ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 229, Pamit


__ADS_3

Sudah dua bulan ini, Dafi dan Qeena menjalani pernikahan dengan bertempat tinggal beda propinsi. Tergantung siapa yang sempat maka mendatangi satu sama lainnya. Lebih banyak Qeena yang ke Semarang mengingat kesibukan Dafi yang luar biasa. Hal ini memang sudah menjadi kesepakatan diantara mereka berdua. Harus ada yang mengalah pada intinya karena keadaan.


Kamis ini sengaja Qeena naik travel pagi-pagi biar sekitar jam tiga sore udah sampe di Semarang. Dia membawakan banyak selai srikaya, pesanan teman kerjanya Dafi.


Dafi rajin promo ke rekan kerjanya jadi pada tertarik. Dafi yang mengumpulkan orderan, nanti kalo dia balik ke Jakarta atau Qeena ke Semarang pasti dibawa semua orderannya. Selain selai juga mulai ada pesanan roti gandum, sambal cumi dan pete serta ungkepan ayam. Rata-rata yang tugas di Semarang, jauh dari keluarga, kalo ga bujangan ya long distance married kaya Dafi. Jadi mereka kadang malas buat keluar rumah, jadi makan yang praktis aja dengan cara masak sendiri.


Selepas sholat subuh, Qeena pamit ke mertuanya sambil nunggu jemputan mobil travel.


"Jalan jam berapa?" tanya Pak Dzul.


"Dijemput travel jam enam infonya" jawab Qeena sambil mencium tangan Pak Dzul, kemudian Pak Dzul mencium kening Qeena.


"Bilang sama Mas Dafi .. minta pindah ke Jakarta aja. Kaya gini wira wiri kan ga baik juga dalam rumah tangga. Pengajuan mungkin lama, tapi yang penting diusahakan dulu" kata Pak Dzul.


"Kan Mas Dafi habis ini juga balik Jakarta Yah. Toh sudah ada calon yang menggantikan dia disana" ujar Qeena.


"Ya maksudnya jangan mau lagi terima tugas di daerah. Disini aja kumpul sama keluarga. Lagian Mas kan anak paling besar, punya kewajiban juga jagain keluarga selain keluarga kecilnya" lanjut Pak Dzul.


"Iya Yah .. nanti disampaikan ya ke Mas Dafi nya. Ayah mau mochi yang biasa? atau bawain ikan asap buat dibikin mangut iwak pe?" tanya Qeena.


"Ga usah .. Ayah udah ga kepengen makan itu lagi" jawab Pak Dzul.


"Kenapa Yah?" ucap Qeena heran, biasanya Pak Dzul selalu minta dibawakan mochi khas Semarang.


"Yah .. nanti jadi kan kita datang ke pernikahan anak rekan bisnis Bunda? Ayah yang jemput atau kita ketemu di lokasi?" Bu Fia yang baru keluar kamar langsung nimbrung.


"Nanti dijemput aja ya" kata Pak Dzul.


Qeena berpamitan sama Bu Fia walaupun Bu Fia kaya ga menganggap Qeena ada didepan matanya.


"Bilangin Mas Dafi buat cepet pulang, udah tiga Minggu ga pulang. Kamu juga jangan bolak-balik aja, kan ongkosnya mending buat ditabung. Udah mah kursus mahal, jadi harus irit-irit. Sekarang kan yang cari uang baru Mas sendiri aja. Kamu belum punya penghasilan tetap" cerocos Bu Fia.


"Udahlah Bun, namanya juga pengantin baru, mana bisa lama ga ketemu. Alhamdulillah kita ga pernah pisah dari nikah, jadi ga ngalamin kaya mereka. Lagian Mas Dafi pasti udah ngitung biaya bolak balik mereka selama berjauhan. Toh mereka ga minta ke kita, malah ngasih kita juga kok" papar Pak Dzul.


"Ayah mah belain mantunya terus" sahut Bu Fia.


