
"Mas ... Alhamdulillah ada tawaran ikut Bazaar selama dua bulan kedepan sama komunitas peduli kesehatan. Bazaar akan diadakan hari Kamis dan Jum'at diberbagai Rumah Sakit di Jabodetabek, boleh ga?" tanya Qeena saat udah santai menjelang tidur.
"Terus atur jadwal kita ketemu gimana?" tanya Dafi.
"Jadi Sabtu sampe Selasa, Qeena tinggal di Semarang, Rabu sampe Jum'at di Jakarta. Ini kesempatan Mas buat mengembangkan jaringan bisnis Qeena. Kan bagus buat link nya, apalagi mau fokus ke kue-kue yang lebih sehat, mungkin ini jalannya" papar Qeena.
"Kamu udah pikir kemampuan produksi dan lainnya?" tanya Dafi.
"Udah Mas, kemarin udah ngobrol sama yang biasa ikut Bazaar. Ini kesempatan buat pengusaha online kaya Qeena gini" jawab Qeena.
"Tapi ya tetap prioritas kita punya anak ya tahun ini, Mas ga mau malah itu kamu kalahin. Mas juga lagi daftar tes masuk universitas lagi, bulan depan udah di Jakarta kok kerjanya, Mas udah ijin tiga tahun kedepan tetap stay di Jakarta kalo lulus lanjutin kuliah. Nanti baru deh ikut penempatan diluar lagi biar cepat naik jabatan dalam karier. Makanya semua udah Mas rencanakan dari sekarang. Kita punya anak minimal satu dulu, bisnis kamu dalam waktu tiga tahun juga harus udah stabil, punya tim tersendiri jadi ga perlu kehadiran kamu buat produksi, semua udah ada SOP nya. Mas juga akan berusaha lulus kuliah tepat waktu. Tau sendiri kan kerja sambil kuliah pasti ada waktu yang akan berkurang buat kebersamaan kita. Kamu harus bisa berjuang bareng, jangan bertindak tanpa pikir panjang lagi, tetap harus satu kata .. ikutin semua komando Mas" lanjut Dafi.
"Iya Mas... kalo semua step yang Qeena rencanakan berhasil, hasilnya ada, ini bisa buat nutup biaya pernikahan Bapak yang Qeena pakai kemarin. Ini sebuah kesalahan terbodoh yang Qeena lakukan, jadi akan coba bertanggung jawab terhadap uang tiga puluh juta itu" jawab Qeena.
"Bagus kalo mau tanggung jawab, tapi jangan jadi beban. Simplenya ini terakhir kali kita bantu Pak Iyus dengan cara memberikan begitu aja. Kedepannya coba kamu pikirin gimana Pak Iyus bisa berusaha buat nyari uang sendiri. Apalagi sekarang udah berkeluarga. Kan udah kita modalin buat daftar ojol dan motor, kalo itu ga jalan, coba kamu pikirin apa bisa Pak Iyus jadi kurir kamu buat antar pesanan kue. Bukan terkesan menyuruh orang tua ya, tapi ini buat kebaikan Pak Iyus juga, biar ga selalu bersikap tangan dibawah mulu. Pak Iyus kan seorang suami yang harus berjuang buat keluarga" saran Dafi.
"Iya Mas, nanti rencananya mau ketemu sama Bapak dan Mba Rida di rumah Nyai. Mau mulai bicara dari awal lagi" kata Qeena.
"Atur aja, tapi tetap ya, hormati Pak Iyus sebagai Bapak kalo beliau mau jadi kurir kamu. Jangan terkesan ngebudakin orang tua .. ngerti kan maksudnya Mas?" tanya Dafi.
"Iya Mas" jawab Qeena.
🌺
Qeena juga udah trial membuat cookies gluten free yang sudah di tes makan ke Rian. Rian suka dan ga tampak adanya alergi atau perubahan emosi yang buruk dari Rian. Cookies sederhana dari gula palem dan tepung mokaf (dari singkong) serta margarin tanpa telur. Selain itu bikin lemon cake gluten free. Ilmu dari Chef Ale sangat terpakai buat merancang membuat kue gluten free.
🍒
Sebulan kemudian....
