
Iyus secara ga sengaja ketemu sama Nuha saat Nuha mau membeli sabun cuci ke warung. Nuha berhasil kabur dan masuk ke kost an.
Qeena yang baru pulang dari sekolahan jadi bingung sama ketakutan Emaknya di kamar.
"Mak ... Mak kenapa?" tanya Qeena panik yang melihat Nuha mojok di kamar ketakutan.
Qeena mengambilkan air minum buat Emaknya. Setelah minum tampaknya Nuha bisa sedikit tenang.
"Kita harus pergi dari sini Qeena" ajak Nuha panik.
"Kenapa Mak?" tanya Qeena.
"Ga usah banyak tanya, bawa semua barang kamu" perintah Nuha sambil merapihkan bajunya kedalam tas.
Kebetulan saat pindahan kemarin ada tas dorong milik Fajar yang dipinjamkan ke Qeena dan belum dikembalikan.
"Ada apa Mak, masa kita pergi gitu aja ga pake pamit sama keluarga Om Dzul. Lagian kita mau kemana Mak? mau pulang ke Wonogiri?" tanya Qeena sambil merapihkan baju dan alat sekolahnya.
"Kita ga boleh ke kampung, mereka bisa nemuin kita. Kita hidup baru Qeena, kita cari tempat yang ga ada orang tau siapa kita" ucap Nuha.
"Ya tapi kenapa?" tanya Qeena masih belum paham.
"Stop bertanya Qeena. Emak udah pusing, sekarang terserah kamu, mau ikut sama Emak atau kita pisah mulai dari sekarang" ancam Nuha.
"Ngga Mak ... Qeena mau ikut Emak" ucap Qeena.
Nuha dan Qeena pamit ke penjaga kost bilangnya mau pulang kampung dan menitipkan kunci ke penjaga kost.
Nuha memilih malam karena diliatnya Iyus udah pergi dari depan kost an. Mereka jalan kaki menuju jalan yang dilalui angkutan umum. Ternyata Iyus tadi pergi buat membeli rokok, ketika melihat Nuha, dia pun langsung mengejarnya. Nuha dan Qeena udah naik angkot.
Terjadi kejar-kejaran antara supir angkot dan motornya Iyus.
"Ibu kenapa sih sama orang yang naik motor itu, Ibu mencuri ya?" tanya supir angkot, kebetulan hanya mereka berdua yang baik.
"Pokoknya jangan sampe orang itu nyusul kita, terserah mau lewat mana. Tolong kami Bang, dia orang jahat" pinta Nuha.
Qeena sepertinya mengenali kalo itu motor Iyus, tapi karena pakai helm, jadinya wajah Iyus ga keliatan.
Mereka selamat dari kejaran Iyus karena motor Iyus kehabisan bensin.
"Siallllll .... pake abis bensin segala. Tapi tadi Nuha sama Qeena kan ... apa artinya Qeena anak gw? tapi apa bener itu Nuha? kalo bukan kan mereka ga perlu kabur" ucap Iyus sambil menendang motornya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Qeena katanya mau datang" kata Fajar yang lagi tiduran di sofa ruang keluarga.
"Masih masak bubur sumsum buat Mas kali" ucap Izma.
"Coba ditelpon aja, mungkin dia minta dijemput" usul Pak Dzul.
Fajar mencoba menelpon Qeena tapi HP nya ga aktif. Fajar juga menelpon ke HP Mak Nuha tapi ga kunjung diangkat.
πππππππππππππ
Nuha dan Qeena turun di terminal bus. Mereka naik secara acak aja bus, ntah kemana tujuannya. Ternyata mereka naik kearah Cianjur. Qeena tertidur di bus, dia emang suka pusing kalo naik kendaraan terlalu lama, jadi solusinya harus tidur biar ga mual.
"Nuha?" tanya lelaki di bangku deretan seberang tempat Nuha duduk.
"Abang?" lirih Nuha menjawab.
"Ya Allah Nuha ... kemana aja?" tanya lelaki tersebut.
Ternyata lelaki itu adalah kakak iparnya Iyus. Orangnya sama sombongnya kaya istrinya. Dulu saat Nuha ga berdaya, ga pernah lelaki ini membantu. Bahkan saat Nuha pernah mau utang ke rumah Mpoknya Iyus, lelaki ini ga bergeming buat memberikan bantuan. Padahal saat itu Nuha butuh buat beli susunya Qeena khusus buat bayi dengan berat kurang.
"Kamu mau kemana? tinggal di Cianjur sekarang?" tanya Bang Jali.
"Ya" jawab Nuha berbohong.
"Itu Qeena? cantik ya ... mirip sama Imah" ujar Bang Jali lagi.