"Bukan membela .. tapi nasehatin Bunda biar ga usah ikut campur urusan rumah tangga anak. Mereka tau apa yang akan mereka lakukan buat keluarga. Kita cuma liatin aja, kalo diminta bantuan baru deh kita turun tangan" lanjut Pak Dzul.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Gelas yang dipegang Fajar tiba-tiba jatuh dari genggamannya. Sianh ini dia ga banyak pasien di IGD, tapi badannya seperti ga bertulang sedari pagi, rasanya kaya letih yang amat sangat.


"Kenapa dok?" tanya perawat.


"Badan lemes banget rasanya. Tolong deh pakein alat cek gula darah sama tensi dong" pinta Fajar.


Perawat mengecek sesuai perintah dari Fajar. Semua normal-normal aja.

__ADS_1


"Laper kali dok" ucap perawat.


"Tadi siang makan kok, semalam juga cukup tidur" jawab Fajar.


"Saya bikinin teh manis dulu ya dok" kata perawat berinisiatif.


Fajar meminum teh manis hangat kemudian keluar keringat dari pori-pori tubuhnya.


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


Qeena udah selesai merapihkan rumah dinasnya Dafi termasuk mencuci dan menyetrika baju Dafi.


Tadi supir kantor yang ambil pesanan di rumah dinas Dafi karena Qeena ga mampir kantor. Dafi juga meminta Qeena ga usah masak karena mereka akan menghadiri acara pengajian di wilayah tempat tinggal Dafi, makanya Qeena sudah membawakan tiga loyang bolu buat menambah makanan yang disajikan dipiring.


Biasanya pengajian ini diadakan tiap malam Jum'at kedua dan keempat, diawali dari sholat Maghrib kemudian mengaji bersama dan lanjut sholat Isya. Selepas sholat, semua mendengarkan paparan tentang kegiatan masyarakat (seperti mengelola sampah plastik, gerakan menanam tanaman obat-obatan di rumah) sambil menikmati cemilan yang ada. Jam delapan malam biasanya sudah selesai. Rencananya Dafi akan mengajak Qeena menikmati angkringan dekat kampus yang terkenal enak dan murah.


🏵️


Dafi sampe rumah sekitar jam setengah enam sore. Dia membuka kemejanya, memakai kaos singlet. Qeena menyediakan secangkir kopi hangat buat Dafi. Sekitar sepuluh menit kemudian Dafi udah mandi dan bersiap berangkat ke Mesjid sama Qeena.


HP Dafi dan Qeena dimatikan agar lebih khusyu dalam mengikuti rangkaian pengajian.


🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍


"Gimana ini .. ga ada yang bisa ditelpon" kata Mak Nuha yang kebingungan.


"Pada kemana sih?" ujar Mak Imah panik.


"Iya ... iya.. cepetan kesana. Ayo yang lain masuk kedalam rumah, kita sholat Maghrib dulu" ajak Mak Nuha.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Habis sholat Maghrib, Fajar baru ingat kalo HP nya mati dari tadi karena lobet dan belum dicharge. Belum ada pasien di IGD, jadi dia bisa sedikit rehat dulu.


Fajar duduk di kursi depan IGD sambil melihat TV. Ada beberapa orang juga yang duduk bersamanya.


Ada breaking news di tol lingkar luar Jakarta terjadi Kecelakaan beruntun beberapa mobil dengan mobil pengangkut bahan bakar dan truk berisi sembako serta beberapa mobil pribadi. Banyak korbannya dalam kecelakaan tersebut. Semua korban, baik yang meninggal ditempat dan yang luka-luka dibawa ke Rumah Sakit Polri.


"Ya Allah ... mana jam orang pulang kerja, pasti jalanan juga macet total tuh" kata salah satu keluarga pasien.


"Liat aja tuh kendaraan pribadi juga sampe ada sepuluh mobil, tabrakan beruntunnya kenceng kali ya?" tanya lainnya.


"Keliatannya sih begitu" sahut lainnya.


Fajar seperti melihat mobil Ayahnya diantara deretan mobil yang keliatannya rusak berat. Fajar buru-buru ke IGD dan mencharge HP nya.


Tiba-tiba ada pasien kecelakaan masuk ke IGD.

