
Sudah sepuluh hari Dafi meninggalkan Jakarta dan hubungannya sama Qeena masih dingin karena bisa dikatakan Qeena kecewa karena dibalik penjebakan ini dirinyalah yang akan dikorbankan untuk menikah sama Rian, ditambah orang tersebut adalah Bu Fia dan Iyus, makin lengkap sakit hatinya. Qeena ga mau nerima panggilan telpon dari Dafi, hanya membalas lewat chat aja.
Mak Nuha tau ada sesuatu antara Dafi dan Qeena, tapi beliau ga mau ikut campur.
Dafi memberikan space yang luas buat Qeena berpikir, baginya cukup ga menekan Qeena aja udah bagus. Dafi sangat paham emosi Qeena yang masih labil.
🏵️
Qeena dan Mak Nuha lagi nemenin Rian main sepeda di halaman depan rumahnya. Sekalian ngabuburit aja, yang lain sedang menyiapkan hidangan berbuka. Sejak ribut sama Bu Fia, Qeena udah ga mau masak dan menyiapkan hidangan berbuka, lagipula dia juga ga pernah mau kumpul di rumahnya Pak Dzul. Rian tahun ini kuat berpuasa setengah hari, hal yang ga pernah dilakukannya sepanjang hidup. Memang agak sulit memberikan pengertian menahan lapar dan dahaga ke Rian, makanya sering dialihkan perhatian ke yang lain daripada minta makan minum.
Sebenarnya Pak Dzul sudah menanyakan langsung ke Qeena dan Mak Nuha, tapi keduanya kompak menjawab sudah terbiasa hanya berdua menjalani Ramadhan, jadi masih perlu waktu buat membiasakan diri berkumpul sama keluarga Pak Dzul.
Saat lagi tertawa bersama Rian, Iyus langsung masuk pagar rumahnya Dafi dan menyeret Qeena kedalam rumah.
Rian berusaha memukuli Iyus karena dianggap menyakiti Qeena, tapi tenaga Iyus lebih besar dan badannya Rian terdorong hingga terpental ke tembok. Mak Nuha membantu Rian bangun, Rian menangis karena kesakitan. Mak Nuha coba menenangkan Rian.
"Eh Qeena .. Papa bagi uang... sekarang juga" ujar Iyus penuh amarah.
"Bapak mabok ya?" tanya Qeena yang mencium bau alkohol dari mulutnya Iyus.
"Jangan banyak nanya ... pokoknya bagi lima juta sekarang" hardik Iyus.
"Ga ada Pak kalo segitu, lagian kata Mas Dafi juga Bapak udah ditransfer uang" jawab Qeena.
"Suami Lo kalo transfer cuma sedikit, mana cukup coba" jawab Iyus.
"Ya kalo hampir tiga hari sekali minta transfer ya uang dari mana Pak? kan gajian juga cuma sebulan sekali. Kira-kira dong kalo minta uang. Lagian ini bulan suci, Bapak malah mabok-mabokan" jawab Qeena.
"Oh jadi udah berani ngelawan ya? ga usah sok nasehatin .. emang ustadz?" ucap Iyus.
"Emang kalo yang berhak nasehatin cuma seorang ustadz?" tanya Qeena.
"Kebanyakan cingcong .. "ujar Iyus makin marah.
Rupanya jawaban Qeena membuat Iyus tambah naik pitam, diseretnya tubuh Qeena dan dihempaskan hingga kena meja TV. Karena TV layar datarnya ga seimbang jadi terjatuh tepat mengenai kakinya Qeena.
"Pake jilbab tapi sama orang tua kurang ajar, timbang minta duit aja segala ribet, tuh kan jadi TV nya ancur" ujar Iyus tambah kesal.
Kaki Qeena kena pecahan TV. Mak Nuha teriak. Bu Fia yang baru aja turun dari mobil langsung menghampiri masuk ke rumah Dafi karena mendengar ada teriakan.
"Mana uangnya.. cepat ambil" teriak Iyus dimukanya Qeena yang lagi kesakitan.
"Ga ada Pak .. lagian kasian sama Mas Dafi, dia nyari uang tuh capek. Nanti Qeena cari uang ya buat Bapak" janji Qeena.
Iyus yang masih dibawah pengaruh alkohol jadi tambah membabi buta, dipukulinya tubuh Qeena, Mak Nuha udah berusaha menarik tubuhnya Iyus biar menjauh dari Qeena, tapi tenaganya ga kuat dan malah terpelanting ke belakang.
Bu Fia yang baru masuk langsung mukulin Iyus pake bantal sofa. Mas Anto yang juga ikutan masuk rumah menyeret Iyus keluar rumah.
"Ayo cepetan kita ke dokter, itu berdarah banyak" ajak Bu Fia.
