
Dafi mempercepat kepulangannya ke Jakarta, Senin siang mereka udah meninggalkan Wonogiri, setelah paginya dia ke KUA ditemani Pak RW untuk berkonsultasi.
Senin malam sudah sampai di rumah, mereka sampe sekitar jam sepuluh malam. Pak Dzul yang bukain pintu buat mereka semua.
Rian langsung masuk ke kamarnya, Qeena dan Mak Nuha menuju rumah Dafi. Mas Anto dan Dafi yang nurunin barang.
Dafi malah rencananya akan tidur di sofa rumahnya, persis didepan kamar Qeena dan Mak Nuha. Dari Wonogiri dia yang bawa mobil, jadinya lelah banget. Besok masih libur karena tanggal merah.
Baru aja mau merebahkan tubuhnya diatas sofa, Bu Fia menelpon meminta Dafi ke kamarnya. Dafi segera bangkit dari sofa.
"Mas tidur di rumah Ayah ya .. kunci aja pintunya, Bunda lagi pengen ngobrol" ujar Dafi.
"Qeena mau jenguk boleh ga Mas?" tanya Qeena.
"Udah malam, kasian Mak Nuha sendirian. Besok pagi aja ya, daripada nanti kalian berdua malah jadi ribut malam-malam" saran Dafi.
"Salam ya Mas buat Tante Fia" ucap Qeena.
"Ga ada Tante Fia .. yang ada tuh Bunda Fia" jawab Dafi.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
"Gimana menurut kalian?" tanya Pak Shaka saat ngobrol sama anak dan menantunya.
"Udah tanya Mak Nuha belum Yah?" tanya Erin balik.
"Belum sih, makanya Ayah minta ijin kalian semua dulu .. gimana?" kata Pak Shaka.
"Yah .. maaf banget Aa' masih ga setuju kalo dalam waktu dekat ini Ayah bicara ke Mak Nuha tentang perasaan dan niat Ayah ke beliau. Permasalahan Qeena belum usai. Pasti masih menguras tenaga dan pikiran mereka berdua. Mak Nuha juga punya trauma tersendiri terhadap lelaki karena masa lalunya. Ayah kan juga udah dua kali mencoba mengutarakan niat Ayah buat menikahi Mak Nuha tapi ditolak. Masih mau coba buat ketiga kalinya?" ungkap Aa' Zay.
"Bener tuh Yah .. lagi mau nikah lagi buat apa sih Yah .. anak cucu mantu kan selalu ada buat Ayah, ga kesepian pula. Lagi emangnya masih pengen punya anak?" sahut Iqbal yang kurang setuju kalo Ayahnya menikah lagi.
"Banyak sih yang melatarbelakangi .. pertama, karena Ayah melihat Nuha itu berbeda dari banyak wanita yang Ayah kenal. Dia mampu menggetarkan perasaan Ayah seperti Ibu kalian dulu. Yang kedua itu karena Qeena udah nikah, Nuha pasti kesepian kalo Qeena dibawa tugas kedaerah lain sama suaminya. Yang terakhir itu karena mantan suaminya yang makin menggila aja buat ganggu dia lagi, Ayah mau ngelindungin Nuha" papar Pak Shaka.
"Melindungi kan ga harus menikahi Yah. Suaminya Qeena juga ga bakalan diam aja kok buat jagain Mak Nuha" jawab Iqbal.
"Aa' yakin kalo Dafi itu mampu kok ngejaga Qeena dan Mak Nuha dari gangguan Pak Iyus. Dafi itu jauh lebih lama kenal mereka berdua dibanding kita Yah. Dafi itu saksi hidup jatuh bangunnya Mak Nuha dan Qeena" lanjut Aa' Zay.
Imah yang tadinya mau masuk ke kamarnya, melintasi gazebo tempat keluarga Pak Shaka ngobrol, beliau jadi membatalkan rencananya.
Pelan-pelan Imah bersembunyi dibalik pohon. Mendengarkan pembicaraan keluarga Pak Shaka.
"Iyus .. Qeena .. Nuha .. apa mereka orang yang sama dari masa laluku?" tanya Imah pada dirinya sendiri.
Keluarga Pak Shaka masih ngobrol serius tapi santai.
"Emang kasian sih sama Mak Nuha dan Qeena .. Bapaknya parah banget. Udah nyakitin, sekarang tanpa malu datang buat ngajak balikan. Ga bisa dikit Mak Nuha dan Qeena bahagia. Padahal ya, udah bener banget mereka berdua ada di tangan Dafi, segala ikut ngerecokin lagi. Harusnya jadi laki tuh sadar, kalo ga bisa bikin bahagia ya ga perlu merusak kebahagiaan itu. Mau sampe kapan masalahnya begini terus. Herannya Dafi juga anteng aja ya, kaya belum ada action" kata Erin gemes.
