
Hari berganti hari, Fajar akhirnya kembali intens saling bertukar kabar lewat HP sama Qeena. Fajar tau nomer HP Qeena dari tulisan didepan rumah buat pemesanan roti. Kesibukan Fajar yang membuat mereka ga bisa ketemu dalam waktu dekat.
Stase selanjutnya yang dijalani Fajar adalah Ilmu Kesehatan Anak atau stase Anak. Stase ini pun ga kalah menguras kesabaran dan kewarasan. Di stase lain, biasanya melakukan pemeriksaan terhadap pasien dewasa yang bisa diajak komunikasi, sedangkan dengan anak kecil harus menyiapkan jurus supaya anak mau diperiksa.
Fajar udah dinas di bangsal anak dengan jenis semua penyakit, justru pasiennya ga terlalu banyak. Kalo di bangsal anak dengan penyakit yang memerlukanย high care justru pasiennya super duper banyak. Pas tugas disana Fajar sampe nyiapin kopi lima sachet dan koyo karena besoknya pasti pegel-pegel. Susah buat merebahkan badan untuk di stase tersebut.
Rencananya di stase anak, akan menghabiskan waktu sekitar sepuluh minggu. Dari stase ini Fajar mendapatkan pelajaran selain ilmu medis, yaitu tidak ada Ibu yang ga sayang sama anaknya. Bagaimana para Ibu terus berada disamping anaknya. Hal yang ga pernah ia liat bondingnya antara Bu Fia dan Rian.
Seminggu yang lalu, sekitar jam dua dinihari, seorang anak dibawa ibunya datang dengan diare akut. Anaknya rewel banget, karena dikhawatirkan anak itu dehidrasi maka diinfus dan rencananya akan dirawat. Namanya anak kecil akan diinfus udah pasti teriak-teriak bahkan gerak mulu buat menolak diinfus. Sudah lebih dari tiga kali mencoba diinfus, tapi perawatnya gagal mendapatkan pembuluh darah yang tepat, karena semakin lemah karena dehidrasinya akhirnya diberikan oralit via oral (diberikan lewat mulut), tampak sekali wajah Ibunya sangat sedih melihat kondisi sang anak. Akhirnya anak itu dikasih oralit, sedikit-sedikit tapi sering. Setelah diliat agak mendingan, perawat kembali memasang infus dan alhamdulillah kali ini berhasil.
Mungkin bagi calon dokter pria seperti Fajar, agak sedikit merepotkan pas jaga di kamar neonatus (bayi baru lahir), yang isinya hasil perbuatan lelaki. Kalau jaga disini tugasnya menghitung cairan, memantau keadaan umum, nimbang berat badan bayi. Disini pula harus terbiasa dengan pup dan pipis bayi (walaupun pakai diapers) serta tangisan. Fajar baru sadar kalo tugas Ibu saat anak masih bayi begitu berat. Di ruangan ini setiap tiga jam sekali, Ibu-ibu si bayi dipanggil buat nyusuin bayi mereka. Kalo udah begini Fajar langsung ngacir ke ruangan istirahat dokter karena bisa pusing kepala melihat para Ibu yang MengASIhi anak.
Hari ini Fajar turut mengawasi pasien dengan kasus kejang. Gejala klinis yang tampak ya kejang saat suhu tubuh naik. Ada bayi usia enam hari, ketika masuk ke dalam ruangan bayi, Fajar bingung karena ruangannya gelap. Fajar memeriksa keadaan umum bersama salah satu perawat, suhu diukur pakai termometer, tiba-tiba si bayi kejang, mulut mencucut, dan menangis. Menurut catatan medis dari dokter spesialisnya bayi ini mengalami kejang yang diprovokasi oleh rangsangan, bayi tersebut terindikasi penyakit dengan nama keren tetanus neonatorum. Agak miris kalo jaman sekarang masih ada tetanus neonatorum. Sang bayi lahir dibantu dukun beranak, puser si bayi dikasih dedaunan dan segala koin yang ga jelas kebersihannya. Jadi tidak boleh ada rangsangan sedikit (bisa cahaya atau gerak) bisa aja bayi kembali kejang. Sang Ibu menunggu diluar tengah menangis, karena ga bisa memeluk, membelai dan mencium si bayi karena ga bisa kena rangsangan takut si bayi kejang lagi.