"Bukan ... ini anak saya" kata Nuha makin berbohong.
"Kamu udah nikah lagi? Terus dimana Qeena?" buru Bang Jali.
__ADS_1
"Oh ... masih pada ingat sama Qeena? kemana aja sampe empat belas tahun ga ada yang nyariin dia, bahkan ke Kampung kami pun ngga ada yang sampe" ucap Nuha dengan sinisnya.
"Yahhh ... ngarepin Iyus mah capek doangan. Ga ada pikirannya" jawab Bang Jali.
"Enyak sekarang dimana?" tanya Nuha mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Enyak pindah ke Bojong .. ga jauh kok dari stasiun. Nih Abang kasih nomer Enyak, nomer Lo berapa?" kata Bang Jali.
"Ga punya HP Bang" ujar Nuha.
Bang Jali mencatat nomer HP dan alamat lengkap Enyak disebuah kertas dan diserahkan ke Nuha.
"Mainlah kesana, Enyak pengen ketemu sama Qeena" ujar Bang Jali.
Nuha hanya diam dan meletakkan kertas tersebut didompet lusuhnya.
π π π π π π π π π π π π π
"Mas Ajay ... mister Muramatsu mau ketemu di Hotel Ciloto Park, lagi nginep disana, kan abis liat kolam belut kita tadi pagi" lapor Saino.
"Udah malam ini No, masa janjian sama orang deket Maghrib" ucap Aa' Zay.
"Besok pagi kan misternya mau pulang ke Jakarta, lagian " tambah Saino.
"Ya udah siapin mobil, mau siap-siap dulu" perintah Aa' Zay.
Saino mempersiapkan mobil, dikeluarkan dari garasi dan dipanasin.
"Agung mana?" tanya Aa' Zay.
"Lagi ke klinik, Fino pasca sunat pake smartclamp malah bengkak anuannya" ujar Saino.
"Ohhh ... Ya udah ... yuk ikut meeting" ajak Aa' Zay.
"Aduh Boss ... sorry menyori nih, saya udah janji sama mertua mau anterin ke Pasar Ciloto buat belanja daging sama ayam, lah pan besok adik ipar mau ada lamaran. Ini lagi pada sibuk di rumah mertua, saya mabur dulu kesini buat siapin laporan belut dan kemampuan warga buat budidaya kalo emang kerjasamanya jadi. Jangan lupa ya Mas, saya kan udah ajuin cuti dari sebulan yang lalu, jadi besok sama lusa ga masuk kerja" lapor Saino.
"Oke ..." jawab Aa' Zay.
"Ayah .. Ayah ... ikut..." pinta Zavier.
"Aa' jagain Bunda sama adik-adik ya, Ayah mau ketemuan dulu sama rekan kerja" jelas Aa' Zay.
"Iya Yah .. " ucap Zavier nurut.
"Good boy, sana masuk ... ingat jangan begadang nonton TV terus ya" kata Aa' Zay.
"Remote TV diumpetin sama Bunda" bisik Zavier.
"Besok lapor aja sama Mbah Akung, pasti nanti Bunda nyerah. Kalo sama Ayah mah ga bisa" canda Aa' Zay sambil berbisik.
"Ayah kok takut sama Bunda? kalo Mbah Akung tuh jagoan, semua orang takut sama Mbah Akung" kata Zavier sambil mengacungkan dua jempol.
"Ayah bukan takut sama Bunda, tapi sayang banget, jadi Ayah ga mau ribut sama Bunda. Nanti kalo kamu udah gede pasti paham kalo lelaki itu pasti mengalah sama perempuan, kaya kamu ke adik Zayda" jawab Aa' Zay.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
"Ada yang ga beres nih kayanya, masa sampe malam gini Qeena ga kunjung datang" kata Fajar.
"Coba Mas kita kesana, mungkin Mak Nuha sakit jadi mereka lagi ke dokter" ujar Izma.
"Bisa jadi ... kenapa Mas ga kepikiran ya" jawab Fajar.
Fajar menyambar jaket motornya yang tergantung dibelakang pintu kamarnya kemudian mengambil kunci motor.
Fajar mengarahkan laju motornya ke kost an. Disaat ketemu sama penjaga kost, kagetlah dia.
"Bener Mas, mereka pamitnya mau pulang kampung, emang ga bilang sama Mas Fajar?" tanya penjaga kost.
"Kalo pamit ya saya ga nanya, coba kunci kamarnya mana? kita masuk kesana, siapa tau udah ga ada barang mereka" pinta Fajar.
Fajar dan penjaga kost masuk ke kamar Qeena di lantai dua. Begitu pintu dibuka, kasur sudah terlihat rapih, di meja juga sudah tidak ada barang apapun. Kamar mandi kosong. Kemudian dibukanya lemari baju, udah ga ada barang lagi.
