ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 233, Buka hati


__ADS_3

Dafi akhirnya memilih lanjut kerja di kamarnya, cukup berisik dibawah karena orang rumah lagi menyiapkan makanan buat pengajian malam ini.


Ucapan-ucapan almarhum Ayahnya terus menerus terngiang dipikiran Dafi. Terbayang juga saat Fajar dan Qeena di Rumah Sakit.


"Ya Allah ... semoga Hamba bisa menjalankan semua tugas sebagai anak lelaki tertua di keluarga ini" pinta Dafi.


⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️


Sehari sebelum kematian Pak Dzul, Fajar menelponnya, sharing tentang seorang wanita yang mulai menggelitik hatinya. Tapi malah jadinya curhat tentang masa lalu sama Qeena. Fajar khawatir rasa yang sekarang ada hanya pelarian belaka.


"Pada awalnya hubungan Fajar dan Qeena kan tercipta biasa saja layaknya teman biasa. Karena perbedaan umur, ada yang lebih tua dan lebih muda, ga ada perasaan selain rasa berteman dan rasa persaudaraan. Lama kelamaan berjalannya waktu kita sama-sama saling nyaman, komunikasi lancar, mulai timbul cemburu kalo dia dekat yang lain. Fajar tau itu hanya Fajar aja yang merasakan karena Qeena masih kecil. Ya sekarang makin sadar sih, kalo kita hanya ada di kakak adik zone, ga lebih dari itu. Memang semakin lama Fajar sadar hubungan seperti apa yang dijalani dan hanya bisa menikmati setiap rasa sambil berharap ada Keajaiban. Fajar ga tertarik untuk dekat dengan wanita lain, walaupun takut juga kalo pengharapan itu hanya sia-sia belaka. Saat ijab kabul Mas dan Qeena, ada raut bahagia dari Ayah, Mak Nuha, Izma dan Rian. Jadi dengan alasan apa Fajar ga bisa ikut bahagia? Qeena udah hidup ga bahagia sedari dia kecil. Sekarang ditangan Mas, paling ga dia bisa pegang uang banyak, bisa beli baju dan jilbab yang dia mau, bisa ajak makan Mak Nuha di restoran dan yang paling penting .. dia bisa berbagi ke orang yang membutuhkan. Selamat berada di kekasih halal zone sama Qeena ya Mas. Fajar akan jadikan pelajaran berharga, ga mau lagi terjebak di kakak adek zone.. harus kaya Mas, cepat-cepat jelasin statusnya biar ga gantung dan patah hati lagi" ucap Fajar melalui telepon.


"Makasih Bro atas keikhlasannya" jawab Dafi.


"Ayah pernah bilang, kalo laki-laki sejati itu harus segera halalkan atau tinggalkan" ucap Fajar.


"Eleuh... eleuh... ucul banget deh adik Mas yang satu ini. Sang dokter ganteng, yang pasti akan banyak barisan cewe antri dapetin cintanya. Cewe mana sih yang sekarang bisa nembus hati sang Arjuna yang lagi mencari cinta ini" ledek Dafi becanda.


"Dokter juga Mas .. nanti deh dikenalin, kalo Fajar udah menyesuaikan diri di Rumah Sakit baru, dia yang jadi alasan Fajar pindah Rumah Sakit, biar bisa makin dekat sama dia" ucap Fajar.


"Widih .. langsung tancap gas aja nih sampe pindah praktek. Tapi tetap harus profesional ya, kalian kan tenaga medis, jangan sibuk bercinta, ingat tugas utamanya" ingat Dafi.


⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️


Dafi dan Fajar datang ke rumah supir yang saat itu bersama Ayah dalam kecelakaan. Keluarganya ga banyak tuntutan, mereka menerima sebagai takdir. Tidak ada anak yang ditinggalkan karena sepuluh tahun menikah belum juga diberikan keturunan.


Istri almarhum supir ini punya usaha dagang lauk matang, wilayahnya ga jauh dari sekolah. Semua surat-surat kematian dan laporan kematian akan dibantu dari kantor, almarhum terhitung pegawai negeri jadi akan ada santunan dari pemerintah. Supir ini baru diangkat dua tahun yang lalu atas bantuan Pak Dzul, setelah mengabdi selama tiga belas tahun di Departemen hanya sebagai karyawan honorer.


"Saya sangat bersyukur, atas bantuan Pak Dzul, suami udah dapat gaji yang layak, Alhamdulillah kami punya usaha lauk mateng ini. Bisa beli petakan ini dengan cara pinjam koperasi kantor, kemarin dikasih tau kalo hutang suami saya dianggap lunas karena pinjaman di koperasi udah termasuk asuransi penjaminan atau apa gitu namanya, sertifikat juga lagi diurus" cerita istrinya sang supir.


