
Pastinya semua ingin terlihat sempurna. Nenek Sri dan Pak Dzul yang paling antusias mendengar Raisha akan datang ke rumah. Tadinya Dafi mau menjemput Raisha, tapi Mas Eki bilang akan datang langsung aja agar ga merepotkan Dafi.
Raisha sendiri tampak sangat anggun dalam balutan baju muslimnya. Dia juga sudah mempersiapkan diri bertemu keluarga Dafi terutama orang tua Dafi.
Dafi menyambut Raisha dan kakaknya di depan rumah kemudian mempersilahkan masuk kedalam rumah yang lumayan mewah hitungannya buat seorang Raisha, secara orang tua Raisha hanya membuka warung kelontong di rumah. Untunglah anak-anaknya mendapatkan beasiswa buat kuliah sehingga ga keluar biaya banyak buat kuliah.
"Ini Fajar, adik Mas .. lagi sibuk ngejar gelar dokter, jadi lagi banyak KOAS di Rumah Sakit" Dafi memperkenalkan Fajar. Fajar hanya senyum dan mengangguk
"Saya Raisha.." jawab Raisha ke Fajar.
"Wah Mas Dafi nih diam-diam menghanyutkan, saya kira dia cuma pandai dipelajaran doang, ternyata pandai juga nyari calon istri ya" ucap Fajar menggoda Dafi.
"Bisa aja nih Fajar .. kamu sendiri mana gandengannya?" Kata Raisha mencairkan suasana.
"Wah kalo dia mah banyak gandengannya .. panjang kaya kereta, maklum playboy" sahut Dafi becanda.
"Jangan bikin keributan aja dong Mas, banyak cewe nih disini, nanti malah ada yang denger malah ga bisa dikibulin" canda Fajar sambil ketawa.
"Dia mah lain Aish (panggilan khusus Raisha di keluarganya dan kini Dafi pun memanggil panggilan yang sama) ... Dia punya cinta sejati sejak dari kecil, tapi sampe sekarang belum juga mengutarakannya" ledek Dafi.
"Hati-hati loh Fajar ... lagi musim tikung menikung sekarang ini. Yang ngejar siapa, eh kawin sama siapa" goda Raisha.
"Ohh... tenang kalo itu mah Mba ... ini cewenya spesial, jadi kayanya ga ada kamus tikung menikung diantara saya sama dia. Hanya butuh waktu yang tepat aja buat bersama. Ribuan laki-laki diluar sana hanya sebatas menjadi pengagumnya, dia hanya mau ngobrol sama saya doang" ujar Fajar dengan penuh keyakinan.
Sepanjang acara memang Rian disembunyikan di kamarnya, ditemani sama Mas Narko. Bu Fia ga mau kalo Rian merusak suasana pestanya Izma. Setelah selesai acara, para tamu udah bubar, yang tersisa hanya keluarga besar Pak Dzul dan Bu Fia aja. Raisha dan kakaknya juga tampak ngobrol sama Pak Dzul dan Bu Fia.
Tiba-tiba dari teras belakang terdengar suara Mas Narko teriak sambil ngejar Rian. Ternyata Rian loncat dari jendela kamarnya karena pintu dikunci. Rian bisa keluar saat Mas Narko lagi ke kamar mandi. Rian lari kegirangan hingga ga sadar sampe nyemplung ke kolam renang. Dafi langsung lari kearah kolam renang, karena dia tau kalo adiknya ga bisa berenang. Dafi menarik Rian hingga ke tepi kolam dan diangkat sama Fajar dan Mas Narko.
Rian langsung dihandukin sama Fajar, tapi Rian malah ketawa-ketawa tanpa khawatir baru aja perbuatan yang baru dilakukannya bisa mengancam jiwanya.
Raisha kaget melihat tingkah Rian seperti itu. Apalagi ketika mau masuk ke kamarnya, Rian sempat melihat Raisha dengan tatapan yang menakutkan.
__ADS_1
"Itu adik saya, Rian, terlahir istimewa" ucap Dafi yang baru masuk kedalam rumah berselimut handuk dengan rambut basahnya. Raisha dan kakaknya hanya saling pandang. Sebenarnya Dafi sudah bilang sejak awal kalo dia punya adik seperti Rian. Tapi dalam bayangan Raisha ga separah itu.
Rian memang kalo liat wanita yang dimatanya cantik maka akan tampak menyeramkan.
Raisha pamit pulang, didalam mobil ia berbincang sama kakaknya.
