ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 287, Ngobrol


__ADS_3

"Mas .. selama kenal sama Pak Bintang, gimana penilaian Mas?" tanya Qeena saat jalan menuju pulang ke rumah.


"Secara profesional sih Mas suka sama kerjanya. Sesuai sama spek yang ditawarkan, no tipu-tipu antara budget, bahan dan real kerjaannya. Paham juga buat ngasih-ngasih orang yang membantu dalam penunjukan beliau sebagai rekanan. Tapi kalo secara pribadi, gimana kehidupannya, gimana keluarganya ya Mas ga tau. Yang Mas inget ya kalo ketemu biasa aja, ga ada tampang cowo nakal atau genit gitu. Standar aja kaya Bapak-bapak pada umumnya" jelas Dafi.


"Tapi mereka kan pernah hidup bareng, jadi ya tau deh kualitas orangnya kaya gimana" ucap Qeena.


"Ini mah pandangan Mas ya.. kamu boleh setuju, boleh juga ngga. Mungkin ini adalah jalan jodohnya Mak Imah, tadi kan juga anak dan istri pertamanya ikut, berarti udah ga ada masalah dengan pernikahan mereka nantinya. Tapi yang Mas belum habis pikir kenapa harus siri, kan kalo istri pertamanya ngijinin mereka bisa nikah secara sah. Mengenai pernah hidup bersama tanpa ikatan pernikahan ya mau gimana lagi, udah berlalu juga. Mungkin ini rahasia Allah mempertemukan mereka kembali secara baik-baik, bisa aja karena keduanya udah lebih baik dari yang dulu" kata Dafi mencoba menengahi.


"Ga tau deh kaya ada yang disembunyikan sama Mak Imah, secara semua ini tiba-tiba dan dadakan" jawab Qeena.


"Mak Imah kan Emak kamu Neng .. belajar deh memahami, walaupun kalian belum seakrab layaknya Ibu dan Anak, tapi Mak Imah berhak mendapatkan kasih sayang kamu demikian pula sebaliknya" ucap Dafi.


"Ini juga pelan-pelan dijalanin Mas, Mas kan ga pernah ngalamin kaya Qeena, jadi ya ga ngerasain" kata Qeena.


"Bosen dengerin alasan yang gitu-gitu aja. Emang harus jari keiris pisau dulu baru Mas bisa bilang kalo keiris pisau itu sakit? Kita bisa kan belajar dari orang yang kena, gimana cara hindarinnya, terus kalo ga bisa dihindari ya gimana cara penanganannya. Mas juga ga pernah berurusan sama hukum, tapi langkah ini perlu Mas ambil. And u know... Jum'at malam, Mas bersama pengacara dan Dion beserta Pak Pramudya ketemu. Mas sudah melepaskan tempat les tersebut, uangnya juga udah masuk ke rekening Mas dan akan Mas peruntukan buat rumah baca dan usaha buat biaya operasional rumah baca. Semua langkah ini Mas jadikan pelajaran, ini terakhir kalinya Mas berkongsi bisnis. Ga akan mau lagi buka usaha berdua, pilihannya buka sendiri atau ga usah buka sama sekali" kata Dafi.


"Mas mah beda, bisa cepat mikirnya. Qeena kan ga sepandai Mas" sahut Qeena.


"Ga ada orang yang bodoh atau pintar, yang ada tuh orang yang mau belajar. Nih sifat kamu yang harus banyak diubah ... ngeyel kalo dibilangin. Ayo mulai dikikis tuh ngeyelnya, usaha makin maju, harus tebal kuping, tebal hati dan mau memperbaiki diri. Mas selalu siap mendukung kamu. Mas akan jadi orang yang paling terakhir tertawa setelah Mas pastikan kamu tertawa bahagia, kalo kamu menangis .. Mas akan ada disamping kamu, menyediakan bahu buat bersandar dan tentunya baju Mas .. buat ngelap ingusnya.. hehehe" kata Dafi.


"Kenapa sih Mas bisa Sesweet ini? padahal Mas yang dulu orangnya jaim, pendiam, cenderung tegas dan sering menghindar dari banyak orang" tanya Qeena.


"Karena Mas belajar .. sifat yang ga baik ya harus diubah, apalagi sekarang Mas adalah seorang suami, ada yang harus Mas pertanggungjawabkan kelak" kata Dafi.


"I Love You" jawab Qeena sambil mencium tangannya Dafi.


"Bisa disimpan ga I Love You nya buat ntar di rumah?" balas Dafi.


