ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 96, Masa lalu mulai datang


__ADS_3

Malah hari Dafi baru pulang dari kantor menuju rumah. Temannya menginap di hotel. Karena rumahnya di Jakarta, maka Dafi memutuskan buat pulang ke rumah aja.


"Pak Iyus kontrak dekat sini kan?" tanya Dafi begitu sampe jalan menuju rumahnya.


"Iya" jawab Iyus.


"Turun di jalan aja ya, ga usah ke rumah, besok saya bawa mobil sendiri, ga usah antar ke Bandara pas saya pulang, saya langsung dari kantor aja minta antar mobil kantor atau naik taksi" perintah Dafi dengan datar.


"Nanti didepan jalan menuju kampung aja ya Mas saya turunnya" pinta Iyus.


"Ya" jawab Dafi.


Iyus turun dari mobil. Dafi bersiap ganti posisi duduk dibelakang kemudi.


"Pak ... makasih udah jemput dan nungguin saya kerja" ucap Dafi sambil memberikan uang dua ratus ribu rupiah ke Iyus.


"Makasih Mas" ujar Iyus sumringah.


"Saya mau minum jamu dulu, mau ikut?" tawar Dafi yang kebetulan berhenti didepan kios jamu langganannya.


"Boleh Mas ... " jawab Iyus.


Dafi memesan jamu pegal linu dan tolak angin, dari kemarin badannya kurang fit karena banyak begadang buat laporan yang harus dibawa ke Jakarta sekarang ini. Kalo Iyus mesan jamu kuat plus madu dan telur.


"Eh Mas Dafi ... lama ga keliatan .. calon pak dokter juga nih ... pada kemana sih?" tanya tukang jamu langganan.


"Calon dokter lagi sibuk dapetin gelar dokter, kalo saya sekarang dinas di seberang pulau, ini juga nyuri waktu pulang biar ketemu keluarga" jelas Dafi.


"Emang di Jakarta udah keabisan lowongan kerja apa ya Mas sampe harus nyebrang pulau?" tanya tukang jamu.


"Saya kan tergantung penempatan Bang. Ya mumpung ada kesempatan, ambil ajalah" jawab Dafi.


"Oh gitu ya Mas .. tapi bersihan nih Mas Dafi disana, malah berisi sedikit badannya" kata tukang jamu.


"Iya... cocok sama makanannya, lagian saya tinggal dilingkungan yang masih banyak pohon ... jadi jarang kena polusi" jawab Dafi sambil mengambil kacang goreng dalam kemasan.


"Ini bapaknya dulu ya .. jamu kuat pake telor ... mertuanya Mas Dafi ya?" duga tukang jamu sambil memberikan cangkir ke Iyus.


"Nikah aja belum Bang .. ini supir kantornya Bunda" kata Dafi yang ga suka ada yang bilang Iyus mertuanya.


"Kirain ... kesini bareng Mas Dafi, akrab banget keliatannya, ya kali aja diseberang pulau sana dapet jodoh" ledek tukang jamu.


"Ini sebelah kios sampe rusak gitu atapnya, abis ujan yang kemarin ya?" tanya Dafi buat alihin pembicaraan.


"Iya Mas .. asbesnya pada terbang, kalo warung tenda sebelah mah ambruk tuh nibanin gerobaknya, jadi hancur semua, pedagangnya aja bocor kena bambu yang rubuh. Hujan angin ****** beliung soalnya, serem banget, seumur-umur baru ngalamin hal kaya gitu kemarin" cerita tukang jamu sambil menyerahkan jamu ke Dafi.


"Kok nih kios jamu aman aja, padahal samping asbes terbang, terus sebelah hancur tuh tendanya. Keliatannya ga ada yang bocor" kata Dafi heran.


"Alhamdulillah sih Mas, masih Allah lindungin. Bisa jadi karena saya nempelin tolak bala kali ya? ya kaya pegangan sakti gitu deh Mas" ujar tukang jamu.


"Ga boleh menyekutukan Allah Bang .. dagang mah ga perlu pake yang aneh-aneh, asal racikan jamunya pas juga akan laku" ingat Dafi.


"Ga aneh saya Mas ... tuh emang Mas Dafi ga liat tuh spanduk didepan kios jamu saya ada tulisan tolak angin segede gaban, ya berarti kan jelas kalo kios ini menolak angin .. jadi angin ga berani masuk ... hehehe" canda tukang jamu.


"Bisa ae Bang ... orang nanya serius juga, malah becanda ... hahahaha" jawab Dafi sambil menghabiskan jamunya.

__ADS_1


Setelah membayar jamu, Dafi menuju mobilnya. Iyus sudah pulang dari tadi. Begitu naik mobil, mata Dafi menangkap sebuah pemandangan yang mengganggunya. Tampak Iyus sedang memegang tangan seorang Ibu.


Dafi turun dari mobil dan membantu melepaskan tangannya Iyus.


