ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 121, Kenapa begini?


__ADS_3

"Mas ... Mas ... bangun Mas" panggil Pak Dzul sambil mengguncang tubuhnya Dafi.


"Qeena ... Qeena ... bangun... " ucap Pak Dzul agak marah.


Keduanya tampak masih tertidur pulas. Pak Dzul memanggil Fajar, Mak Nuha serta Bu Fia untuk masuk kedalam kamar.


"Jar ... gimana nih bangunin mereka" kata Pak Dzul penuh amarah.


Setelah yang dipanggil masuk, pintu ditutup sama Pak Dzul.


"Dicek dulu ya Yah .." kata Fajar agak bergetar.


"Tunggu, saya mau tutupin dulu rambutnya Qeena" pinta Mak Nuha.


Mak Nuha mengambil jilbabnya Qeena dan menutupi rambut Qeena yang hitam panjang terurai.


Fajar mendekat kearah tempat tidur, hatinya ga karuan. Memang posisi tidurnya Qeena sudah tidak memeluk Dafi lagi, tapi semua rasa tercampur aduk dalam diri Fajar.


Qeena tampak cantik sekali saat tidur. Wajah tanpa beban, wajah asli tanpa pulasan.


"Qeena .. Mas masih sulit buat terima hal ini" kata Fajar dalam hatinya.


"Jar ... cepet dicek dulu Mas nya dan Qeena, masih hidup kan mereka berdua?" tanya Pak Dzul.


"Masih Yah, keliatan kok masih bernafas" jawab Fajar.


Fajar menerapkan tindakan ABC kepada keduanya.


"Mak Nuha ... tolong duduk disebelah Qeena, ikuti apa yang saya lakukan ke Mas Dafi" pinta Fajar, saat ini dia berusaha menempatkan dirinya sebagai seorang dokter.


"Ya" jawab Mak Nuha sambil mengusap air matanya.


Tampak sekali Mak Nuha mencoba tabah disisa-sisa kesabaran yang ada.


Fajar melakukan tindakan pertama, A (airway atau jalur napas), dia memeriksa nafas, dilihat juga tidak ada sumbatan di hidung dan di mulut, sehingga udara bisa dipastikan bisa keluar masuk dengan normal.


Langkah selanjutnya B (breath atau pernapasan). Keduanya diperiksa apakah tampak kesulitan untuk bernapas, tapi keduanya tampak tidur wajar dengan nafas yang teratur.


Langkah ketiga adalah C (circulation atau sirkulasi), semua tubuh yang nampak dicek dengan seksama, biasanya kalo kondisi seperti ini bisa disebabkan misalnya karena perdarahan atau kecelakaan. Tapi ga ada luka yang menyebabkan jadi kehilangan banyak darah atau luka trauma lainnya.


"Semua tampak normal aja, hanya mereka tertidur pulas. Ini kayanya mereka dikasih obat bius" terang Fajar.


"Obat bius?" ucap Pak Dzul, Bu Fia dan Mak Nuha bersamaan.


"Paling sekitar sejam lagi mereka akan sadar" kata Fajar lagi.


"Ga bisa dibangunin Jar?" tanya Pak Dzul.


"Yah ... mereka pingsan karena obat bius, bukan pingsan kaya anak sekolah pas upacara" ujar Fajar.


"Kalo mereka dikasih obat bius .. siapa pelakunya? motifnya apa? kenapa mereka yang jadi korban? ini kan rumah Ayah. Mereka juga ga tinggal disini, jadi kalo ada dendam ke mereka berdua, kenapa ga di mereka masing-masing?" ucap Pak Dzul masih belum paham.


"Ini pasti ulahnya Qeena" Bu Fia angkat bicara.


"Emang Qeena ngapain? kita aja ga tau dia bakal kesini. Mas Dafi pun juga ga tau kalo Qeena ada disini" lanjut Pak Dzul.

__ADS_1


"Ya bisa aja kan Mas Dafi dijebak sama Qeena. Apalagi sih motifnya kalo ga karena uang" kata Bu Fia asal.


"Bun .. kalo Qeena mau bikin Mas pingsan .. kenapa dia juga pingsan? kan bisa pura-pura. Lagian Qeena tuh badannya kecil, mana kuat angkat Mas sampe sini, kan bajunya Mas masih berantakan di ruang keluarga" oceh Fajar.