Sabtu siang Dafi sudah sampai rumah di Jakarta karena baru bisa jalan dari Semarang subuh tadi. Qeena lagi buka stand diseminar tentang kesehatan. Dafi udah tau rencana kegiatan Qeena sejak Minggu kemarin karena Qeena pasti bilang setiap ada buka stand bazaar. Kebetulan juga Fajar lagi libur praktek jadi pulang ke rumah. Makan malam semua ada kecuali Qeena, Mas Anto dan Mba Mini yang ikut bazaar. Selepas makan, semua berbincang banyak hal.
"Maafin Qeena ya Mas, belum pulang juga nih udah lewat isya, padahal ga biasanya pulang malam kaya gini" buka Mak Nuha.
"Gapapa Mak, udah bilang kok, katanya hari ini diajak makan sama panitia seminar dan bazaar, ya kan karena diajak mereka jadinya dagangan Qeena dikenal lebih luas kaya sekarang" jawab Dafi.
"Tenang aja Nuha, Mas Dafi ini bukan tipe lelaki yang cemburuan kok" ucap Bu Fia.
"Ya Mak... Mas Dafi itu laki-laki paling santai sedunia deh, wong dulu calon istrinya jalan sama laki-laki lain juga biasa aja" tambah Fajar.
"Apaan sih bahasnya, Mas mau istirahat dulu ya, cape dari kemarin lembur terus" pamit Dafi.
🌺
Qeena baru pulang jam sebelas malam. Hujan deras dan weekend membuat jalanan jadi macet, jadinya dia pulang agak malam.
Udah telepon ke Dafi tapi kedua HP miliknya Dafi off. Semua orang udah masuk ke kamar masing-masing. Qeena pun langsung bergegas ke kamarnya di lantai atas. Dilihatnya kamar terang benderang dan tampak Dafi tertidur lelap berselimut bed cover. Qeena langsung ke kamar mandi, buru-buru mandi agar bau badannya ga tercium sama Dafi.
Ketika keluar kamar mandi...
"Makan malam sampe jam berapa emangnya?" kata Dafi yang udah duduk di bangku santai yang menghadap pintu kamar mandi.
"Kagetin aja deh Mas" ucap Qeena sambil menghampiri Dafi, tubuhnya masih terbalut kimono handuknya.
Qeena langsung duduk dipangkuan Dafi yang mukanya udah ga bersahabat. Bersender didadanya Dafi dan melingkarkan tangannya dileher Dafi.
__ADS_1
"Maaf ya... tadi keenakan ngobrol, tau-tau udah jam setengah sembilan malam, eh jalanan macet pula karena ujan" ucap Qeena memandang ke arah wajah Dafi yang terpejam matanya.
"Udah sholat belum?" tanya Dafi.
"Udah" jawab Qeena.
"Tadi pagi haid?" tanya Dafi serius.
"Iya .. maaf ya belum berhasil juga rencana kita" jawab Qeena.
"Kayanya udah saatnya konsul ke dokter deh, udah nikah empat bulan dan belum ada tanda-tanda kehamilan. Ya bagian ikhtiar kita" lanjut Dafi.
"Iya Mas.. kita jadwalin aja ya" ucap Qeena.
"Kamu coba tanya Fajar atau kenalan kamu buat rekomendasi dokter yang enak buat diajak konsul. Senyamannya kamu aja" kata Dafi.
🍒
Paginya Fajar dan Dafi lagi ngobrol santai aja. Awalnya membahas tentang Fajar, malah ujung-ujungnya bahas para "fansnya" Qeena.
"Itu Qeena ikut bazaar, tolong diperketat pengawalan Mas. Katanya Mas Anto dan Mas Narko, bossnya yang bikin rangkaian bazaar itu selalu datang sekarang kalo Qeena buka stand. Duda tuh mas, masih muda katanya belum tiga puluh tahun" buka Fajar.
"Makin banyak amat fans nya ya" ujar Dafi.