"Pak Iyus ini apa-apaan sih? Ibu ini udah tua masih aja digangguin" ucap Dafi marah.


"Mas ga usah ikut campur, ini urusan keluarga" kata Iyus.


"Tapi ga pake kekerasan dong" bela Dafi.


Pas dilihatnya muka Ibu ini familier, diingat-ingat lagi siapa Ibu ini.


"Kayanya saya pernah kenal ya ... tapi siapa ya? .. saya kurang ingat" ucap Dafi.


"Ini Mas Dafi kan ya? yang dulu nolong saya, anterin saya ke rumah keluarga" kata Mak Imah yang ragu juga.


"Oh ... iya ... Mak Imah ... lama ga ketemu, mau kemana Mak malam-malam gini?" tanya Dafi.


"Mau beli jamu, kaki Emak rasanya sakit" jawab Mak Imah.


"Mak Imah kenal sama lelaki ini?" tanya Dafi sambil nunjuk kearah Iyus.


"Ga ..." jawab Mak Imah acuh.


"Eh ... pura-pura ga kenal lagi" ujar Iyus kesal.


"Pak Iyus bisa pergi dulu ga? ga usah sok kenal deh. Mak Imah kan udah bilang kalo ga kenal" usir Dafi.


Iyus pergi sambil mengumpat. Dafi mengantar Mak Imah ke tukang jamu dulu.


"Lah kok balik lagi Mas Dafi? ada yang ketinggalan?" tanya tukang jamu.


"Jamu apa Bu?" tanya tukang jamu.


"Kaki saya sakit" jawab Mak Imah.


Tukang jamu meracik jamu buat Mak Imah.


"Mak udah ke dokter?" tanya Dafi.


"Udah tiga hari yang lalu ke Puskesmas, besok Emak ambil hasil Rontgen di Klinik gede yang dipinggir jalan itu" ucap Mak Imah.


"Terus kata dokter kenapa kakinya?" kata Dafi serius.


"Diminta ke orthopedi katanya sih buat jelasnya, yang jelas ini efek dari jatuh dari motor, kemungkinan ada tulang yang bergeser tapi ga pernah Emak rada dari dulu, nah kambuh lagi pas Emak jatuh berkali-kali jadinya lebih berasa sekarang sakitnya" jelas Mak Imah.


"Ada uangnya Mak buat ke dokter?" tanya Dafi hati-hati.


"Ada ... Emak kan dagang. Emak pokoknya mau sembuh, mau nyari anak Emak" ujar Mak Imah sambil menitikkan air mata.


"Sabar ya Mak ... banyak berdo'a aja semoga Allah pertemukan sama anak Emak. Tetap do'akan dia dimanapun berada, kalo memang ga bisa bertemu di dunia ini, semoga Allah pertemukan di akhirat kelak" ucap Dafi.


"Aamiin ya rabbal'alamin .. Emak kangen sama dia ..." kata Mak Imah.


"Emak punya foto atau apa gitu? sekarang kan jamannya medsos, coba aja share disana, siapa tau bisa ketemu" ujar Dafi.

__ADS_1


"Emak ga ngerti main medsos, satu-satunya yang Emak punya foto saat dia lahir. Abis itu Emak sibuk sama kesenangan diri sendiri tanpa ngurusin dia" lanjut Mak Imah.


"Agak repot juga ya kalo gitu... Dafi juga ga bisa bantu Emak, soalnya Dafi kerjanya ga di Jakarta, disini cuma tiga hari" jelas Dafi lagi.


"Sekarang dimana Mas Dafi kerjanya?" tanya Mak Imah


"Di Sungai Penuh Mak .. Propinsi Jambi sana, nyebrang kerjanya" ucap Dafi.


Dafi mengantarkan Mak Imah ke rumahnya setelah melihat ke sekeliling kalo Iyus udah ga keliatan.


"Mak kenal sama Pak Iyus?" tanya Dafi lagi.


"Ngga" jawab Mak Nuha berbohong.


"Kenapa tadi dia narik tangan Emak?" ujar Dafi heran.


"Mau nyopet kali" ujar Mak Imah.


"Masa sih ... " ucap Dafi masih bingung.


🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞


"Qeena ... Ibu harap kamu tau siapa Damar dan siapa kamu. Masa depan keluarga kami ada dipundak Damar. Bapaknya mau pensiun. Kakak-kakaknya kerja semua, tapi masih belum mapan. Kami orang tua berharap usaha kami ini bisa maju, jadinya bisa menopang kehidupan anak-anak kami semua. Masa depan Damar pun bisa dibilang cerah, dia anak pandai, kemungkinan malah bisa sekolah lebih tinggi lagi setelah lulus sarjana. Kami ingin pendamping Damar itu yang sepadan, yang mampu mengimbanginya kelak. Kamu cuma anak broken home, hanya punya Emak aja, ga pernah mau cerita siapa kamu sebenarnya. Orangtua mana yang rela melepaskan anaknya ke keluarga ga jelas seperti kamu. Kami ga memandang harta Qeena, kamu pun anak baik. Tapi kenapa kamu dan Nuha ga kunjung cerita siapa kalian? bisa ngejamin kalian dari keluarga baik-baik?" kata Ibunya Damar saat ngobrol di saung kebun nanas.