"Kan bisa aja Mas digoda sama Qeena dan diajak masuk kamar, pas udah sampe sini dibikin pingsan. Buat ilangin jejak ya dia ikut pake obat bius" papar Bu Fia.


"Bun .. pake logika dong ... Kan Ayah udah bilang. Mereka berdua ga tau kalo bisa ketemu disini. Tadi kan Nuha udah bilang kalo Qeena mau takziah. Mas juga pesawatnya banyakan delay jadi ga ke rumah Tantenya dulu tapi langsung pulang" omel Pak Dzul.


"Bun ... kalo Qeena mau gampang mah, ga usah godain Mas Dafi, Fajar nih cuma dilirik sama dia aja mau kok nikahin dia. Qeena bukan gadis penggoda, dia gadis baik-baik" bela Fajar.


Dafi mulai tersadar, saat bangun dia kaget udah banyak orang di kamar, disampingnya pun ada Qeena yang tertidur. Dafi memegang kepalanya.


"Kok Mas disini? kenapa Qeena seranjang sama Mas?" tanya Dafi masih belum dalam kesadaran yang penuh.


"Mas ... Pake bajunya nih" jawab Fajar sambil menyerahkan bajunya Dafi yang terserak di ruang keluarga.


"Astaghfirullah .... kenapa Qeena tidur disini juga" ucap Dafi kaget.


Buru-buru Dafi memakai kaos dan celana trainingnya. Bersamaan dengan itu Qeena bangun, dia juga kebingungan.


Setelah keduanya benar-benar sudah sadar. Mereka diinterogasi sama pihak keluarga. Aa' Zay dan Pak Shaka mendengarkan di ruang tamu.


"Qeena sama Dafi tampangnya kaya abis tidur gitu" kata Aa' Zay heran.


"Jangan-jangan mereka berbuat mesum" bisik Pak Shaka.


"Ga mungkin lah, kita kan udah lumayan kenal gimana Qeena. Dafi juga kelihatan lelaki baik kok" jawab Aa' Zay.


"Orang baik bisa jadi jahat kalo ada kesempatan" kata Pak Shaka.


"Jelasin kenapa begini Mas?" tanya Pa Dzul penuh amarah.


"Mas juga ga paham Yah ... Mas pulang cuma ada Rian, malah ga tau ada Qeena disini. Karena Mas ngerasa badan kayanya lengket terus bau ya langsung mandi. Seingat Mas tuh terakhir duduk di sofa terus ga ingat apa-apa, tau-tau udah di kamar Rian" papar Dafi.


"Kalo kamu gimana Qeena?" tanya Pak Dzul.


"Saya diminta Lek Parti jaga Rian sebentar karena Lek Parti mau ke dokter. Terus saya ke kamar mandi, pas keluar kaya ada yang nyemprot terus ga ingat lagi" jelas Qeena.


"Nyemprot apa?" tanya Pak Dzul.


"Saya ga tau itu apa" jawab Qeena.


"Maksudnya ada orang masuk ke rumah ini?" tanya Pak Dzul lagi.


"Iya .. sepertinya saya liat ada orang yang tiba-tiba datang terus nyemprot, ga jelas siapa" ujar Qeena disela tangisnya.


"Kalo ada penjahat masuk, ga keliatan rumah diacak-acak. Memang saya ga pasang CCTV, jadinya kita ga tau benar ga cerita kalian" kata Pak Dzul.


"Coba cek HP nya dulu Mas ... kan kita ga tau mereka bohong apa ngga" ide adik sepupunya.


"maksudnya?" tanya Dafi yang ga suka dicurigai.


"Bisa kan mereka emang udah janjian" nyinyir sepupunya Pak Dzul.


"Jaga omongan ya Om .. saya masih tau mana yang halal dan haram" ucap Dafi kesal.

__ADS_1


"Ya kan segala kemungkinan bisa" timpal lainnya.


"Cek aja" jawab Dafi yang mengambil HP dari tasnya.


HP Dafi dicek, ga ada chat dari Qeena, tapi ada panggilan masuk dari Qeena siang ini.


"Nih ada panggilan dari Qeena, benar kan ini kamu yang telpon?" cecar saudaranya Dafi.


"Ya .. saya telpon Mas Dafi untuk tanya tentang Nenek Sri disemayamkan dimana, telpon ke Mas Fajar ga aktif, telepon Izma juga ga diangkat" jelas Qeena.


