ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 172, I love you


__ADS_3

"Repot ya ngurusin dokumen Qeena buat persyaratan pernikahan?" tanya Qeena.


"Ya mungkin karena Mas kan abdi negara ya, jadi kalo mau nikah yang didaftarkan ke kantor emang agak banyak syaratnya, tapi kita masih punya waktu sebelas bulan ya untuk mengurus semua dokumen yang diperlukan. Mas tau kok caranya mancing Pak Iyus keluar dari persembunyiannya" ujar Dafi tersenyum.


"Caranya gimana Mas?" kata Dafi.


"Nanti ya, kamu dengar cerita beresnya aja, ga perlu ikut pusing mikirinnya, sekarang mending kamu mikirin gimana caranya Mas bisa ga pegel lagi badannya dan bisa tidur dengan cepat biar besok kerja udah fresh. Kan tengah malamnya kita dah balik kampung" ujar Dafi.


"Pasti deh minta pijitin" terka Qeena.


"Ga ... Mas tau kamu cape. Temenin Mas aja disini sampe tidur, nanti kamu turun aja kebawah kalo Mas udah tidur, atau mau tidur sebantal berdua juga boleh kok. Malam ini Mas mau tidur disini" kata Dafi.


"Ga takut nanti warga tau?" ujar Qeena.


"Kan Pak RT udah tau, jadi kalo ada warga yang berniat gerebek, pasti Pak RT bisa meredam. Tenang aja, Pak RT disini mah orangnya asyik" jawab Dafi.


"Ya udah.. Mas tidur deh, besok kan kerja" ucap Qeena.


"Tenang aja ya .. ngurus Pak Iyus .. dokumen-dokumen negara .. itu masih ada solusinya, tapi kalo ngurus hati kamu .. masih belum dapat solusinya" ledek Dafi sambil memejamkan mata.


"Mas kapan beresin baju buat dibawa ke Kampung?" tanya Qeena.


"Percuma ada kamu, ya kamulah yang beresin, nanti kita video call ya. Jangan lupa rapihin juga punyanya Rian. Minta tolong Mas Narko ambilin bajunya Rian. Di lemari Mas banyak tas buat naro baju" ucap Dafi.


"Ya .. agak sorean gapapa ya Mas. Besok mau nyuci sama nyetrika, terus lanjut masak buat bawa ke Kampung" jelas Qeena.


"Mau bikin apa?" tanya Dafi.


"Disana kan jarang Mas makan daging. Jadi Emak mau bikin rendang daging, jadi pagi-pagi Qeena belanja dulu ke Pasar. Sekalian mau beli keperluan pribadi" jawab Qeena.


"Keperluan pribadi apa?" tanya Dafi.


"Ya buat cewe lah" jawab Qeena malas menjawab.


"Iya apa .. kan ada namanya" ucap Dafi penasaran.


"Yang dipake cewe" ujar Qeena.


"Jangan bilang kamu haid sebulan dua kali" terka Dafi.


"Ya bukanlah Mas... kan dipake harian" kata Qeena.


"Perabotan lenong wanita ya .. kaya bedak, lipstik, pinsil buat mata .. apa tuh namanya" lanjut Dafi.


"Perabotan dalaman ... puassss" kata Qeena.


"Ohh .. jangan lanjutin deh, nanti adanya Mas jadi kepo ukuran, bentuk dan warnanya lagi .. hehehe .. kok belinya di Pasar sih, Izma sama Bunda kalo beli di Mall" tanya Dafi.

__ADS_1


"Ya kan kalo di Pasar murah Mas .. ada yang lima belas ribuan" jawab Qeena.


"Apaaa??? no .. no .. no .. beli ke Mall besok, itu kan dalaman yang langsung bersentuhan sama kulit. Bukan masalah murah atau mahalnya, tapi bahan dan kenyamanan" kata Dafi sambil duduk karena kagetnya tau Qeena beli pakaian dalam dengan harga murah.


"Lebay .. kan dalaman ini Mas .. ga ada yang liat" ucap Qeena.


"Kalo dibilangin jangan ngeyel. Di Pasar kan ada tuh toko yang jual begituan dengan merek yang terkenal. Kamu beli itu aja" pinta Dafi.


"Mahal Mas" jawab Qeena.


"Kemarin yang Mas transfer emang ga cukup buat beli itu? pokoknya beli yang bermerek atau ga usah beli sekalian" ujar Dafi.


"Repot amat sih Mas..." kata Qeena rada malu ngomongin hal ini ke Dafi.


"Aset masa depan tuh... paham kannnn" lanjut Dafi sambil kembali tiduran.