"Tuh kan kaku ... orang mah jawab I Love You too kek, or Love You more ..atau apalah gitu" protes Qeena.


"Harus ya? ehhhmmm... terlalu pasaran ya bilang I Love You ... Kalo Mas .. I'mΒ headΒ over heelsΒ for you" jawab Dafi.


"Head over heels kan artinya jungkir balik Mas" ujar Qeena.


"Makanya pergaulan yang luas. Frasa itu biasanya digunakan untuk mengiaskan sesuatu yang begitu besar dan dalam, seperti cintaku padamu. Jadi, artinya tuh sangat mencintai dan tergila-gila padamu yang mampu menjungkirbalikkan perasaan Mas" jelas Dafi.


Keduanya pun saling melemparkan senyuman.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Mak Nuha memajukan waktu pulangnya, beliau naik mobil travel menuju Jakarta. Ga bilang ke Qeena kalo mau pulang, jadi kejutan aja pas pulang, tau-tau udah muncul aja di dapur produksi.


"Assalamualaikum" sapa Mak Nuha.


"Waalaikumsalam" jawab yang ada di dapur.


"Mak kok pulang ga bilang-bilang" protes Qeena sambil mencium tangan Mak Nuha dan memeluknya.


"Kalo bilang pasti harus dijemput lah, harus inilah.. harus itulah... yang penting kan Emak udah sampe sini dengan selamat" ucap Mak Nuha.


Mak Nuha membawakan oleh-oleh buat orang rumah dan semua yang bantu produksi.


"Imah kemana?" tanya Mak Nuha celingukan.


"Di rumah orangtuanya Mak, sejak dilamar, ga balik kesini lagi" jawab Qeena.


"Kemarin Mak telpon dia, bilangnya mau kesini dulu, ambil barang-barangnya, makanya Mak pulang, biar ketemu" kata Mak Nuha.


"Iya kemarin juga bilang begitu ke Qeena" ucap Qeena.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Dafi sedang meeting, HP nya di silent, ada banyak misscall dari Pak Shaka. Baru pas break ishoma, Dafi menelpon balik. Saling menyapa dan berbasa-basi menanyakan kabar.


"Jadi kita ngobrolnya ditempat santai aja ya, Weekend ini saya ajak piknik mau ga?" tanya Pak Shaka.

__ADS_1


"Kemana Pak?" tanya Dafi.


"Nyebrang ke pulau seribu aja. Saya liat ada resort yang bagus, ya sekalian refreshing aja" ajak Pak Shaka.


"Dalam rangka apa ya Pak? apa mau tau jawaban Mak Nuha terhadap lamaran Bapak?" tembak Dafi.


"Emang ya kalo sama kamu apa aja bisa diprediksi, pantes jadi lulusan terbaik saat kuliah.. ilmu statistiknya dipake banget" puji Pak Shaka.


"Ya kalo menurut saya juga Mak Nuha ga boleh mengulur waktu, toh ga baik dari sisi manapun" ucap Dafi.


"Kamu dan Qeena gimana pandangan terhadap hal itu?" tanya Pak Shaka.


"Kami berdua ikut apapun keputusan Mak Nuha. Beliau juga berhak bahagia terhadap pilihannya. Pak .. ini kita berandai-andai saja, kalo diterima ya kami minta tolong Mak Nuha dibimbing kearah yang lebih baik, sebagai anak mungkin kami masih banyak kekurangan pengetahuan dalam mengurus Mak Nuha. Kalo ga diterima juga kami berharap hubungan baik diantara kita tetap terjalin seperti biasanya" pinta Dafi.


"Insyaa Allah .. jangan khawatir untuk hal itu" kata Pak Shaka meyakinkan.


"Secara pribadi saya sangat percaya sama ucapan Bapak, tapi Mak Nuha pasti punya pemikiran sendiri. Biar bagaimanapun beliau pernah mengalami pernikahan yang menjadi mimpi buruk sepanjang hidupnya" ingat Dafi.


"Ya .. Bapak paham kok" jawab Pak Shaka.


"Makasih atas segala pengertiannya" ucap Dafi.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Jam enam pagi, Dafi, Mak Nuha dan Qeena udah sampe di dermaga Ancol. Disana juga sudah berkumpul keluarga Pak Shaka. Bu Fia dan Mak Imah menolak untuk ikut karena ada acara masing-masing.