Qeena dibantu sama Mak Nuha buat berdiri dan berjalan. Sebelumnya Mak Nuha mencari kain buat nutupin luka, tapi asal ambil aja yang ada di lemari.
"Anto .. siapin mobil" teriak Bu Fia.
__ADS_1
"Ya Bu" jawab Anto sigap.
Iyus udah melarikan diri naik motornya.
Dengan langkah pelan, Qeena menuju ke mobil dipapah sama Mak Nuha. Rian mengikuti langkah Qeena sambil menangis.
"Kenapa nangis sih .. kamu gapapa kan? jangan cengeng jadi anak cowo" ucap Bu Fia.
"Eena .. atit ...Eena ... " jawab Rian yang maksudnya dia sedih melihat Qeena sakit karena berdarah.
Rian pernah ngalamin kakinya berdarah kena beling, jadinya tau rasa sakitnya. Dipikiran Rian pasti Qeena lagi ngerasain yang dia rasain dulu, jadinya Rian ikut nangis.
"Mak.. rumah dikunci aja ya. Jangan dibukain kalo Mak ga kenal. Atau Mak ke rumah Ayah Dzul biar banyak orang disana" ucap Qeena pelan.
"Mak ikut ya?" bilang Mak Nuha panik.
"Mak di rumah aja ya, tuh Mas Rian nangis terus, lagian udah mau Maghrib, Mak di rumah aja ya" ujar Qeena saat sudah duduk di mobil.
Mas Anto diminta Bu Fia mengantar Qeena ke Klinik atau Rumah Sakit terdekat. Tadi buat sementara, kaki Qeena pake kaosnya Dafi yang spontan diambil Mak Nuha dari lemari baju.
Dalam mobil...
"Kenapa Iyus bisa masuk kedalam rumah? Kamu undang ya? Mau bersenang-senang jadi orang kaya di rumah Mas Dafi? Asal kamu tau ya.. rumah anak saya bukan penampungan gembel-gembel jadi jangan seenaknya masukin orang kedalam rumah" omel Bu Fia.
"Maaf Tante, saya lagi nemenin Mas Rian main sepeda, tiba-tiba Pak Iyus datang terus langsung nyeret Qeena masuk ke rumah. Saya sama sekali ga tau kontaknya dan dimana beliau tinggal. Cuma Mas Dafi yang tau kontaknya" ucap Qeena sambil mengambil tissue dan mengelap bibirnya yang terasa perih, ternyata bagian ujung bibirnya ada darah.
"Apa yang Iyus mau? Ayo jujur aja" kata Bu Fia.
"Pak Iyus minta uang, Qeena ga kasih karena baru aja kemarin Mas Dafi transfer" jelas Qeena.
"Maaf Tante.. makanya saya ga kasih karena tau Mas Dafi itu nyari uangnya susah, cape dan ada waktu bersama keluarga yang dia korbankan. Makanya tadi bilang ke Bapak kalo nanti Qeena cari uang dulu buat beliau, ga usah minta ke Mas Dafi lagi" jelas Qeena lagi.
"Cari kerja apa coba tamatan SMA kaya kamu, yang Sarjana aja banyak yang nganggur. Lagian berapa sih keuntungan bikin kue? udah gitu orderannya dikit dan ga tiap hari ada. Jangan janjiin hal yang ga bisa kamu penuhin, ujung-ujungnya kan Mas Dafi juga yang ngeluarin uang. Sejak kenal kalian kayanya keluarga kita kena sial mulu" nyinyir Bu Fia.
"Maaf Tante ... bukannya kebalik? saya yang sial kalo deket keluarga Tante" jawab Qeena yang kepalanya mulai terasa pusing.
Bu Fia malah menelpon Dafi dan menceritakan semua kejadian versinya. Padahal tadi Qeena udah bilang akan bilang sendiri ke Dafi.
Dafi tentu aja marah dengar berita kaya gitu. Dia minta tolong ke Bundanya agar memberikan perawatan yang terbaik buat Qeena. Qeena masih ga mau bicara sama Dafi, kayanya mulai terasa perih kaki dan bibirnya.
"Kenapa telepon ke Mas Dafi, kasian kan Mas lagi kerja jauh jadi khawatir. Tau sendiri kan tipenya Mas Dafi kaya gimana" ucap Qeena ga setuju karena Bu Fia langsung hubungi Dafi.
"Buat jaga-jaga lah, nanti kalo kamu ngadu ke Mas Dafi yang ga bener gimana?" tanya Bu Fia.
"Ngadu yang ga benar gimana maksud Tante?" ujar Qeena.
