
"Selamat pagi ... Qeena lagi mau olahraga juga di Monas?" tanya Damar dengan sopan sambil menghampiri meja Qeena.
"Loh ... Kak Damar disini juga?" tanya Qeena kaget.
"Iya ... ini lagi makan dulu sama keluarga" jawab Damar.
"Oh ya Kak Damar ... kenalin ini Om Dzul dan keluarganya" ucap Qeena memperkenalkan.
Dengan sopan Damar mencium tangan yang lebih tua dan memperkenalkan dirinya.
"Ini kakak kelas Qeena, Kak Damar namanya, ketua OSIS di sekolah" lanjut Qeena.
"Titip-titip Qeena ya nak Damar. Diingatkan aja kalo ada kesalahan di sekolah, maklumlah dia kan baru di Jakarta" ucap Pak Dzul basa basi.
"Qeena ini adik kelas yang baik kok Om, jadi kayanya bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Oh ya saya permisi dulu, mau bergabung sama keluarga" kata Damar pamit.
"Dimana keluarganya?" tanya Pak Dzul.
Damar menunjuk ke arah meja yang ga jauh dari keluarga Pak Dzul duduk. Ada seorang laki-laki paruh baya melambaikan tangan kearah Pak Dzul.
Ternyata orang tua Damar itu masih rekan satu departemen sama Pak Dzul, tapi jabatannya masih dibawahnya Pak Dzul, meskipun rekan kerja, sudah lama ga ketemu karena Pak Dzul beberapa tahun ini ditugaskan pindah-pindah.
Pak Dzul akhirnya berbincang sama temannya, saling memperkenalkan keluarga satu sama lain. Selera ***** makan Fajar tetiba hilang. Dia tau kalo Damar adalah pesaingnya juga buat mendapatkan Qeena.
"Ini nih ... gw kebanyakan modusnya doang ke Qeena, belum ada waktu yang pas buat ungkapin perasaan gw dan minta dia buat nungguin gw" umpat Fajar dalam hatinya.
Dafi yang paham sama perubahan wajah Fajar pun tergelitik buat menggoda.
"Mendung itu identik sama hujan, Dan yang pedekate duluan belum tentu jadian. Kadang ditikung anaknya teman, itu lebih menyakitkan dari penolakan ... wkwkwk" goda Dafi ketawa puas.
"Emang kenapa sih Mas kok ngomong begitu?" tanya Izma penasaran.
"Tuh liat wajahnya Fajar ..." ujar Dafi.
"Kenapa jadi bete ya, tadi kayanya hepi-hepi aja" kata Izma.
"Ya gimana mau hepi kalo gebetannya lagi digebet sama ketos ... hahaha" timpal Dafi lagi.
Qeena sedang ke kamar mandi, jadi ga denger saat Dafi ngeledek Fajar.
"Setajam-tajamnya tikungan di jalan, lebih tajam tikungannya anak teman .. hahaha" Izma juga ikut menggoda.
"Apaan sih becandanya ... ga lucu" jawab Fajar.
Muka Fajar udah makin bete sama candaan kakak adiknya. Qeena batu aja kembali dan duduk meneruskan makan. Bu Fia yang mendengar candaan Dafi dan Izma ikut tersenyum, apalagi liat ekspresinya Fajar yang keliatan banget cemburunya. Tentu saja Bu Fia lebih mendukung Qeena sama Damar dibandingkan sama putranya. Karena beliau ga suka sama sosok Qeena, jadi jangan sampe harapannya Fajar buat memperistri Qeena itu tercapai.
"Makanya jangan sok-sok an menggantung perasaan, emang hati kamu tanaman hias segala digantung" timpal Bu Fia.
Izma dan Dafi kaget kalo Bundanya bisa becanda juga, langsung spontan mereka tambah ketawa geli. Banyak yang ngeliatin Izma dan Dafi yang ketawa lepas, mereka seakan lagi berada di rumah sendiri jadi ga peduli sama sekitar. Sampe keluar air mata mereka meledek Fajar. Qeena yang ga paham arah candaan mereka hanya bisa diam.
"Makanya perasaan jangan dipupuk doang, emang tuh perasaan apa tanaman" tambah Izma.
Rupanya Pak Dzul mengajak kawannya buat jalan bareng ke Monas. Tentunya Damar ga menyia-nyiakan kesempatan bisa ngobrol sama Qeena lebih intens lagi. Walaupun Fajar berjalan diantara Qeena dan Damar, ga ada yang merasa terganggu. Izma dan Dafi yang jalan paling belakang masih aja ketawa. Rian yang digandeng sama Dafi hanya bisa memandang Kakaknya yang masih aja ketawa.