__ADS_1


"dok tolong dok .. ini anak saya ketabrak motor pas tadi Maghrib keluar rumah mau jalan ngaji" ujar seorang Bapak sambil menggendong anaknya.


"Silahkan langsung ke bed periksa ya Pak" jawab Fajar yang langsung bertindak secepat mungkin.


Dia memeriksa bagian vital dari korban. Sudah tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan. Seketika tangis pecah didalam IGD setelah dia menyatakan korban sudah meninggal dunia.


Selama mengenyam pendidikan, hingga ikut stase dan berbagai praktek di Rumah Sakit, sudah sering melihat keluarga pasien yang menangis hingga meraung-raung di IGD, tapi kali ini terasa menyesakkan buat Fajar.


Diusapnya air mata yang terlanjur turun dipelupuk matanya.


💐


Mas Anto memarkir mobilnya ga jauh dari IGD, secepat kilat dia menuju IGD.


"Assalamualaikum Mas Fajar" sapa Mas Anto sambil ngos-ngosan.


"Waalaikumsalam .. ada apa Mas?" tanya Fajar menghampiri Mas Anto.


"Mas ..... kita harus cepat ke Rumah Sakit Polri, Bapak sama Ibu kecelakaan" ucap Mas Anto pelan.


"Kecelakaan dimana?" tanya Fajar kaget.


"Toll ... pasti udah ada beritanya sekarang di tivi, coba aja Mas liat" sahut Mas Anto.


"Maksudnya mobil Ayah ada disalah satu yang tabrakan beruntun itu? tau darimana beritanya? hoax ga?" tanya Fajar berusaha ga panik.


"Bu Fia tadi telpon ke Mba Parti, beliau tadi di ambulance menuju Rumah Sakit Polri. Bu Fia udah hubungi ketiga anaknya tapi ga ada yang aktif semua. Sekarang kita kesana Mas buat ngecek. Bu Fia ga tau kondisi Bapak gimana, soalnya beda-beda ambulancenya. Tapi tadi liat Pak Dzul masih bantuin Bu Fia ngelepasin seatbelt" saran Mas Anto.


"Oke .. oke ... saya operan dulu dan mencari dokter pengganti di IGD. Mas Anto tunggu di mobil aja" ujar Fajar.


Fajar langsung lapor ke duty manager malam ini bahwa dia ga bisa melanjutkan dinas jaga IGD karena ada urusan keluarga. Karena tau ini bersifat emergency, pihak Rumah Sakit mempersilahkan untuk tidak melanjutkan dinas tapi menunggu tiga puluh menit dulu hingga dokter pengganti datang.


"Nyala dong .. nyala dong .. ini kenapa sih HP jadi lama banget nyalanya. Padahal kan udah dicharge lima belas menitan" omel Fajar ke HP nya.


"dok .. dokter jaga yang di ruang rawat akan menggantikan jaga disini, silahkan operan dulu" kata perawat.


Fajar tampak berbincang sama dokter sejawatnya operan ada pasien yang baru meninggal karena kecelakaan dan ada yang sedang menunggu hasil laboratorium.


Setelah itu Fajar langsung naik ke mobil menuju Rumah Sakit yang dimaksud. Fajar masih mencharge HPnya yang ga kunjung nyala. Dia akhirnya meminjam HP Mas Anto.


Fajar sibuk memencet beberapa nomer telpon.


"Ini Mas Dafi, Qeena sama Izma HP nya kok bisa kompakan ga aktif, tau lagi emergency kaya gini. Pada kemana sih" omel Fajar.


"Udah dicoba telepon berkali-kali Mas, tapi pada ga aktif semua" sahut Mas Anto.


"Tapi tadi gimana kondisi Bunda sama Ayah?" tanya Fajar.

__ADS_1


"Bu Fia cuma bilang menuju Rumah Sakit aja dan liat Pak Dzul juga dibawa pake ambulance lain karena kakinya susah gerak, khawatir patah tulang. Selebihnya Bu Fia cuma nangis" adu Mas Anto.


"Ya Allah lindungilah orang tua hamba" do'a Fajar.


__ADS_2