"Lagian jadi cewe harusnya punya marwah, masa ke rumah orang yang jelas-jelas ga ada di rumah para penghuninya. Terus mau aja ditinggal berdua sama Rian. Kalian pasti udah memperhitungkan kalo Rian pasti ga bisa bersaksi apa-apa" sahut saudara lainnya


"Mereka memang dibius, semua tanda-tandanya jelas. Efek bius bisa keliatan kan, buktinya mereka ga langsung bereaksi saat Ayah memukul tangannya Mas Dafi, ya karena efeknya belum hilang. Sekarang juga masih keliatan kok efeknya, keduanya masih rada ngefly" kata Fajar angkat bicara.


"Buktinya mana coba?" tanya saudaranya lagi.


"Jangan lupa saya ini calon dokter, saya belajar hal seperti ini. Sudah melihat hal seperti ini di Rumah Sakit pasca pembedahan. Ini jenis obat biusnya masih rendah, kayanya obat yang dijual dipasaran bebas buat berjaga-jaga kalo ada penjahat" bela Fajar.


"Kayanya emang iya Yah.. Qeena bilang disemprot kan, nah kalo Mas tadi minum es coklat, mana tadi gelas di meja, itu bisa dicek apa minumannya bercampur obat bius" alibi Dafi.


"Ga ada gelas di meja dari kita datang" jawab Bu Fia.


"Didapur mungkin" kata Dafi.


Mas Narko diminta Pak Dzul buat ke dapur, dicoba ditelusuri tiap bagian dapur, tetap tidak menemukan gelas bekas es coklat.


"Ga ada Pak gelasnya" kata Mas Narko melaporkan.


"Apalagi alibi kamu?" ujar Pak Dzul.


"Kita visum, kalo emang saya sudah menodai Qeena, saya serahkan keputusan ke keluarga" kata Dafi dengan berani.


"Tes visum itu harus ada laporan ke kepolisian Mas, nanti pihak kepolisian meminta pihak Rumah Sakit untuk melakukan visum untuk membuktikan apa bisa termasuk kasus rudapaksa" jelas Fajar.


"Polisi? Jangan macam-macam ya Mas. Nama keluarga taruhannya. Kamu juga ga sayang sama karier kamu kalo gara-gara hal ini malah dikeluarkan?" kata Bu Fia tegas.


"Tapi itu cara yang tepat" jawab Pak Dzul.


Bu Fia ketakutan kalo sampe urusan ke kepolisian, bisa-bisa ketahuan kalo diusut tuntas.


Iyus memang pandai, dia membersihkan gelas dan membawanya pergi juga pecahannya.


"Cuma satu solusinya, kita lihat apa Qeena hamil bulan depan" ucap Bu Fia.


Mak Nuha merasa kesal akan semua percakapan ini, karena bisa dikatakan pihak Qeena yang dipersalahkan karena datang ke rumah Pak Dzul.


"Maaf ... saya tau anak saya salah datang ke rumah ini, harusnya dia bisa berpikir panjang. Saya sebagai Ibunya, meminta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak mampu melarang anak saya. Tapi kejadian ini, sungguh diluar dugaan kita semua. Tapi saya bisa menjamin kalo anak saya bukanlah tipe wanita penggoda. Dia ga akan sengaja datang kesebuah tempat hanya untuk berbuat yang nggak-nggak. Kenapa hanya anak saya yang dipersalahkan, kenapa Mas Dafi seakan hanya korban?" ucap Mak Nuha tegas.


Inilah kekuatan seorang Ibu jika melindungi putrinya, sesalah apapun, kalo didepan orang maka akan dibela dulu.


"Saya benar-benar tidak melakukan apapun, saya memang ga punya bukti, tapi saya meyakini jika ini hanya sebuah jebakan belaka" lanjut Qeena.


"Saya minta waktu buat sholat Isya dulu bisa? saya coba akan menenangkan diri dulu" pinta Dafi.


Semua keluarga menyetujui. Dafi segera naik ke lantai atas, menuju kamarnya.

__ADS_1


Sementara itu, Mak Nuha meminta waktu juga bicara sama Qeena. Aa' Zay dan Pak Shaka pun ikut keatas (Pak Dzul menyarankan untuk berbincang di ruangan atas aja biar lebih privat) karena Mak Nuha minta buat didampingi, khawatir terlalu emosi menghadapi Qeena.


__ADS_2