
"Ya Allah ... Mas ngapain... bikin kaget aja" kata Qeena saat mendapati Dafi tengah duduk dibawah ranjang tepat didepan mukanya.
"Cape ya?" tanya Dafi sambil mengusap kepalanya Qeena.
"Ya nih, Alhamdulillah udah mulai banyak pesenan. Mas kok pulangnya malam terus sih" jawab Qeena sambil bangun dari tidurnya dan duduk bersandar.
Dafi duduk disebelahnya, Qeena langsung memeluk Dafi dari samping.
Menjaga keharmonisan rumah tangga ga selalu soal kualitas dan kuantitas bercinta. Hal-hal kecil seperti berpegangan tangan, berpelukan, pujian manis dan kejutan romantis, juga mujarab mengembalikan api asmara dalam pernikahan.
"Mas ... maafin Qeena ya, ga nurut sama apa yang Mas kasih tau" ucap Qeena tulus.
"Mas paham kondisi kamu dengan banyak tekanan Neng .. tapi Neng juga harus percaya kalo apa yang Mas kasih tau ya untuk kebaikan Neng juga. Mas ga akan menjerumuskan istri sendiri ke hal-hal yang ga bener. Dalam hidup semua pasti menghadapi masalah, tapi lalui proses itu dengan kesabaran dan kepala dingin. Jangan ambil langkah yang belum dipikirkan secara matang. Kalo merasa ga mampu menyelesaikan sendiri, cari orang yang bisa bantu. Kan sekarang Neng punya Mas. Kapanpun, apapun dan dimanapun ... Mas siap buat bantu" kata Dafi sambil mengusap tangannya Qeena.
"Qeena ga dewasa ya Mas? Mas terlalu sempurna buat Qeena. Jadi kerasa ga seimbang. Mas pasti cape ngadepin Qeena" ujar Qeena yang makin mengeratkan pelukannya.
"Kadang ya masih kaya anak-anak labil, kadang strong .. ya semua kan pasti ada latar belakangnya. Saatnya belajar lagi ya, kesalahan itu ya diakui dan diperbaiki. Mas yakin kok kamu cukup pandai buat mencerna semua kejadian dan mengambil ibrohnya" jawab Dafi.
"Insyaa Allah Mas. Maaf ya kalo Qeena belum jadi istri yang baik, ga nurut, masih egois .. ya pokoknya masih gitu lah" ucap Qeena lagi.
"Ceritanya pengakuan ya?" ledek Dafi sambil melihat wajah istrinya yang cantik jelita.
"Iya ... " jawab Qeena dengan senyuman mautnya.
"Makin cantik aja deh istri Mas ini" kata Dafi yang tiba-tiba gemes sambil mencubit pipinya Qeena.
"Udah tau cantik .. malah dicuekin terus, sibuk sama kerjaan" canda Qeena.
"Pedenya selangit rupanya .. boleh juga sih punya kepercayaan diri yang tinggi. Mas mandi dulu, bau keringat banget nih rasanya" pamit Dafi.
"Sadar juga ya ada aroma bau-bau gimana gitu" ledek Qeena sambil menutup hidungnya.
"Bau-bau gini juga kamu duluan yang nempel ke Mas" sahut Dafi.
"Kan cintaaa" jawab Qeena manja.
"Wow... kemajuan pesat sekali ya udah bisa ngerayu" kata Dafi sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Mau minum apa Mas?" tanya Qeena.
"Bubuk jahe yang kemarin Bunda kasih masih ada? kalo ada bikinin itu aja" jawab Dafi.
"Siap Boss" kata Qeena.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Alifa lagi meriang, untunglah Fajar lagi ada di rumah, jadi bisa langsung diobati. Anaknya dititip ke Bu Fia dulu.
"Cape ya?" tanya Fajar dengan lembut.
__ADS_1
"Iya Mas ... Kalila agak manja hari ini, maunya digendong terus. Kan lagi ngerjain skripsi juga, jadinya ya cape banget" jawab Alifa.
"Mulailah berbagi sama Bunda, kalo kamu lagi sibuk ya titipin Kalila ke Bunda dulu" saran Fajar.
"Nanti Bunda cape kan Mas .. kasian" kata Alifa.
"Kan disini juga banyak orang, Mas gapapa kok kamu nitipin sebentar ke siapa gitu, terus kamu fokus ngerjain skripsi. Toh yang penting masih dalam pengawasan kamu dan ASI eksklusif" ujar Fajar.
"Ya Mas .. makasih ya udah selalu ngertiin Alifa" ucap Alifa.
