama karena sekedar buat tidur.
"Nyari apa sih?" tanya Dafi yang udah dibelakang Qeena.
"Bajunya ga ada yang udah lama Mas? masih pada bagus ini warnanya" jawab Qeena.
"Baju-baju ini kan emang jarang dipake, ya Mas di rumah ini paling setahun beberapa hari aja, wajar kalo masih bagus semua" kata Dafi.
Dafi lalu mengambil baju dan celana buat Qeena.
"Nih pake .. kaos ini kayanya beli dua tahun yang lalu, udah rada ngepas di Mas, kamu pake aja" kata Dafi.
Qeena melihat baju yang dipilihkan sama Dafi. Baju kaos lengan pendek yang pastinya masih longgar ditubuhnya Qeena.
"Ya udah deh .. gapapa keliatan tangan, tapi ini celana bola kenapa diminta pake? paha bisa kemana-mana ini mah ... ga beres nih Mas Dafi" ucap Qeena dalam hatinya.
"Ya udah sana ganti baju, apa mau digantiin?" ledek Dafi.
"Ngga .. ini ga ada celana yang panjang Mas? masa pake celana bola gini" ujar Qeena.
"Kalo celana panjang Mas bisa kepanjangan banget sama kamu" jawab Dafi.
"Sirwal Mas aja deh yang tujuh perdelapan itu loh" kata Qeena.
"Ada tuh dibagian bawah, ambil aja" tunjuk Dafi yang lagi ambil air mineral dalam kemasan gelas.
Qeena bergegas kembali ke kamar mandi buat berganti baju. Kamar dikunci sama Dafi dan kuncinya diletakkan di nakas sebelah tempat tidur, setelah itu dia kembali tiduran sambil mematikan HP nya.
Qeena keluar dari kamar mandi, pakai kaos oblong dan celana sirwal yang tampak kebesaran dan jadi celana panjang ditubuhnya Qeena.
Walaupun bisa dibilang ga terbuka, tapi dengan tampilan seperti itu, ditambah rambutnya dikuncir kuda, menambah kesan seksi yang berbeda dari Qeena.
"Kenapa liatin sampe begitu banget?" ucap Qeena sambil naik ke ranjang dari sisi yang berbeda.
"Seksi banget sih Neng" puji Dafi.
"Seksi dari mana sih Mas? pake baju aja kegedean, terus celana juga kepanjangan gini" lanjut Qeena.
"Justru itu... dimata Mas tuh pokoknya kamu seksi bukan kepalang" kata Dafi.
__ADS_1
Dafi menuju arah pintu dan menekan tombol saklar lampu, penerangan kamar hanya dari satu lampu dibagian atas ranjang.
Tanpa basa-basi, Dafi langsung memeluk tubuh Qeena yang baru rebah di ranjangnya.
"Mas .. kok dimatiin sih" ucap Qeena pelan.
"Melihat wajah kamu dalam cahaya temaram gini lebih cantik" jawab Dafi.
Posisi tubuh Dafi udah berada diatas tubuh Qeena, keduanya hanya saling menatap tanpa suara. Tangan Dafi melepaskan kunciran rambutnya Qeena.
"Mas mau ngapain?" tanya Qeena mulai was-was.
"Kita lakukan malam ini ya Neng... Mas kayanya udah ga kuat nih nahan hasrat Mas sendiri" bisik Dafi jujur.
"Jangan dong Mas .. kita kan belum sah secara negara, ntar kalo kenapa-kenapa ya repot" jawab Qeena.
"Tapi Neng..." bujuk Dafi.
"Lagian Mas .. kan tau sendiri kalo Qeena lagi haid" ingat Qeena.
"Astaghfirullah ... lupa Mas ..." ujar Dafi nepok jidatnya.
"Makanya jangan suka main gelap-gelapan kalo belum bisa nahan keinginan" ucap Qeena.
"Ya namanya udah naik euforianya" lanjut Dafi.
"Udah tidur sana .. besok kan mau ke Ciloto nanti ngantuk malah bahaya" ujar Qeena sambil merapikan rambutnya Dafi.
Dafi yang udah bertegangan tinggi benar-benar merasakan getaran yang makin kuat karena sentuhan Qeena.
Dafi makin merasakan sebuah sensasi berbeda yang timbul dalam dirinya, seperti ada sebuah energi yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang tergolek manja didepannya. Sebuah getaran dihatinya yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan Qeena untuk kebahagiaan orang sekitarnya.
Kembali Dafi meresapi kenangan-kenangan manis antara dia dan Qeena dulu. Gadis kecil yang selalu ceria dan gigih walaupun dengan segala keterbatasan kondisi dan ekonomi. Dirapihkan rambut Qeena yang ada di wajah manisnya. Wajah yang jika dipandang bisa menjadi pahala buat keduanya.
"Kenapa kamu bisa berdamai dengan keadaan saat dunia ga ramah sama kamu Qeena, kamu hadir disaat hati Mas sudah bersama yang lain, tapi tiba-tiba Mas bisa langsung merasakan cinta .. hal yang ga terjadi sebelumnya, biasanya Mas ada rasa ketertarikan dipandangan pertama tapi akan mencari tau dulu tentang wanita itu, kalo sreg Mas lanjutkan. Memang kita kenal sejak lama, tapi dulu ga ada perasaan lebih dari seorang kakak terhadap adiknya. Kenapa juga wajah lugumu mampu membuat hasrat kelaki-lakian Mas selalu muncul dan selalu ingin tersalurkan dengan cara yang baik. Didekat wanita lain, Mas pernah duduk berdekatan, tapi ga ada deg-degan kaya gini. Sejak ijab kabul terjadi, setiap memandangmu apalagi berdekatan, selalu ada keinginan lebih dalam untuk menyentuhmu..." ucap Dafi dalam hati sambil terus memandang wajah Qeena yang makin eksotis dalam balutan cahaya yang remang.