"Mas Eki ... gimana nih, Danish pernah sih cerita punya adik yang kaya gitu, tapi ga tau kalo modelnya separah kaya tadi. Liat ga dia malah ketawa setelah membahayakan nyawanya sendiri" kata Raisha kecewa.
"Kan kalian belum lama saling mengenal. Wong katanya Danish aja bilang dia baru ngeh sama kamu pas survei, di kampus malah ga tau keberadaan kamu, jadi biar dia jelasin dulu tentang adiknya" jawab Mas Eki.
"Kalo ada keluarga yang kaya gitu repot kan, bisa jadi malah membawa gen buat keturunannya kelak. Kebayang ga sepanjang hidup kita harus ketemu orang kaya gitu" ucap Raisha.
"Itu bukan penyakit turunan Aish .. coba deh kamu baca literatur kesehatan, ada kromosom yang pada saat pembelahan ada kelainan. Manusia kan ga ikut campur pas pembelahan kromosom. Lagian kalo ditanya kesemua pasangan, pastinya ga mau punya anak istimewa seperti itu" kata Mas Eki menasehati.
"Ribet Mas punya adik seperti itu, udah gitu kan menurut Danish, kalo Pak Dzul maunya semua anak kumpul di rumah walaupun udah rumah tangga, emang sih akan dibuatkan rumah, tapi masih satu areal, berarti akan terus menerus ngeliat kerusuhan Rian" jawab Raisha.
"Kamu sama Danish kan akan jalanin penempatan diseluruh Indonesia, berarti siap pindah-pindah dan besar kemungkinan ga akan tinggal di rumah Pak Dzul. Danish udah pernah cerita kok tentang bagaimana adiknya ke Mas, dia masih terapi, tapi emang masih belum stabil kalo ada pencetusnya lagi. Kamu kan juga udah tau dari Danish tentang hal itu. Malah hal itu yang Danish bilang sejak awal ngobrol sama Mas. Kan Danish pernah punya kisah cinta walaupun sebentar, permasalahan mereka bubar pun karena pihak wanitanya ga bisa menerima kondisi adiknya. Makanya dia bilang ke kamu tentang adiknya dan kamu bilang ga masalah" tutur Mas Eki.
"Hei Aish, coba deh kamu benerin lagi belajar agamanya, semua sudah takdir Allah. Danish punya adik kaya gitu juga pasti ga pernah minta, tapi dia sabar urus adiknya, ga malu pula berterus terang sama kita tanpa dia tutupi. Mungkin adiknya tadi ga dikeluarin dulu dari kamar biar ga mengganggu acara, bukan karena keluarganya malu. Tapi ini kan acara yang sangat adiknya inginkan, apalagi Izma itu anak perempuan satu-satunya, wajar aja keluarga ingin Izma berbahagia dihari ulang tahunnya. Kamu tuh ga biasanya menilai orang seperti ini, what's wrong with you?" kata Mas Eki heran.
"Tapi kan ini pernikahan Mas, perjalanan seumur hidup, jadi harus benar-benar yakin dan bisa menerima semua kondisi keluarganya juga. Keluarga kita walaupun orang biasa, ga ada yang kaya adiknya Danish. Pernikahan itu bukan cuma dua anak manusia, tapi dengan seluruh keluarganya juga" tutur Raisha.
"Ga cukupkah seorang Danish dulu yang kamu liat? Mas tau namanya pernikahan berarti menerima semua keluarganya juga. Tapi fokus ke Danish dulu. Dia laki-laki yang baik. Kamu harusnya beruntung dapat cinta dari laki-laki yang sangat menjaga pergaulan, lulusan pesantren ternama di negeri ini, masa depannya juga jelas. Mau yang kaya gimana lagi? Emang menjamin kalo kamu nikah sama orang selain Danish kamu ga akan punya anak istimewa? Itu semua takdir dari Allah. Ingat kan ... kalo Allah ga akan menguji suatu kaum diatas kemampuannya. Boleh jadi keistimewaan anak itu membuat kita jadi lebih bersyukur dikaruniai hidup yang lebih baik, atau kita belajar bersabar karena terlatih menghadapi mereka sang istimewa" tanya Mas Eki gemes.
"Nantilah kita diskusikan bareng sama Bapak Ibu di rumah ... rasanya udah ga bisa mikir sekarang" kata Raisha.
"Jangan sampe menyesal udah melepaskan Danish hanya karena kamu malu mau punya adik ipar seperti adiknya Danish" ingat Mas Eki.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Malam ini Erin sulit memejamkan mata. Otaknya terus bekerja, mencerna semua kalimat orang-orang terdekatnya terhadap kedekatan Qeena dan suaminya.