"Maaf ya kalo Mas juga belum banyak punya waktu buat kalian semua, kesibukan praktek dan kuliah lagi bikin waktu Mas ga banyak di rumah" kata Fajar.
Keduanya malah quality time mumpung ga ada Kalila. Bu Fia sangat bahagia bisa tidur sama Kalila karena biasanya selalu sama Alifa.
πππππππππππππππ
"Malam-malam masih aja pegang HP" ucap Dafi yang baru keluar dari kamar mandi.
"Ini sharing ke grup produksi, besok orderannya apa aja. Jadi bisa disiapkan" jawab Qeena sambil mematikan HP nya dan meletakkan di meja.
Dafi memakai celana pendek dan kaos oblong, kemudian meminum wedang jahe instan yang udah Qeena buatin. Setelahnya dia tidur disampingnya Qeena.
"Neng ... Mas mau kasih tau sesuatu nih. Ya sekedar kamu tau aja sih, Mas sengaja ga kasih tau dari awal, ga mau jadi nambahin beban pikiran Neng" kata Dafi.
"Apa?" tanya Qeena sambil menghadap ke arah Dafi.
"Sewaktu Mas masih kuliah kan merintis usaha bimbel buat anak SD dan SMP. Bisa dibilang hampir delapan puluh persen itu modal Mas. Tapi tadi Mas udah menunjuk pengacara buat ngurus masalah di usaha itu. Ada dugaan pemalsuan laporan keuangan tiga tahun terakhir ini serta ada penyelewengan kekuasaan. Mas udah bicara baik-baik sama partner Mas, Dion namanya, tapi dia ga ada niat baik buat memberikan apa yang Mas minta. Jadi akan masuk ke ranah hukum, minta ada audit dan kejelasan. Sekarang udah ada tiga cabang, Alhamdulillah banyak juga yang les disana. Kita ga pernah buka cabang lagi selain tiga tempat itu. Tapi rupanya dia membuka cabang baru, miliknya secara pribadi tapi pakai nama brand tempat les kita yang udah lumayan punya nama di Jakarta Selatan. Bahkan dia mengarahkan beberapa orang yang akan les di tempat les kita ke tempat les pribadinya dengan deretan diskon. Kami selalu buka di lokasi bagus, di samping SD dan SMP favorit, jadi banyak yang tertarik les karena hampir sembilan puluh persen peserta didik bisa melanjutkan jenjang ke sekolah favorit yang mereka tuju. Tutornya pun anak-anak mahasiswa dengan deretan prestasi dan mumpuni dibidangnya" buka Dafi.
"Penghasilan dari Bimbel itu buat biaya operasional sebuah rumah belajar calistung (membaca menulis dan berhitung) anak-anak yang kesusahan mendapatkan fasilitas pendidikan karena masalah ekonomi. Ada dipinggiran Jakarta letaknya. Mas emang ga kasih tau semua keluarga, baru kamu aja yang tau karena Mas ga mau banyak orang tau kalo Mas adalah orang dibelakang itu" lanjut Dafi.
"Mulia banget sih Mas" puji Qeena lagi.
"Maaf ya ... bukan mengungkit masa lalu, tapi teringat masa kecil kamu aja, jadi Mas gabung di rumah belajar itu" ucap Dafi.
"Bagus Mas .. anak muda harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk ummat" jawab Qeena.
"Balik lagi ya ke cerita tempat les Mas. Awalnya rekan Mas ini satu visi misi sama Mas, tapi namanya manusia ya, kalo udah duit didepan mata, bisa lupa. Sebenarnya Mas ga mau bersenggolan sama hukum, tapi ini jalan terbaik yang bisa Mas tempuh buat keadilan. Biaya operasional rumah belajar udah makin butuh banyak lagi dan Mas ga bisa ambil dari gaji dan lainnya, itu hak kamu Neng. Tau sendiri kan sekarang bisa dibilang Mas udah jarang dapat penghasilan diluar gaji, waktu Mas banyak tersita di kantor, uang lemburan juga standar aja. Usaha jual beli mobil udah dihibahkan ke pesantren, usaha fotocopy juga dicurangin sama karyawan jadi Mas tutup. Rumah kontrakan udah ga punya karena dijual buat sewa ruko dan beli semua peralatan usaha kamu. Mas juga udah jarang jadi tutor para mahasiswa statistik karena ga ada waktu buat ngajarin mereka. Ya sekarang paling hanya gaji, tunjangan dan lemburan aja dapatnya. Ada sih sedikit tabungan dan tanah yang Mas beli pas Bunda kasih anak-anak uang secara merata. Makanya kenapa Mas harus selesaikan tempat les itu. Ga dibubarkan sih, tapi minta dibagi aja bagian Mas dan harus ganti nama kalo dia mau nerusin usaha itu dan kepemilikan buat dia semua. Nanti uang itu rencananya akan Mas pakai buat rumah baca, kalo bisa sih dibuat usaha baru biar operasionalnya ga bergantung sama Mas lagi. Udah Mas rencanain mau bikin warung sembako gitu, yang jaga ya orang tua murid. Ada bagian buat mereka tapi yang utama bagian buat rumah baca. Mas punya tanah disana, waktu itu ada temen nawarin, Ayah yang bayarin dan Mas yang cicil, walaupun kecil ya cukup buat bikin warung sembako dan tempat buat rumah baca. Udah bilang juga sama Bunda, katanya mau dibantu dari uang yang jadi hak Rian. Bunda taunya ini rumah baca baru, Mas emang ga cerita kalo ada Mas disana dan udah lama gabung. Tempatnya strategis sih, dekat sama sekolah dan beberapa komplek. Jadi semoga rame ya warung sembakonya" cerita Dafi.