"Kami malah ga tau Bu, Ayah ga pernah cerita" jawab Fajar.


"Pak Dzul mah baik, kalo ajak suami saya keluar pasti dikasih tambahan. Udah gitu diajak makan enak, malahan saya juga ikut dibungkusin" lanjut istrinya sang supir.


"Ga ada rencana buka di kantin sekolah aja Bu? kayanya pelanggan Ibu banyak anak sekolah saya liat tadi" tanya Dafi.


"Ada Mas .. tapi kan sewanya tahunan, saya belum cukup uangnya. Lagi nabung dulu" kata istri sang supir.


"Ada tempat kosong?" tanya Dafi lagi.

__ADS_1


"Ada Mas, ini sebelah petakan saya kan kerja jadi Tata Usaha di sekolah itu, dia kasih tau kalo ada lapak kosong" jawab istrinya supir.


"Maaf sebelumnya, kalo saya bantu sewa dulu apa Ibu keberatan? jadi sambil Ibu kumpulin lagi modal buat sewa tahun depan, Ibu dagang disana" papar Dafi.


"Yang bener Mas?" tanya istrinya sang supir.


"Ibu tanya aja berapa dan harus bayar kemana, nanti saya yang urus ya" jawab Dafi.


"Alhamdulillah .. makasih banyak ya Mas. Emang ya .. kalo punya Bapak seperti Pak Dzul udah saya duga anaknya pun sama. Sama-sama baik" ucap istrinya sang supir.


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


Bu Fia memutuskan untuk cuti diluar tanggungan karena selama empat puluh hari ga boleh keluar rumah. Bahkan beliau sudah mengajukan surat pengunduran diri ke perusahaan. Rasa trauma terhadap jalan raya membuat akan kesulitan kalo menuju dan balik dari kantor.


Sabtu ini Bu Fia baru merhatiin keseharian Qeena. Pagi-pagi selepas subuh dia udah nyapuin semua halaman rumahnya termasuk halaman rumah Bu Fia bareng sama Mas Anto.


Dilihatnya juga Mak Imah dan Mak Nuha lagi mau mulai bikin selai srikaya dibelakang rumah Dafi.


Mak Nuha dan Mak Imah memilih membuat dibelakang rumah agar bisa sambil duduk dan adem aja karena ditempat terbuka.


Para asisten di rumahnya Bu Fia juga lagi sibuk masing-masing sama kerjaannya.


💐


Rian udah rapih, dia balik lagi nyari Qeena yang rupanya lagi nyiapin sarapan buat Rian. Semalam Rian request bihun sayuran pake sosis kesukaannya. Dikit-dikit Rian udah mau makan sayur karena sama Qeena sayurnya diiris tipis menyerupai bihun jadi dia ga paham kalo itu sayur, tapi harus disuapin biar makannya lebih banyak, apalagi sambil diajak ngobrol atau mewarnai. Dari kematian Pak Dzul emang Rian makannya ga kekontrol, kadang malah ga makan karena ga ada yang fokus ngurus dia.


Pagi ini Qeena juga buatin jus mangga, kemarin Mas Anto panen mangga dikebun milik Pak Dzul disebelah rumah. Bu Fia menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur.


Sudah ada roti serta bubur kacang hijau yang semalam dipesan Bu Fia. Bu Fia makan sendiri di meja. Qeena dan Rian masih duduk di meja bar pembatas dapur dan ruang makan. Sesekali terdengar tawa keduanya. Bu Fia memperhatikan tanpa kata.


Dafi mengirim chat terakhir dari Pak Dzul ke nomer Bu Fia, Bu Fia membacanya.


#Jaga Bunda dan adik-adik terus ya Mas. Jangan bersinggungan terus sama Bunda, Bunda perlu dibimbing bukan dinasehati mulu. Jaga Qeena, Nuha dan Imah juga, mereka sekarang tanggung jawab kamu. Qeena itu wanita yang tepat buat menggantikan Ayah dalam membimbing Bunda. Kalo kalian anak-anak Ayah kayanya ga bisa sesabar dia menghadapi Bunda. Kerja yang jujur karena nafkah yang kamu bawa pulang harus halal buat keluarga#


⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️


Bu Fia udah datang ke kantor Pak Dzul selepas ashar karena sekalian tugas luar jadi ga balik lagi ke kantor. Jadi bisa berangkat kondangan ontime.


