ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 126, Selanjutnya


__ADS_3

"Mas akan balik dulu, Ibunya Zahwa meninggal, Mas harus datang kesana, mungkin sekitar dua Minggu lagi baru Mas bisa datang ke Jakarta buat seminar dan penugasan daerah baru" jelas Dafi sambil memandang kearah Mak Nuha dan Qeena.


"Mas belum bilang ke Mba Zahwa tentang pernikahan kita?" tanya Qeena.


"Ga mungkinlah kondisi kaya gini Mas harus jelaskan semua. Nanti kalo sudah pas waktunya, baru deh Mas ngomong. Oh ya Mas perlu ingatkan, Mas kan punya pekerjaan yang terikat oleh banyak aturan. Jadi Mas harap kamu bisa menyimpan rapat pernikahan kita dulu sampe semuanya clear. Jangan sampe malah Mas dapat teguran bahkan dikeluarkan karena masalah ini" pinta Dafi tegas.


"Lepaskan saya sekarang aja Mas, saya akan pergi dari hidup Mas selamanya. Saya ga nuntut macam-macam kok. Asalkan jangan ganggu saya aja itu udah lebih dari cukup" ucap Qeena serius, Dafi langsung menunjukkan wajah ga suka mendengar ocehan Qeena.


"Saya ga mau dibantah ya, jadi kamu ikuti semua yang saya bilang" kata Dafi tanpa kompromi.


"Saya dan Emak mau pulang, tolong ijinkan saya. Nanti kalo keluarganya Mba Zahwa minta Mas untuk menikah saat itu juga, menikahlah Mas, tapi tolong lepaskan saya dulu. Cukup saya mendengar cerita Emak yang dimadu. Toh dalam hubungan Mas sama Mba Zahwa, sayalah orang ketiganya. Saya tau bagaimana perasaan Mba Zahwa kalo tau semuanya. Kalo perlu penjelasan saya, Mba Zahwa bisa hubungi saya Mas" ucap Qeena yang merasa kasian sama posisi Dafi.


"Nanti aja ya kita bahasnya, Mas mau istirahat, selepas subuh Mas udah harus berangkat ke Bandara, kamu naik apa ke Ciloto? dijemput Aa' Zay?" tanya Dafi.


"Ya" kata Qeena yang berusaha menutupi tempat tinggalnya yang sekarang.


"Jam berapa dijemputnya?" tanya Dafi lagi.


"Belum tau, mungkin pagi-pagi, ya tunggu ditelpon aja" jawab Qeena.


"Titip salam buat semua keluarga Aa' Zay" kata Dafi.


"Ya ... " jawab Qeena.


Dafi keluar dari kamar, dia akan tidur dikarpet ruang santai yang berada persis didepan kamarnya, Qeena dan Mak Nuha yang istirahat dikamar Dafi.


Ibu dan Anak ini tidur berpelukan, seolah saling menguatkan.


"Qeena .. kayanya Mas Dafi serius sama kamu, tipe Mas Dafi ga akan mengambil resiko buat menikah kalo dia ga mau. Mas Dafi paham kalo pernikahan bukan permainan" ujar Mak Nuha.


"Mak ... disini bukan hanya Qeena dan Mas Dafi yang terluka, tapi ada Mba Zahwa dan Kak Damar yang merasakan imbasnya" ucap Qeena.


"Permainan hidup kita akan kembali seperti naik rollercoaster Qeena. Akan banyak yang kita hadapi. Bapak kamu beserta keluarganya, keluarga Mas Dzul, Damar dan keluarganya, belum lagi Mas Fajar. Ditambah kita akan mulai usaha yang kita sendiri ga tau bagaimana memulainya .. Kadang Emak mikir, ga kurang-kurang berdo'a sama Allah agar jangan dikasih ujian lagi. Rasanya Emak udah lelah" kata Mak Nuha.


"Sabar ya Mak, sabar sampe Qeena bisa wujudkan mimpi Qeena. Semua itu buat Emak" papar Qeena.


"Tapi kalo Mas Dafi ngelarang kamu kerja terus ngajak kamu ke tempat dia tugas gimana?" tanya Mak Nuha.


"Mak ... Qeena tau kalo Mas Dafi itu cinta banget sama Mba Zahwa, dari cerita Mas Fajar, pasangan ini sampe mempercepat rencana pernikahan karena Mas Dafi yang ga sabar ingin segera menikah karena ga mau jauh-jauh sama Mba Zahwa. Mereka pasangan yang saling mengisi Mak, Qeena ga layak merusaknya. Mak sendiri pernah ngalamin kan bagaimana kehadiran orang ketiga membuat luka yang amat dalam buat Emak? Qeena ga mau ada lagi orang yang bernasib sama seperti Emak. Qeena juga ga mau dipoligami Mak, sebagai wanita .. kita ga boleh menyakiti sesama wanita kan?" ungkap Qeena.