Saat kondisi sudah terkendali, Fajar keluar, melewati orang tua sang bayi.
"Sabar ya Ma, mungkin ini cobaan buat kita, kita jangan putus asa" ucap Sang suami.
"Ini kali ya yang sering Ayah bilang ke Bunda .." ujar Fajar dalam hati.
Baru mau berjalan kearah kantin, ada seorang ibu memanggil minta diliatin anaknya yang seperti kejang, seorang anak berusia tujuh bulan demam dengan suhu tiga sembilan derajat, seluruh tubuh goyang-goyang dan nangis kejer.
Karena sang Ibu panik, Fajar pun jadi ikut panik. Dokter ruangan pun akhirnya ikut turun tangan memeriksa. Setelah kondisi bisa aman terkendali, Fajar dipanggil dokter ruangan.
"Jangan ikut panik seperti keluarga pasien, itu pasiennya bukan kejang, semacam pengen nendang-nendang aja, ini ga keras, ga ada tahanan, adeknya nangis juga ada air mata, kasih propiretik aja untuk menurunkan suhunya" jelas dokter ruangan.
"Baik dok" jawab Fajar.
"Tuh liat sekarang pasiennya diam, santai kayak ga ada masalah, padahal tadi persis kayak kejang. Kalo panik semua akan cepat buyar. Jadinya ga bisa bedain kejang sama pasien anak yang ngamuk" nasehat dokter ruangan.
"Baik dok" jawab Fajar lagi.
"Begitulah kejang, datang tak diundang pergi tak diantar. Kejang itu kan tampilan klinis dari suatu penyakit. Terkadang antara teori di buku beda sama klinis pasien yang kita temuin di lapangan, makanya makin sering berinteraksi dengan pasien nanti akan makin banyak bentuk kejang yang kita temuin" tambah dokter ruangan lagi.
"Ya dok" jawab Fajar.
__ADS_1
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Selama seminggu Qeena mengikuti ujian paket C guna menuntaskan pendidikan setingkat SMA nya. Hari terakhir ujian, Damar mengajaknya makan disalah satu restoran fast food disekitaran Puncak.
Tadinya Qeena menolak, tapi Damar memohon buat Qeena mau kali ini aja dan akan mengambil tempat di bangku luar aja, jadi bisa keliatan sama orang banyak.
Setelah memesan, mereka menikmati makanan yang sudah dipesan.
"Qeena ... kamu bisa dibilang udah lulus SMA, ga tau mau lanjut kependidikan selanjutnya atau ngga, tapi Kakak mau minta satu hal ke kamu. Sudah tujuh belas tahun kan? udah dewasa buat Kakak bicarakan hal ini secara dewasa" buka Damar.
"Apa ya Kak?" tanya Qeena.
"Kamu pasti tau perasaan Kakak ke kamu, seperti yang udah pernah Kakak utarakan. Kakak belum nyerah Qeena. Bisa tunggu Kakak sekitar dua atau tiga tahun lagi? sementara itu kita bisa terikat pertunangan dulu gapapa, nanti Kakak bilang sama orang tua. Kakak kan udah punya penghasilan dari Edufarm dan jadi marketingnya Villa punya Pakde Shaka" kata Damar.
"Masih sama Kak, jawabannya Qeena ga bisa" lanjut Qeena.
"Karena ada Mas Fajar?" tembak Damar.
"Ga ada sangkut pautnya sama Mas Fajar. Tapi dari Qeena nya aja yang ga mau" ujar Qeena.
"Kadang dalam hidup ada yang ga perlu alasan bukan? kaya cinta seorang Ibu terhadap anaknya ... ga perlu ada alasan kan?" jawab Qeena lagi.
"Sudah terikat dengan seseorang?" tanya Damar.
"Kayanya udah hampir sore, udah saatnya pulang, nanti Emak nyariin" Qeena.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Pak Dzul sedang ada seminar di kantornya, ternyata disebelahnya duduk Pak Deri, Papanya Damar. Sebelum seminar mulai mereka berbincang ringan.
"Udah di Jakarta terus nih Pak Dzul" buka Pak Deri.
"Alhamdulillah Pak ... usai deh tugas di Indonesia Timur, tahun depan Pak Deri deh ikut ngerasain" canda Pak Dzul.