__ADS_1
"Kak Damar enak juga ya diajak ngobrolnya, kirain kalo di sekolah keliatannya tegas dan rada jaim. Ternyata suka ngebanyol" puji Qeena.
"Kalo di sekolah kan harus keliatan berwibawa, padahal sih kalo udah kenal pasti bilangnya Kakak ini lucu" ucap Damar.
"Ini mau pada olahraga atau ngobrol sih? kok kita jadi jalan kaki biasa ... kan rencananya kita mau jogging. Ayo cepetan kita lari, biar bisa ngiterin Monas" potong Fajar.
Akhirnya yang muda semua lari-lari kecil mengelilingi Monas. Setelah satu putaran penuh yang cukup melelahkan, mereka duduk dipinggiran jalan yang banyak tukang dagang. Fajar yang membelikan minuman buat semuanya. Dafi masih aja jalan santai bareng Rian, sengaja Rian dikasih aktivitas fisik biar dia lupa akan gadgetnya.
"Qeena ... kamu suka makan ketoprak ya?" kata Damar antusias dan berniat becanda.
"Kok Kak Damar tau" jawab Qeena.
"Soalnya kamu udah ngulek-ulek hatiku" canda Damar sambil ketawa.
"Kak Damar pasti orang Jakarta ya" celetuk Qeena mencoba becanda.
"Kok tau" jawab Damar.
"Karena kak Damar udah memonaskan hari ini" kata Qeena.
"Hahaha ... memonaskan atau memanaskan hati Mamas tercintanya Izma nih" timpal Izma sambil menggelayut dipundaknya Fajar.
Damar baru paham, ternyata sikap Fajar yang tampak ga bersahabat sama dirinya ternyata karena mereka menyukai orang yang sama.
"Eh Damar ... Lo pernah ke Garut ga?" tanya Fajar serius.
"Emang kenapa Mas?" tanya Damar ga paham.
"Abis otak Lo kaya dodol, lembek ... Jaman udah maju masih aja main pickup line kaya gitu ... yang canggihan dikit dong kalo ngerayu cewe. Udah kaga musim yang begituan" jawab Fajar sambil melihat sekitar.
"Kenapa sih Mas Fajar kok bete banget keliatannya, kayanya tadi pas berangkat gapapa" ucap Qeena.
"Lagi PMS kali" jawab Izma becanda.
"Kesambet" ucap Fajar kesal sambil menghampiri Dafi dan Rian yang lagi asyik main balon dari sabun.
Para Bapak bukannya olahraga malah lanjut ngopi di warung kaki lima ditemani cemilan yang ada. Sedangkan Ibu-ibunya malah sibuk memilih kaos-kaos buat anak-anaknya.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Gagal panen kembali melanda kampung Nuha, menjadi permasalahan yang sangat pelik bagi warga sekitar yang mengandalkan penghasilan dari sana.
Kakak-kakak Nuha yang laki-laki memang hanya menggantungkan penghasilan dari hasil panen. Bahkan menggadaikan rumahnya saat dulu musim tanam buat membeli bibit berharap bisa menebusnya jika masa panen tiba. Akhirnya rumah kakaknya Nuha diambil oleh para pemilik modal, sehingga di rumah orang tua Nuha sekarang berkumpul 3 keluarga. Kamar Qeena yang kecil ditempati oleh anak-anak gadis. Yang laki-laki tidur seketemunya, ada yang di ruang tamu bahkan di teras depan.
Beban terasa lebih berat lagi, dengan penghasilan yang ga seberapa harus berbagi dengan yang lainnya. Beras pun udah dicampur jagung biar banyak. Lauk tempe dan sayur boleh metik di kebun belakang kembali jadi pilihan pengganjal perut. Walaupun kondisi hampir pailit dan terjepit, Qeena tetap ga dikasih tau.
Nuha tau kalo putrinya juga dalam kondisi dilema, hidupnya bisa dibilang berkecukupan di Ibukota tapi jiwanya rapuh dan kesepian, menahan hinaan Bu Fia seorang diri tanpa dia mengadu ke Emaknya.
Terkadang kasihan juga melepaskan anak gadis semata wayangnya sendiri berjuang, hanya bisa bilang rindu ditiap chat yang dikirim. Tapi kondisilah yang memaksa Qeena harus lebih dewasa dari usianya. Emak dan anak ini saling menutupi cerita dan berbagi hal yang menyenangkan saja. Bagi mereka, biarlah air mata tertumpah saat berdo'a pada Sang Pencipta.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Selepas isya, Qeena duduk santai sama Mba Tinah dan Mba Mini ditepi kolam renang.