"Terserah Mas aja, tapi kenapa ga dibicarakan secara damai aja Mas? maaf ya Mas .. bukannya kalo urusan sampe ke ranah hukum malah nanti Mas juga yang rugi? rugi waktu dan uang, bukan rahasia umum lagi kan gimana hukum disini, ibaratnya lapor kehilangan motor malah jatohnya kehilangan rumah. Apa yang Mas dapat ga sebanding sama apa yang Mas keluarin" saran Qeena.
"Udah Mas upayakan sejak tiga bulan yang lalu dan masih ga mau ada kesepakatan juga, malah menghindar sih adanya. Udah dibantu mediasi tapi ga kunjung ada kata sepakat. Semoga lewat jalur hukum dia lebih bisa diajak kompromi" ucap Dafi.
"Mas .. tapi kan baru aja Mas kelar urusan hukum, eh sekarang berurusan lagi. Nanti ga fokus kerja lagi. Image Mas juga pasti jelek, hobi banget urusan sama pihak berwajib" kata Qeena.
"Mas sekarang malah udah ga fokus nih, antara ngantuk sama kepengen mau bercinta... hehehe" ledek Dafi malah ngomongin hal lain.
"Terus jadinya mau tidur atau meniduri?" goda Qeena dengan kerlingan matanya yang ga mampu ditolak sama Dafi.
"Pilihan kedua kayanya lebih menggoda" jawab Dafi dengan nakalnya langsung menyergap tubuhnya Qeena.
__ADS_1
Keduanya tertawa bahagia, mengabiskan malam berdua penuh cinta.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Pintu ruang kerja Dafi diketuk dari luar, ga lama kemudian masuk sekretarisnya.
"Pak Danish ada tamu" kata sekretarisnya Dafi.
Dafi menghentikan pekerjaannya.
"Siapa?" tanya Dafi.
"Pak Dion dan pengacara Bapak, Pak Pramudya" jawab sekretarisnya Dafi.
"Ke ruang tamu aja langsung, tolong siapkan minuman untuk mereka ya, lima menit lagi saya kesana" ujar Dafi.
"Baik Pak" ucap sekretarisnya Dafi.
π
Langkah Dafi terlihat sangat percaya diri masuk kedalam ruang tamu disebelah ruangannya. Dia bersalaman dengan para tamunya.
"Mas .. semalam saya ketemu sama Pak Pramudya, banyak pembahasan tentang langkah-langkah hukum yang akan Mas tempuh. Saya menyadari kesalahan yang saya perbuat Mas, makanya saya datang hari ini ketemu sama Mas" sesal Dion
"Ya Pak... baiknya diselesaikan secara kekeluargaan saja, toh Pak Dion sudah mengakui kesalahannya. Beliau ga mau jadi urusan yang berwajib dengan pasal penggelapan dan pemalsuan data. Semua sudah diakui dan siap memberikan laporan yang Bapak minta" lanjut pengacara.
"Maaf Pak Pram .. bisa saya berbicara berdua dulu dengan Dion? Bapak tunggu disini saja, saya akan bicara di ruang sebelah" pinta Dafi.
"Silahkan, saya tunggu disini" jawab pengacara.
πΊ
Dion mengikuti langkah Dafi ke ruangan sebelah. Dafi mempersilahkan Dion duduk.