Menurut penelitian dari jurnal Psychological Science, tidur dengan pasangan ternyata bisa membuat tidur lebih nyenyak dan terbangun keesokan harinya dengan perasaan yang lebih baik. Hal ini dikarenakan meningkatnya hormon oksitosin. Oksitosin adalah hormon 'cinta' yang diproduksi oleh otak dan memicu perasaan empati, rasa percaya, rileks, hingga mengurangi rasa cemas.


Inilah yang Dafi rasakan sekarang, ada rasa plong yang selama ini masih menjadi ganjalan, walaupun Qeena belum mengucapkan persetujuannya, tapi Dafi yakin kalo Qeena mau hidup bersamanya.


Dafi mulai terlelap dan Qeena masih duduk dengan jarak semeter dari posisi Dafi tidur.


Qeena akhirnya tertarik memandangi wajah Dafi, terngiang cerita dari orang-orang sekitar Dafi yang bilang ada perubahan semenjak dia menikah.


"Jadi ini toh orang yang selalu menutupi masalah-masalahnya diluar rumah, agar yang di rumah ga ikut kepikiran. Inilah orangnya yang bak robot dan haus kasih sayang sedari kecil hingga sebesar sekarang. Inilah orang yang selalu berusaha menutupi yang menjadi bebannya hanya demi sebuah senyuman dari keluarganya. Ingat Qeena... dulu dia selalu jadi orang yang pertama tau setiap kamu tertimpa masalah, dia datang seolah paling mengerti dan pada akhirnya memberikan solusi bukan sekedar janji. Bahkan hingga hari ini, dia selalu ada buat kami berdua, menjadi pelindung dan pemberi semangat hidup kami berdua, orang yang pernah menyalahkan setiap tindakan yang kami ambil. Mas .. memandangmu dalam temaram cahaya (karena lampu atas baru dipasang satu aja dibagian tengah dan hanya lampu biasa dengan watt yang rendah) seakan dunia terasa damai. Perbedaan latar belakang keluarga, membuat kita agak sedikit berbeda. Mas dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang utuh, tutur katanya teratur dan perasaannya halus. Sedangkan Qeena, anak yang dibesarkan sendirian oleh Emak dengan segala problematika yang ada, sok kuat padahal rapuh dan penuh kebencian terhadap lelaki. Bukan salah Mas kalo Qeena ga peka sama isyarat lembut yang Mas berikan, itu hanya karena Qeena yang cuek dan ga peduli sama keadaan. Dulu Qeena khawatir ga bahagia Mas, tapi kini bertambah lagi dengan ga sukanya para orang tua terhadap Qeena. Dulu Mamanya Mas Damar, sekarang Tante Fia. Emang sih Tante Fia dari dulu ga bisa menerima kehadiran Qeena dan Emak karena cemburu sama Emak, tapi sekarang makin benci karena anak sulungnya seakan direbut paksa oleh Qeena, seorang anak haram yang ga selevel dengan beliau. Ya Allah .. berikanlah Mas Dafi kebahagiaan atas segala lara yang ia rasakan sejak kecil. Dia pantas bahagia atas segala pengorbanannya selama ini. Terima kasih atas segalanya Mas, masih bingung sama apa yang harus Qeena putuskan, tapi apapun itu, Qeena yakin Mas akan legowo menerimanya" kata Qeena dalam hatinya.


Qeena turun dulu kebawah buat mengambil selimut yang ada di lemari kamarnya. Selimut pemberian dari Izma.


"Iya .. udah nyenyak banget, mau dibangunin .. kasian" alasan Qeena yang ga enak juga bilang kalo Dafi emang berencana tidur disini malam ini karena ingin dekat sama Qeena.


"Cuma pake tiker yang tadi dia bawa?" tanya Mak Nuha lagi.


"Iya Mak .. makanya diambilin selimut, kasian nanti kedinginan" jawab Qeena yang kembali bergegas naik keatas.


Qeena pelan-pelan meletakkan guling disebelah Dafi agar nanti bisa tidur memeluk guling, dia juga menyelimuti tubuh Dafi secara perlahan-lahan. Saat menyelimuti, tubuh Dafi bergerak miring dan ga sengaja menyenggol tubuh Qeena.


Walhasil Qeena rebah didadanya Dafi karena kesenggol tubuhnya Dafi yang lebih besar darinya.


"Astaghfirullah .. kamu kenapa?" ucap Dafi yang bangun karena kaget.