__ADS_1
Pak Dzul sekeluarga sedang menghadiri pernikahan saudaranya diluar kota, Mba Parti diajak buat jagain Rian. Kalo bukan permintaan Nenek, pastinya Rian akan ditinggal di rumah seperti biasa.
Suara mobil terparkir di garasi yang terletak disamping kolam renang. Mas Anto dan Mas Narko terlihat mendekati mobil. Pintu belakang mobil dibuka, dikeluarkan koper dan beberapa tas-tas plastik dari dalam mobil.
Sudah hampir sebulan Dafi dinas ikut survei di seluruh pulau Sumatera. Dafi membawa mobil untuk memudahkan mobilisasi timnya. Para lulusan tahun Dafi banyak diterjunkan untuk survei karena besar kemungkinan mereka akan banyak ditempatkan di Pulau Sumatera.
Tim Dafi yang lelaki semua dan berjumlah enam orang secara bergantian nyetir dalam tugas kelilingnya. Untunglah Dafi membawa mobil Ayahnya yang cocok untuk segala medan, jadi ga rewel ketika dibawa jalan selama sebulan.
Tampak sekali gurat lelah dan kulit yang rada menggelap dari Dafi. Mba Tinah menawarkan minuman buat Dafi. Dengan kemeja dan celana joger tujuh perdelapan serta sepatu kets yang keliatan kotor, Dafi berjalan kearah kolam renang karena melihat semua berkumpul disana (letak garasi berhubungan sama taman dan kolam renang disamping rumah)
"Assalamualaikum.." sapa Dafi.
"Waalaikumussalam..." jawab semua.
"Diminum dulu Mas Dafi, kopi buatan Mba Tinah yang spesial ini" kata Mba Tinah yang pas selera Dafi kalo bikinin kopi buat dia.
"Yang plastik-plastik itu ada baju kotor sama oleh-oleh, buka-bukain aja" tunjuk Dafi.
Dafi duduk di bangku santai, merebahkan badannya.
Mba Mini dan Mba Tinah membuka plastik-plastik bawaan Dafi di dapur. Mas Anto dan Mas Narko masih mengecek apakah ada barang-barang yang tertinggal di mobil dan memeriksa semua pagar apakah sudah terkunci.
Kini hanya tinggal Qeena dan Dafi aja ditepi kolam renang. Ditemani bulan purnama yang indah sinarnya. Belum terlalu malam, baru sekitar jam delapan.
"Kamu punya perasaan ga sih Qeena?" tanya Dafi tiba-tiba.
"Punyalah" Jawab Qeena rada nyolot.
"Selow dong, jangan nyolot gitu jawabnya. Kan nanyanya juga baik-baik" sahut Dafi.
"Emang kenapa nanya kaya gitu Mas?" tanya Qeena penasaran.
"Ayah udah ngomong kan ke kamu?" tembak Dafi hati-hati.
"Yang tentang Mas Rian?" ucap Qeena.
"Yup ... Mas ga pernah setuju sama ide gila itu. Fajar pun sama, kami udah berusaha menghentikan niat Ayah, tapi seakan Ayah udah ga dilawan untuk hal ini. Makanya Mas tanya tadi ... apa kamu punya perasaan?" ucap Dafi singkat.
"Maksudnya gimana Mas?" tanya Qeena.
"Kita tau bersama bagaimana kondisi Rian kan? ga kebayang kalo Ayah mengorbankan kamu buat Rian ..." kata Dafi yang tampaknya merasa udah ga kuat menahan rasa sedihnya sendiri.
Baru kali ini Qeena melihat Dafi tampak tertekan, biasanya sesulit apapun masalah yang dihadapi, Dafi selalu tampak tenang dalam diamnya.
Rasa kecewa atas keputusan Ayahnya mau ga mau mempengaruhi hubungannya dengan Rahma. Memang dia ga cerita sama Rahma tentang hal yang menjadi rahasia keluarganya, tapi Dafi bisa tiba-tiba ga mood buat ngobrol sedangkan Rahma lagi ingin berkeluh kesah. Ditambah sinyal selama dalam perjalanan juga jelek. Jadilah banyak miskomunikasi diantara mereka.
ππππππππππππ
Yuk baca karya BundaDM lainnya :
* Senja
* Aku, Dirimu & Dirinya
__ADS_1
* Harta, Tahta dan Tutug Oncom
* Warung