"Dion .. ini langkah terakhir yang saya ambil loh, saya tunggu kabar baiknya kan ga kunjung bisa dihubungi. Kita kenal kan udah lama, sejak masa SMA, kita beda satu angkatan tapi dalam wadah organisasi yang sama. Kita punya visi misi turut mencerdaskan anak bangsa dengan membuka tempat les. Dengan konsep serius tapi santai dan kita rekrut tutor, para mahasiswa dengan segudang prestasi dan mumpuni ilmunya buat bantu ditempat kita. Bisnis yang kita mulai dari rumah petakan, dengan kamu dan saya aja pengajarnya, sampe bisa berkembang seperti sekarang. Kamu ga hanya mendzolimi saya, tapi kamu juga tega terhadap anak-anak kurang beruntung yang ga bisa les baca, menulis dan berhitung. Kamu kan tau, dari usaha tempat les itulah saya membiayai rumah baca, kalo ga dari usaha tempat les .. uang dari mana coba? saya cuma abdi negara dengan penghasilan yang ga banyak tapi punya banyak mimpi buat negeri ini" kata Dafi penuh kekecewaan.
"Ya Mas... saya akui berbuat curang. Tapi tolong jangan diproses hukum Mas. Kasihanilah keluarga saya, lagipula sebulan lagi saya mau nikah, bisa berantakan semua kalo saya kena kasus hukum" pinta Dion memelas.
Dafi melihat kearah Dion. Adik kelasnya yang sangat pintar dalam bidang akademik tapi ga beruntung dari segi ekonomi. Saat itu Pak Dzul melihat dua anak muda yang sangat antusias memberikan ilmunya, akhirnya dibuatlah les privat sebagai wadah mereka mencari uang saku sekaligus memberikan ilmu yang mereka punya kepada adik-adik kelasnya. Pak Dzul juga yang membayar kontrakan dan membeli peralatan mengajar pada awalnya. Dion ga lulus tes masuk kuliah ditempat yang ada ikatan dinas, jadinya ga bisa kuliah dulu saat itu, walaupun dia diterima disalah satu PTN terkemuka, faktor biaya yang menghadang langkahnya.
Dafilah yang mengembalikan modal dari Pak Dzul dari bagi hasil tempat les tersebut. Sejak Dafi punya penghasilan tambahan, dia mulai membesarkan kepak sayap tempat les dengan merekrut para mahasiswa yang kepandaiannya diatas rata-rata. Tujuannya simpel, para mahasiswa ini bisa mendapatkan uang saku tambahan, para siswa mendapat cara jitu dan mudah dicerna karena disajikan dengan santai, tentunya Dafi dan Dion pun mendapatkan keuntungan karena selisih yang dibayar siswa dibandingkan sama biaya yang dikeluarkan untuk operasional tempat les pun lumayan. Dari uang tersebut, mereka menyisihkan separuh keuntungan untuk membesarkan tempat les hingga dikenal orang. Kemudian separuh keuntungan dibagi dua secara rata untuk Dafi dan Dion.
Dafi juga yang meminjam ke Pak Dzul untuk menyewa ruko yang lebih besar karena jumlah siswa udah bertambah. Dafi pula yang mengembalikan pinjaman ke Pak Dzul selama ini. Karena Dafi melihat kesungguhan Dion dalam membesarkan tempat les dan semangatnya kuliah setahun setelah dia lulus SMA. Begitu Dafi bertemu dengan aktivis yang bergerak dibidang pendidikan anak dengan ekonomi lemah, Dafi memberikan keuntungan yang dia dapat untuk membantu rumah baca.
π
"Kaget ya saya tempuh jalur hukum? kamu kira saya diam selama ini dengan segala perlakuan kamu karena saya kasian? kamu salah Dion, sebenarnya saya bisa kok diajak kerjasama dengan baik kalo partner saya baik. Kamu udah banyak mengecewakan saya. Sorry .. saya lanjutkan laporan ini" kata Dafi tegas.
"Tolong Mas .. tolong pikirkan gimana malunya orang tua saya, terus gimana sama rencana pernikahan saya ... tolong Mas" mohon Dion.
__ADS_1
"Kalo kamu ga punya pengacara, kamu bisa konsultasi sama Pak Pram aja, tapi bayar ya jasanya, ga gratis. Saya kira cukup ya Dion. Saya masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan, jadi saya ga bisa lama-lama nerima tamu dengan alasan urusan pribadi" lanjut Dafi sambil berdiri dari duduknya dan kembali ke ruang tamu sebelah. Berbincang sebentar sama Pak Pramudya kemudian mohon pamit.