"Ga usah ikut komen kaya netijen... kita kan ga tau apa yang Dafi lakukan sekarang ini. Ya kita do'akan aja semua baik-baik saja. Dafi lebih berhak melakukan apapun dibanding kita" ingat Aa' Zay.
"Jadi kalian ga setuju nih kalo Ayah nikah lagi?" tanya Pak Shaka.
"Bukan ga setuju Yah .. waktunya yang belum tepat" sahut Erin.
"Kita pending dulu aja ya Yah .. sampe semua udah membaik. Biarkan Mak Nuha rileks dulu, jangan kita tambah beban pikirannya. Nanti coba Aa' cari info dari Dafi atau Qeena dulu" lanjut Aa' Zay.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Dafi tidur dilantai bawah kamar orang tuanya, semalam dia ngobrol sama Bu Fia, karena badannya pegel jadi dia tiduran di karpet, ternyata malah ketiduran saat Bu Fia ajak ngobrol.
"Mas .. Mas ... Diajak ngobrol malah tidur" ucap Bu Fia.
__ADS_1
"Biarinlah Bun.. cape dia abis nyetir jauh" kata Pak Dzul.
"Lagian bawa supir malah nyupir sendiri" sahut Bu Fia.
Jam satu malam, Bu Fia terbangun ingin ke kamar mandi. Setelah itu kembali ke tempat tidur dan memandang dengan lekat putra sulungnya yang tertidur pulas. Wajah Dafi tampak tenang, lebih bahagia tanpa ada gurat beban.
"Mas ... apa kamu bahagia sama Qeena?" tanya Bu Fia dalam hatinya.
Makin dipandangi lekat wajah sang putra tercinta.
"Kenapa Bun?" tanya Dafi yang terbangun dari tidurnya.
"Gapapa .. Abis dari kamar mandi" jawab Bu Fia.
"Mas ketiduran disini ya .. maaf ya Bun .. ngantuk berat" kata Dafi.
"Gapapa Mas .. udah lama Bunda ga merhatiin Mas. Udah besar sekarang .. mukanya berubah .. Bunda ingatnya jaman Mas masih bayi aja" ucap Bu Fia.
"Wah .. tanda-tanda tuh Bun" jawab Dafi.
"Tanda apaan? jangan bilang tanda-tanda Bunda mau punya anak lagi ya .. pabriknya udah tutup" ujar Bu Fia.
"Bukan punya anak Bun .. tapi cucu .. hehehe" ledek Dafi.
"Bunda mau tidur, terserah Mas mau lanjut tidur disini atau pindah ke kamar" sahut Bu Fia langsung ga antusias ngobrol sama Dafi.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Mak Imah kenapa bengong?" tanya Aa' Zay yang melihat Imah duduk didepan dapur.
"Abis dari mana A'?" tanya Imah balik.
"Enak ya kumpul sama keluarga besar, ngobrol bareng .. becanda ... ya pokoknya bahagia pastinya" ujar Imah.
"Maaf .. Mak Imah udah ga punya keluarga?" tanya Aa' Zay hati-hati.
"Masih ada orang tua lengkap, tapi saya janda punya anak satu" jawab Imah.
"Terus anak Mak Imah ga nyari?" kata Aa' Zay.
"Dia ga sama Emak .. dibawa orang ... soalnya saya ga ngurusin dan ga nyariin dia sejak kecil kan" ujar Imah datar.
"Maaf kalo buat Emak jadi sedih" ucap Aa' Zay.
"A' .. boleh tanya ga?" tanya Imah.
"Kalo saya bisa jawab ya akan saya jawab Mak" kata Aa' Zay.
"Emak ini seorang Ibu yang hanya melahirkan seorang anak, kemudian ga pernah mau tau tentang perkembangan anak. Masihkah bisa disebut seorang Ibu?" tanya Imah serius.
"Mak .. Ibu ya tetaplah seorang Ibu. Apapun yang terjadi antara hubungan anak dengan Ibunya, keduanya tetap sedarah. Kenapa Emak harus bertanya kaya gitu? emangnya anak Emak menolak kehadiran Emak?" ungkap Aa' Zay.
"Bahkan sampai detik ini, Emak ga tau dimana anak Emak berada. Semoga Emak bisa ketemu sama dia" jawab Imah.
"Do'akan aja Mak .. Allah punya saat yang tepat buat mempertemukan kalian berdua. kalaupun ga ketemu di dunia ini, berarti pertemuan itu emang ga baik buat Emak dan anak Emak. Aa' cuma bisa bantu do'a" nasehat Aa' Zay.