__ADS_1
Aa' Zay sendiri sudah tertidur, ditengah posisi tidur mereka ada Zafran yang juga sangat nyenyak tidurnya.
Erin keluar kamar, dia menuju dapur. Menyeduh segelas teh hangat untuk mengusir rasa dingin yang menyeruak. Kemudian dia duduk di ruang keluarga.
Ada foto keluarga terpajang besar disana. Foto yang dibuat saat Zafran masih berusia dua bulan. Tawa mereka semua tampak natural dan bahagia. Sebuah potret foto keluarga impian. Bahkan di daerah sini, keluarga Aa' Zay bisa dijadikan suri tauladan. Pasangan muda yang sangat adem ayem dan saling mendukung satu sama lainnya.
"Ya Allah ... kenapa orang-orang terdekat, justru menaruh banyak curiga terhadap hubungan mereka. Hamba berusaha tetap percaya pada Aa'. Tapi semakin Hamba percaya, makin kencang semua orang berkomentar" adu Erin dalam kesendiriannya.
Erin masih memandang foto keluarganya.
"Mas Iqbal, Mba Valen, istrinya Bang Sai .. bahkan beberapa tetangga juga pernah berbicara kalo mereka melihat ada chemistry berbeda diantara Aa' dan Qeena. Apakah benar mereka ada hubungan asmara?" tanya Erin dengan dirinya sendiri.
πππππππππππππ
Malam ini pun Qeena ga bisa tidur, terbayang obrolan dengan Aa' Zay tadi sore.
"Ya Allah ... sebegitu dinginkah Hamba terhadap para pria? Apakah salah kalo Hamba ga mau berurusan dengan mereka? Sedari kecil, ga pernah hadir sosok pria ... hingga hadir Om Dzul yang memberikan perhatian sebagai seorang Ayah, semakin usia bertambah, menghadapi cemohan teman kalo Hamba ga punya Ayah. Hingga detik ini pun, hanya nama Ayah dan Ibu aja yang Hamba tau, tanpa tau sosoknya seperti apa. Besar ditengah kisah Mak Leha yang disakiti oleh suaminya (Qeena kecil pernah mendengar Mak Leha bercerita ke Nuha tentang suaminya dan terekam rapih dalam benak hingga Qeena besar). Emak pun sama ... dalam kesendiriannya, sempat dituduh menjadi pengganggu keluarga Om Dzul. Belum cukup disitu, Kakak-kakaknya Emak juga sering terlihat ribut sama suaminya yang malas, jadinya mereka yang harus jungkir balik urus rumah dan cari uang. Belum lagi liat Om Dzul yang lebih banyak diam menghadapi Tante Fia. Mas Fajar yang keliatannya playboy dan Mas Dafi yang keliatannya pendiam tapi sok perhatian. Belum lagi Pak Iyus yang parah ngajarin Rian nonton film aneh-aneh... Bang Saino dan Mas Agung yang genit walaupun udah punya istri. Aa' Zay yang keliatannya baik terhadap banyak orang tapi kayanya merantai langkahnya Teh Erin biar urus rumah aja. Kak Damar yang sangat menggebu-gebu minta diterima cintanya ... inikah semua sosok pria di dunia ini? hanya bisa memaksa wanita berada dibawah kakinya? Emak juga seperti menyimpan sebuah rahasia kelam, entah apa. Kalo Ayah hamba orang yang baik, kenapa Emak ga pernah menceritakan sosoknya?" ucap Qeena mulai menerka-nerka sendiri.
Qeena ga sengaja menyenggol tas yang Nuha bawa dari kampung. Rupanya Nuha lupa belum memindahkan tasnya, masih aja tergeletak di lemari dekat TV.
Tasnya kebuka dan berserakan beberapa foto dilantai. Diperhatikannya satu persatu, kebanyakan foto-foto Mak Nuha dan keluarga dari Wonogiri. Baru aja mau membuka foto selanjutnya, Nuha sudah berdiri didepannya.
"Qeena ... " panggil Nuha.
Qeena melonjak kaget saat Emaknya memanggil.
"Penasaran sama isi tas itu?" tanya Nuha lagi.
"Maaf Mak ... ga sengaja tadi kesenggol" jawab Qeena.
"Gapapa Qeena ... " kata Nuha sambil ikut merapihkan semua berkas yang tercecer di lantai.
__ADS_1