Sepanjang perjalanan di kapal ferry, yang lelaki tampak berbincang agak serius, membahas kondisi ekonomi hingga perpolitikan di negeri ini. Sedangkan yang wanita fokus sama anak-anak yang penasaran melihat beberapa kali lumba-lumba loncat dekat sama ferry yang mereka tumpangi.


"Bapak-bapak ga punya pembahasan lain kali ya, hampir tiap ketemu kok pembahasannya itu-itu aja, udah kaya para pakar yang saling adu omongan di TV" protes Erin.


"Maklum Teh .. mereka kan punya usaha yang sangat dipengaruhi sama iklim ekonomi dan perpolitikan, jadi ya mau ga mau sangat aware terhadap isu-isu itu" jawab Qeena.


"Bisa jadi .. gimana toko kuenya? rame?" tanya Erin.


"Untuk yang online Alhamdulillah sudah punya target market yang jelas, tapi untuk toko kue offlinenya kurang jalan Teh. Ya mungkin banyak hal yang mempengaruhi. Kaya tempat yang ga strategis atau memang varian yang ditawarkan lebih banyak buat kalangan tertentu" jelas Qeena.


"Mau dikontrakin kayanya, temannya Mas Dafi ada yang istrinya usaha kue juga, lagi cari tempat. Jadi ya semua yang ada didalam toko bakal include ke harga kontrak" jawab Qeena.


"Repot juga ya punya toko offline" sahut Erin lagi.


"Tergantung juga Teh .. ya mungkin masih harus banyak belajar lagi. Ini aja orderan online kadang sampe keteteran kalo lagi pas ga ada orang" papar Qeena.


"Tapi emang kamu mah berbakat deh dibidang pastry and cake, walaupun ungkepannya juga enak" puji Erin.


"Alhamdulillah .. kalo ungkepan mah bumbu standar kaya yang lain, tapi sambelnya ini nyontek sambel buatan Mbah di Wonogiri" ujar Qeena.


🌺


Begitu sampai di Resort, rombongan Pak Shaka disambut sama karyawan resort untuk diarahkan ke front office sambil menikmati welcome drink yang disediakan.


"Cantik banget ya tuh cewe" ucap Candra spontan.


Lexa menatap aneh kearah suaminya.


"Ga usah cemburu, ini cuma mengagumi ciptaan Allah, bukan rasa ingin memiliki .. kan Alung mah udah berhenti di Acik seorang" kata Candra yang paham arti lirikan Alexa.


"Bukan cemburu sih Lung .. sejak kita kenal sampe sekarang, kayanya ga pernah denger Alung muji kecantikan wanita. Kayanya cuma sama Acik deh mujinya. Padahal udah banyak seliweran kan didepan kita para wanita cantik selama ini" ujar Lexa.


"Tapi ini kecantikan alamiah banget, belum banyak polesan .. ya sekedar bedak sama lipstik tipis aja. Beda sama kebanyakan yang cantik-cantik itu, udah ada bantuan kosmetik" jelas Candra.


"Jangan kelamaan liatinnya, tuh udah digandeng pawangnya, paham dong artinya apa" ingat Lexa.


"Jauh berubah Acik sekarang ya .. ga gampang cemburuan lagi" puji Candra.


"Apa yang mau dicemburuin? adanya wanita diluar sana pada cemburu sama Acik. Punya Alung yang udah perfect buat Acik" ujar Lexa dengan santainya.

__ADS_1


"Cakeppppp ... Cik.. kamu makan sayur bayam terus ya tiap hari?" kata Candra.


"Ya ngga tiap hari lah, emang kenapa?" tanya Lexa.


"Kok wajah Acik tiap hari keliatannya bening terus ya di mata Alung" canda Candra.


"Mulai deh ngerecehnya" sahut Lexa.


"Tapi itu kan yang membuat seorang Acik bertekuk lutut dan jatuh cinta sama Alung, selain wajah tampan Alung tentunya .. hehehe" ucap Candra dengan pedenya.


"Alung dari dulu pedenya selangit .. hahaha" kata Lexa sambil ketawa kecil.


πŸ’


"Itu pengantin baru atau lagi second honeymoon ya Neng? keliatannya mesra banget, walaupun ga bersentuhan tapi tatapan dan tawa keduanya udah memperlihatkan bagaimana ikatan cinta diantara keduanya" tanya Dafi yang masih duduk didepan front office karena masih diurus kamarnya sama Pak Shaka.


"Keliatannya second honeymoon deh Mas, udah lebih tua dari kita, masa baru nikah sih" ucap Qeena.