"Itu belum seberapa Mas.. kan Bunda pernah ngamuk pas bawa Qeena ke party. Masa Qeena ditawar sama om-om, kan biasa tuh mas kalo party sosialita gitu, adalah oknum yang bawa daun-daun muda baik laki-laki atau perempuan yang bisa diajak ngamar. Bunda disangka mucikari kelas kakap, terus dideketin tuh sama om-om kaya, masa ditawar seratus juta buat diajak ngamar semalam, mana tuh cek udah ditandatanganin buat transaksi, walhasil habis tuh om-om diguyur air sama Bunda .. hahaha" kata Fajar.
"Ga cerita ya Bunda dan Qeena, nanti Mas coba selidikin semua dulu deh, kalo berbahaya buat rumah tangga Mas ya mau ga mau cabut dari bazaar itu" ujar Dafi.
"Jangan ribut tapi Mas, nanti Mas sendiri yang rugi, ga dapat senyum manis istrinya. Ya tarik ulur lah sama Qeena, dia masih muda, masih gampang cari yang lebih segalanya dari Mas kalo dia mau" ucap Fajar.
"Ya kan Mas ga cukup lama kenal sama dia, beda sama Fajar" lanjut Fajar.
"Kok kedengarannya beda ya ... coba waktu Mas nolak nikah sama dia, kamu yang maju, pasti kamu jadi suaminya sekarang" ucap Dafi.
"Ga gitu juga Mas maksudnya, tapi menang banyak nih Mas Dafi. Dapat istri cantik kaya gitu, mana baik sama semua orang dan mau kerja keras. Ya ga bisa Fajar sesali juga sih semuanya, udah jodoh. Fajar emang ga bisa berpikir jernih kalo dalam kondisi terdesak. Tapi gapapa Mas, ditangan Mas Dafi.. Qeena banyak berubah. Wajahnya selalu ceria, dikelilingi orang-orang yang sekarang udah sayang sama dia, apa aja yang mau dibeli atau dikasih ke orang tuh ga susah mikir kaya dulu. Kulitnya juga sekarang sehat, badannya proporsional dan Fajar liat dia ga pernah lagi hipotensi kaya dulu. Kalo liat dulu kan kurus banget, kaya tulang berbalut kulit" kata Fajar.
"Alhamdulillah" jawab Dafi.
"Oh ya .. kemarin Mak Nuha cerita, kenapa ga diproses hukum aja Pak Iyus? sampe Qeena belain segitunya" tanya Fajar
"Balik lagi .. sekejam-kejamnya orang tua, Qeena masih punya hati nurani" jawab Dafi.
"Emang Qeena baik banget. Kata Mak Nuha juga Mas kirim uang juga buat orangtuanya Pak Iyus" kata Fajar.
"Kasian Nyai, hidup dimasa tua masih dibebani sama Pak Iyus. Mak Imah dan Mak Nuha yang bantu buat mengirimkan sembako dan uang ke Nyai, soalnya kalo titip Pak Iyus ga bakalan sampe. Nyai sakit, perlu berobat rutin" jelas Dafi.
"Kalian emang orang baik ya .. Mas .. kemarin Fajar ketemu Mba Zahwa, dia di Jakarta. Tau ga ketemu dimana?" kata Fajar.
"Di Rumah Sakit kan? maag akut plus thypoid" jawab Dafi.
"Kok tau?" tanya Fajar.
"Bapaknya yang telpon Mas" jawab Dafi.
"Mas masih cinta sama dia?" tanya Fajar.
__ADS_1
"Dulu iya... tapi inilah jawaban do'a Mas, semua sudah Allah atur sesuai porsinya. Sejak Mas nikah malam itu, Mas ditunjukkan kepribadiannya Zahwa yang rapuh dan posesif. Allah tau tipe seperti itu ga akan cocok sama Mas yang ga suka terlalu dikekang. Bisa bubar jalan deh kalo nikah sama dia. Mas bersyukur Allah memberikan Qeena ke Mas. Seorang wanita strong, ga banyak nuntut, bisa mandiri" papar Dafi.
HP Dafi berbunyi, dari Bapaknya Zahwa.
"Danish.... tolong kamu angkat telepon dari Zahwa, dia ngamuk" kata Bapaknya Zahwa.
"Serahkan HP Bapak aja ke Zahwa ya.. kalo bisa di loud speaker sekalian biar semua bisa mendengar" ucap Dafi.