"Makasih A' .. beruntung Emak ketemu sama Aa' Zay dan Neng Erin, kalian anak muda yang sangat baik" puji Imah.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Selasa pagi Qeena diantar sama Dafi belanja bahan-bahan dan toples buat kue kering. Mereka belanja kedaerah Jakarta Pusat, tempatnya grosiran bahan kue dan perlengkapannya. Lumayan jauh dari tempat tinggal mereka, tapi sekalian Dafi ada perlu ketemuan sama temannya, ada proyek ngerjain data dan perhitungan statistik tentang cabang-cabang perusahaan yang sudah tersebar di lima propinsi. Data ini diperlukan sebagai salah satu penunjang buat membuka cabang lainnya.
__ADS_1
"Tante Fia tadi ketemu di dapur, tapi langsung pergi pas Qeena mau salaman" adu Qeena.
"Mungkin karena kan itungannya udah serumah, ngapain pake salaman segala" jawab Dafi mencoba netral.
"Kayanya ga suka sama Qeena" sahut Qeena.
"Kalo suka repot nanti, bisa-bisa perhatian kamu ke Mas berkurang karena ngelayanin apa maunya Bunda.. hehehe" lanjut Dafi.
"Serius ini Mas" ujar Qeena.
"Nanti ya .. Mas lagi konsen nyetir nih" kata Dafi.
Dafi janjian di sebuah cafe dan ngobrol sekitar satu jam sama teman-temannya. Qeena hanya menyimak, otaknya ga nyampe sama omongan mereka tentang ilmu statistik.
"Nish .. kapan nih undangan ga sampe-sampe" ledek temannya.
"Tiga bulan lagi" jawab Dafi senyum-senyum.
"Ya ampun Nish .. yang kaya gini masih juga dipending-pending .. keburu disapu orang deh" kata temannya Dafi.
"Tuh Neng .. gimana?" ledek Dafi.
"Sabar aja ya Mas-Mas semua, kami masih sibuk sama kerjaan masing-masing" sahut Qeena cari aman.
"Mas Danish kamu ini mah gila kerja, kalo ga di stop ya ga bakalan berhenti. Harus kamu nih yang maksa dia nikahin kamu secepatnya" timpal temannya Dafi.
"Kayanya ga perlu dipaksa udah nempel tuh" sahut Qeena dengan pedenya.
"Ya iyalah... cowo mana yang ga nempel kalo pacarnya secantik ini. Untung Danish imannya kuat ya, kalo kita mah udah khilaf dari lama" ujar temannya Dafi.
Dafi dan Qeena cuma senyum-senyum aja mendengar perkataan teman-temannya Dafi.
"Qeena ..." panggil Chef Ale begitu berpas-pasan" kata Chef Ale.
"Chef Ale .. kesini juga Chef?" tanya Qeena.
"Saya kerja disini sebagai penanggung jawab menu .. oh ya, mumpung disini, kita bisa ngobrolin lagi tentang rencana yang saya udah sounding pas di Bandara?" tanya Chef Ale.
Qeena memandang kearah Dafi. Dafi menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Chef Ale dan Qeena duduk disebelah meja Dafi dan teman-temannya.
"Gila Nish ... ceweknya punya kenalan seorang Chef ganteng .. kalah tampang nih" ledek temannya Dafi.
"Itu Chef Ale, katanya sih dulu ngetop, tapi ga kenal tuh, soalnya ga nonton TV" jawab Dafi.
"Ga cemburu Nish? hebat juga kawan kita yang satu ini, udah dapat cewe cantiknya kebangetan, masih juga ga cemburu. Jangan cuek Nish punya cewek kaya Qeena, meleng dikit tuh Chef siap nikung loh .. dari tampangnya aja keliatan player" nasehat temannya.
"Mereka mau ada bisnis .. Qeena itu kan pemula di bisnis kue, rencananya akan belajar kue dari Chef Ale. Nah sekarang Chef Ale nawarin dia jadi model di banner dan brosur tempat kursus yang dia miliki. Katanya mukanya Qeena pas buat mengenalkan tempat kursus" ujar Dafi.
"Wah .. makin banyak saingan kalo gitu. Muka belum mejeng di brosur aja, hampir semua orang yang lewatin Qeena, pasti ngelirik, apalagi mukanya ada di banner yang segede gaban" ucap temannya Dafi.
"Makanya .. kasih kepercayaan sama cewek, mereka juga akan kasih feedback bagus kok ke kita. Orang belum apa-apa udah dicemburuin ya adanya ga maju-maju. Lagian mereka duduk disebelah kita, mau macam-macam gimana?" tanya Dafi.
"Susah juga ini Bapak Danish yang teoritis. Apa deh dulu bilangnya?" tanya temannya Dafi.
"Algoritma sebuah perjuangan" ujar Dafi.
"Mantappp .. bagaimana kita memperkuat cara berfikir agar dapat menyelesaikan suatu masalah. Membantu otak agar berfikir jangka panjang serta memperkuat analisis ketika pembuatan program" sahut temannya.
"Inget jaman kuliah ya ... hahaha" canda Dafi.
__ADS_1