"Saya kan golongannya ga setinggi Bapak. Lagipula Bapak memang ahlinya, jadi pertimbangannya sudah tepat untuk menempatkan Bapak disana" ujar Pak Deri lagi.
__ADS_1
"Bisa aja Pak ... saya dengar Bapak sekarang bangun usaha Edufarm ya?" tanya Pak Dzul.
"Ya Alhamdulillah .. buat persiapan pensiun, jadi punya ponakan saya sebenarnya, tapi karena dia udah kebanyakan bisnis jadi kurang fokus disana, jadi di take over sama saya. Buat latihan kerja anak lelaki saya juga" ujar Pak Deri.
"Daerah mana Pak?" tanya Pak Dzul.
"Ciloto Pak ... mainlah kapan-kapan ke Edufarmnya, ada Villa juga punya Kakak saya buat nginep. Sekalian nengokin Qeena" kata Pak Deri.
"Qeena?"tanya Pak Dzul mempertegas pendengarannya.
"Ya .. Qeena .. saudara Pak Dzul kan?" ucap Pak Deri.
"Oh ... anak angkat saya" jawab Pak Dzul berusaha santai, beliau ga mau terlihat canggung yang malah membuat Pak Deri curiga dan sulit buat mendapatkan informasi tentang Qeena.
"Pak Dzul tau kan Qeena pindah kesana?" tanya Pak Deri yang curiga sama perubahan wajah Pak Dzul.
"Iya ... iya saya tau, mereka memutuskan untuk hidup mandiri. Katanya kalo terus saya suapin mereka jadi keenakan. Ya maklumlah Ibu dan anak ini memang terbiasa kerja keras, jadi maunya ya kerja buat kehidupan mereka" Pak Dzul terpaksa berbohong.
"Ya ... saya liat juga Ibu dan Anak ini sangat bahu membahu nyari uangnya. Padahal enak ya jadi anak angkat Pak Dzul, sekarang malah lebih memilih hidup di kampung" puji Pak Deri.
"Lama nih mereka ga main ke rumah saya, ya kesibukan saya juga sih. Di rumah juga jarang ada keluarga, paling para pekerja saya aja" Pak Dzul mencoba menutupi.
"Qeena nya sibuk juga kayanya Pak. Sekarang kan kerja di Klinik terus masih sekolah sistem Homeschooling, belum kalo ada pesenan roti ditambah juga dia bantu-bantu di rumah keponakan saya. Kalo Nuha nya sih saya liat dia lebih banyak di rumah, katanya suka hipotensinya kambuh" adu Pak Deri.
"Oh ya Pak .. bolehlah di share loc untuk Edufarmnya. Sama Villanya sekalian boleh minta kontaknya biar saya bisa telpon kesana" pinta Pak Dzul.
"Nanti saya minta ke anak dulu" ujar Pak Deri semangat.
Sepanjang seminar, Pak Dzul malah kepikiran Qeena.
"Kenapa mereka bisa tinggal di Ciloto ya, padahal ga punya saudara disana, gimana mereka selama ini ya? Tapi kalo Qeena homeschooling artinya ada biaya buat sekolah. Apa benar mereka udah lebih baik kondisi ekonominya dibanding dulu? Secara logika bisa aja, toh Qeena rutin kirim voucher belanja tiap tiga bulan sekali. Alhamdulillah kalo mereka hidupnya bahagia. Kayanya harus ngomong ke Mas Dafi dan Fajar nih, mereka harus tau keberadaan Qeena. Kalo perlu kita thilik dia kesana, sekalian liburan keluarga. Kayanya Mas Dafi dalam waktu dekat mau ke Jakarta, ada pelatihan lagi. Pas banget tuh bisa dijadikan momen liburan plus ketemu Qeena" pikir Pak Dzul.
Pak Dzul mendapatkan informasi tentang lokasi Edufarm dan Villa. Beliau akan bicara ke anaknya dulu agar semua bisa ikut liburan bareng.
"Oh ya Pak Dzul, kalo mau ke Edufarm atau ke Villa bilang aja sama saya, siapa tau saya bisa ikut ketemu disana. Lagi bisa damailah harganya, sama teman" ucap Pak Deri.
__ADS_1