Terdengar ada suara marahnya Zahwa dan ditahan sama kakaknya.
"Assalamualaikum Zahwa... coba beristighfar ... tarik nafas panjang dan keluarin perlahan. Kendalikan emosi kamu.. ada masalah apa?" tanya Dafi.
"Mas ga angkat telepon, chat juga ga dibaca. Mas dilarang ya sama Qeena?" kata Zahwa.
"Qeena itu istri Mas. Apa yang Mas lakukan buat memblokir nomer kamu harusnya udah dari sejak Mas menikah. Tapi atas permintaan keluarga kamu, ga Mas lakuin. Tapi cukup sudah, Mas sudah mantap sama pilihan hidup Mas. Antara kita sudah berakhir sejak Mas mengucap ijab kabul sama Qeena. Maafin Mas ya Zahwa, sudah ada orang yang menunggumu buat hidup lebih baik. Dia cocok buat kamu Zahwa" ucap Dafi.
"Kenapa Mas memilih pelakor itu daripada Zahwa, Mas kan tau kita udah sepakat membuat kisah cinta kita menjadi yang terhebat, Mas janji akan selalu menjadi pasangan andalan buat Zahwa" cecar Zahwa.
🌺
Malam hari setelah Fajar abis keluar rumah dari siang, Fajar nyamperin Bundanya yang lagi makan bareng semua orang di rumah.
"Bun... pokoknya besok tolong lamarin wanita buat Fajar" kata Fajar tanpa basa basi.
Bu Fia dan semua yang ada kaget.
"Datang-datang bukannya salam malah minta dilamarin. Sama yang kemarin dikenalin kesini? Kenapa buru-buru? awas ya kalo kamu udah berbuat macam-macam sama dia" kata Bu Fia sambil nyubit tangannya Fajar.
"Ga Bun, beda lagi, ini anaknya dokter bukan dokter kaya kemarin" jawab Fajar.
"Pacar kamu ada berapa sih? masa yang dikenalin kesini siapa eh yang mau dilamar siapa" tanya Bu Fia heran.
"Yang kemarin dikenalin ke Bunda itu udah putus. Kalo yang ini ga pake pacaran, udah ta'aruf lewat Bapaknya. Fajar udah cocok. Kalo ga buru-buru ngelamar, katanya Fajar ga usah lanjutin" kata Fajar sambil megang tangan Bu Fia.
"Woyyy ..minta kawin kaya orang kebelet ke kamar mandi" ledek Dafi.
"Kan Mas udah tau" jawab Fajar.
"Kawin ajalah kalo merasa udah siap" kata Dafi.
"Tuh kan Bun... Mas mah emang paling top deh, paling paham, ayo Mas kita ke ngelamar sekarang" rayu Fajar.
"Udah malam pak dokter ... besok ya kita omongin dulu" jawab Dafi.
"Tau nih.. nikah tuh perlu dipikirkan matang-matang Jar" nasehat Bu Fia.
"Mas juga kan kawinnya tiba-tiba, toh buktinya cocok dan bahagia aja. Emang mereka pake pemikiran yang matang?" alasan Fajar.
"Mas dan Qeena kan kenal lama Jar, beda kasus lah sama kamu" bela Dafi.
"Pokoknya ya Mas konsepnya Fajar mau ta'aruf, makanya nemuin walinya langsung, toh dia emang menyerahkan ke keputusan Bapaknya. Nah Bapaknya berhasil didekati dan udah kasih restu buat ta'aruf. Intinya cocok. Keluarganya minta langsung dikhitbah aja, kan dari ta'aruf ke khitbah ga boleh lama .. ini udah jalan dua Minggu deh" jelas Fajar.
"Tapi Mas Fajar, jangan lupa kalo Mas juga punya keluarga yang harus diajak diskusi. Dia kan juga harus kenal sama keluarga kita dulu, siapkah dia menerima Mas beserta keluarga? Maaf bukan mengungkit masa lalu, tapi kan Mas Dafi ngalamin hal yang ga enak karena punya adik seperti Mas Rian" Qeena buka suara.
Semua memandang kearah Fajar.
__ADS_1