"Maaf Mas .. lagian Masnya juga sih tiba-tiba miring, kan Qeena jadi ga seimbang" oceh Qeena sambil langsung duduk disampingnya Dafi.


"Mas kan lagi tidur, mana tau kamu masih disini, tadi kan Mas bilang, kamu turun aja kalo Mas udah tidur" kata Dafi.


"Iya .. emang udah turun, tapi kayanya liat Mas ga ada guling sama selimut tuh kasian, udah disini masih kosong, lubang ventilasi juga baru ditutup kawat nyamuk, angin kan dari luar berasa dingin. Makanya dibawain ini dulu biar enak tidurnya" jelas Qeena.


"Tapi dada Mas berasa sakit loh .. kenceng banget sih jatuhnya" ucap Dafi sambil mengusap dadanya sambil meringis kesakitan.

__ADS_1


"Maaf ya .. ga sengaja... sakit ya dadanya?" tanya Qeena ga enak hati.


"Hu um" ujar Dafi rada manja.


"Terus diapain dong?" tanya Qeena bingung.


"Diusap-usaplah" jawab Dafi.


"Hmmm .. kalo kata anak sekarang bilangnya .. ngadi-ngadi..." ucap Qeena.


"Beneran sakit ini, aduh rasanya dada jadi sesak deh" kata Dafi serius.


"Beneran Mas .. ya Allah coba tiduran dulu Mas .. siapa tau enakan, daripada duduk. Pelan-pelan ya..." saran Qeena sambil memegang kepala Dafi dan dibimbing menuju bantal.


Dafi yang cuma ngeledek Qeena makin suka sama permainannya. Dia masih pura-pura kesakitan.


Qeena memakaikan selimut ke tubuh Dafi. Dengan pembatasnya selimut, Qeena mencoba mengusap-usap dadanya Dafi.


"Maaf ya Mas .. maaf kalo Qeena pegang dadanya Mas" pinta Qeena.


"Gapapa" jawab Dafi pelan sambil masih pura-pura kesakitan.


"Beneran nih sakit banget? mau diambilin balsem Mas?" tanya Qeena.


"Ga mau .. nanas" kata Dafi manja.


"Mana ada nanas Mas .. lagian orang sakit malah maunya nanas" sahut Qeena.


"Ye ilah si Eneng .. kan ceritanya kaya Rian .. bilang panas itu nanas .. kan kalo lagi atit gini maunya dimanja" canda Dafi.


"Bohongan ya sakitnya?" omel Qeena sambil menarik tangannya dari dadanya Dafi.


Gerakan tangan Dafi lebih cepat dari Qeena dan membuat Qeena rebah disampingnya. Mereka sebantal berdua.


Dafi menahan kepalanya pake tangan kanan, tangan kirinya mengusap pipinya Qeena perlahan. Lama kelamaan Dafi mendekati wajah Qeena.


"Mas ga akan pernah meninggalkanmu untuk melalui semua tantangan hidup sendirian lagi. Ga peduli apa pun yang terjadi, Mas akan selalu disamping kamu. Sejak saat Mas mengarahkan pandangan ke kamu, Mas tau kamulah satu-satunya ratu dihati Mas. Thank you for always making me laugh, even when i cannot even dare to give a smile (terima kasih udah selalu buat Mas tertawa bahkan ketika Mas ga berani tersenyum)" ucap Dafi makin mendekat ke wajah Qeena.


Qeena seperti kesirep sama pesonanya Dafi. Dia mematung, ga bisa bergerak bahkan ga menolak sentuhannya Dafi.


"Thank you for always being my rainbow after the storm (Terima kasih Mas selalu menjadi pelangi setelah badai datang)" jawab Qeena dengan pelan yang membuat Dafi gemas.


Keduanya larut dalam suasana yang telah tersaji dihadapan mereka. Dafi yang memulai untuk mencium bibirnya Qeena.


Bagi beberapa orang, ciuman pertama alias first kiss adalah hal yang complicated. Ketika melakukan ciuman pertama, pasti banyak rasa berkecamuk didalam dada. Mulai dari senang tak terkira hingga takut ketahuan orang. Ciuman pertama adalah hal yang akan dikenang seumur hidup, jadi dilakukan dengan orang yang sangat spesial.


Qeena segera tersadar dan menyudahi pagutan bibirnya Dafi, dia buru-buru merapihkan jilbabnya dan turun kebawah.

__ADS_1


"Kok lama anterin selimutnya?" tanya Mak Nuha.


"Iya Mak ... Mas Dafi ngajak ngobrol lagi, tadi dia kebangun pas Qeena kasih selimut" jawab Qeena berbohong.


__ADS_2