__ADS_1


"Kamu makin dewasa Qeena, maaf kalo Mak sempat marah dan ga percaya sama kamu, tapi bukankah ketidakpercayaan Emak membuat kamu sekarang udah menikah? Emak khawatir sama kamu .. Emak udah tua, sama siapa kamu Emak titipkan ... ternyata Allah menjawab dengan cepat, Mas Dafi adalah tempat terbaik yang Emak percaya bisa menitipkan kamu" kata Mak Nuha.


"Mak ... jangan tinggalin Qeena .. Qeena mau sama Emak aja" ujar Qeena.


"Tidurlah Qeena ... paling ga .. sekarang kita istirahat biar seger" pinta Mak Nuha.


🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀


"Qeena kemana sih, seharian ditelpon ga diangkat, dichat ga dibales. Tanya ke Bakulan Bunda katanya lagi takziah, tapi masa nginep sih? segala Mak Nuha juga pergi sama Aa' Zay ... Aa' Zay juga bilangnya takziah terus ninggalin Mak Nuha disana sama Qeena. Kalo ga karena besok ada acara gathering sebuah perusahaan yang buat pertama kalinya, rasanya pengen banget ke Tebet dari tadi pagi" umpat Damar kesal.


Dipandanginya HP keluaran terbaru miliknya, screensaver serta wallpaper HP nya adalah foto Qeena yang dia ambil secara candid. Dibukanya galeri HP, ada satu folder khusus foto Qeena.


"Bagaimana ga jatuh cinta tiap hari sama kamu, wajah jelita, senyum selalu diusahakan merekah, pancaran wajah yang meneduhkan. I love you Qeena" ucap Damar.


⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪


Fajar dan Dafi sempat ngobrol lewat telepon seminggu sebelum Neneknya meninggal.


"Mas .. sebentar lagi kelar deh Koas, kayanya mau praktek pengabdian di Ciloto aja bisa ga ya? di Klinik punya Aa' Zay. Kata Qeena, dokter yang ada sekarang tinggal satu dan mau pindah tempat tinggal. Kan enak tuh bisa sekalian dekat sama Qeena" cerita Fajar.


"Ya terserah, coba aja ngajuin permintaan kamu ke Klinik, ya disana kan juga agak jauh ya dari fasilitas kesehatan, pasti kamu jadi dokter idola disana. Tapi minusnya ya kamu malah susah dapat kasus-kasus medis yang perlu mengeluarkan tenaga dan pikiran lebih, beda kaya di Rumah Sakit. Disana paling ga jauh-jauh dari sakit kepala, batuk pilek, diare dan penyakit yang biasa menyerang sebagian warga aja. Malah saran Mas tuh kamu ambil ke daerah terpencil sekalian. Dengan fasilitas kesehatan yang minim, ilmu kamu lebih dipertaruhkan. Seorang dokter kan harus siap menghadapi segala macam penyakit atau kejadian medis yang kaya gimanapun. Ciloto mah masih dekat sama kota, ga ada tantangannya buat seorang Fajar. Kamu harus berani nantang diri sendiri, keluar dari zona nyaman" saran Dafi.


"Mas kalo ikut ke daerah kaya gitu mah bisa setahun pengabdian, malah bisa ga pulang selama setahun. Nanti Qeena gimana?" tanya Fajar.


"Qeena sama Damar mah itungannya cuma beda dua tahun, masih sepantaran lah itu. Pola pikirnya berdua juga belum panjang. Qeena butuh orang yang lebih tua dari dia, u know lah .. kadang Qeena itu masih ngikutin emosi. Lagian dia kan masih trauma sama kisah masa lalu Mak Nuha, Damar itu kayanya hanya jadi alasan buat menjauh dari Fajar aja deh Mas" ungkap Fajar.


"Ohhhh ... ada deh kayanya yang lebih tua dari Qeena dan dijamin bisa jaga dia dan Mak Nuha" kata Dafi semangat.


"Siapa Mas? Jangan bilang itu Mas Dafi ya" tanya Fajar penasaran.


"Pak Shaka ... hahahaha" canda Dafi.


"Jangan becanda deh Mas .. masa Pak Shaka sih" ujar Fajar.


"Sekarang kurang kriteria gimana buat Qeena coba ... Lebih tua, bijak, pasti bisa ngemong, single, secara materi juga pasti bisa biayain hidup Qeena dan Mak Nuha" papar Dafi.