Sengaja Ibunya Damar mengajak Qeena ketemuan sebelum Minggu depan keluarga Damar akan meminang Qeena dan mengajukan pertunangan sambil menunggu tiga tahun lagi buat menikah.


"Bu ... saya sudah pernah menolak Kak Damar berkali-kali. Hanya satu alasan saya, saya ga bisa berkomitmen, ga punya keinginan buat menikah. Tapi Bapaknya Damar dan Pak Shaka yang setengah memaksa Emak buat menerima rencana pertunangan ini. Emak sebenarnya serba bingung, disatu sisi, Emak takut saya disakiti lelaki, tapi disisi lain Emak khawatir saya ga normal dengan membenci lelaki. Bukan saya ga sopan ... silahkan Ibu batalkan aja rencana buat mengikat saya dalam tali pertunangan sama Kak Damar, ga akan kemana Bu hubungan kami kalo saya sendiri ga suka sama lelaki" ucap Qeena tegas.


"Tapi kamu bukan pecinta sesama jenis kan?" tanya Ibunya Damar.


"Mungkin lebih baik orang menganggap saya seperti itu daripada saya harus mencari alasan kenapa ga mau menikah sama lelaki" kata Qeena.


Erin yang habis bertemu sama klien yang mau mengambil nanas dari kebun, ga sengaja mendengar pembicaraan Ibunya Damar dan Qeena.


"Kamulah yang berusaha cari alasan biar Damar ga tergila-gila dan membatalkan buat bertunangan" ide Ibunya Damar.


"Mau alasan apa Bu? disorientasi seksual dengan bilang saya sukanya sesama jenis? atau saya minta harta yang banyak sebagai syarat pernikahan biar keluarga Ibu mengira saya matre? Atau mau bilang saya anak yang ga jelas asal-usulnya jadi akan membawa masalah dikemudian hari? saya hanya lulusan Homeschooling atas jasa keponakan Ibu sedangkan Kak Damar calon sarjana?" tantang Qeena.


"Ga nyangka ya... selama ini pendiam dan tampak manis kesemua orang ternyata mulutnya ga ada adab, ngomong sama orang tua seperti itu .. ga sopan!!!!" ucap Ibunya Damar sambil pergi meninggalkan Qeena.


Air mata menetes dikedua pipinya Qeena. Air mata yang ia tahan agar tampak terlihat tegar didepan Ibunya Damar.


"Qeena ..." panggil Erin sambil menepuk bahunya Qeena.


Buru-buru Qeena mengusap air matanya agar ga keliatan sama Erin.


"Nangis aja Qeena ... kadang air matalah yang menjadi kita lebih tenang. Maaf ya tadi sempat mendengar pembicaraan kalian. Maafin juga Tantenya Aa' Zay" kata Erin pelan.


Qeena memeluk Erin, dengan kasih sayang Erin mengusap kepala Qeena.


"Sabarlah Qeena ... Teteh pernah ada diposisi kamu, pernah dipandang hina oleh orangtuanya Aa'. Teteh tau kamu ngomong gitu buat merusak citra baik kamu didepan orang tuanya Damar karena kamu ga mau bertunangan sama Damar" lanjut Erin.


"Iya Teh ... Qeena kan udah bilang ga mau tunangan .. kenapa semua ga paham" ujar Qeena dalam tangisnya.


"Mak Nuha khawatir sama trauma kamu Qeena. Aa' Zay juga yang meyakinkan Mak Nuha kalo kamu perlu diikat dulu biar kenal ada lelaki baik di dunia ini, yaitu Damar. Tujuan pertunangan ini sebenarnya sebagai terapi buat kamu Qeena ... kamu sakit ... kamu harus bisa belajar jatuh cinta, ga semua lelaki itu jahat. Buka mata kamu Qeena, jodoh itu cerminan siapa kamu. Teteh percaya kamu anak yang baik, kelak akan ada seorang lelaki yang baik buat kamu" nasehat Erin.

__ADS_1


"Ga Teh ... kalo Emak maksa ... Qeena mau kabur aja" ucap Qeena.


"Apa kabur bisa nyelesai in masalah? Kamu bisa ninggalin Emak yang berjuang demi membesarkan kamu? walaupun Teteh belum tau sebenarnya siapa kamu, tapi Emak sudah menyelematkan kamu dari kehidupan gila kedua orang tua kandung kamu yang ga peduli sama kamu" ingat Erin.


__ADS_2