Makanya kecelakaan itu terjadi masih sekitar jam lima lewat, pas jam pulang kantor.

__ADS_1


Bu Fia masuk ke ruangan Pak Dzul, wajah Pak Dzul ga bersahabat, ada amarah tampak disana. Rupanya tadi siang ketemu sama Iyus yang motornya mogok dekat rumah makan tempat Pak Dzul makan siang. Akhirnya Pak Dzul mengajak Iyus makan.


Mulutnya Iyus yang kaga ada rem, menceritakan semua kronologis penjebakan malam itu dan menyebut nama Bu Fia sebagai dalangnya. Terjadi keributan diantara Bu Fia dan Pak Dzul.


"Bun .. Bun .. udah mah Ayah sadar kalo salah udah pernah bilang ke Qeena buat nikah sama Rian.. eh Bunda malah mengulang kesalahan yang sama. Salah apa Qeena sama kita? bukankah dia anugerah buat keluarga kita? liat gimana sekarang Rian lebih terarah?" ucap Pak Dzul penuh amarah.


"Yah ... Bunda mau minta maaf tentang malam itu. Ya memang ini semua ide kami berdua. Hal ini Bunda lakukan juga buat masa depan Rian" sesal Bu Fia.


"Kadang kita tau tujuannya baik, tapi kita salah milih jalan menuju tujuan kita. Yang berlalu ya udahlah Bun, toh sekarang Qeena udah jadi mantu kita, istri dari anak sulung kita. Dia pasti bisa ngurus Rian kalo kita ga ada kelak" kata Pak Dzul.


"Ayah kok ngomong kaya gitu sih" ujar Bu Fia.


"Kita kan ga tau Bun sampai kapan kita masih dikasih hidup. Makanya berubah Bun, kematian menjemput ga pake pemberitahuan. Ibadah benerin lagi, ubah sikap kita yang ga baik, ga usah benci sama orang lah. Toh kita ga punya alasan kuat buat membenci Qeena dan keluarganya kan?" nasehat Pak Dzul.


⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️


Bu Fia menelpon Dafi, Dafi langsung mengangkat panggilan tersebut. Saling menanyakan kabar pada awalnya kemudian mulai ngobrol serius


"Bun... seperti yang pernah Mas bilang, gara-gara malam itu, Dafi menemukan wanita yang sebenarnya Mas cari sejak lama. Tapi awal Mas menikah, masih terus menepis rasa yang muncul karena udah Mas anggap dia hanya adik. Tapi ternyata dialah yang bisa menggetarkan hati Mas secara terus menerus, berbeda dengan wanita lainnya. Bersamanya ada kenyamanan yang ga bisa digambarkan. Bersamanya selalu menimbulkan kebahagiaan dan merindu. Bunda tau kan kalo Mas bukan tipe bucin kaya Ayah, tapi sama dia .. Mas bucin parah. Tiap malam video call rasanya udah pengen pulang aja" jelas Dafi.


"Terserah kamu Mas ... Mas udah dewasa buat ambil keputusan, sekarang kan Mas yang pimpin keluarga setelah Ayah ga ada. Bunda juga yakin Mas udah pertimbangin baik buruknya" kata Bu Fia tersenyum.


Sebuah senyum seorang Ibu yang lama dirindukan Dafi.


"Alhamdulillah .. akhirnya ..." ucap Dafi senang.


"Ya kan Bunda makin tua" jawab Bu Fia.


"Bun... Mas mau minta tolong banyak hal bisa?" tanya Dafi.


"Apa Mas?" tanya Bu Fia balik.


"Bunda bisa terima Qeena jadi mantu dengan baik? Berusahalah merangkulnya, nanti Bunda akan merasakan sebuah cinta luar biasa dari seorang Qeena. Ga usah komen terhadap apa yang dia lakukan. Udah cukup Mas nasehatin dia tiap hari, jangan terlalu dinasehatin banyak orang, biar dia ga sebel dengernya" jawab Dafi.


"Tapi Mas.." kata Bu Fia ragu.


"Turunin dikit gengsinya, insyaa Allah nanti Bunda bisa merangkulnya. Natural aja Bun.. ga usah banyak drama sama dia. Liatin aja gerak geriknya dulu, kalo ada yang ga baik baru deh Bunda nasehatin pelan-pelan, dia mirip kaya Bunda... keras kepala" jelas Dafi.


"Tapi Bunda ga janji ya" ucap Bu Fia.

__ADS_1


"Gapapa Bun .. yang penting coba dulu" jawab Dafi.


__ADS_2