"Bisa aja nanti kamu bilang saya yang nyiksa ... melakukan kekerasan fisik .. ya kan saya ga bisa ngejamin kamu bakalan ngomong apa ke Mas Dafi, apalagi sekarang Mas Dafi udah dalam genggaman kamu, apa aja yang kamu bilang pasti didengerin. Ya tipe bucin akutlah, sampe sama orang tua aja bisa kurang ajar demi wanita yang kenal sama dia saat udah sukses" kata Bu Fia sambil turun dari mobil.
Bu Fia jalan masuk ke IGD dan meminta perawat menjemput Qeena pake kursi roda. Mas Anto membantu Qeena buat turun dari mobil.
Perawat lelaki yang ada di IGD rebutan buat membantu dokter memeriksa kakinya Qeena. Tapi rupanya dokter jaga yang masih bujangan pun merasa ada rejeki nomplok, bisa curi-curi pandang ke wajahnya Qeena yang cantik itu.
Bu Fia yang ke meja pendaftaran, beliau menelpon Mba Parti untuk mengirimkan fotocopy KTP nya Qeena. Karena memang Bu Fia ga tau identitasnya Qeena.
__ADS_1
"Tunggu ya Mba .. saya sedang minta identitasnya ke orang rumah" jawab Bu Fia.
"Baik Bu .. saya kira akan mendaftarkan anak Ibu" ucap bagian pendaftaran.
"Ini asisten rumah tangga saya .. biasalah ga hati-hati jadi ketiban TV" ujar Bu Fia.
Qeena mendapatkan tiga jahitan di telapak kakinya. Untuk luka dibibir ga perlu dijahit tapi diberikan salep.
Setelah kaki dan bibirnya dibersihkan, Qeena diminta menunggu di IGD aja sambil menunggu obat minum yang dibawa pulang.
Mas Anto yang menunggu obat dibagian Farmasi.
"Panggilannya apa ya? di data namanya Fadhilla Saqeena" tanya dokter jaga.
"Qeena dok" jawab Qeena.
"Saya dokter Setiawan .. yang di medical record nomer HP kamu ya?" tanya dokter lagi.
"Ga tau dok, kan dari datang saya disini" jawab Qeena.
"Oh ya .. kontrol jahitan tujuh hari lagi ya, ketemu sama saya" kata dokter.
"Bukannya tiga harian ya dok? saya pernah kerja di Klinik, rata-rata tiga hari diminta cek jahitan" ucap Qeena.
"Ya kan biar bisa ketemu saya .. hehehe" jawab dokter.
Setelah Qeena meninggalkan IGD, para perawat dan dokter saling becanda.
"Menang banyak DokSet... asyik dahhh" ucap perawat IGD.
"Cakep banget, kirain tadi artis" jawab dokter.
"Itu ART nya Ibu-ibu yang daftar itu dok, nih ada kolom pekerjaan diisi ART" kata perawat.
"Daripada kerja jadi ART mah mending jadi istri saya aja deh, kalo dia mau mah hayuklah diajak ngadep orang tua" kata dokter.
"Tumben dok sama pasien sampe segitunya. Kayanya yang cantik banyak datang ke IGD, tapi baru kali ini nih DokSet genit" ujar perawat.
"Ini cakepnya natural, ga ada polesan kaya cewek-cewek yang biasa. Biaya skincarenya ga perlu gede karena dasarnya udah cantik .. hehehe" lanjut dokter.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Kenapa kamu ga kasih uang aja ke Bapak kamu. Mak khawatir liat kamu kaya gini. Coba tadi kamu ambil aja uang Emak, pasti ga kaya gini" ucap Nuha sedih.
"Kasian mas Dafi Mak.. susah payah dia kerja, cuma buat memenuhi keinginan Bapak. Lagian mana ada uang lima juta kita Mak" jawab Qeena.
"Tapi jadinya kamu kaya gini Qeena..." Mak Nuha mulai menangis.
"Kita harus cari uang Mak.. buat kasih ke Bapak, biar ga nyusahin Mas Dafi mulu. Gajinya Mas kan ga besar Mak, dia juga harus double pengeluaran, buat kita disini sama dirinya sendiri" jawab Qeena.
"Mau usaha apa Qeena? Tiap kita lagi enak-enaknya jualan, selalu ada aja cobaan kaya gini. Ga mungkin kita jualan roti bakar didepan rumah sini. Bisa marah nanti Bu Fia" kata Mak Nuha.
"Kalo Qeena cari kerjaan, pasti ga boleh sam Mas Dafi. Tapi orderan makanan juga belum rutin .. kan bingung jadinya" tambah Qeena.
__ADS_1
"Ya udah istirahat dulu aja.. nanti kita pikirin lagi mau usaha apa" nasehat Mak Nuha.
Dafi terus aja telpon ke Qeena buat memastikan kondisi Qeena. Mak Nuha yang Jawab, sampe meyakinkan Dafi kalo Qeena hanya tinggal pemulihan lukanya aja, ga ada yang serius.