"Mereka kabur" ucap Fajar bingung.
__ADS_1
"Kabur kemana Mas?" tanya penjaga Kost.
"Meneketehe ... lagian namanya kabur segala ditanya kemana, kalo dia jawab namanya mau liburan bukan kabur" jawab Fajar sewot.
Fajar melaporkan kejadian ini ke Ayahnya.
Semua terkejut kecuali Bu Fia.
"Kenapa harus kabur? bukannya semalaman kamu masih nelpon sama dia minta bubur sumsum?" tanya Pak Dzul.
"Iya ... terus ga ada tuh nada suaranya yang mencurigakan" jawab Fajar.
"Iya ... tadi pagi juga masih chat kasih tau kalo lagi bikin cendilnya" jelas Izma.
"Dia kemana ya?" pikir Pak Dzul makin bingung.
"Tuh ... namanya orang udik, ya ga akan pernah naik kelas. Emang ga ada sopan santunnya. Pergi ga ada tuh ucapan terima kasih, nyelonong gitu aja" nyinyir Bu Fia.
"Kalo dia ngucapin mah bukan kabur namanya Bundaku sayang" jawab Fajar.
"Cek tuh ... siapa tau ada barang di kost an ilang, atau para penghuninya ada yang keilangan barang ga?" ingat Bu Fia.
"Mereka ga akan sehina itu kali Bun. Mereka masih megang banget agamanya, jadi ga mungkin dia mencuri ... eh tapi sebenarnya dia pernah sekali mencuri sih" ujar Fajar menggantung.
"Nah maling mah tetap akan jadi maling" timpal Bu Fia.
"Bukan mencuri barang Bun ... Qeena itu udah mencuri hati Fajar sejak kecil dulu .. hahaha" jawab Fajar bahagia.
"Mas ya ... disaat genting kaya gini kok malah becanda" protes Izma.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bus yang ditumpangi sama Nuha mengalami kerusakan di Ciloto, rencananya akan dikirim bus pengganti buat mengangkut para penumpang sampe di Cianjur. Semua penumpang menuju musholla di rest area, menunaikan ibadah sholat Maghrib dan mencari makan malam.
Nuha meminta Qeena untuk pergi diam-diam, karena tas juga sudah diturunkan dari bus. Nuha ga mau sampe Bang Jali melihatnya lagi. Qeena masih bingung sama maksudnya Nuha untuk pergi meninggalkan rombongan bus.
Mereka berhasil menjauh dari rest area dan berjalan mengikuti langkah kaki aja. Sudah hampir jam 9 malam.
"Qeena ... istirahat dulu ya, Mak cape" kata Nuha.
"Didepan sana ada saung kosong Mak .. kita duduk disana aja" jawab Qeena.
"Ya" jawab Nuha.
Meeting Aa' Zay hanya sebentar aja. Jam sembilan malam dia udah menuju jalan pulang ke rumah.
"Oh iya mau beli lampu, tadi kayanya belakang dapur lampunya putus. Ga punya stok pula" kata Aa' Zay sambil menepi ke sebuah warung yang lumayan besar.
"Maaf Pak ... apa ada air mineral yang ga dingin?" tanya Qeena.
"Ada Neng" jawab Pedagang.
"Boleh Pak yang seliter ya" jawab Qeena.
"Apalagi Neng?" tanya pedagang.
"Itu aja Pak" kata Qeena.
Aa' Zay sampai terpesona melihat sosok Qeena yang tiba-tiba berdiri disampingnya. Bisa dibilang Aa' Zay ini ingat wajah para penduduk sini walaupun ga tau namanya.
"Penduduk baru ya Neng?" tanya Aa' Zay.
"Bukan Pak ... hanya lewat aja" jawab Qeena.
"Lewat? ini mah jalan kampung, makin kedalam ya adanya rumah-rumah aja. Ga ada jalan besar atau terminal" jelas Aa' Zay.
"Ini Neng ..." ucap pedagang sambil memberikan pesanan Qeena. Qeena pun memberikan uang ke pedagang.
"Permisi Pak" ucap Qeena kearah Aa' Zay.
Baru aja Aa' Zay masuk mobil, dia nampak ada sosok wanita cantik yang baru diliatnya duduk di saung yang dia bangun buat para petaninya rehat.
"Itu ngapain ya malam-malam masih diluar, mau kemana sih? ga takut apa cewek-cewek jalan berduaan aja. Mereka orang beneran bukan ya? tapi keliatannya mereka orang baik-baik" ujar Aa' Zay ngomong sendiri.
__ADS_1