"Ya ga setua itu kali ... tau ga Mas ... belakangan ini, Fajar sering ngimpi Qeena jalan gandengan tangan sama seorang sosok laki-laki, ga jelas sih siapa orangnya, tapi yang jelas bisa membuat Qeena tersenyum lepas. Fajar udah dalam tahap menerima keputusannya buat memilih Damar, tapi kayanya itu bukan Damar" ucap Fajar.


"Jangan bilang kalo itu Aa' Zay ya .. " sahut Dafi.

__ADS_1


"Tipe Aa' Zay kayanya ga mungkin poligami, bucin banget kan dia sama istrinya. Ga ada potongan playboy" kata Fajar.


"Ya emang tipe-tipe kaya Aa' Zay .. Mas .. tuh emang tipe bucin akut yang ga akan mampu mendua ... hahahaha... beda sama kamu Jar. Bilangnya cinta sama Qeena, tapi masih jalan sama cewek lain. Apalagi sejak Koas, kayanya ada cerita cintaku bersemi saat Koas nih" ledek Dafi.


"Itu kan hiburan Mas ... abis Qeena ga pernah mau diajak nonton atau jalan berdua" jawab Fajar.


"Jangan kasih harapan ke banyak wanita Jar. Mas tau kamu sebenarnya jauh sebelum Qeena mutusin buat memilih Damar, hati kamu udah bercabang sama seorang cewek kan? tapi kamu menampiknya karena masih menyimpan asa sama Qeena" ungkap Dafi.


"Kok Mas tau, pernah liat kita jalan bareng?" tanya Fajar heran.


"Kalo jalan bareng belum pernah liat, tapi foto-foto kamu sama dia di medsos itu udah cukup memberikan gambaran Jar" jawab Dafi.


"Kayanya ga ada foto berdua doang deh, fotonya selalu rame-rame" bela Fajar.


"Rame-rame tapi semua posisinya selalu kalian berdampingan .. kalo kamu bilang ga sengaja kayanya mustahil. Mas cukup kenal kamu gimana, pasti mepet ke cewek yang lagi diincer, dulu aja Qeena dipepet terus" kata Dafi.


"Emang nih ... paling ga bisa bohong sama analis kita yang satu ini, ketauan aja" akhirnya Fajar menyerah.


"Siapa Jar?" tembak Dafi.


"Nantilah Mas ... kalo udah fix baru dikenalin. Dia sama-sama lagi Koas, kita beda kampus, tapi satu dosen pembimbing. Dia baik, perhatian, smart dan kayanya lebih paham apa yang kita mau sebagai lelaki" kata Fajar.


"Paham apa yang lelaki mau? awas ya macam-macam Mas sunatin nanti" ancam Dafi.


"Bukan kesitu lah Mas. Tapi dia tuh perhatian banget. Selalu punya waktu dan mendengarkan keluh kesah. Ya pokoknya beda deh sama Qeena. Kalo sama cewek ini baru terasa enaknya dimanja .. hehehe .. dibawain makanan, kadang dibantuin nulis resume medis, terus kasih input tentang penampilan" papar Fajar.


"Mantapin dong hatinya. Kalo fix lebih bahagia sama dia ya lepasin Qeena. Ga usah ada lagi harapan buat bersama Qeena" ujar Dafi.


"Terus nanti Qeena siapa yang jaga? Damar? ah kayanya ga percaya sama tuh anak. Damar kayanya masih tipe anak mami" ucap Fajar.


"Ya udah nanti kalo ga ada yang jagain Qeena, Mas bawa aja deh ke Sungai Penuh buat temenin Mas disini. Lumayan kan .. nanti Mas ada yang masakin, ada yang nyuciin baju, ada yang bisa dipandangin .. hahaha" canda Dafi.


"Maksudnya Mas mau jadiin dia asisten rumah tangga Mas sama Mba Zahwa? jangan tega dong Mas" ucap Fajar.


"Bukan asisten rumah tangga, tapi asisten berumah tangga.. wkwkwk" sahut Dafi.


"Woiii ... itu calon istri mau taro kemana? jangan ngadi-ngadi deh. Mas kayanya nih yang perlu disunat lagi, belum apa-apa mau punya dua istri aja" omel Fajar.


"Becanda ... lagi dianggap serius" jawab Dafi.

__ADS_1


⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪


"Makanya Mas ... jangan pernah ngomong yang nggak-nggak .. jadi do'a kan? Sekarang Mas harus milih antara Mba Zahwa atau Qeena? yang jelas siapapun yang Mas pilih, pastinya ada wanita yang tersakiti" kata Fajar sambil memandang Dafi yang tertidur pulas di karpet.


__ADS_2