Qeena juga seperti terpesona sama Dafi, bak mangsa yang sudah berada ditangan pemburu, menyerah pasrah.
"Ah sudahlah... kalo emang harus terjadi malam ini ya mau gimana lagi... walaupun ga bisa berhubungan suami istri kan masih bisa yang lain ... baca do'a dulu deh, Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna" ucap Dafi yakin berkata dalam hatinya.
Kemudian dia makin merapatkan tubuhnya ke Qeena hingga melingkarkan tangannya di pinggang Qeena. Jelas aja Qeena makin bingung sama pelukan Dafi yang sudah sangat erat.
Dafi langsung mencium bibir Qeena, tapi ada insiden kecil, mungkin karena terlalu terburu-buru, gigi keduanya malah beradu dan mengeluarkan bunyi. Meski pelan, tapi membuat keduanya merasa canggung.
"Aduh Mas ... sakit kan giginya" protes Qeena.
"Sorry..." jawab Dafi.
Kemudian mereka masih melanjutkan ciuman tersebut, tanpa disadari, tangan Dafi berada diatas rambut Qeena, jadi saat Qeena sedikit bergerak jadi berasa seperti kejambak. Keduanya malah jadi ketawa bareng.
"Aduh... pedes banget deh rambut Qeena rasanya, tangan Mas berat juga nih nibanin rambut" ucap Qeena.
"Maaf ya... Mas ga sadar .. sakit ya" ucap Dafi sambil mengusap rambut Qeena dengan lembut.
"Pedes .." kata Qeena sambil mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Kayanya kita mah ada aja ya .. yang tabrakan gigi ... segala kaya jambak rambut .. yang lain kaya gini juga ga sih?" tanya Dafi.
"Ga tau ... kan kita ga pernah liat" jawab Qeena.
Dafi makin menjadi menghujani Qeena dengan cumbu mesra, Qeena pun ga menolak atas perlakuan Dafi padanya.
"Sayang ga bisa lebih dari belaian dan kecupan ya Neng" goda Dafi.
Qeena makin malu digoda seperti itu.
"Mas .. kenapa tadi nyium kening didepan semua orang?" tanya Qeena setelah keduanya berpelukan sambil tiduran.
"Karena kalo cium bibir kaya tadi khusus kali kita berdua aja" jawab Dafi santai.
"Kan Mas kalo ditanya pasti jawabannya gitu deh" protes Qeena.
"Neng ..ciuman pada kening itu ekspresi lembut dari seorang cowok buat nunjukin rasa penuh kasih sayangnya. Ciuman pada kening jauh sekali dari kata nafsu. Mas ingin semua keluarga tau kalo Mas sayang sama kamu" jawab Dafi.
⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️
Kemarin saat Dafi tiba di rumah bersama Qeena , sempat ada keributan kecil antara Dafi dan Fajar di lantai atas.
Fajar menarik Dafi untuk masuk ke kamarnya.
"Kenapa sih Mas harus kasih harapan baru lagi ke Qeena .. bukannya Mas udah kecewa sama tindakannya?" tanya Fajar.
"Nanti kamu tau sendiri kenapa Mas harus bersikap cuek sama dia sepuluh hari yang lalu, Mas lakukan karena ada sesuatu yang belum bisa Mas ceritakan" jawab Dafi.
"Lepasin dia Mas ... dia berhak bahagia atas pilihannya sendiri" ucap Fajar.
"Bahagia? dia udah bahagia kok sama Mas. Dia juga udah membuka diri dan mau menjadi istri Mas" bela Dafi.
"Dia terpaksa Mas ngelakuin hal itu, cuma demi keluarganya dia rela menjual diri ke Mas" lanjut Fajar.
"Menjual diri? kamu jangan lupa ya Jar .. Mas udah ijab kabul sama dia. Itu sah secara agama. Dibagian mana dia menjual dirinya?" tanya Dafi.
"Mas .. semakin menghindar dari dia dan menerima dia sebagai kakak ipar, makin sakit rasanya Mas. Dia udah jadi cinta pertama dan akan terus ada rasa ini" ucap Fajar.
"Hentikan perasaan lebih itu Jar .. terima kenyataan juga kalo dia udah memilih Mas dibandingkan kamu" kata Dafi.
"Fajar ga percaya kalo Mas bener-bener sayang sama dia dan dia rela menjadi pendamping Mas" ujar Fajar.
"Dengan cara apa Mas buktikan biar kamu percaya?" tantang Dafi.
Fajar terdiam, Dafi keluar dari kamarnya Fajar menuju kamarnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Maafin ya Neng kalo Mas lakuin itu buat ngebuktiin ke Fajar kalo Mas sayang sama kamu dan kamu ga menolak Mas" ucap Dafi dalam hatinya sambil mengusap rambutnya Qeena.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Jam dua belas malam baru keluarga Mak Nuha bisa ngelempengin pinggang, sedari siang rasanya ga berhenti warung baksonya melayani pembeli. Semua keluarga udah ikut turun tangan, dibagi-bagi tugas. Dari mulai nyuci mangkok dan gelas, bagian kasir, bikin bakso, melayani pembeli hingga memasak kuah dan menyiapkan pendamping bakso (mie kuning, bihun, seledri, sambal).
Untuk pembayaran ke tiap orang Mak Nuha yang atur. Sudah sejak dari awal disepakati bersama kalo usaha ini milik Mak Nuha dan saudara hanya sebagai karyawannya.
__ADS_1