"Iya sih ... tapi kayanya belum lama nikah, masih dibawah lima tahun lah kalo dari wajah mereka. Semoga kita bisa terus mesra kaya gitu ya" harap Dafi.


"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab Qeena.


🌺


Pak Shaka memberikan kunci kamar ke semua rombongannya. Mak Nuha menempati kamar sendiri tepat disebelah kamar Dafi dan Qeena. Pak Shaka juga di kamar sendirian tepat didepan kamar Dafi dan Qeena.


Mereka rehat dulu, nanti janjian makan siang bareng. Setelah itu bebas, sampe acara makan malam yang udah diatur sama Pak Shaka di bibir pantai ala barbeque an.


Sore harinya, Dafi dan Qeena mengeksplorasi wilayah dekat pantai. Mak Nuha dan Pak Shaka mengikuti mereka. Kalo anak mantunya Pak Shaka udah repot sama anak-anak yang ga sabar main air mau berenang.


Mereka berempat akhirnya naik ikut ke kapal yang akan keliling pulau selama tiga puluh menit.


"Qeena udah pernah kesini?" tanya Pak Shaka.


"Belum Pak, saya mah jalurnya Jakarta Ciloto Semarang Wonogiri Yogyakarta.. itu juga sejak sama Mas Dafi. Ya tau sendiri kan kondisi kami seperti apa" jawab Qeena.


"Ini kali kedua kesini, dulu pertama pas ini belum lama dibangun. Bapak kira ini resort baru, ternyata masih punya pemilik yang lama tapi lebih luas, fasilitas juga udah makin banyak" cerita Pak Shaka.


"Enak ya jadi yang punya, pengen piknik tinggal kesini" jawab Qeena.


"Betul banget" kata Pak Shaka.


Dafi dan Mak Nuha yang tampak banyak diam saat Pak Shaka dan Qeena ngobrol. Mak Nuha seperti fokus melihat rona wajah Qeena dan Pak Shaka yang tampaknya bahagia. Dafi sendiri duduk dibagian paling belakang perahu, awalnya ngobrol sama tour guide, tapi sekarang dia fokus mengamati ketiga wajah yang sangat familier dimatanya.


"Neng ... rona bahagianya bak seorang anak bertemu Ayahnya, selalu terpancar kalo ngobrol sama Pak Shaka, demikian pula sebaliknya. Andai takdir bisa menyatukan kalian menjadi Ayah dan Anak, pastinya Mas jadi orang yang berbahagia. Tapi Mak Nuha sepertinya masih menyimpan ketakutan untuk berkeluarga lagi ... ya semoga cerita ini akan berakhir dengan indah walaupun ga bersama" ucap Dafi dalam hati.


⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️


Jam tiga dinihari tadi, selepas sholat tahajud, Dafi menuju dapur. Perutnya terasa lapar, dia ga mau membangunkan Qeena yang tampaknya lelah. Dicoloknya magic jar yang masih ada nasi, kemudian masih ada lauk sisa makan malam, oseng-oseng labu Siam. Kemudian Dafi mengambil dua butir telur kemudian dia membuat telur dadar.


"Lapar Mas?" tanya Mak Nuha mengagetkan Dafi.


"Iya Mak" jawab Dafi yang sedang mengambil nasi didalam magic jar.


"Kok ga minta Qeena yang siapin" kata Mak Nuha.


"Kasian dia cape, lagipula Mas kan juga bisa kalo bikin telur dadar aja mah" ucap Dafi.


Mak Nuha curhat ke Dafi tentang keresahan hatinya. Sambil menikmati makannya, Dafi fokus mendengarkan curahan perasaan Mak Nuha.


"Mak udah dapat jawaban atas do'a yang Mak panjatkan? Sebaik-baiknya petunjuk datangnya dari Allah Mak. Mas yakin kalo Mak pasti paham akan segala petunjuk yang Mak dapatkan" saran Dafi.


"Makasih ya Mas.. udah selalu ada buat Emak" ucap Mak Nuha.


"Mak .. Mas ini kan anak Emak.. ga usah sungkan gitu" jawab Dafi.

__ADS_1


Kemudian mereka membahas tentang jawaban ketika bertemu sama Pak Shaka nanti.


"Ya Allah ... berikanlah Mak Nuha kelancaran dalam berbicara nantinya. Semoga pilihannya tidak mengubah keadaan yang selama ini udah kami jalani" ucap Dafi sambil menatap Mak Nuha yang masih menangis dan menutup wajahnya pakai kedua telapak tangannya.


__ADS_2